
Satu Minggu kemudian.
Mansion Dachinko.
Louise menatap ke arah putri nya yang tengah berberes, walaupun hal itu bisa di lakukan oleh pelayan namun ada beberapa barang pribadi yang hanya di ketahui gadis cantik itu.
"Yakin kamu mau pindah ke Kanada?" tanya Louise pada putri nya.
"Yakin Mom, tenang aja deh nanti aku pasti cepet balik, Mommy takut kangen ya sama aku? Hihi..." goda anak cantik itu pada ibu nya.
"Kangen lah, kamu kan anak Mama yang paling cantik," ucap Louise sembari mencubit pipi gadis itu.
"Iyalah paling cantik, kan aku anak perempuan sendiri, yang lain laki-laki." ucap Bianca pada sang ibu dan membuat wanita itu tertawa.
"Nanti kalau Mommy ke sana aku temenin satu harian deh!" ucap Bianca pada sang ibu.
"Iya, Jangan sampai ada yang ketinggalan ya." ucap Louise dengan senyuman tipis.
Sementara itu di sisi lain Arche menatap dengan cemberut, walaupun ia selalu bertengkar dengan sang kakak namun jika gadis itu pergi membuat nya sedikit sedih.
"Itu Arche bentar lagi bibir nya mau jatuh," ucap Louise tertawa melihat raut sedih putra nya dan kemudian beranjak keluar.
"Apa?" tanya Bianca yang menatap ke arah adik nya dan seketika sikap manis nya hilang saat sang ibu pergi.
"Ya? Apa?" tanya Arche yang menatap dengan lirih pada sang kakak.
"Takut ga ada yang kasih uang cash lagi kan?" tanya Bianca pada adik nya.
Arche tak menjawab bibir nya semakin keriting dan gemetar melihat sang kakak.
"Nih, kakak kasih uang biar nanti ga nangis." ucap Bianca yang memberikan semua yang di dompet nya pada sang adik.
"Aku ga nangis kok! Anak laki-laki kan ga boleh nangis!" ucap Arche dengan kuat sembari mengusap air mata nya sebelum jatuh.
"Kata siapa? Boleh aja kok, ga ada yang larang." ucap Bianca pada adik nya.
"Kak..."
"Ya?" Bianca menjawab sembari memilih barang yang ingin ia gunakan.
"Kurang," ucap Arche yang tetap ingin menangis.
"Apa nya?" tanya Bianca yang menoleh dan mengernyit pada sang adik.
"Uang nya," ucap Arche yang tersendat sembari meminta uang lagi.
Tak!
Bianca menatap adik nya yang kesal, sembari menggetok kepala anak laki-laki itu dengan tangan nya.
"Aduh..."
"Nyebelin ini anak, aku jual online juga nanti." ucap Bianca yang kesal pada adik laki-laki nya.
"Maka nya jangan pergi!" ucap Arche pada sang kakak yang terdengar merengek.
Bianca hanya menggeleng, walaupun adik nya menyebalkan namun juga punya sisi yang menggemaskan.
......................
Dua Hari kemudian.
Bandara.
"Nih, jangan kasih Arche nanti di abisin!" ucap Bianca yang memberikan sekotak coklat yang sama karana saat keluar dari kantor polisi tempo hari Aldrich mengatakan jika ia suka dengan coklat yang di berikan.
"Aku mana kak?" celetuk Arche yang melihat sang kakak hanya memberikan coklat untuk saudara kembar nya.
"Udah sering juga," ucap Bianca yang kemudian menggeret koper nya.
"Hati-hati ya sayang." ucap Louise yang beranjak memeluk putri nya sebelum memasuki area yang di batasi bandara.
"Okey, Myy..." jawab gadis yang mengecup pipi sang ibu.
Setelah itu Bianca pun beranjak memeluk sang ayah, "Jangan lupa janji nya Dad." bisik nya saat memeluk pria itu.
"Anak nakal, kalau kau tidak bisa melakukan apapun di sana aku potong uang jajan mu." jawab James yang juga dengan suara berbisik dan tersenyum agar sang istri dan kedua putra nya tak mendengar.
Bianca tak menjawab lagi namun ia hanya tersenyum.
"Bye!" ucap nya dengan senyuman cerah dan melambaikan tangan nya sebelum memasuki area bandara lalu membuka ponsel nya.
Memberi pesan pada seseorang, lalu mengirimkan nya dengan penuh senyuman.
......................
Apart Sky Blue.
Pria itu tersenyum kecil saat membaca pesan yang masuk ke dalam ponsel nya.
"Seperti nya akan sedikit sunyi di sini." ucap nya lirih saat membaca pesan yang ia terima.
Zayn menghela napas nya, ia tak tau apa yang ia lakukan sekarang benar atau tidak saat menyetujui ajakan gadis itu untuk menjalin hubungan sedangkan luka lama nya pun belum pulih sepenuh nya walau ia sudah melepaskan cinta pertama nya.
......................
Skip
Dua bulan kemudian.
JBS Hospital
Louise terdiam, ia melihat ke arah surat yang terbungkus di dalam amplop putih itu.
"Pengunduran diri? Apa kau tidak suka di sini? Atau ada yang melakukan sesuatu tak nyaman dengan mu?" tanya Louise yang menatap ke arah putra angkat nya itu.
"Tidak, aku bahkan terlalu nyaman di sini." jawab Arnold yang menatap ke arah wanita itu.
"Lalu? Ada apa dengan surat pengunduran ini?" tanya Louise yang menatap ke arah Arnold.
Arnold tersenyum tipis mendengar nya, semua yang ada di rumah sakit itu baik pada nya bahkan cenderung terlalu baik karna ia merupakan bawaan dari wakil Presdir sendiri.
__ADS_1
"Aku mau berada di tempat yang berdiri dengan nama ku sendiri, tidak ada kata belakang seperti putra dari wakil Presdir atau dokter yang di sponsori dengan pemilik." ucap Arnold yang menatap ke arah wanita itu.
"Dalam kata lain kau mau berada di tempat yang benar-benar mengakui prestasi mu tanpa ada kata-kata yang mengatakan kalau kau putra ku?" tanya Louise yang memperjelas.
"Ya," jawab Arnold singkat.
"Sayang sekali, kinerja bagus dan semua operasi yang kau lakukan juga mendapat pujian dari profesor, dan aku mengatakan ini bukan sebagai ibu mu tapi sebagai pandangan sesama dokter," ucap Louise karna ia memang sebelum nya sorang dokter spesialis jantung.
"Aku akan sering menghubungi kakak," ucap Arnold yang selalu memanggil wanita itu dengan sebutan 'kak' kecuali di depan James.
"Kau mau pindah mana? Sudah mendapatkan tawaran lain?" tanya Louise yang menerima surat pengunduran diri itu.
"Aku mengirim penelitian ke universitas yang di Jerman, dan aku di terima." ucap Arnold yang menjawab pertanyaan ibu tiri nya itu.
Louise mengangguk kecil, ia menatap ke arah Arnold sekali lagi, "Semoga berhasil." ucap nya yang mengatakan dengan tulus.
"Malam ini kak Louise kosong? Kalau bisa aku mau kita makan malam bersama," ucap Arnold yang tersenyum.
"Malam ini? Aku akan ajak James dan Arche juga," ucap Louise yang beranjak memegang ponsel nya.
"Kalau hanya kita? Lagi pula lusa aku akan pergi ke Jerman," Ucap Arnold ragu.
Louise diam sejenak, ia menatap ke arah anak lelaki yang kini sudah dewasa.
"Okey, kita mau makan malam di mana?" tanya Louise yang menatap ke arah pria itu.
"Aku akan kirim lokasi nya nanti," ucap Arnold tersenyum dan kemudian keluar dari ruangan itu.
Ia tak tau tentang perasaan nya untuk wanita yang membuat nya tumbuh dan berusaha memenuhi kasih sayang dari orang tua nya.
Entah suka atau kekaguman, perasaan yang terasa begitu mirip seperti kulit bawang. Namun apa pun itu ia menyukai saat melihat wanita itu tersenyum.
Suka namun tak punya hasrat untuk memiliki?
......................
Mansion Dachinko.
James menunggu tepat di ruang tengah untuk langsung tau jika sang istri pulang.
"Bagaimana makan malam nya tadi?" tanya James yang mendekat ke arah wanita itu.
"Sudah," jawab Louise tersenyum, ia memang hanya pergi berdua namun ia juga memberi tau suami nya.
James tak mengatakan apapun lagi, ia tau putra angkat nya memiliki ketertarikan dengan istri nya namun karna sekarang Arnold akan pergi ia tak lagi mempermasalahkan itu.
"Arche minta liburan, kau kosong untuk bulan depan?" tanya James yang menatap ke arah gadis itu.
"Bulan depan? Ku rasa aku bisa mempercepat urusan pekerjaan ku," ucap Louise yang berpikir sejenak.
"Kau tidak berencana pensiun?" tanya James saat membawa sang istri ke kamar.
"Pensiun? Aku belum terlalu tua," ucap Louise saat mendengar pertanyaan sang suami.
"Memang, tapi aku lebih kau jadi ibu rumah tangga saja, pergi belanja, sesekali memasak, menunggu ku, liburan, bersenang-senang dengan Arche atau Aldrich, seperti itu." ucap James yang menatap ke arah sang istri.
"Kenapa kau selalu keberatan kalau aku bekerja? Dulu juga kan?" tanya Louise yang menatap ke arah sang suami.
Louise diam sejenak, ia mendekat dan mengecup bibir sang suami sekilas.
"Suami ku marah ya? Kayak kurang kasih sayang," goda nya yang merangkul pundak pria itu.
James tak menjawab, namun ia juga tak menolak rangkulan sang istri.
"Mau mandi bareng? Pakai air hangat?" ucap Louise yang mengajak lebih dulu.
"Hanya mandi?" tanya James mengulang.
"Hum?" Wanita itu menjawab dan tampak berpikir sejenak, ia mendekat dan memeluk pria yang lebih tinggi dari nya lalu kemudian berbicara di telinga nya, "Mungkin tidak."
James diam sejenak, ia meraih tubuh wanita itu dan membawa nya.
"Langsung semangat ya?" Louise tertawa kecil saat melihat suami nya dengan cepat membawa nya.
......................
Skip
Dua Bulan kemudian.
Ottawa, Kanada
Gadis itu tinggal di salah satu apartemen mahal di ibu kota dari negara pecahan es tersebut.
Bianca menerima semua request atau tugas yang di berikan sang ayah, dari mulai kerja sama dengan serikat organisasi lain atau mengambil hak dari yang menjadi milik sang ayah yang di curi orang lain dan berada di negara itu.
Selebih nya? Tentu dia hanya bersenang-senang.
Sekolah dan juga belanja serta mendatangi tempat yang ia mau, lalu tak lupa masih berhubungan dengan pria setiap hari ia minta tunggu sampai ia kembali.
Ckrek!
Satu potret dari kamera ponsel itu terdengar, Bianca kembali mengancing piyama tidur nya dan mengirimkan foto nya pada seseorang.
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
"Hehe, kan langsung di telpon," Ucap nya tertawa kecil.
"Jangan mengirim foto seperti itu lagi, kau tidak kedinginan? Di sana kan selalu dingin,"
"Maka nya Paman ke sini terus hangatin aku," ucap Bianca dengan nada manja nya.
"Dari mana kau belajar cara menggoda seperti itu?"
"Rahasia, kalau penasaran paman ke sini aja, nanti nginap di apart ku." ucap Bianca sekali lagi dengan centil.
"Bersikap baik lah di sana dan cepat selesaikan study mu, jangan terlalu cepat dewasa."
"Iya..."
"Nanti kan Paman yang dewasain aku," ucap Bianca dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Bianca..."
Gadis itu tak menjawab, ia hanya tertawa kecil dan kemudian bercerita tentang semua yang ia lakukan kecuali apa yang ia lakukan di bawah perintah sang ayah.
"Kau seperti nya sangat suka di sana? Kata nya menyukai ku?"
"Ih! Bukan tau! Aku tuh kangen, Paman sih jarang telpon atau kirim apa gitu?" sanggah Bianca pada pria itu.
Tak ada jawaban namun terdengar suara tawa dari seberang sana.
"Kalau begitu kau mau ku kirim apa? Bunga?" tanya Zayn yang tentu tinggal melakukan pemesanan.
"Foto paman lagi mandi bisa? Bunga sih udh biasa, beli sendiri juga bisa." celetuk gadis itu.
"Bianca..."
Lagi-lagi suara yang berada di balik telpon seperti tak kuat mengahadapi remaja yang penuh dengan hasrat menggebu itu.
"Iya, Paman?" jawab nya dengan suara yang terdengar tanpa dosa dan begitu polos.
"Aku akan kirim bunga untuk mu nanti, dan yang mau ku kirim kan juga."
"Apa tuh? Penasaran, kasih spoiler!" ucap Bianca yang terdengar bersemangat.
"Di sana Malam kan? Tidurlah lebih dulu,"
"Eh? Halo? Paman? Oy! Jangan di matiin dulu!" ucap Bianca yang merasa panggilan telpon nya tak terjawab sama sekali.
"Yah..."
"Malah di matiin..." ucap Bianca lirih.
......................
Sementara itu.
Apart Sky Blue
Pria itu menarik napas nya, sepasang sepatu yang terlihat mahal dan cantik itu masih berada di depan nya.
Tidak memiliki hak tinggi dan juga tak memiliki ujung yang runcing, nyaman untuk di kenakan saat berjalan jauh.
"Aku tinggal membeli bunga nya," gumam Zayn yang beranjak.
Sebelum di foto yang Bianca kirim terlihat kaki putih yang mulus itu terluka di tumit nya karna memakai sepatu heels.
Memang saat mengirimkan gambar itu, Bianca bukan mengaku kaki nya sakit namun ia tengah membagikan foto tempat yang ia datangi.
......................
Skip
4 tahun kemudian.
Sekolah.
Anak perempuan yang cantik itu memberanikan diri nya untuk mengakui perasaan nya pada salah satu siswa yang berasal dari kelas lain.
"Tidak mau," jawab remaja tampan itu yang menjawab dengan cepat.
"Hah? Ta.. tapi aku..." terlihat jelas jika gadis itu terkejut mendengar pernyataan cinta nya di tolak.
"Ke.. kenapa?" tanya nya lirih yang menunduk dan menatap malu.
"Kau jelek," jawab nya dengan cepat tanpa peduli dengan perasaan siswi tersebut.
"Hey? Mau pacaran dengan ku saja? Wajah kami kan mirip!" ucap nya yang datang dengan senyuman dan mata yang cerah.
"Hush! Pikirin itu fans mu,"
"Kasihan tau, udah mau nangis tuh!"
Tak ada jawaban, siswi itu menutup wajah nya dan segara kabur dengan tangis nya.
"Tuh kan lihat nangis tau, perempuan itu ga boleh di buat nangis loh kata Mommy aku." ucap nya yang mulai menjadi remaja yang punya banyak pacar dan fans club' nya sendiri di sekolah.
"Bukan nangis loh, dari pada nanti dia minta apa-apa tapi aku ga suka kan lebih kasihan, lagi pula aku juga ga kayak kamu!" ucap nya yang menggeleng menatap ke arah saudara kembar nya.
"Memang nya aku apa?" tanya nya yang bingung.
"Player," jawab remaja itu dengan cepat.
"Ih! Mana ada, aku aja ga pernah apa-apain mereka kok, ciuman aja belum pernah!" sanggah nya pada saudara kembar nya.
"Yah terus kenapa di pacari?" tanya nya yang menggeleng.
"Aku kan baik, maka nya ga bisa nolak, yang penting kan aku ga ada buat apa-apa sama dia haha!" ucap nya dengan tawa kecil.
"Tapi kamu masih suka sama yang cantik kan? Bukan yang ganteng?" sambung nya lagi yang menatap ke arah saudara kembar nya.
"Aku tuh normal tau! Nanti kalau ketemu yang cocok mau langsung nikah aja deh!" ucap yang langsung memikirkan pernikahan.
"Ih! Masih kecil udah mau nikah! Kenapa? Ga boleh ya tidur sebelum nikah sama Tante Clara? Haha!" tanya nya dengan tawa yang semakin lepas.
"Punya saudara ga guna, sini biar aku cor sama batu aja!" ucap nya yang kesal dan ingin membanting saudara kembar nya.
"Haha! Hey semua dengar, ada yang mau jaga perj*ka nya sampai nikah! Jangan di rusak ya saudara kembar ku!" ucap nya yang berlari dan berteriak menjahili saudara nya.
Sedangkan yang di belakang sudah panas ke ubun-ubun dan mengejar dengan cepat.
"Kalau dapat, mati beneran nanti ku buat!" ucap nya yang begitu kesal dan mengejar saudara kembar nya dengan cepat.
...****************...
Oh iya maaf sebelum nya karna othor ga up lama, nah othor nya kan capek kalo pulang kerja itu udah jam 6 sorean jadi buat nya cuma dua novel terakhir itu.
Kalau yang ini satu bab lagi ya sebelum tamat, kalau besok sempat besok bab terakhir nyaππ
Happy Reading semoga sehat selalu dan berada di dlm kondisi yang baik πππ
Terimaksih karna sudah menunggu cerita iniππ
__ADS_1