(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Aku memiliki mu


__ADS_3

Tiga Minggu kemudian.


Zayn menatap ke arah gadis yang masih terpejam seperti putri tidur tersebut.


Wajah dan kulit yang pucat terlihat tenang seperti tak merasakan apapun, tak mendengar ataupun melihat.


"Louise? Kau harus bertahan sedikit lagi saja, kami akan segera menemukan darah yang cocok untuk mu," ucap nya lirih menatap gadis itu.


"Lagi pula kita belum sempat melakukan pertunangan kan?" tanya nya dengan senyuman tipis dan memejam sejenak saat ia tiba-tiba mengingat apa yang di katakan teman nya.


She love him


"Kau..."


"Masih sangat menyukai nya?" tanya nya lirih menatap gadis yang tentu tak bisa menjawab pertanyaan nya.


Ia memang menyukai gadis itu sejak lama, begitu lama bahkan jika ia di tanya sejak kapan pun ia tak tau.


Ia hanya baru menyadari perasaan nya saat gadis itu memiliki pacar pertama nya. Namun lambat laun ia tau jika gadis itu tak pernah benar-benar menyukai mantan-mantan kekasih nya dulu dan putus lebih cepat karna tak ingin di sentuh akibat memiliki trauma.


Dan ia pikir kali ini pun akan sama! Namun ternyata salah, gadis cantik itu sudah menemukan cinta pertama.


"Berikan aku kesempatan, aku janji tidak akan membuat mu menangis..."


"Jadi, ku mohon..."


"Kau harus tetap hidup untuk sampai di saat itu..."


Zayn tak bisa melakukan apapun, ia bukan dokter dan juga bukan seseorang yang memiliki darah yang sama dengan gadis pujaan nya.


Hanya harapan yang terus ia bangun dalam dirinya agar gadis itu bisa sadar nantinya. Yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah membantu menjaga apa yang ingin di lindungi oleh gadis itu.


"Louis sudah mulai menaikkan saham, Aku mengatakan ini agar kau tidak khawatir, lalu walaupun dia bercerai dia masih terlihat baik-baik saja,"


"Apa kita perlu mencarikan nya istri baru nanti?" tanya pria itu dengan senyuman kecil saat menanyakan candaan nya.


Namun secerah apapun senyum yang ia berikan tak akan bisa menutup manik mata nya yang terlihat menyimpan kesedihan dan harapan di saat bersamaan.


......................


Mansion Dachinko.


Nick menjadi lebih sibuk, walaupun James sudah sadar namun ia terlihat tak bersemangat.


Kata-kata yang di keluarkan pun bisa di hitung dengan jari, tak ingin melakukan apapun bahkan untuk melihat putri nya sendiri.


"Tuan? Mau sampai kapan anda seperti ini?" tanya Nick pada tuan nya yang memiliki ekspresi datar itu.


"Dia dulu juga sering tanya yang mirip seperti itu..." gumam nya lirih sembari tak menoleh ke arah bawahan nya.


Tangan nya beranjak mengambil alkohol dalam gelas kaca bening yang pendek dan lebar tersebut.


Meminum nya beberapa teguk dan kembali meletakkan nya.


"Nona tidak akan kembali jika tuan seperti ini?" tanya Nick lagi pada James.


"Oh ya? Kalau begitu kau sudah temukan dia? Bahkan kalau dia mati pun aku masih tetap ingin menemui nya," jawab James dengan tawa kecil.


Mentertawakan diri nya sendiri karna ia pun tak akan menyangka jika ia akan sekacau ini saat gadis itu tak ada di sisi nya dan tak berada dalam jangkauan yang bisa ia capai.


"Lalu apa yang akan tuan lakukan? Memberikan bunga di makam nya? Atau mayat mengambil nona Louise dan menyimpan nya?" tanya Nick pada pria itu.


James tak menjawab apapun, ia hanya diam tanpa sepatah kata pun, mengambil salah satu sigaret di tangan nya dan beranjak menghidupkan api nya.


Ia memang sudah berhenti cukup lama karena Louise yang tak menyukai kepulan asap sigaret tersebut.


"Jika anda terus seperti bagaimana dengan nona Bianca? Tuan ingin membuat nona Bianca terluka juga karna sikap anda," ucap Nick lagi.


Bagiamana pun tuan nya masih memiliki satu tanggungan dan juga sesuatu yang harus ia jaga.


Tangan pria itu terhenti, ia sendiri tak bisa menatap wajah putri nya yang terus mengingatkan nya tentang gadis itu.


"JBS," ucap nya lirih.


"Bukan nya anda ingin melepaskan nya? Maaf jika lancang tapi menurut saya nona Louise sudah cukup untuk untuk membayar amarah tuan," ucap Nick yang takut tuan nya tetap tak menyerah akan apa yang di lindungi gadis itu.


"Perhatikan mereka, apapun yang di lakukan bahkan sekecil apapun laporkan pada ku. Satu-satu nya cara untuk menemukan dia hanya itu." ucap James dengan nada nya yang rendah.


"Baik," jawab Nick pada tuan nya, "Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda? Anda sendiri tau kan? Anda berdiri di tempat yang tidak memiliki hukum dan tempat di mana yang kuat adalah yang berkuasa,"


Nick tau pekerjaan yang mereka miliki saat ini bukanlah pekerjaan yang bersih, penuh dengan tindakan ilegal dan bukan tempat yang bersih akan darah.


"Terjadi masalah?" tanya James dengan nada yang tak begitu peduli.

__ADS_1


"Tentu! Apa tuan kira pekerjaan kita hilang karna anda tidak ada? Masalah yang terjadi juga sangat-"


"Siapa yang berulah?" tanya James pada Nick dengan datar.


"CEO Garret, dia mencoba mengambil narkotika yang di akan di kirim dia juga mengancam soal tambang yang kita miliki," jelas Nick seketika.


"Oh,"


"Oh?! Hanya itu jawaban anda?" tanya Nick yang terkejut melihat reaksi tuan nya yang begitu kosong.


"Ini bukan masalah yang rumit," jawab pria itu datar.


Ia seperti kehilangan semangat nya, dalam melakukan apapun. Perasaan kosong di hati nya membuat nya seperti tak memiliki gairah apapun sama sekali.


"Tapi in-"


"Aku akan mengurus nya, aku masih memerlukan sedikit waktu lagi saja." potong James agar membuat bawahan nya diam.


"Baik, lalu bagaimana dengan nona Bianca? Bukan nya anda harus melakukan sesuatu untuk nya?" tanya Nick pada pria itu lagi.


"Bianca, putri ku..." ucap nya lirih, satu-satu nya darah daging yang ia miliki.


"Kau bisa menjaga nya dengan baik, aku akan menemui nya nanti." ucap James sembari berbalik melewati pria itu.


"Tidak! Saya tidak bisa! Bagaimana jika saya tiba-tiba berkhianat dan melukai putri anda?" tanya Nick yang ingin tuan nya bangun kembali.


"Kau tidak akan menyakiti putri ku, bukan nya kau menyukai dia?" tanya James dengan memutar kepala nya sedikit ke belakang.


"Apa maksud tuan? Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan." ucap Nick gugup mendengar nya.


"Louise? Kau menyukai nya kan? Sebagai wanita, maka dari itu kau melepaskan nya hari itu dan terus membujuk ku untuk melepaskan JBS atau Louis?" jawab James pada pria itu dan kembali melanjutkan langkah nya.


Nick membatu mendengar nya, tentu tuan nya tak sebodoh itu untuk tidak menyadari perasaan pria lain yang menginginkan wanita nya.


"Tapi aku juga tidak bisa lakukan apapun," gumam nya lirih.


Selama gadis itu berada di mansion ia hanya seperti penonton yang duduk di belakang panggung, tak pernah membantu ataupun melakukan apapun untuk gadis yang ia sukai karna perasaan suka nya kalah dengan rasa setia pada tuan nya.


....


Suara rintihan terdengar di kaki pria itu, awal nya ia hanya berniat mengambil apa yang di rebut dari nya tanpa mengambil nyawa sekalian.


Namun pembicaraan yang baik tak membuahkan hasil, pisau dan pistol lah yang paling ampuh jika ingin melakukan pembicaraan.


"A..ampun..."


"Aku sa..lah..."


"Akan ku kemba-"


DOR!!!


Mata yang terlihat tak memiliki jiwa dan wajah tampan yang datar serta sekaku es yang membeku itu memilih tak mendengar rengekan seseorang.


Bahkan setelah ia menghabisi beberapa orang yang sudah terbaring di lantai itu ia tetap tak merasakan apapun.


Tak merasa menang ataupun senang sama sekali.


James?


Deg!


Pria itu langsung mencari suara yang sebenarnya tak ada sama sekali, suara yang datang dari ilusi nya karna begitu merindukan gadis nya.


"Louise?" gumam nya lirih mencari gadis itu.


Kau berdarah? Apa kau terluka?


Pria itu diam ia bayangan gadis itu kembali datang di balik iris nya.


Kau membunuh mereka?


"Aku akan memilih mu, jangan pergi dari ku..." ucap nya lirih saat merasakan tangan gadis itu menyentuh tangan nya.


Pergi? Aku memang nya bisa pergi kemana?


Bayangan wajah cantik itu tersenyum padanya.


Kau yang membuat ku pergi kan?


James menggeleng, senyuman yang ia lihat saat ini bukanlah senyuman yang tulus.


Aku...

__ADS_1


Bukan nya aku sama seperti mereka?


"Bukan! Kau tidak sama dengan mereka!" bantah pria itu langsung saat bayangan gadis itu menatap sedih ke arah para mayat yang mati mengenaskan itu.


Tapi kau juga membunuh ku...


Deg!


James diam ia tak bisa mengatakan apapun, bahkan membantah bayangan yang datang di kepala nya saja ia tak bisa.


"Louise? Ak-"


Tangan nya mencoba meraih gadis di depan nya, berusaha agar tak kehilangan lagi namun.


Tangan nya kosong tak ada satupun yang bisa ia raih, ia kembali pada realita jika gadis itu sudah tak ada bersama nya.


Tes...


Mata nya mulai berair namun ia tetap saja wajah tampan itu tak memberikan ekspresi apapun seperti patung manekin yang kaku bahkan saat ia menangis sekali pun.


Pria itu menarik napas nya lirih, ujung bibir nya naik dengan tawa kecil yang membuat nya terlihat semakin memberikan awan hitam.


"Aku benar-benar akan gila," gumam nya lirih dengan tawa nya.


Beberapa orang yang masih belum habis kembali datang pada nya, bahkan beberapa pria yang memiliki tubuh tegap itu menghentikan langkah nya karna merasa aura menghancurkan pria itu benar-benar memuncak.


Tawa James terhenti, ia menatap ke arah sekumpulan pria yang datang pada nya dan ingin menghabisi nya.


"Kenapa di sana? Sini," ucap nya dengan mata tajam dan terlihat kehilangan akal nya yang lebih dulu membunuh semangat sekumpulan pria itu.


DOR!


Suara tembakan mulai terdengar, deruan napas yang berat dan juga pisau yang melayang dan menjadikan leher sebagai tempat tujuan nya hanya menambah kolam cairan merah kental di atas lantai tersebut.


......................


Mansion Dachinko.


Aroma anyir begitu tercium di tubuh tegap pria itu bagaikan parfum yang melekat, sepatu hitam itu meninggalkan jejak merah di lantai.


Wajah nya yang tak bisa di baca emosi nya itu dan berjalan langkah demi langkah hingga ke kamar putri cantik nya.


Para pengasuh yang menjaga bayi mungil yang masih terjaga walaupun sudah larut itu langsung terkejut.


Bubu...


Hanya dengan tatapan mata para pengasuh itu langsung beranjak keluar dengan sendiri nya.


Bukan nya menangis baby Bianca malah menggeliat dan tertawa dengan mata jernih nya.


Dia anak yang kau ingin kan, iya kan? Jangan meninggalkan nya sama seperti ku...


Pria itu tak bisa menghentikan telinga nya yang terus berbicara dari waktu ke waktu.


Tangan pria itu meraih putri kecil nya, menggendong nya walaupun seluruh tubuh nya penuh akan darah orang lain.


"Benar, aku masih memiliki mu..." gumam nya lirih sembari mengecup kepala mungil yang bulat itu.


I love you...


James memejam mendengar nya, ia masih merasakan yang sama. Perasaan yang sangat ingin mengulang ke waktu yang sudah terlewati untuk membalas pernyataan gadis itu.


"Seharusnya aku menjawab mu dengan benar..." gumam nya lirih dengan dada yang seakan di penuhi air meluap hingga mengambil tarikan napas nya.


Nya...


Gadis kecil itu menggeliat, tangan mungil yang bergerak ke segala arah membuat fokus James teralihkan dan kembali menatap ke arah mata putri kecil nya.


Setelah menggendong putri kecil nya, James keluar dan memberikan kembali baby Bianca pada para pengasuh agar bisa di bersihkan lagi karna ternoda dengan darah yang melekat pada nya saat ia gendong barusan.


...


Kini tak hanya putri nya yang sudah cantik, ia pun sudah membersihkan diri nya, mata nya menatap ke arah bayi mungil yang tidur di samping tempat tidur nya.


Wajah menggemaskan dengan tubuh gempal dan di pakaikan bando mutiara yang semakin terlihat cantik.



"Dia mungkin akan mencubit pipi mu kalau melihat kau tidur seperti ini..." ucap pria itu tersenyum pahit.


Membayangkan hal yang tak mungkin terjadi namun terus tumbuh di pikiran nya.


Setiap kali ia melihat wajah menggemaskan putri nya ia selalu teringat juga dengan wajah gadis itu, gadis yang ia pikir dapat ia singkirkan kapan saja namun ternyata gadis itu lah yang sudah menetap di hati nya.

__ADS_1


__ADS_2