(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Logika, Perasaan dan Tubuh


__ADS_3

7 Hari kemudian.


Kediaman Rai.


Satu kalung berkilau berkilau dari sang kakak yang ia pasangkan di leher jenjang nya hingga membuat nya terlihat lebih cantik.


"Sekarang, tinggal rambut." gumam nya sembari mulai menata rambut nya.


Hari ini sudah mulai beraktivitas seperti biasa setelah beristirahat kurang lebih satu minggu di kediaman nya ketika ia kembali dari rumah sakit.


"Kau mau keluar?" tanya seorang pria yang membuka pintu kamar gadis itu lalu berdiri sembari bersandar di ujung pintu dan melipat tangan nya.


"Hm, bisa kan?" jawab Louise sembari menoleh pada sang kakak.


"Tentu saja, adik ku kan harus melihat dunia yang lebih luas." ucap nya tersenyum.


"Karna aku habis putus?" ucap Louise sembari mengambil ponsel nya.


"Iya," jawab pria itu tersenyum.


Louise tersenyum pahit, ia masih belum bisa sepenuh nya melupakan pria yang menjadi cinta pertama nya, namun ia juga sangat sakit hati atas perlakuan pria itu.


"Dua hari lagi aku akan urus JBS farmasi, jadi hari ini jangan ganggu aku dulu." ucap nya sembari berlalu meninggalkan sang kakak.


"Pergi dengan Zayn?" tanya Louis pada adik nya .


"Tidak," jawab Louise cepat, sebenarnya ia masih takut canggung bertemu pria itu makanya ia menghindari nya dengan sengaja.


"Kau naik mobil sendiri?" tanya Louis berteriak pada adik nya.


"Iya," sahut gadis itu yang sudah mulai menjauh.


......................


Sementara itu.


Pria yang menunduk sembari memberi hormat pada pria yang jauh lebih muda di depan nya.


"Ini yang anda minta tuan," ucap nya yang memanggil penuh hormat walau usia nya terpaut jauh.


James mengambil salah satu memori card yang di berikan pria paruh baya dengan rambut yang sudah berubah warna di depan nya.


"Ini semua data yang yang menjadi rekan JBS grup?" tanya pria itu sembari melihat memori card nya lalu memberikan pada Nick agar segera memeriksa nya.


"Be-benar tuan," jawab nya gugup karna berhadapan dengan pria yang di juluki sebagai iblis dari neraka itu di dunia yang penuh akan tindak amoral.


Setelah semua terlihat di dalam laptop yang di bawa pria itu, Nick pun segera menunjukkan pada tuan nya.


James melihat ke laptop nya dan beranjak menatap ke arah pria yang sudah memiliki banyak rambut putih di depan nya.



"Kau yakin sudah semua?" tanya pria itu sembari mengernyit pada pria yang ia jadikan sebagai sekutu nya untuk saat ini.


"Su-sudah tuan," jawab pria itu gugup.


James pun menarik napas dan mengangguk lalu memberikan plastik mika kecil yang berisi benda bening berkilau yang sangat berharga.


"Setelah ini lakukan yang seperti ku katakan kalau kau mau tetap hidup seperti ini," ucap James pada pria itu dengan nada mengancam.


"Ba-baik tuan," jawab nya tergugup sembari mengusap keringat dingin di dahi nya.


James pun beranjak segera meninggalkan tempat itu, langkah nya keluar menatap restoran kecil yang menjadi tempat pertemuan nya agar tak mencolok orang lain.


"Tuan, ayo kembali?" ucap Nick pada pria tampan itu.


James diam tak menjawab sembari menelisik jalanan yang penuh akan tempat berjualan makanan serta beberapa barang kecil yang sering di jajakan di pinggir nya.


Jalanan yang memang terkenal menjadi tempat berkunjung dan berjualan untuk para pendatang, maka dari itu ia memilih tempat itu untuk transaksi nya.


Mata pria tampan itu tertuju pada salah satu restoran daging yang tak jauh di sana.


Tanpa sadar ia tersenyum melihat nya, "Kau tau? Dia pernah bilang kalau dulu waktu dia bolos dia sembunyi di sana, ku rasa itu tempat nya karna nama nya resto nya mirip."

__ADS_1


"Tuan?" panggil Nick lirih.


James tersentak, bisa-bisa nya ia tiba-tiba ingat dengan gadis yang ia campakkan sendiri bebetapa waktu lalu.


"Aku akan melihat-lihat sebentar, kau bisa kembali lebih dulu." ucap James pada bawahan setia nya itu.


...


Louise melihat ke sekeliling tempat yang dulu nya sering ia jadikan tempat sembunyi ataupun pelarian nya jika bolos sekolah.


Walaupun ia memiliki sedikit kenakalan namun peringkat nya tak pernah ada yang mengalahkan kecuali sang kakak.


Kepintaran yang di atas rata-rata namun sosial yang di bawah rata-rata membuat nya suka melakukan semua hal yang menurut nya menarik.


Wajah nya tersenyum melihat tempat yang dulu sering ia datangi, tempat yang memiliki aroma teh yang di jual khas hanya ada di sana.


Ia pun mengusap perut yang masih terlihat rata dan belum membulat sama sekali.


"Mau mampir ke tempat Mommy dulu suka minum teh?" ucap nya tersenyum sembari menunduk ke arah perut nya.


Ia pun mulai melangkah kan kaki nya menuju tempat yang dulu menjadi kenangan di masa kuliah nya.


Mata nya menelisik dari depan pintu masuk ke arah tempat itu yang masih tak berubah sama sekali sejak terakhir kali ia datang.



"Masih sama..." gumam nya melihat tempat tersebut.


Ia pun memasuki nya dan memesan teh yang ia sukai dengan campuran cramer yang membuat lidah nya menyukai rasa lembut dan meleleh dengan aroma wangi dari teh yang di seduh.


"Kau suka jalan-jalan dengan Mommy? Karna nanti waktu kita akan sedikit..." ucap nya yang mungkin nanti harus mulai menghadapi hari yang sulit.


Setelah meminum teh ia pun keluar sembari memberi roti bakar di tangan nya yang di beri selai coklat dengan rasbery yang di letakkan nya sebagai hiasan dan penambah rasa.


Langkah nya terhenti sejenak menatap di depan salah satu toko yang menggunakan dinding kaca dan menampilkan barang jualan nya.


Namun gadis cantik itu tak sadar jika ia berdiri di bawah banner nama toko yang terlihat hampir jatuh.


Ia tersenyum melihat dari luar, ia tak memasuki toko tersebut karna baginya belum waktu nya untuk ia masuk ke dalam.


"Sekarang masih jadi kacang polong yah?" sambung tertawa kecil.


Wajah yang tersenyum melihat perlengkapan bayi yang di panjangkan di dalam toko membuat nya merasa lebih baik.


Anak yang hadir di dalam rahim nya memang bukan keinginan nya namun ia juga tak membenci nya, anak yang ikut bernapas dengan napas nya dan tumbuh dengan aliran darah yang sama dengan nya.


Deg!


Langkah pria itu terhenti, ia tak menyangka kan melihat gadis itu di tempat yang sama.


"Apa yang dia lihat?" gumam James melihat ke arah toko yang membuat gadis itu tersenyum.


Mata nya mengernyit namun ia berusaha agar tak peduli apa yang di lakukan atau terjadi dengan gadis itu.


Pria itu pun ingin berbalik, namun ekor mata nya tanpa sadar melihat ke arah banner yang hampir terjatuh itu.


Ck! Bukan urusan ku!


Batin nya berdecak berusaha tak peduli sama sekali dan ingin dengan acuh meninggalkan gadis itu tak peduli hal itu bisa berbahaya atau tidak.


Sudahlah, kalau dia mati tertimpa aku tak perlu membunuh nya lagi!


Decak nya yang masih berusaha berbalik dan berjalan lawan arah, namun.


Langkah nya berbalik cepat ke belakang dan menarik tangan kecil itu segera membalik nya dan mengukung nya.


Set!


BRAK!!!


AKH!


Suara teriakan yang dari para pejalan kaki yang lain karna suara benda besar yang terjatuh dan hancur itu tentu membuat siapapun terkejut.

__ADS_1


Louise masih sangat terkejut, ia terdiam dengan degupan jantung yang berdebar keras, sedetik yang lalu tubuh nya hampir hancur saat tertimpa banner nama yang sudah tak kuat lagi menahan beban nya hingga terjatuh.


Ia masih mengambil napas nya, lalu mata nya baru menyadari jika ia bertemu dengan pria yang beberapa waktu lalu mencampakkan nya dan bahkan mungkin mengancam keluarga nya.


Tak hanya ia namun pria itu juga melihat iris hijau nya dan mengunci pandangan nya bersama satu sama lain sejenak.


Tes...


Cairan merah kental yang mulai mengalir mengenai crop top putih yang di kenakan oleh gadis itu membuat mata pria itu teralihkan dan langsung bangun.


Beberapa besi tajam mungkin berada di punggung nya namun ia bangun, lalu pandangan mata nya dalam sekejap berubah menjadi dingin dan tajam.


Tanpa mengatakan apapun ia beranjak bangun dan pergi begitu saja.


Orang-orang yang berada di sana langsung datang membantu gadis itu sedangkan pria yang tiba-tiba berlari pada nya lalu menarik tubuh nya hingga terlindung pergi tanpa sepatah kata pun.


Pemilik toko keluar dan meminta maaf serta mempertanggungjawabkan keamanan toko nya, cukup riuh kejadian siang itu namun gadis cantik itu tak terluka sedikit pun.


"Nona? Anda berdarah!" ucap salah seseorang yang membuat lamunan Louise buyar.


"Darah?" gumam gadis itu melihat pakaian nya.


Lalu mata nya menatap ke arah jalanan yang terlihat bercak darah mengikuti arah langkah kaki pria yang sudah pergi jauh meninggalkan nya.


"Saya tidak terluka," ucap Louise yang menjawab pertanyaan orang tersebut.


...


Brak!


Pria itu memukul stir nya, ia kesal dengan dirinya sendiri yang bergerak tak sesuai dengan logika nya.


"Seharusnya aku membiarkan nya saja!" decak nya kesal sedangkan aliran cairan merah kental yang menembus kaos hitam nya mengalir semakin deras.


Bahu nya terkena besi tajam yang ikut runtuh saat menarik gadis itu menghindar dan tanpa sadar membuat tubuh nya sendiri menjadi tameng.


Logika, perasaan, dan tubuh yang tidak sejalan dengan keinginan nya.


"Kenapa aku bergerak sendiri?" ucap nya kesal yang ia bahkan tak bisa mengontrol langkah kaki nya untuk mengabaikan gadis itu.


Walau pikiran nya sudah berulang kali ia gunakan untuk melihat gadis itu mati di depan nya.


......................


Mansion Dachinko.


Nick yang melihat tuan nya pulang dengan keadaan terluka langsung terkejut dan memanggil Chiko.


Luka memanjang di bahu pria itu tentu membuat nya mengalirkan darah yang membuat pria itu khawatir.


"Kenapa bisa terluka sampai seperti ini?" ucap Chiko sembari berusaha menutup luka pria itu.


"Lagi pula sekarang sudah tidak terasa," jawab James enteng yang membuat Chiko dan Nick merasa geram.


"Karna sekarang bius nya sudah berjalan!" ucap Chiko kesal.


James hanya diam saja, ia tak mengetakan mengapa ia bisa terluka.


...


Senja yang mulai mengubah warna langit membuat pria itu tak kunjung masuk ke dalam istana yang sudah ia bangun.


"Apa yang sedang anda lakukan?" tanya Nick yang merasa tuan nya sedikit berbeda hari ini.


"Mencari sesuatu," jawab James singkat.


"Apa yang tuan cari?" tanya Nick mengernyit.


"Akal sehat," pria itu menjawab singkat karna ia masih tak dapat menerima dirinya yang bergerak sendiri tanpa keinginan pikiran dan logika nya.


Nick pun merasa bingung dengan jawaban abstrak tuan nya, namun ia memilih meninggalkan pria itu sendiri karna seperti yang di butuhkan tuan nya adalah ketenangan.


James membuang napas nya lirih sembari masih berdiri sembari memasukkan tangan nya ke saku celana nya.

__ADS_1


"She drives me crazy," gumam nya lirih dengan perasaan yang sungguh membuat nya tak nyaman.


__ADS_2