(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Normal?


__ADS_3

Mansion Dachinko.


Mata gadis kecil itu perlahan terbuka, pandangan yang masih mengabur mulai terlihat jernih.


Kaki mungil nya segera turun dari ranjang yang bagi nya cukup tinggi dan mulai memakai sweater coklat yang tergantung tak jauh dari tempat tidur nya, memakai sepatu bulu dengan cepat walaupun wajah dan rambut yang masih berantakan karna baru saja bangun.


Bruk!


"Aduh!"


Bianca terpental dengan tubuh kecil nya saat menabrak orang dewasa yang berada di depan nya.


"Nona? Kenapa lari-lari masih pagi?" ucap Nick yang melihat putri kecil kesayangan tuan nya itu sudah terduduk di atas rumput hijau di belakang mansion.


"Pusing pala Bian gala-gala paman!" protes nya sembari memegang kepala nya.



"Malah paman di salahin? Nona Bian yang nabrak," ucap Nick menatap nona kecil nya.


"Paman kenapa gak ngehindal?" tanya nya dengan raut kesal saat di bangunkan.


Gadis kecil itu tak begitu menggubris lagi, alasan nya berlari cepat tak sabar adalah untuk bermain dengan anak kelinci yang bagi terlihat mengemaskan.


"Paman kan tidak tau," ucap Nick pada nona kecil nya.


"Kan Bian aji atuh," ucap nya yang masih belum memiliki kosa kata yang sempurna.


Nick menghela napas nya sejenak, untung nya wajah nona kecil nya sangat menggemaskan sehingga masih bisa teratasi walaupun terkadang memiliki sifat yang menyebalkan.


"Kau jatuh karna belum mandi,"


Belum sempat ia membalas ucapan nona kecil nya, kini suara ayah dari anak perempuan di depan nya terdengar.


James mengangkat putri kecil seperti membawa boneka ringan tanpa baterai, melihat wajah yang cemberut dan masih sembab karna baru bangun serta rambut yang masih berantakan.


"Bangun tidur bukan nya cuci muka dulu malah cari nya kelinci," ucap nya yang mulai tau cara memarahi putri kecil nya.


"Bianca uda uci muka, Dad!" ucap nya mengelak saat sang ayah menggendong nya.


"Kapan?" tanya James mengernyit.


Baru saja ia datang ke kamar putri nya pagi-pagi untuk sarapan bersama namun kamar luas itu sudah kosong.


"Tadi kan Bian uda bilang Dad?" ucap nya dengan napas panjang seperti tengah mengeluh.


"Daddy tidak dengar apapun," ucap James lagi.


"Bianca bilang nya dalam ati, Daddy nih gak bisa dengel suala ati Bian." keluh nya pada sang ayah dengan alasan nya.


James tak mengatakan apapun lagi, percuma berdebat dengan anak yang selalu memiliki jawaban yang datang entah dari mana.


Sedangkan ia membawa putri kecil nya sarapan lebih dulu, dan Arnold yang kini mulai menginjak usia 8 tahun itu semakin terlihat disiplin dalam segi waktu ataupun sikap karna selalu ingin mendapat pujian dari sang ayah.


"Daddy masih lama?" gumam nya lirih sembari melihat ke arah makanan yang membentang menunggu ayah dan adik nya.


Tak ada larangan jika ia ingin sarapan lebih dulu namun secara alamiah ia lebih ingin makan bersama.


......................


Roma, Itali.


Wanita itu mengembalikan kotak kecil yang berisi cincin permata di dalam nya.


"Maaf, aku tidak bisa..." ucap nya lirih.


Perceraian yang sudah memasuki tahun ketiga namun tak membuat nya benar-benar merasa terlepas sama sekali.


Ia benci dan juga rindu pada seseorang yang ingin ia hapus dalam ingatan nya. Membuat nya lebih sulit menerima orang baru.


"Kenapa? Apa aku memiliki sesuatu yang tidak kau sukai?" tanya Dave mengernyit.


Ia suka pada wanita di depan nya sejak mereka sama-sama mengikuti even fotografer di tempat yang sama.


"Bukan, aku masih belum siap saja." jawab Clara beralasan.


Ia sendiri bingung bagaimana menjawab nya namun ia ragu dan tak ingin melakukan nya.


"Lalu?" tanya Dave mulai mendesak.


"Karna aku belum siap, kau mau aku kasih tau alasan apa lagi?" tanya Clara mengernyit.


"Ck!" pria itu berdecak, ia tak suka melihat sesuatu berjalan tak sesuai keinginan nya.


"Lagi pula aku juga banyak kekurangan kan? Aku pernah bercerai dan lagi aku juga memiliki masalah," ucap nya yang tak ingin mengatakan jika ia tak bisa lagi memiliki anak.


"Makanya! Kau itu bodoh! Kalau kau bukan aku tidak ada yang mau lagi dengan mu!" ucap Dave yang hampir kehilangan topeng nya saat mendapat penolakan.


Deg!


Clara tersentak, sudah sejak lama ia tak mendengar makian pada nya dan kali ini ia mendengar nya karna menolak lamaran?


"Ha? Memang nya aku pernah minta di sukai? Aku mau sendiri, mau menikah, mau pacaran sekalipun tidak ada urusan nya dengan mu kan?" ucap nya dengan kesal dan bergegas mengambil tas nya.


Dave tersentak, ia baru sadar ia kelepasan bicara sejenak tadi.


"Cla! Bukan! Bukan begitu! Aku tidak bermaksud marah tadi aku cu-"


Ucapan nya terhenti, wanita cantik itu segera menaiki taksi dan pembicaraan pun terhenti.


...


Apart.


Clara mendengus kesal, ia melempar tas nya ke atas sofa dan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang empuk nya.


"Aneh! Malah dia yang marah!" ucap nya berdecak.


Ia memang berencana kembali dalam bulan depan karna kedua orang tua nya yang meminta nya untuk pulang.


Wanita cantik itu pun membuka ponsel nya, mencari tiket pesawat yang cocok dan mulai memesan nya hanya dengan mengklik menggunakan jemari nya.


......................


Dua Minggu kemudian.

__ADS_1


Mansion Dachinko.


Gadis kecil itu menatap ke arah televisi nya, melihat kartun animasi yang membuat nya tak mengerti.


"Kak?"


"Kak?"


Tangan mungil nya menggoyangkan sang kakak yang duduk di samping nya.


"Iya?" Al langsung menoleh ke arah gadis kecil mungil seperti boneka hidup itu.


"Dia sian ya kak gak inggal sama Daddy nya..." ucap nya sembari menunjuk ke arah televisi nya.


Kartun animasi yang hanya menggambarkan tinggal bersama sang ibu namun ayah nya tidak terlihat.


"Tapi kan dia sama Mommy nya," jawab Al langsung sembari menatap ke arah televisi sejenak.


"Mommy? Mommy tu apa kak?" tanya mengernyit tak mengerti.


Kata 'Ibu' memang memiliki beberapa panggilan yang berbeda dan gadis kecil itu menganggap jika ada wanita yang mengurus anak itu adalah pelayan karna ia tak mengerti ada nya satu orang tua lagi.


"Kita itu harus nya punya Daddy satu terus Mommy satu," ucap Arnold menjawab.


"Kenapa gitu? Bian kan anak Daddy," ucap nya sekali lagi.


Sang ayah tak pernah menceritakan tentang ibu nya sekalipun, bukan nya tak ingin namun sulit untuk mengatakan nya apalagi saat sang ayah berusaha memisahkan antara ilusi dan realita karna terus melihat bayangan dari seseorang yang ia rindukan.


"Tapi kan Bian lahir nya dari Mommy Bian," Al yang mencoba menjawab walaupun ia bingung juga menjawab nya.


"Lahil tu apa kak?" tanya nya lagi dengan mata yang penasaran.


Karna masih kecil ia tak ingat dengan setiap tahun yang merayakan ulang tahun nya memiliki arti yang sama dengan kelahiran.


"Ih! Pokok nya itu dulu Bian di dalam perut! Nah perut nya itu perut Mommy Bian!" jawab Arnold yang semakin bingung.


"Loh? Bian kan anak Daddy belalti Bian dali pelut Daddy lah kak," jawab nya dengan polos yang juga tak mengerti karna yang ia tau orang tua itu hanya satu dan itu adalah sang ayah.


Al terlihat bingung namun gadis kecil di depan nya tak lagi bertanya dan malah tertawa saat melihat kembali kartun nya.


...


"Daddy!" Kaki kecil itu langsung berlari saat melihat mobil sang ayah kembali dari jendela nya.


Pluk!


Ia memeluk kaki pria itu karna tubuh nya yang pendek hanya mampu memeluk kaki nya.


Aroma amis anyir menyelimuti sang ayah, namun ia tak merasa takut ataupun terkejut karna mungkin penciuman nya sudah terbiasa sejak kecil.


"Daddy abis ngapain? Abis piuw! piuw! Gak ajak Bianca?" tanya nya sembari membuka tangan nya agar sang ayah menggendong nya.


"Belum tidur?" tanya James yang membuka jas nya lalu memberikan pada pelayan di samping nya kemudian menggendong putri kecil nya.


Bianca menggeleng, ia menunggu sang ayah karna ingin bertanya hal yang membuat nya penasaran.


"Daddy? Bianca dulu di pelut Daddy kan?" tanya nya dengan polos tak mengerti jika pria tidak bisa hamil.


James mengehentikan langkah nya, "Ha?" ia menatap bingung ke arah putri kecil nya.


James tak mengerti maksud pembicaraan putri nya namun ia tau putri kecil nya sedang membicarakan ibu nya.


"Bianca juga punya Mommy," ucap nya lirih menatap ke arah mata yang terlihat bingung itu.


"Mommy? Kenapa Bian unya Mommy?" tanya nya bingung.


"Karna setiap anak itu punya Daddy sama Mommy," jawab James lagi.


"Telus Mommy Bian mana? Kenapa gak pernah ucul?" ucap nya yang tak pena tau bagaiman rupa sang ibu atau membayangkan jika ia punya orang tua lain nya.


"Mommy Bian lagi pergi..." jawab nya lirih.


"Mommy tuh yang kayak apa si Dad? Kayak yang di tv tadi?" tanya nya dengan bahasa nya sendiri.


"Tv?" James bingung apa yang menjadi pertanyaan putri kecil nya.


"Iya! Itu yang di kaltun!" ucap nya lagi.


"Iya, yang seperti itu..." jawab pria itu lirih.


"Wih! Kayak nya selu Dad punya Mommy!" ucap gadis itu dengan mata berbinar seperti kembang api yang menyala.


James tak menjawab, walaupun putri kecil nya mengatakan seru namun tetap saja ia tak tau keberadaan ibu yang di inginkan putri nya.


"Tapi Mommy kenapa pelgi Dad? Yang di kaltun Mommy nya gak pelgi tu?" tanya nya lagi.


James tak bisa menjawab pertanyaan kali ini, kalaupun ia jawab putri nya juga tak akan mengerti.


"Bianca mau lihat tidak wajah Mommy Bian?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.


"Mau!" Gadis kecil yang bahkan tak mengerti jika ia memiliki 'Ibu' itu terlihat menjawab dengan semangat.


James memang tak memiliki foto pernikahan karna memang ia tak pernah menikah namun untuk foto gadis itu ia punya banyak saat sebelum ia tau tentang kebenaran masa lalu nya dan masih memiliki hubungan yang baik.


"Ih! Antik!" ucap nya melihat wajah yang berada di layar pipih yang besar tersebut dan menggeser nya satu persatu.


"Cantik kan?" tanya nya pria itu lirih sembari melihat ke depan nya sekilas menatap bayangan yang tersenyum ke arah nya.


"Mommy juga suka piuw! piuw! Dad?" tanya nya saat ia menggeser layar iPad di depan nya.


"Piuw? Mommy Bian itu dokter," ucap nya yang mengatakan profesi sesuai dengan sekolah gadis nya.


"Doktel? Doktel tu apa?" tanya Bianca sembari menatap sang ayah.


"Dokter itu yang priksa Bian kalau sakit sama seperti paman Chiko." jawab nya dan putri nya pun langsung mengerti walau gadis kecil itu sangat jarang sakit.


Bianca tak bertanya apapun lagi, ia baru mendengar apa kata ibu saat ini dan baru tau juga jika ia memiliki ibu. Mata nya hanya menatap ke arah wanita yang memiliki wajah yang mirip dengan nya.


Selesai bicara dengan putri nya dan melihat gadis kecil itu terlelap tidur ia pun beranjak ke tempat lain nya, ke gudang yang menyimpan beragam minuman manis pahit yang baginya menyegarkan.


Ia menuangkan di gelas yang tak jauh dari botol yang tersusun rapi itu dan meminum nya.


Kau minum sendiri? Aku juga mau!


Tegukan nya terhenti, gelas yang berisi wine itu masih menggantung di tangan nya dan menatap lurus ke depan ke arah bayangan yang selalu muncul bahkan sudah bertahun-tahun.

__ADS_1



"Dia bertanya tentang mu..." ucap nya lirih pada bayangan yang hanya muncul dan di timbulkan oleh isi kepala nya saja.


Sudah menjadi kebiasaan nya meminum banyak alkohol untuk membantu nya tertidur sekarang.


Bayangan cantik itu tak menjawab apapun, ia hanya perlahan memudar dan menghilang begitu saja.


James terdiam, bukan nya ia tak melakukan apa-apa namun ia tak bisa menemukan keberadaan gadis nya bahkan jika sekalipun telah tiada ia juga tak menemukan makam nya sama sekali.


......................


Satu Minggu kemudian.


Pria itu mengemudikan mobil nya walau malam sudah semakin meninggi, ia baru saja mendapat telpon dari sahabat nya yang menanyakan keberadaan adik yang di kira sedang bersama nya.


"Ke mana lagi dia..." gumam nya sembari menelpon tak ada satu pun panggilan yang terjawab.


...


Suara dentuman musik yang keras terdengar, pria itu berjalan masuk melewati beberapa orang yang tengah menari untuk mencari seseorang.


Pria itu melihat ke arah gadis yang tertawa dengan cerah sembari memegang segelas alkohol di tangan nya dan berbincang dengan wanita yang sekira nya seumuran dengan nya.



Ia mendekat ke arah gadis itu dan muncul di belakang nya sembari menepuk bahu nya dan memijat nya dengan kecil.


"Udah minum nya?"


Gadis itu tersentak, ia menoleh ke belakang dan menatap pria yang sudah berdiri di balik nya sembari memegang bahu nya.


"Za...Zayn..." ucap nya lirih sembari melihat ke arah pria itu.


Dan selanjutnya saat tentu sudah dapat di perkirakan jika ia akan di seret pulang.


...


Louise menatap ke pria di samping nya, kali ini ia kembali ke apart yang sama. Walaupun ia memiliki rumah sendiri namun sejak setahun yang lalu ia lebih sering menginap di apart pria yang menjemput nya.


Ia belum kembali sama sekali ke kediaman nya dan masih tinggal di Kanada selama beberapa tahun terakhir dan ia sendiri juga bingung mengapa sang kakak melarang nya pulang dan lebih memilih bolak-balik keluar negeri hanya untuk melihat nya.


Semenjak ia bangun pun banyak yang berubah, mulai dari sikap orang-orang terdekat nya dan juga lingkungan.


Namun ia tetap seakan terjebak dengan masa yang masih sangat suka bersenang-senang, ia bahkan tak ingat jika ia pun pernah menyandang status wakil Presdir sebelum nya dan yang ia ingat kakak nya lah yang masih mengatur semua nya bersama dengan paman nya.


"Zayn? Marah?" tanya nya sembari memegang tangan pria itu.


Pria itu diam dan menarik napas nya, di bandingkan marah ia merasa begitu khawatir.


"Kau tau aku punya hak untuk marah atau melarang mu pergi kan?" tanya Zayn sembari menatap lurus ke arah gadis di depan nya.


Louise terdiam, inilah salah satu perubahan yang ia rasakan semenjak ia bangun. Jika pria di depan nya tidak seperti pria imut lagi namun mulai memiliki aura pria dewasa.


"Iya, sekali ini aja kok! Janji abis itu gak ngulangin lagi! Jangan bilang Louis yah!" ucap nya sembari menyatukan kedua tangan nya seakan tengah memohon.


Ia tau jika pria di depan nya memiliki hak untuk melarang nya karna mereka kini sudah memiliki ikatan sejak setahun yang lalu.


Walaupun ia bingung mengapa sang kakak begitu mendesak nya agar cepat menikah semenjak ia pulih namun ia berhasil meyakinkan saudara nya untuk melakukan pertunangan lebih dulu dan hasil nya adalah saat ini.


Ia memang memiliki ikatan seperti tunangan namun tetap saja ia tak bisa memperlakukan pria itu seperti selayaknya 'tunangan sesungguh nya' karna yang masih tertanam dalam ingatan dan kebiasaan nya jika mereka masih berteman.


Banyak hal yang ia bingungkan sejak ia bangun, di mulai dari tato di tubuh nya yang tidak ingat kapan membuat nya, bekas operasi dari 'kecelakaan' yang bagi nya cukup ganjal di beberapa bagian tubuh nya.


Namun walaupun ia merasa bingung dan bertanya-tanya pada akhirnya ia tetap mempercayai apa yang di katakan sang kakak walaupun baginya hal tersebut tak masuk akal.


"Aku khawatir, jadi..."


"Jadi..."


Pria itu tak melanjutkan kalimat nya, ia takut dan benar-benar takut jika gadis di depan nya akan mengalami hal yang sama seperti sebelum nya.


Louise diam, selama dua tahun terakhir ia memang sering melihat kakak nya atau teman nya menatap nya dengan rasa khawatir yang berlebihan namun ia berpikir jika itu semua terjadi karna ia memiliki kesehatan yang lemah.


Mata yang menatap nya begitu gelisah dan khawatir itu membuat nya menarik napas sejenak, memegang tangan nya dan mendekat.


"Sekarang lihat kan? Aku gak kenapa-kenapa..." ucap nya tersenyum.


Cup!


Ia berjinjit menggunakan heels nya agar dapat mengecup pipi pria itu, bahkan tanpa memiliki hubungan tunangan pun skinship seperti cium pipi adalah yang biasa ia lakukan sejak dulu walaupun ia memiliki trauma masa kecil, karna trauma nya tidak berlaku pada Ayah, kakak, dan pria di depan nya saat ini.


Zayn diam sejenak, saat gadis itu mengecup pipi nya. Hati nya luluh begitu saja pada gadis itu.


"Hanya itu...?" tanya nya lirih.


Ia masih tak bisa langsung menyentuh gadis di depan nya walaupun gadis itu adalah tunangan nya sendiri saat ini karna ia tak mau sentuhan nya berbalik menyakiti gadis itu.


"Kau mau yang lain?" tanya Louise mengernyit.


"Kau tau apa yang ku mau?" tanya pria itu mengulang.


Louise diam sejenak, ia tak pernah melakukan hal yang begitu jauh namun tentu nya untuk sekedar ciuman tak mungkin ia tak pernah melakukan nya sejak satu tahun yang lalu saat pesta pertunangan nya di gelar walaupun secara tertutup.


"Boleh," ucap nya yang tersenyum.


Humph!


Tubuh nya terdorong ke perlahan ke dinding, pangutan dari bibir yang langsung menyambar nya dan menarik pinggang ramping nya.


Iris hijau itu terbuka, ia menatap ke arah pria yang mencium bibir nya, ia tau dan dapat merasakan dengan jelas jika pria itu benar-benar mencintai nya sebagai wanita bukan sebagai sahabat seperti yang ia rasakan.


Dan, tetap sama!


Kali ini pun ia tak merasakan perasaan apapun, tak berdebar atau merasa panas saat tengah berciuman dengan seorang pria.


Bahkan terkadang ia bingung dengan dirinya sendiri mengapa tak bisa merasakan apapun saat tengah bersentuhan dengan seorang pria bahkan terkadang ia berpikir jika ia mungkin tidak normal dalam hal yang membelok seperti menyukai sesama wanita karna merasa datar setiap sahabat sekaligus tunangan nya itu mencium bibir nya.


Tidak ada yang salah dengan ku, kan?


Orientasi ku juga masih sama kan?


Aku masih normal setelah kecelakaan?


Seperti dinding tinggi yang memblokir ingatan nya, tanpa sadar ia sedang mewaspadai dirinya sendiri karna takut dengan 'cinta' yang akan menyakiti nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2