
Mansion Dachinko
"Daddy!"
Lagi-lagi suara yang menggemaskan itu terdengar, kaki mungil itu langsung berlari saat melihat sang ayah datang.
Greb!
Tubuh yang kecil mungil itu langsung melompat agar sang ayah menangkap dan menggendong nya.
"Daddy bilang kan jangan sering lari seperti itu," ucap James yang kini sudah membawa Bianca ke dalam pelukan nya.
"Hihi!" gadis kecil itu hanya tertawa, ia memeluk sang ayah dan memainkan janggut kasar pria itu.
"Daddy? Mommy kok gak punya lambut juga?" tanya nya pada sang ayah.
Ia masih tak mengerti jika hanya pria yang tumbuh janggut dan kumis.
James tak menjawab, ia memilih membawa putri nya kembali ke tempat bermain.
"Tadi Bian main apa?" tanya nya saat menurunkan putri kecil nya yang selalu tertawa dan menatap nya dengan berbinar itu.
"Main boneka, Daddy mau ikut?" tanya Bianca dengan mata yang bersinar.
James pun menarik napas nya dan duduk di atas karpet yang lembut dan tebal itu, melihat sang ayah yang mengikuti kemauan nya Bianca pun langsung tersenyum.
Ia memberikan satu boneka yang memiliki rambut panjang itu pada sang ayah.
Walaupun wajah nya selalu terkesan datar namun Bianca sudah terbiasa. Gadis kecil itu tak takut dan merasa nyaman bersama sang ayah.
James menatap ke arah putri kecil nya yang mungil itu, ia sudah berhasil mendapatkan kesempatan untuk menemui gadis nya sebanyak 30 kali.
Merasa senang?
Tentu, tapi kalau selama 30 kali kesempatan gadis nya tetap tak memiliki perasaan apapun pada nya dan ia yang gagal meyakinkan nya apa ia benar-benar bisa pergi?
Pria itu pun perlahan menarik putri kecil nya dan memeluk nya dengan erat. Tubuh mungil itu langsung tenggelam di dalam dekapan sang ayah.
"Daddy?" panggil Bianca yang merasa sang ayah sedikit berbeda karna kali ini selalu memeluk nya.
"Daddy kenapa?" tanya nya pada sang ayah dengan raut coklat yang tampak khawatir itu.
"Daddy mau peluk Bianca aja," ucap pria itu dengan senyuman tipis sembari mengelus kepala putri nya.
"Hum?" raut wajah menggemaskan itu mulai berpikir, "Daddy ngompol di tempat tidul yah semalam?" tanya nya dengan polos dan menatap sang ayah.
James hanya tersenyum kecil mendengar nya, ia bukan lah anak-anak lagi namun putri nya menuduh hal demikian.
Ya, tentu saja karna pikiran itu juga datang nya dari anak-anak.
"Bian? Menurut Bianca Mommy itu seperti apa?" tanya nya pada putri kecil nya.
"Mommy itu lambut?" jawab nya dengan bingung cara mendeskripsikan sang ibu dalam pandangan nya.
"Rambut? Maksud nya?" tanya James bingung dengan ucapan ambigu putri nya.
"Setiap kali Bianca dateng, Mommy pasti pelgi. Mommy gak mau lihat Bian, jadi Bian cuma lihat lambut Mommy..." jawab nya pada sang ayah dengan wajah polos nya.
Rambut dan punggung sang ibu adalah sesuatu yang ia ingat dari wanita yang melahirkan nya.
Wanita yang selalu membalikkan tubuh dan wajah nya ketika datang, ia tak membenci dan juga masih mendambakan sang ibu namun kenangan sang ibu hanya sampai di situ di kepala nya.
"Terus kalau Daddy? Menurut Bian Daddy itu seperti apa?" tanya nya pada putri nya.
Wajah menggemaskan itu langsung tersenyum cerah, "Daddy itu kesayangan Bian! Daddy itu kayak Blublu!" jawab nya dengan semnagat.
Blublu merupakan boneka yang paling besar yang di miliki oleh gadis itu, boneka kesayangan nya yang bahkan sang kakak pun tak ia pinjamkan saat bermain.
James tersenyum kecil, tentu arti dirinya dan gadis nya sangat berbeda di mata putri kecil nya.
"Maaf yah Daddy buat Bian gak bisa sama Mommy..." ucap nya sembari mengusap kepala putri nya.
Jika saja ia dulu memilih bersama gadis itu pasti putri kecil nya akan tau apa itu 'Ibu' tidak seperti saat ini yang tak tau apapun tentang wanita yang melahirkan nya.
"Tapi Bian sama Daddy!" jawab gadis kecil itu yang merasa tak kekurangan dengan kasih sayang karna sang ayah sudah memberi nya begitu banyak cinta sampai ia sendiri tak pernah mencari ibu nya dan tak tau apa itu ibu jika tidak di beri tau.
__ADS_1
......................
Kediaman Rai
Louise menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur nya, ia bernapas dengan berat sembari menutup wajah nya dengan satu tangan agar cahaya siang itu tak masuk ke dalam mata nya.
"Hah.."
"Hahahaha..."
Gadis itu mulai tertawa, ia tak tau harus tertawa atau menangis. Walaupun suara dan bibir nya memberikan gerak tawa namun mata nya tak bisa berbohong.
Air mata nya mulai jatuh, perasaan nya terasa meluap. "He loves me?" gumam nya lirih sembari menjatuhkan air mata nya.
"It's f*cking joke!" sambung nya dengan tangis yang tertawa itu.
Gadis itu perlahan membalik tubuh nya, meringkuk dan menangis tanpa sebab. Padahal kali ini pria itu tak mengatakan sesuatu yang menyakiti nya, tidak melakukan sesuatu yang memaksa nya namun entah mengapa ia tetap merasa sakit.
......................
3 Hari kemudian.
Louise mulai mendapat telpon, telpon dengan nomor yang tak ia simpan sama sekali di ponsel nya namun ia bisa hapal milik siapa nomer tersebut.
"Kali ini aku mau pakai kesempatan pertama ku,"
"Apa itu?" Louise mengernyit, ucapan nya terdengar ketus dan tajam namun suara di balik telpon itu seperti tak masalah.
Louise diam sejenak sebelum menjawab nya, ia menarik napas nya dan pada akhirnya menyetujui tentang apa yang di inginkan pria itu.
"Dimana?" tanya nya yang berarti jika ia sudah setuju.
"Resto di Villa Det'fts, akan ku jemput nanti." ucap pria itu dari telpon.
"Tidak usah, aku datang sendiri. Jam berapa?" tanya gadis itu lagi.
"Tujuh malam,"
Setelah mendengar jawaban itu, Louise pun mematikan ponsel nya.
......................
Louise diam, ia mendengar tunangan nya yang saat ini tengah bersemangat untuk mengajak nya makan malam bersama dengan orang tua nya sedangkan ia sudah memiliki janji lebih dulu.
"Kau bisa kan? Mama tadi udah masak semua makanan kesukaan mu," ucap Zayn dengan senyum cerah yang bagaikan mentari itu.
Louise bingung bagaimana menjawab nya, harus ia tolak atau terima, tapi jika ia menolak nya dengan alasan apa yang akan ia gunakan?
Alasan karna lebih memilih bertemu pria lain di bandingkan makan malam bersama calon suami dan ibu ayah mertua nya?
"Aku tadi juga sudah lihat jadwal mu, kau kosong kan malam ini?" tanya Zayn lagi yang lebih dulu memeriksa jadwal berkerja atau spa gadis itu tentu nya ia tak tau dengan jadwal lain nya.
"Louis ikut?" tanya Louise menanyakan sang kakak.
"Tidak, kata nya ada urusan." jawab Zayn pada gadis itu dan kembali melihat dengan mata pengharapan.
"Ya, ku rasa aku bisa ikut..." jawab Louise lirih yang tak bisa menolak mata yang tengah berharap pada nya itu.
Zayn tersenyum, ia menggenggam tangan gadis itu dan membawa tunangan nya itu ke apart mewah yang di tinggali orang tua nya.
...
Resto Det'fts
Pukul 11.14 pm
James melihat ke arah jam tangan nya dan kembali terus melihat ke arah pintu masuk.
"Apa dia lupa?" gumam nya yang terus menatap ke arah pintu masuk dan berharap gadis itu akan segara datang.
Ia sudah menunggu empat jam lebih, mata nya pun mulai beranjak ke arah telpon genggam nya.
"Apa dia lupa? Atau terjadi sesuatu?" ucap nya lirih yang mulai menelpon kembali gadis itu untuk mengingatkan tentang janji nya.
__ADS_1
...
Apart Winter garden
Zayn melihat ke arah ponsel tunangan nya yang bergetar, makan malam nya sudah selesai dan kali ini mereka tengah berkumpul bersama dengan kedua orang tua nya.
Ia mengernyit, melihat nomor yang tak di simpan itu sedangkan tunangan nya tengah berada di kamar mandi. Ia pun mengangkat nya lebih dulu sebelum panggilan itu habis.
"Kau di mana? Terjadi sesuatu pada mu?"
Deg!
Zayn tersentak, suara yang sangat ia kenali memanggil tunangan nya. Tentu ia tak menjawab suara itu sama sekali atau mematikan nya.
Ia pun kembali meletakkan telpon tersebut di atas meja dan membalik nya.
"Siapa nak?" tanya Larescha pada putra nya.
"Tidak ada ma, panggilan spam." jawab Zayn mengelak dan tak mungkin mengatakan jika ada pria yang berusaha mendekati tunangan nya.
Louise pun kembali, ia pun duduk di samping tunangan nya dan melihat ke arah calon ibu mertua nya itu.
"Kau mau salad stroberi nya lagi?" tawar Larescha dengan senyuman ramah nya.
"Tidak perlu bi-"
"Hust! Mama! Kebiasaan ini ya?" ucap Larescha sembari mencubit pipi gadis itu.
Memang dulu ia menjadi bibi gadis itu karna ia merupakan teman ibu nya namun kini ia akan menjadi ibu mertua nya.
"I..iya..." jawab Louise yang masih terasa canggung namun bukan berarti ia tak suka.
"Kita pergi? Jangan ganggu anak muda," bisik Rian pada sang istri yang ingin membiarkan putra nya memiliki waktu berdua.
Larescha tersenyum, dan mengikuti suami nya, "Kalau ada yang di mau bilang sama Mama yah? Panggil aja nanti." ucap Larescha dengan senyuman lembut nya.
"Iya, ma." jawab Louise singkat.
Pertunangan nya tak hanya sebatas hubungan antara ia dan pria itu saja namun juga hubungan yang melibatkan hati orang tua tunangan nya itu.
Zayn melihat ke arah Louise, ia ingin bertanya namun terlihat ragu.
"Louise?"
"Hm?"
Gadis itu menoleh sembari memakan stroberi yang berada di atas piring itu.
"Kau punya janji malam ini?" tanya Zayn dengan lirih dan ragu.
Louise membatu sejenak, namun ia bersikap seperti tak ada sesuatu yang terjadi.
"Tidak ada," jawab nya dengan senyuman tipis.
Lagi pula dia juga pasti akan langsung pulang kalau aku lama datang kan?
Ia masih memandang pria yang menunggu nya sama dengan pria yang dulu. Baginya pernyataan pria itu seperti sebuah kebohongan. Ia sulit mempercayai nya dan takut mempercayai nya.
"Tidak ada? Kau tidak melupakan sesuatu kan?" tanya Zayn mengulang.
"Kalau aku lupa berarti itu tidak penting," jawab gadis itu pada tunangan nya.
...
Resto Det'fts
James menarik ponsel nya perlahan dari telinga nya, gadis itu tak akan datang malam ini, itu yang jelas ia tau dengan pasti.
Ia menarik napas nya dan tersenyum pahit, ia sama sekali tidak mematikan panggilan nya dan tentu ia mendengar semua nya.
"Tidak penting..." gumam nya lirih.
Seperti Boomerang ia mendapatkan lemparan kembali dari senjata yang kini sudah berperan sebagai pedang bermata dua.
Jika ia dulu mengatakan gadis itu bukan siapa-siapa baginya kini ia mendengar gadis itu mengatakan jika ia sama sekali bukan lah hal yang penting atau perlu di ingat.
__ADS_1
Mata nya menatap ke arah makanan yang sudah tersaji, makanan yang belum tersentuh sama sekali karna ia ingin memakan bersama dengan gadis nya, menunggu lama namun tak akan ada yang datang.