
Mansion Dachinko
Gadis kecil dengan wajah menggemaskan itu tampak lesu sembari memegang tangan sang ibu.
"Mommy kok pulang? Tadi kata nya mau bacain celita..." ucap Bianca yang memegang tangan sang ibu.
"Iya, nanti Mommy ke sini lagi." ucap nya sembari mengusap kepala kecil itu yang tampak lesu tak bersemangat itu.
Bianca memanyunkan bibir nya, walau pun ia tak ingin namun ia tetap harus membiarkan sang ibu pulang.
James memanggil pengasuh putri nya dan menyuruhnya mendekat dengan memberikan isyarat.
"Dadah Mommy..." ucap Bianca melambaikan tangan nya saat sang pengasuh mulai menggendong nya dan membawa nya masuk.
Louise membalas lambaian tangan gadis kecil itu dan kini hanya tinggal ia dengan pria yang sejak tadi terus menatap nya.
"Kapan pernikahan mu?" tanya James yang membuat gadis itu langsung menoleh ke arah nya.
"Tiga Minggu lagi..." jawab Louise lirih dan tak menyembunyikan fakta itu sama sekali.
James diam, ia masih ingin mendekat dan membuat gadis itu menjadi milik nya lagi.
Namun ia takut saat ia mendekat maka hal buruk akan terjadi pada gadis itu seperti yang terakhir kali.
"Kalau ada sesuatu tentang Bianca, aku bisa menghubungi mu?" tanya pada Louise.
"Ya, kenapa kau tanya begitu?" ucap Louise lirih yang merasa sikap pria itu sedikit berbeda semenjak ia sadar setalah racun yang masuk ke dalam tubuh nya.
"Aku tidak ingin melihat mu lagi..." ucap James lirih saat melihat ke arah wajah gadis itu.
Karna aku akan terus menginginkan mu lagi...
"A..apa?" tanya Louise lirih saat pria itu mengatakan demikian.
James memang mengatakan nya namun bukan dalam artian yang di pikirkan gadis itu.
"Kau marah?" tanya Louise mengernyit yang tak bisa mendengar isi hati pria itu dan tentu ia akan menganggap nya berbeda.
"Kau tidak kembali?" James yang tak mengatakan apapun tentang jawaban dari gadis itu.
Kalau kau tidak kembali, aku mungkin akan menarik mu sekarang juga.
"Kau sangat tidak ingin melihat ku?" tanya Louise mengernyit.
Aku sangat menginginkan mu
Pria itu diam tak menjawab nya, bagi nya gadis itu seperti kaca tipis yang rapuh dan bisa hancur jika ingin kembali ia genggam.
............................
__ADS_1
Apart Sky Blue
Zayn melihat ke arah gadis yang melamun itu, ia memotong cake nya dan kembali menyentuh pundak tunangan nya.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya nya pada gadis yang sangat ia cintai itu.
Louise tersentak, ia menoleh dan melihat ke arah pria yang membuyarkan lamunan nya.
"Tidak apa-apa, ini cake yang kau belikan tadi?" tanya nya sembari memakan cake yang di sodorkan oleh tunangan nya itu.
"Ya, kau suka?" tanya Zayn pada gadis itu dan berharap gadis itu menyukai apa yang ia berikan.
Louise mengangguk dengan senyuman, ia memang menyukai cake yang di bawakan oleh tunangan nya itu.
"Louise?" panggil Zayn sembari menatap ke arah gadis itu.
"Hm?" Louise menoleh namun tengkuk nya langsung di tarik mendekat.
Bibir nya tertaut, tunangan nya itu menghisap nya dengan lembut.
"Za...Zayn..." panggil nya lirih saat ia merasakan ciuman itu sudah turun ke leher nya.
Tangan nya mendorong pelan dada bidang pria itu dan membuat Zayn melepaskan nya.
"Kenapa?" tanya nya saat melihat penolakan tunangan nya.
Ia selalu merasa was-was dan gelisah, ia takut tunangan nya itu melakukan sesuatu yang melewati batas dengan pria lain dan memang ketakutan nya itu benar.
Pria itu memejam, ia perlahan menjauh dan mencoba memahami gadis itu.
"Bagaimana tadi? Menyenangkan?" tanya nya pada tunangan nya.
"Ya, anak itu makan banyak stroberi." jawab Louise dengan senyuman tipis mengingat siang yang menyenangkan.
"Kalian hanya pergi berdua saja?" tanya Zayn kembali mengulang pada gadis itu.
Louise diam sejenak namun ia mengangguk, "Ya. Hanya kami." jawab nya pada tunangan nya.
Zayn terdiam, ia hanya menahan ekspresi nya dan mengangguk kecil. Ia tak mengatakan apapun tentang apa yang ia lihat.
Ia bahkan tak mengungkit nya sama sekali, ia hanya tersenyum seperti tak mengetahui apapun dan hanya percaya dengan apa yang di katakan oleh tunangan nya.
"Kau hari ini menginap kan?" tanya nya pada gadis itu.
"Ya," jawab Louise singkat.
"Tiga hari lagi kita ada fitting gaun pengantin, kau bisa luangkan waktu kan?" tanya Zayn lagi pada gadis itu.
"Ya? Bisa..."
__ADS_1
"Tapi apa kita juga bisa bawa Bianca? Dia juga perlu dekat dengan mu kan?" tanya nya pada tunangan nya itu.
Zayn mengangguk sembari mengusap kepala gadis itu dan terus melihat nya.
......................
Tiga hari kemudian.
"Paman Eyn!"
Suara yang menggemaskan itu memanggil ketika melihat paman yang tau bagaimana cara nya bermain dengan diri nya.
"Hari ini kita main sama Paman Zayn yah?" tanya Louise pada putri kecil nya itu.
Bianca mengangguk, ia berada dalam gendongan sang ibu dan kemudian minta di turunkan.
...
Mata coklat itu berbinar melihat ke arah gaun pernikahan yang cantik di depan nya.
"Mommy cantik!" celetuk nya pada sang ibu saat melihat gaun berwarna putih itu begitu pas di tubuh ramping ibu nya.
Louise tersenyum ia kembali berbalik untuk mencoba gaun lain nya, sedangkan tunangan nya masih memangku bayi cerewet itu.
"Bian nanti mau pakai baju yang cantik juga deh! Kayak Mommy!" ucap nya pada pria itu.
Zayn mengupaskan kulit anggur untuk putri kecil tunangan nya itu.
"Iya, nanti paman buatkan gaun yang cantik juga untuk Bian yah." ucap nya yang tentu akan memasukkan gadis kecil itu ke list tamu undangan pernikahan nya.
"Mommy kenapa pakai baju cantik?" tanya nya sembari mengambil buah anggur tanpa kulit yang di berikan oleh Zayn.
"Kan Mommy mau nikah," jawab Zayn sembari mencubit kecil pipi bulat Bianca.
"Sama Daddy?" tanya Bianca dengan wajah dan tatapan yang polos.
Zayn terdiam namun ia tak ingin menyembunyikan sesuatu dari gadis kecil itu.
"Sama Paman, kan paman bakal jadi Daddy Bian nanti." ucap nya pada gadis kecil itu.
"Kan Paman nanti nikah nya sama Bian, kok sama Mommy sih? Telus nanti Daddy sama siapa?" tanya nya yang entah dari mana bisa mengatakan kalimat seperti itu.
"Bian nanti harus nikah sama orang yang Bian suka, masa sama paman?" ucap Zayn sembari mengusap lembut bibir yang celemotan dengan cairan dari buah anggur itu.
"Bian suka Paman kok!" jawab Bianca pada pria yang kemungkinan besar akan jadi ayah tiri nya.
"Masa paman sama anak kecil?" tanya Zayn yang tak begitu terlalu menanggapi ucapan anak kecil yang bahkan belum lepas dari popok malam itu.
"Nanti waktu pulang Bian minum susu bial besok besal abis itu paman nikah sama Bian!" ucap nya dangan senyuman polos.
__ADS_1
Zayn menarik napas nya, ia tak begitu terlalu mendengar apa yang di katakan oleh calon putri sambung nya itu karna ia memang tak berniat sama sekali membatalkan pernikahan nya yang sudah di depan mata.