(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Sayang adik (Alarm Alert!)


__ADS_3

Dua hari kemudian


Kediaman Rai


Pria yang baru saja keluar dari kamar mandi itu melihat ke arah sang istri yang tampak masih mencoba mencari nama yang bagus untuk untuk anak saudari nya.


"Cla?" panggil nya yang mendekat ke arah wanita yang membuat ranjang berantakan dengan referensi nama bayi.


"Iya? Kau mau makan? Mau aku masakan sesuatu?" tanya wanita itu yang langsung menoleh pada suara lembut yang berbicara pada nya.


Pria itu menggeleng, ia tersenyum tipis saat melihat ke arah sang istri yang saat ini memiliki mood yang baik karna tak lagi curiga dan tak sering marah-marah pada nya.


"Terus kenapa?" tanya wanita itu menatap ke arah pria yang masih memakai mantel mandi dan rambut yang basah itu.


"Tidak ada, aku hanya ingin memanggil mu saja..." ucap Louis sembari mengecup pipi wanita itu dengan gemas.


"Jangan ganggu dulu, aku lagi sibuk tau!" ucap Clara yang mendorong dada bidang yang masih terasa dingin karna baru saja terbasuh air itu.


Louis tertawa kecil dan membuat nya semakin menganggu wanita nya yang sedang fokus mencari nama untuk bayi adik nya.


......................


Rumah sakit


Tubuh mungil yang tertidur di atas ranjang pasien itu tak mau di turunkan sama sekali, tangisan rewel nya akan menggema dan hanya akan membuat semua nya menjadi kacau.


Maka dari itu ia tak di bawa pulang ke mansion dan di biarkan tidur di samping ibu nya.


"Mau ku pindah kan? Mungkin kau tidak nyaman," Ucap James yang melihat ke arah wanita yang mengelus punggung kecil yang tidur dengan hampir menimpa sang ibu.


"Tidak apa-apa, kalau kau ambil dia dari posisi seperti ini nanti akan bangun. Dia kan baru tidur." jawab Louise yang melihat ke arah putri nya.


Pria itu menarik napas nya, selama beberapa hari istri nya di rawat tentu ia tak berada di ruangan itu semalam 24 jam karna memiliki pekerjaan yang lain, namun ia selalu kembali lebih cepat untuk menemani wanita yang baru melahirkan anak nya itu.


"James?" panggil Louise lirih pada pria yang selalu duduk di sofa yang berada di ruang perawatan nya.


"Ya? Kau butuh sesuatu?" pria itu langsung bangun dan me mendekat.


Louise menggeleng, karna saat ini yang ia hanya ingin membicarakan sesuatu.


"Soal adopsi kau sudah pikirkan?" tanya nya yang menatap ke arah pria yang menarik kursi agar duduk di dekat ranjang nya.


James diam sejenak, bukan nya ia tak percaya atau tak yakin kalau saudara istri nya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan salah satu putra nya.


Namun ia masih ingin bersama dengan anak-anak nya dan membesarkan nya lagi. Memang membesarkan anak itu tak mudah namun proses dalam melakukan nya adalah rasa lelah yang menyenangkan.


"Kita bicara ini setelah kembali dari rumah sakit, kau juga harus banyak istirahat kan?" tanya nya yang langsung mengalihkan pembicaraan dan menutup nya.


Tangan nya mengusap wajah pucat itu dengan lembut sembari menarik kelopak mata itu untuk membawa suasana tidur.


"Janji? Setelah dari sini kau tidak akan mengelak," ucap Louise yang masih belum teralihkan sama sekali.


"Ya, aku janji." James menjawab nya, dan mencoba untuk membuat wanita itu kembali beristirahat.


...

__ADS_1


Setelah pengawasan lebih dari tiga hari, kedua bayi mungil itu kini sudah bisa di keluarkan dari kotak inkubator dan di pindahkan ke tempat yang lebih nyaman.


"Apa Ibu dan Ayah nya mau menggendong?" tanya salah satu perawat ketika bayi-bayi mungil itu sudah bisa di bawa dan di pindahkan ke ruangan.


"Iya, aku mau lihat." ucap Louise yang meraih salah satu bayi nya yang belum memiliki nama itu.


"Ayah nya juga?" tanya perawat tersebut dengan ramah kepada suami pasien nya.


James tak menjawab namun ia tersenyum tipis sembari menerima bayi mungil nya itu.


Pipi yang masih merah, tangan kecil yang menggeliat dan juga mata yang bahkan masih melihat nya segaris.


Ia mencium pipi bayi nya itu yang selalu memberikan aroma khas dari seorang anak yang baru saja melihat dunia.


Perawat yang mengantar kedua bayi mungil itu pun permisi keluar, ia membiarkan orang tua dari para bayi-bayi itu untuk menghabiskan waktu bersama dengan anak nya.


"Hey? Lapar?" tanya Louise sembari menyentuh bibir mungil dan geliat yang ingin merengek itu.


Sebelum nya ia tak pernah memberikan asi nya pada kedua anak nya yang lahir sebelum bayi kembar itu.


Kehamilan pertama bayi nya meninggal tak lama setelah keluar dari perut nya dan kehamilan kedua ia mengalami guncangan psikologis yang membuat nya bahkan tak bisa melihat bayi nya sama sekali.


"Tunggu," ucap nya yang membuka kancing kemeja pakaian pasien itu dan beranjak memberikan nya ke putra nya itu.


Geliatan di tubuh mungil itu berhenti, wajah dan suara merengek dari bayi yang masih memiliki kulit bewarna merah itu langsung terdiam dan tenang seketika.


"Auch!"


Louise sedikit meringis, padahal bayi masih tak memiliki gigi namun kenapa ia merasa sedikit sakit?


"Padahal dia tidak punya gigi tapi kenapa rasa nya sakit ya? Kalau kasih asi mungkin memang seperti ini?" tanya Louise mengernyit pada sang suami.


"Mungkin? Atau kau lebih suka aku yang melakukan nya?" tanya pria itu dengan senyum yang menggoda ke arah wanita yang memberikan asi itu.


"Aku pakai pumping aja nanti," ucap nya lirih sembari melihat ke arah bayi yang tampak senang meminum susu itu.


"Aku sudah siapkan nama mereka, mau pakai nama yang ku buat? Ya, untuk salah satu nya kalau kau mau." ucap James yang menatap ke arah wanita itu karena ia tau istri nya berniat membiarkan ipar nya memberi nama.


"Aku tidak ada buat sih, kalau begitu nama nya siapa? Yang sudah kau siapkan?" tanya Louise yang menengandah menatap ke arah pria itu.


"Arche Kane Dachinko," ucap James yang menjawab pertanyaan wanita itu dengan mata yang tampak bersemangat setiap kali sesuatu berhubungan dengan anak-anak nya.


Louise mengangguk mendengar nya, nama yang bagus untuk putra nya yang baru melihat dunia itu.


"Kalau begitu kita pakai nama itu nanti setelah Clara pilih anak yang mau dia beri nama." ucap Louise pada suami nya.


"Ya," ucap James yang tak mengatakan apapun dan membiarkan istri ipar nya itu memberikan nama.


Karna putri tertua pasangan itu sedang sekolah tentu mereka bisa bermain dengan bayi kembar yang mungil seperti ubi rebus itu.


...


Pukul 07.34 pm


"Aldrich Clifton! Cocok tidak?" suara yang terdengar bersemangat itu melihat ke arah keranjang bayi tempat di mana kedua bayi menggemaskan itu tidur.

__ADS_1


Louise tersenyum, "Cocok, kau mau kasih ke siapa nama nya?"


Wanita itu menoleh, tatapan yang tadi nya semangat kini semakin berbinar.


"Oh iya, kau belum gendong mereka kan? Mau coba?" tanya Louise lagi dengan senyuman di wajah nya.


"Boleh?" tanya Clara dengan mata berbinar.


"Tentu kenapa tidak?" Louise tertawa kecil mendengar nya.


Sementara itu wajah cantik yang menggemaskan itu tampak mengerucut. Ia memang tak lagi menunjukkan ketidaksukaan nya dengan jelas namun ia masih belum bisa menghilang kan rasa cemburu nya.


"Tante! Bian kan mau di gendong juga!" ucap nya yang cemberut ketika melihat Tante nya yang menggendong salah satu dari adik bayi nya.


Louis melihat ke arah keponakan nya itu yang tampak kesal dan wajah yang mengerucut.


"Paman yang gendong mau?" tanya nya sembari mengangkat tubuh mungil gadis kecil itu.


Bianca tak mengatakan apapun lagi, ia tersenyum dan merasa senang ketika ia pun mendapatkan gendongan dari seseorang.


......................


Satu Minggu kemudian.


Mansion Dachinko


Kini Louise sudah bisa kembali ke rumah nya lagi, ia mulai melakukan pumping itu bayi kembar nya.


Dan ia pun mulai mengajarkan agar putri nya bisa menyukai adik-adik nya dengan mengajak gadis kecil itu ikut mengasuh bayi kembar dan bermain bersama nya.


Mencoba menunjukkan jika ia masih begitu di sayangi dan di jadikan prioritas sehingga tak merasa sendirian.


Clara pun mulai sering datang ke mansion itu karna ia memang tak memiliki kegiatan apapun jika suami nya bekerja.


"Hap!"


HUUUEEE!!!!


Tangisan bayi mungil itu terdengar kuat, pengasuh yang baru saja memalingkan mata nya kurang dari satu menit ketika sedang mengambil kan mainan kerincing untuk bayi nya langsung menoleh.


"Nona!" ucap salah satu pengasuh lain yang langsung mendekat.


Karna kedua bayi mungil itu memang di jaga oleh beberapa pengasuh dan tentu tak akan ada yang berani mencegah nona mudanya jika ingin ikut melihat adik kembar nya.


"Ada apa ini?" Louise pun datang dengan membaca tiga botol dot yang sudah berisi asi yang ia ganti beserta satu dot lain nya untuk putri nya yang masih suka minum susu dan mengikuti adik nya juga.


"Tadi tangan adik nya pegang-pegang muka Bian, yaudah Bian gigit aja." ucap gadis kecil itu dengan polos nya sembari mengambil susu nya dari tangan sang ibu.


"Bian sayang adik ya nak? Aldrich sama Arche kan cuma Bian yang sayang." ucap nya yang mengusap kepala putri nya dan mencoba untuk tak memarahi nya secara langsung.


"Jangan di gigit lagi yah sayang?" sambung nya sekali lagi yang tentu memberi tau agar tak mengulangi kesalahan nya


Bianca mengangguk mendengar ibu nya sembari meminum susu yang di berikan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2