
Mansion Dachinko
Pria itu menarik napas nya, hampir setiap kali ia melihat putri nya, gadis itu hanya merengek dan berhenti saat adik atau ibu nya datang.
"Bianca? Kenapa kau sekarang tumbuh jadi gadis yang mau merebut pacar orang lain? Kau gila?" tanya nya yang menatap ke arah putri nya dengan kesal.
"Kenapa? Kan ga apa-apa," jawab gadis itu yang memanyunkan bibir nya.
"Apa nya yang ga apa-apa? Apa-apa lah ini!" ucap James sekali lagi.
"Daddy aja bisa merebut tunangan orang masa aku ga bisa merebut pacar orang," cicit gadis itu pada sang ayah.
James diam sejenak, ia memijat pelipis nya saat kehabisan kata-kata untuk putri nya.
"Memang nya dia kasih kau apa sih? Bisa sampai begini?" tanya James yang tak habis pikir pada putri nya yang suka dengan seseorang yang dua kali lipat umur dari nya, mungkin lebih.
"Dia kasih aku..." Bianca tak melanjutkan kata nya karna berpikir sejenak namun senyuman nya naik dengan sendirinya lalu wajah yang mulai merona.
James mengernyit, ia menatap ke arah putri nya yang merona dan seketika membuat kesabaran nya ingin putus.
"Nak?" panggil nya dengan suara yang lebih lembut dan menatap dengan senyuman.
Deg!
Bianca tersentak, panggilan tak biasa dari sang ayah langsung menyadarkan lamunan yang penuh khayalan itu.
"Da.. Daddy?" gadis itu tersenyum kaku, suara yang lembut saat memanggil nya seperti itu berarti sang ayah sudah benar-benar kesal sekarang.
"Bian ke kamar ya Dad? Mau belajar! Besok ujian!" ucap nya yang tentu tau jika sekarang adalah waktu nya untuk lari.
Greb!
Bahu kecil nya tertangkap, ia hanya bisa tersenyum dan menoleh ke arah sang ayah.
"Ganti baju mu, kita sudah lama tidak latihan kan? Sekarang Daddy lagi punya waktu luang, jadi Daddy yang ajari langsung." ucap nya dengan senyuman tipis pada putri.
"Dad? Itu kan nama nya kekerasan pada anak..." ucap nya lirih dengan wajah memelas.
"Karate? Atau taekwondo? Kendo? Anggar?" tanya nya yang tak menjawab ucapan putri nya.
"Aku benci di banting, di pelintir, atau di pukul dengan tongkat," ucap nya pada sang ayah saat mendengar pilihan nya.
"Anggar?" tanya James yang masih memegang erat bahu kecil itu.
"Maybe," jawab Bianca yang menarik napas nya dengan lesu.
"Okey! Tanpa pelindung dan tanpa aturan, kalau kau bisa melukai ku akan biarkan kau memegang bagian perdagangan dan kalau kau terluka tiga sayatan, kau harus ikuti peraturan ku." ucap nya yang melepaskan bahu kecil putri nya.
Bianca menarik napasnya, "Aduh! Mommy! Pulang sekarang Myy! Aku mau di jadiin bubur sama Daddy!'' ucap nya yang berdoa agar sang ibu segera pulang.
...
Ruang latihan
Suara dari kedua senjata yang terdengar saling menangkis itu terdengar, gadis itu hampir kehabisan napas nya.
Sudah berjalan 40 Menit namun ia belum sama sekali dapat melukai sang ayah, yang ada ia sudah kalah lima pukulan di titik yang harus nya mematikan namun tentu pedang panjang itu tak menusuk nya.
"Dad! Wait!" ucap nya yang masih menangkis pedang dari sang ayah.
Tak ada jawaban pria itu tau putri nya kewalahan namun ia juga tau batas lelah dari gadis remaja yang nakal itu.
Clang!
Sreg!
Ack!
Gadis itu terjatuh, ia meringis pelan dan menjatuhkan pedang nya lebih dulu.
"Bangun," suara yang terdengar itu menyuruh nya untuk bangkit kembali.
"Daddy..." rengek pada sang ayah dengan mata bulat yang berwarna coklat itu dan darah yang mulai keluar dari leher nya karna memang latihan kali ini tak mengenakan helm pelindung.
"Ganti dengan tongkat kendo," ucap James sembari melempar pedang nya dan menyuruh bawahan nya untuk mengganti alat nya.
__ADS_1
Bianca menutup mulut nya, "Mampus, bisa mati beneran ini." gumam nya yang melihat ke arah sang ayah.
"Kenapa mati? Aku adalah seseorang yang paling ingin melihat mu hidup lama, iya kan? Anak ku?" ucap pria itu yang masih tersenyum sembari melempar tongkat pemukul itu.
"Hiat!"
Gadis itu mulai bangun lagi, walaupun sang ayah mungkin akan segara memasuki usia 50 tahun namun proporsi tubuh nya masih sempurna, otot nya masih bagus, dan tentu stamina nya masih tak berkurang.
35 menit kemudian.
Pak!
Ktepak!
"Aduh!"
"Aduh! Duh! Ampun Dad! Aduh! Mommy!"
Gadis itu meringis dan sekarang hanya bisa menghindar dan menepis dari tongkat kayu yang di layangkan sang ayah.
"James!"
Hah!
Hah!
Hah!
Pria itu berhenti, tentu berolahraga dengan seni bela diri menghabiskan banyak energi dan tarikan napas nya menjadi berat.
Bianca menoleh ke arah sang ibu yang kali ini datang, ia pun langsung berlari dan memeluk wanita itu.
"Mommy! Nanti malam Daddy jangan di kasih jatah tidur sama Mommy!" ucap nya yang memeluk sang ibu dengan erat.
"Nak? Kenapa? Ya ampun? Ini darah?" tanya Louise yang menatap ke arah putri nya yang berkeringat kuyup dengan darah yang terlihat di leher nya.
"Yasudah, kau juga tidak akan dapat jatah uang jajan." ucap James sembari melepas sarung tangan nya lebih dulu.
"Myy! Denger tuh Daddy Myy!" adu Bianca pada sang ibu.
"James? Ini ada apa?" tanya Louise yang bingung.
"Oh ya? Seperti nya aku yang menang," sambung nya yang berjalan sembari mengusap kepala putri nya sejenak dan keluar dari ruang latihan.
...
Louise menarik napas nya, ia mengobati luka di leher putri nya sembari melihat ke arah luka lain, memang ada beberapa bagian tubuh yang memar karna pukulan tapi ia juga tau luka yang di sebabkan pertarungan seperti itu adalah hal yang biasa karna putri nya juga bertindak sebagai penyerang.
"Kalau kamu udah tau ga bakal menang kenapa latihan nya sama Daddy kamu? Sama Paman Nick kan bisa? Atau yang lain?" tanya Louise pada putri nya.
"Ih Mommy! Daddy aja tuh yang sensitif! Padahal kan aku cuma minta supaya pacaran sama Paman Zayn!" celetuk Bianca pada sang ibu.
Plak!
"Aduh! Mati!" ringis gadis itu yang terkejut saat punggung nya yang memar itu tiba-tiba ketempelan antiseptik yang dengan kuat.
"Apa? Bilang apa tadi?" tanya Louise yang terkejut mendengar putri nya.
"Eh? Anu Myy..." ucap nya yang bingung dan memukul mulut nya sekilas.
"Anu apa?" tanya Louise yang menatap ke arah putri nya.
"Anu nya Paman Zayn sakit," ucap nya lirih pada sang ibu karna bingung.
Louise semakin mengernyit mendengar jawaban absurd putri nya, "Anu si Zayn sakit? Maksud nya?"
"Aduh Myy! Bianca sakit perut! Aduh kayak nya mau keluar nih Myy! Mommy sih suka banget beliin yang pedes-pedes!" ucap nya yang langsung bangkit dan lari ke kamar mandi.
Bukan sakit perut namun ia melarikan diri sang ibu.
......................
Dua Hari kemudian
Apart Sky Blue
__ADS_1
Mata bulat nan coklat itu masih melihat ke arah wanita yang belum pergi dari apart pria yang ia sukai.
"Astaga! Aduh!" Bianca langsung bersembunyi saat melihat Zayn.
Bukan nya marah namun wajah nya selalu memerah panas dan mungkin lebih tepat nya ia malu dan berdegup.
Pikiran dan khayalan yang tak murni lagi berputar di kepala nya membayangkan bagaimana dengan kelanjutan malam itu.
"Bian-"
Zayn baru saja mau menyapa namun gadis yang mirip tupai menggemaskan itu lari dengan cepat dan hanya membuat nya menarik napas nya.
"Seperti nya dia sangat takut pada ku, benar..."
"Mungkin itu menjadi ingatan buruk untuk nya," gumam nya lirih.
"Apa nya?" tanya Edna yang berada di dekat pria itu.
"Tidak ada, kau sudah bawa kan? Oh ya, nanti berikan dia..."
Ucap Zayn yang menceritakan tentang apa yang di suka oleh ibu nya agar wanita itu lebih cepat menggambil hari orang tua nya.
...
Brak!
Arnold terkejut saat pintu apart nya di buka secara tiba-tiba seperti itu.
"Ga bisa lagi! Arnold! Kita harus latihan sekarang! Masa aku kalah sama tante-tante!" ucap nya yang mendekat ke arah Kakak angkat nya.
"Latihan? Kau mau latihan apa?" tanya Arnold yang bingung melihat mata yang membara itu.
Bianca tak mengatakan apapun, ia masuk ke kamar kakak angkat nya itu dan tiba-tiba mendekat.
Bruk!
Seperti singa betina yang menerkam pria itu itu ikut terjatuh ke atas ranjang yang empuk itu.
Humph!
Arnold tersentak, ia membatu sejenak saat ciuman pertama nya di curi dengan gadis yang bahkan tampak tak mengerti apa-apa itu.
Tak hanya ciuman di bibir nya namun tangan kecil itu juga menyentuh leher dan perut nya yang penuh dengan otot itu.
Ia mendorong bahu kecil itu yang duduk di atas perut bidang nya.
"Ka.. Kau! I.. ini nama.. Pe.. Pelec*han!" ucap nya yang terkejut dengan wajah yang langsung memerah dan merasa panas seketika.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung pria itu seakan ingin keluar, gadis remaja itu terus menerus memberikan shock terapi untuk nya.
"Kok aku ga deg deg kan ya? Kau?" tanya Bianca yang merasakan apapun berbeda dengan Paman tampan nya tempo hari.
"Padahal waktu itu dia ga nyium?" gumam Bianca yang bingung sedangkan Arnold masih membatu dengan syaraf yang masih mereboot ulang.
"Oh mungkin karna cara nya beda!" ucap Bianca yang secara tiba-tiba mendekat lagi.
Cup!
Arnold tersentak, darah nya berdesir seketika saat merasa gadis itu mengecup leher nya atau mungkin lebih tepat nya di gigit.
"Bianca!" ucap nya yang langsung mendorong dan membalik tubuh kecil itu.
Gadis itu terdiam dengan mata bulat nya yang tampak polos setalah menjadikan kakak angkat nya sebagai bahan uji coba untuk persiapan jantung nya.
"Ih! Itu nya bangun?" ucap nya yang mengangkat kepala nya saat melihat ke arah celana yang mengembung.
Arnold langsung bangkit, ia tak pernah melakukan skinship sejauh ini dengan perempuan mana pun.
Wajah memerah seketika, dan ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Da... Dasar anak kriminal! C*bul!" ucap nya yang tampak begitu kesal.
Sedangkan Bianca terdiam beberapa saat dan masih mencerna situasi bagian mana yang ia lakukan sampai bisa membuat hasrat pria bangun?