
Satu bulan kemudian.
JBS Hospital
Pria itu mengantar kembali gadis yang tadi nya makan siang bersama dengan diri nya, ia menatap ke arah punggung yang berbalik dengan sepatu heels yang cantik itu.
Semenjak hari di mana telinga di tertembak, saudara kembar dari gadis yang ia cintai itu seperti tenang tak mengusik.
Dalam artian tak lagi mendorong saudari kembar nya untuk berkencan dengan pria lain, namun tetap saja pria itu tak pernah meminta bantuan nya untuk melakukan sesuatu yang ilegal atau tindakan kotor seperti yang ia tawarkan.
Dan terkadang masih sedikit menghalangi nya dengan tak membolehkan gadis nya untuk keluar bertemu dengan diri nya saat sudah hari janjian.
"Louise," panggil nya dan membuat gadis itu berbalik.
Tak ada balasan dari panggilan nya namun ia menoleh dan menatap ke arah nya.
"Kita tidak pernah makan malam bersama, mungkin..." ucap nya yang bingung bagaimana mengatakan nya.
Louise tersenyum, sudut bibir nya naik dengan wajah yang tampak cerah dan manis.
"Bukan nya kita sudah sering makan malam?" tanya yang menggeleng mendengar kata tidak pernah.
"Bukan, bukan cuma kita! Maksud ku-" ucap pria itu yang bingung bagaimana mengatakan nya.
"Bukan cuma kita? Berarti? Ada yang lain? Siapa Bianca?" tanya Louise lagi dengan sedikit bingung.
"Bukan, maksud ku..."
"Kau tau? Seseorang yang jadi penghalang kalau aku mau menikahi mu." ucap nya lirih.
Ia tau walaupun kini saudara kembar gadis itu tak lagi begitu mengusik namun tetap saja akan menjadi penghalang terbesar nya jika ia ingin menikah.
"Kau mau menikahi ku?" tanya Louise yang mendekat dengan wajah yang tersenyum menggoda pria itu.
"Ya, kau pikir aku sekarang mau apa?" tanya James yang membuang napas nya dan menatap ke arah gadis yang tersenyum menggoda nya dengan kata-kata yang baru ia keluarkan.
"Nanti ku bilang, tapi tumben? Kau tidak berencana meracuni kakak ku saat makan malam kan?" tanya Louise mengernyit yang selalu penuh dengan pikiran curiga pada pria itu.
"Kalau aku mau membunuh nya dia sudah mati dari dulu," ucap nya menghela napas.
"Tapi kau memang mau membunuh nya kan dulu? Tapi tidak berhasil karena aku yang jadi pengganti untuk di bunuh?" tanya Louise dengan senyuman yang mengingat percobaan pembunuhan untuk kakak nya.
"Louise..." pria itu memanggil lirih mengingat jika gadis itu terus mengingatkan nya tentang kenangan yang pahit.
"Ya? Aku kan cuma bilang, lagi pula kakak ku tidak akan mati dengan mudah kalaupun kau berencana membunuh nya, dia itu seperti Terminator." ucap nya yang tertawa.
James menarik napas nya, ia melihat ke arah gadis itu dan mendekat.
"Sekarang aku ingin mendekati Terminator, kau bisa membantu ku?" tanya nya yang memegang bahu gadis yang tertawa itu.
"Okey, kau kan mau jadi kakak ipar ku." ucap Louise pada pria itu yang membuat nya bagai candaan.
"Louise!" ucap James yang tak habis pikir kenapa gadis itu terus mengingat sesuatu yang memalukan dari diri nya.
"Ya? Aku pergi dulu, jangan sering marah." ucap nya yang mengusap dagu pria itu seperti kucing jantan yang pemarah.
Louise berbalik, ia melepaskan tangan yang memegang bahu nya dan kembali ke ruangan nya lagi.
...
Ruang Presdir
Pria itu menaikkan satu alis nya, ia melihat ke arah adik nya yang duduk di sofa ruangan itu.
"Makan malam? Dengan siapa? Dia?!" tanya nya mengulang.
Louise menangguk seperti apa yang ia perkirakan dengan reaksi saudara kembar nya.
"Iya, seperti nya dia mau mendekati mu karna mau izin?" ucap Louise yang sekaan mengatakan nya.
"Izin? Dia pikir akan mudah mendapatkan nya?" tanya Louis dengan senyuman kecil yang tentu tak akan mudah menyerahkan adik nya.
__ADS_1
Louise menarik napas nya, ia menatap sang kakak yang tampak memikirkan sesuatu dengan senyuman yang mencurigakan itu.
"Kau tidak menganggu nya akhir-akhir ini, aku juga. Kenapa kau sangat tenang sekarang?" tanya Louise mengernyit yang melihat sang kakak.
"Itu? Karna aku..." ucap Louis lirih yang teringat dengan beberapa waktu lalu saat memanggil pria itu ke villa nya.
Ia masih begitu ingat suara yang keras dari pistol nya, mata yang tampak tenang dan kukuh.
Postur yang tak goyah dan tubuh yang tegap tanpa menunjukkan rasa takut, tidak ada adegan berlutut atau suara yang meminta di kasihani.
Beri aku kesempatan lagi
Suara yang tegas dan tenang namun seperti permohonan, wajah yang diam dengan mata membuat nya mengingat seseorang.
"Zayn..." gumam nya lirih tanpa sadar.
Louise langsung mengernyit mendengar nya, "Zayn? Kenapa kau sebut nama dia?" tanya nya yang mengernyit menatap sang kakak.
Louis tersentak, ia tak sengaja mengucapkan nama sahabat nya.
"Tidak, hanya saja ketika aku lihat dia aku teringat Zayn." ucap nya lirih.
"Zayn? Dan James? Apa yang mirip? Mereka berbeda, bukan sangat berbeda!" ucap Louise yang memang kedua pria itu memiliki sikap yang berlawanan.
"Tidak, mereka punya kesamaan." ucap nya pada adik nya.
"Apa?" tanya Louise yang mengernyitkan kedua alis nya menatap bingung pada sang kakak.
"Mereka menyukai mu sampai seperti putus asa." ucap nya yang mengingat tatapan pria yang ia benci itu sama seperti tatapan sahabat nya.
Gadis itu terdiam, ia tak mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Lalu kau sudah sedikit berubah pikiran?" tanya nya yang mencoba membuka suara lagi.
"Ku rasa," jawab Louis yang memang ingin mencari satu kriteria yang mirip dengan Sabahat nya.
"Tapi aku masih membenci nya, aku tau kalau dia sangat menyukai mu sekarang tapi tetap saja..." ucap nya yang tak bisa mengatakan keraguan yang masih begitu besar dan amarah yang belum hilang saat ia mengingat pria itu pernah membuat adik nya menghilang selama beberapa tahun dan kemudian menembak nya.
"Kau bilang dia mau mengajak makan malam kan?" tanya nya yang tersenyum dengan wajah terlihat menyimpan sesuatu.
"Ya, kau mau?" tanya Louise dengan tatapan curiga pada sang kakak.
"Baik, ajak dia makan malam. Di rumah kita dan untuk kali ini hanya ada kita bertiga karna anak-anak harus melihat hal yang baik saja kan?" tanya nya pada sang adik.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Louise mengernyit.
"Panggil saja dia untuk makan malam, dan kembali ke ruangan mu. Kenapa kau membuat ruangan ku penuh?" ucap Louis yang mengusir adik nya secara halus.
"Ck!" Louise berdecak, ia bangun dan mendekati meja sang kakak.
Tap!
Laptop yang masih berisi data itu di tutup seketika, "Okey, aku kembali!" ucap nya yang kesal.
"Lusa jam 7 malam!" ucap nya yang sebelum sang adik benar-benar pergi.
......................
Dua hari kemudian.
Kediaman Rai
Brak!
Suasana yang tegang, petang mata dengan senyuman yang sama-sama menyimpan rasa jengkel.
"Perut ku akan sakit! Kalian lanjutkan saja makan malam nya!" ucap gadis itu yang tak tahan dengan atmosfer antara saudara nya dengan pria nya.
"Louise? Duduk kembali ke tempat mu." ucap Louis yang menatap ke arah adik nya.
Louise berdecak, ia menatap ke arah sang kakak dan beranjak bangun untuk pergi.
__ADS_1
"Louise?" suara yang kembali memanggil nama satu-satu nya gadis di ruangan makan itu.
Mata coklat itu pun menoleh ke arah si pemilik nama yang di panggil.
"Kalau kau pergi saat makan malam, aku akan tarik semua kartu dan fasilitas mu." ucap Louis yang menyandarkan diri nya ke kursi tempat ia makan.
"Aku bukan anak-anak lagi, lagi pula itu tidak akan berhasil." ucap nya karna ia merasa sudah bisa memiliki beberapa milik nya sendiri.
"Oh ya? Tapi kau masih tanggung jawab ku, kalau begitu bagaimana jika dua bulan?" ucap Louis.
James masih tak mengatakan apapun, namun ia mengernyit melihat punggung yang berbalik lagi itu.
"Kau sudah coba salad nya kak?" tanya gadis itu yang berubah pikiran secepat kilat dan kembali duduk.
"Aku tidak tau kalau ancaman nya sangat mudah?" ucap James berbisik yang mendekat ke arah gadis itu.
"Diam dan makan lah," jawab Louise tersenyum pada pria yang berbicara dengan suara berbisik di telinga nya.
"Tidak apa-apa, setelah kita menikah ancaman itu tidak akan berlalu lagi." ucap pada gadis itu.
Mata hijau gadis itu melirik ke arah sang kakak yang memperhatikan nya.
"Siapa yang mau kau nikahi? Aku sudah bilang akan setuju?" tanya Louis yang melihat dengan tajam saat ia mendengar suara yang berbisik itu.
James terdiam sesaat, ia mengambil salad dan memberikan nya pada saudara kembar gadis nya.
"Kakak juga harus coba memakan sayur lebih banyak kan?" ucap nya yang memberikan nya dengan senyuman yang tampak menjengkelkan.
"Ka..kakak? Si..siapa yang kau panggil kakak? Usia mu bahkan lebih tinggi dari ku?!" ucap Louis yang terkejut.
"Lalu aku panggil apa? Pacar ku memanggil mu begitu kan?" tanya nya sekali lagi.
Kedua mata hijau itu langsung membulat seketika.
"Pacar? Kapan kita pacar-"
"Kalian sudah pacaran kembali?" tanya Louis yang membuat saudari nya langsung menoleh.
"Ya? Eh? Tidak maksud nya," ucap Louise yang juga sama-sama terkejut karna ia saja belum merasa menerima pernyataan cinta pria itu atau lamaran nya.
Louise kehabisan kata-kata sedangkan sang kakak masih terkejut, ia meminum jus jeruk yang di sediakan di atas meja di samping gelas wine dan air mineral.
"Dan jangan membuat nya terlalu tertekan, kacang polong kami seperti nya akan terkejut." sambung James lagi dengan senyuman kecil.
Brush!
"Uhuk!" gadis itu terbatuk seketika saat mendengar nya, ia menoleh dengan mata hijau yang tampak melotot tak percaya.
"Apa yang kau katakan? Aku saja sedang datang bulan!" ucap nya yang menggerakkan bibir nya tanpa suara menatap dengan tatapan yang terkejut.
"Mengaku saja dulu baru di buat nanti," jawab James yang juga hanya menggerakkan bibir nya.
"Louise! Kacang polong? Kau hamil?!" tanya Louis yang langsung menatap sang adik.
"Ti-"
Tap!
Pria itu menepuk paha gadis yang duduk dengan menggunakan gaun sepanjang lutut itu.
"Iya! Eh? Tidak kak!" ucap nya yang masih bingung karna seseorang yang hanya tersenyum dengan tenang walaupun ia yang menyebabkan kekacauan.
"Kami tidak melakukan apapun setelah kau memperingatkannya, tapi ikan nya sudah berlari dan masuk menjadi kacang polong yang menggemaskan." ucap nya yang terdengar lirih.
Louis kehabisan kata-kata, ia tak bisa mengatakan apapun dan melihat ke arah sang adik.
Dia mengajak makan malam untuk merencanakan ini? Kenapa dengan pria gila ini?
Louise memalingkan wajah nya dari tatapan maut sang Kakak yang menatap nya tajam.
"Nah? Sekarang anda bisa memelankan suara nya sedikit kak?" tanya James lagi yang kembali bersuara di tengah situasi tegang ia ucapkan.
__ADS_1
"Jangan memanggil ku kakak!" ucap Louis yang menjadi kesal dan meningkat 10 kali lipat.