(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Ketahuan


__ADS_3

Mansion Dachinko


Senyuman cerah terlihat, gadis itu tampak begitu senang dengan wajah yang memerah semu.


Ia tak peduli dan tentu mengabaikan apa yang akan terjadi di masa depan karna memang ia berada di umur yang masih labil dan penuh pencarian jati diri.


"Besok kencan di mana ya? Kami udah pacaran belum ya? Ya Ampun..." gumam Bianca yang menyembunyikan wajah cantik nya yang memerah itu.


Ia tak sabar dengan hari esok, dan yang ia inginkan adalah putaran waktu yang begitu cepat.


"Kasih tau Syl deh!" gumam nya yang tentu menelpon sahabat nya segera saat ia mendapatkan peristiwa yang bagi nya mengesankan.


Berbeda dengan ciuman nya pada kakak angkat nya, jantung nya berdebar kencang seperti ingin keluar tidak terasa hambar seperti ciuman pertama nya.


......................


Skip


Sekolah


Bianca membuang napas nya kesal, bukan masalah jika adik nya meminta untuk di jemput namun masalah nya ia sedang ingin cepat-cepat menemui paman tampan nya sekarang.


"Ih! Ini anak gangguin aja! Aku gantung di pohon juga nanti!" gumam nya lirih yang menatap kesal ke arah ponsel nya.


Tak lama kemudian mobil yang menjemput nya datang, Bianca pun langsung naik, "Ke sekolah Arche." ucap nya yang memberi tau.


...


Sementara itu.


Mata hijau itu tampak senang, ia melihat ke arah saudara kembar nya yang datang lebih dulu.


"Kenapa kau minta datang? Tumben sekali?" tanya Aldrich yang memang biasa nya mereka bertemu di luar dan jarang ke sekolah masing-masing.


"Ga apa-apa, ku pikir kamu ga bakal datang." ucap nya dengan senyuman renyah.


Aldrich tak menjawab namun ia mengernyit melihat wajah saudara kembar nya yang tampak memar.


"Wajah kamu kenapa?" tanya nya yang melihat ke arah saudara kembar nya.


"Bertengkar, sama anak SMA. Tapi tenang! Aku yang menang, nah masalah nya..." ucap nya yang lirih karna ia membuat masalah.


"Masalah nya apa? Terus walaupun kamu yang menang kamu juga kena pukul tuh," ucap Aldrich yang melihat memar di dekat pelipis saudara kembar nya.


"Memang nya aku manusia baja? Ya kali aku ga apa-apa lawan nya anak SMA dua orang!" ketus Arche yang memang tak masuk akal jika anak sekecil nya baik-baik saja bertengkar dengan dua orang yang lebih besar dan kuat.


"Haha iya! Ga di pukuli sampai mati kayak nya bisa di katakan beruntung!" ucap Aldrich yang tertawa renyah.


"Ih! Lihat saudara nya di pukul malah ketawa!" sungut Arche yang kesal namun ia tak menaruh dendam amarah apapun.


"Nah sekarang masalah nya apa?" tanya Aldrich yang masih penasaran.


"Aku di suruh manggil wali," cicit Arche yang tampak bingung dan lesu, "Tapi aku panggil nya kak Bian! Haha!" sambung nya dengan semangat yang kemudian meninggi.


Aldrich diam sejenak kemudian tersenyum tipis, ia memang dekat dengan saudara kembar nya namun untuk kakak perempuan nya ia sedikit memiliki jarak.


"Nanti kira-kira kalau aku buat masalah kak Bian mau datang juga ga ya?" tanya nya yang menatap ke arah Arche.


"Datang, tapi nanti pasti di pukuli lagi sama kak Bian! Tapi ga apa deh! Dari padi di omeli Mommy terus uang jajan di Potong." sungut Arche yang tau sifat sang kakak.


Aldrich tak menjawab dan hanya diam lalu menatap ke arah saudara kembar nya.


"Tapi kayak nya kalau hari ini ga apa sih, apa aku suruh kak Bian datang nya besok aja ya? Ini kan masih lagi situasi panas? Biar kita ke cafe dulu," ajak Arche yang suka memancing kesabaran sang kakak yang setipis tissue.


...


Ting!


Sebuah pesan masuk, pesan yang berisikan untuk tak jadi menjemput nya dan di ganti hari esok.


"Kan! Memang minta di bakar anak ini," Ucap Bianca yang kesal dengan adik nya padahal ia sudah separuh perjalanan nya.


Bianca membuang napas kesal namun tak lama kemudian ia menelpon paman tampan nya itu setelah mencuri satu kecupan.


"Aku ke sana! Paman jangan pergi dulu!" ucap nya yang langsung dengan semangat menepuk pundak supir nya.

__ADS_1


"Putar! Kita ke cafe yang ada di jalan xx!" ucap nya yang semangat dan menutup telpon nya segera.


Sang supir langsung memutar stir di jalanan yang memang tak terlalu ramai itu.


...


Sementara itu.


Zayn menarik napas nya, ia melihat ke arah jam tangan nya dan tak jadi pergi karna menunggu seseorang yang tadi katanya ingin datang menyusul.


Mata nya menoleh, ia melihat ke arah persimpangan di jalanan yang cukup luas itu dan melihat seseorang yang turun dari mobil yang membawa dan berdiri tempat di lampu merah.


Dari kejauhan tampak gadis itu tengah mencari sesuatu sampai mata cantik nya menangkap seseorang yang duduk di dalam cafe dan terlihat dari dinding kaca itu.


Senyuman cerah terlihat, ia langsung melambaikan tangan nya dengan semnagat.


Zayn tersenyum tipis tanpa sadar melihat tingkah ceria dan semnagat gadis itu.


Bianca masih menunggu lampu hijau, walaupun ia bisa mencuri jalan dengan menyebarang tiba-tiba tapi itu bisa membahayakan diri nya dan juga pengendara lain dan tentu nya ia lah yang juga akan mengalami kerugian.


Zayn melihat dari kejauhan, gadis dengan seragam SMA itu tampak menunggu nya dari kejauhan.


"Hm?" mata nya mengernyit, ia melihat gadis itu menerima sebuah telpon dan cerah serta keceriaan wajah nya tampak berubah.


Tak ada apapun sampai tubuh kecil itu berbalik ke arah yang berbeda padahal lampu hijau sudah menyala.


Zayn tersentak, ia pun keluar dari cafe dan melihat gadis itu berlari dengan tergesa-gesa.


"Mau kemana dia?" gumam nya yang tanpa sadar mengikuti gadis itu walau sudah tertinggal cukup jauh karena kaki kecil itu bisa berlari dengan cepat.


Sementara itu.


Suara napas yang berat dan derap langkah yang cepat terdengar.


"Anak bodoh ini! Kenapa bukan menelpon polisi? Kenapa aku? Sial! Kenapa aku terus lari?!" ucap nya yang menggerutu dengan kesal namun juga merasa khawatir.


...


Bugh!


"Pengecut! Main nya gerombolan!" ucap Aldrich yang mengusap tangan nya yang terluka dengan penuh darah.


"Dasar bocah!"


Sekumpulan anak SMA yang terlihat lebih mirip dengan geng preman itu tampak tak terima jika rekan nya di pukul dengan anak kecil.


Dan tentu menang atau kalah pun mereka tetap tidak akan mendapat kan kebanggaan seperti puitis menang jadi arang kalah jadi abu.


"Kalian memang sudah dewasa? Dasar banci!" ucap Arche yang tampak kesal.


Aldrich memundur, mau sekuat apapun mereka. Anak kecil tetaplah anak kecil yang dari jumlah tenaga, orang dan juga pengalaman lebih sedikit terlebih lagi kemampuan yang di ajari untuk membela diri bukan membunuh lawan.


"Dasar anak kurang aj-"


Brak!


Crash!


Botol bekas minuman keras itu langsung berhambur, kepala yang terluka seketika dan langsung kehilangan kesadaran.


"Kak Bian!" seru Arche yang tersenyum cerah.


"Siapa yang memukul wajah tampan ini?" ucap Bianca yang tersentak melihat Arche dengan wajah memar.


Sedangkan Aldrich masih terdiam, ia tak mengatakan apapun karna merasa di abaikan.


"Ya ampun! Kau juga di pukul? Kenapa bodoh sekali sih kalian?! Aku saja belum pernah memukul mu!" ucap Bianca yang kesal dan khawatir melihat ke arah Aldrich.


"Oy? Siapa jala-"


Dusk!


"Tutup mata kalian? Kalau tidak akan ku buat telinga itu lepas," ucap nya pada kedua adik kembar nya.


Pecahan kaca dari botol yang tadi hancur itu kini menusuk ke perut nya seperti mengotak usus yang berada di dalam nya.

__ADS_1


"Okey! Kasih tau kalau udah selesai ya kak!" seru Arche yang selalu tersenyum cerah bagai mentari.


Ia mengajak Aldrich berbalik melihat tembok agar tak melihat adegan yang membuat mual.


"Ini ga apa-apa?" tanya Aldrich pada Arche.


"Tenang, aku ga tau kak Bian gimana belajar nya tapi cara penyerangan nya beda sama kita, percaya deh!" ucap nya pada Aldrich.


Tentu berbeda, sang kakak yang semenjak berumur 4 tahun karna mengalami penculikan dua kali mulai di ajari cara membunuh seseorang. Bukan hanya sekedar belajar bela diri.


Ukh!


Brak!


Brak!


"Das-"


Brak!


Crash!


"Kau tidak tau yang nama nya pembersihan? Sampah seperti mu harus di buang! Kalian bahkan tidak bisa di jual atau di daur ulang!" ucap gadis itu yang kesal dan terus saja memukul dengan batu batako yang berada di sudut bangunan yang sempit itu.


"Akh!"


Suara jeritan itu mulai menghilang, dari seragam hingga rambut, wajah dan sepatu nya semua terkena darah nya.


"Hey? Katakan, siapa yang pukul anak yang pakai kaus warna biru?" tanya nya yang menatap ke arah segerombolan yang tampak melengser di tanah itu.


"Kalau tidak ada yang jawab aku pecahkan kepala kalian satu persatu," ucap nya dengan nada lembut dan senandung.


"Di.. dia!" ucap salah satu anak lelaki yang terlihat dengan kaki yang terluka parah dan tentu karna hantaman dari batako yang mungkin saja sudah menghancurkan tulang nya.


"Dia ya?"


Brak!


"Argh!"


Suara jeritan itu terdengar, tangan yang di raih dan di tempelkan ke dinding kemudian di hancurkan dengan batu.


Kombinasi yang sempurna untuk memperlihatkan tulang yang remuk.


"Si*lan! Aku saja belum pernah memukul nya kenapa kau yang duluan! Yang bisa mereka cuma aku!" ucap nya yang kesal dan memukul membabi buta sampai-


Greb!


Gadis itu mengernyit, tangan nya tercekal hingga membuat nya berhenti memukul, "Hey? Kau mau mat-"


Deg!


Mata coklat nya tampak tersentak, gadis itu membatu sejenak.


"Paman?" gumam nya yang langsung bangun dan menjatuhkan batu nya.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Zayn saat sudah berhasil menyusul walaupun sempat kesasar karna sudah kehilangan jejak.


Bianca menjatuhkan batu di tangan nya, "Bukan apa-apa," jawab nya dengan senyuman manis di wajah yang memiliki banyak terciprat darah.


"Dasar gadis mons- Brak!"


Belum siap anak remaja SMA itu bicara tendangan kaki kecil gadis itu sudah menutup mulut nya lebih dulu.


Zayn tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah mata jernih yang terlihat mencoba bersikap biasa saja.


"Kau yang lakukan ini?" tanya nya yang masih memegang tangan gadis itu.


Bianca menggeleng, "Bukan? Aku itu punya tubuh lemah paman...." ucap nya lirih yang tampak memanyunkan bibir nya.


"Tidak terlihat seperti itu," ucap Zayn yang melihat ke arah situasi darah yang berlumuran di tubuh gadis itu.


"Mereka yang lakukan, hey? Anak nakal!" ucap nya yang menunjuk kedua adik nya yang berbalik dan melihat dinding itu.


Arche dan Aldrich tampak bingung, "Kami?" tanya nya kedua anak lelaki yang tidak tau apapun itu.

__ADS_1


__ADS_2