
Louise membawa gadis kecil menggemaskan itu ke ruangan nya, menurunkan nya di sofa dan memeriksa nya setelah mengambil beberapa peralatan pertolongan pertama.
Ujung stetoskop yang dingin itu mulai menyentuh dada gadis kecil itu dan membuat nya terkejut seketika hingga langsung bergerak.
"Hihi! Dingin!" Bianca terkekeh dengan tawa kecil nya dan langsung bangun.
Ah coo!
Tak lama kemudian bersin yang ia tahan mulai keluar dengan sendiri nya, sedangkan Louise tertegun melihat anak kecil di depan nya baik-baik saja seperti tak sakit apapun.
"Kau bohong?" tanya nya mengernyit pada Bianca.
Bianca menggeleng, tawa nya langsung habis dan mulai menunduk dengan wajah lesu melihat raut wajah sang ibu berubah.
"Bian gak bohong..." ucap nya lirih.
Louise masih menatap dengan tajam namun ia tak jadi memarahi lebih banyak lagi pada gadis kecil yang terlihat lesu itu.
Apa yang ia pikirkan?
Anak kecil berumur tiga tahun membuat skenario pura-pura pingsan hanya untuk mendapat perhatian?
"Yasudah, kau diam saja." ucap nya yang kembali memeriksa tubuh mungil itu.
Bianca kembali menoleh, senyum cerah kembali di wajah imut nya menatap sang ibu.
"Benel kata Daddy," ucap nya tertawa dan tangan mungil nya mulai beranjak bermain serta menarik rambut pirang sang ibu karna penasaran.
"Daddy mu bilang apa?" tanya Louise yang sekali-kali menepis tangan mungil yang dengan jahil membaut susunan rambut nya berantakan.
"Daddy bilang kalau Mommy itu dotel!" ucap nya dengan senyuman cerah.
Louise diam, ia menatap gadis kecil itu dan hanya menarik napas nya. Sudah banyak sekali ia mengatakan untuk jangan memanggil nya 'Mommy' namun hal itu sama sekali tak berpengaruh.
"Berapa umur mu?" tanya Louise saat sudah selesai memeriksa dan tak menemukan masalah apapun pada tubuh gadis kecil itu.
"Hum?" Bianca menatap bingung, mana mungkin ia tau berapa umur nya karna hal tersebut jarang di ucapkan kecuali hari ulang tahun nya.
"Segini?" tanya nya dengan bingung sembari mengangkat sepuluh jari tangan nya.
Louise menarik napasnya, apa yang ia harapkan dari anak yang bahkan masih memakai popok saat malam?
"Ya kau benar," ucap nya yang meletakkan alat-alat yang tadi ia gunakan.
"Mommy mau kemana?" tanya Bianca yang langsung turun mengejar sang ibu yang berjalan ke pintu keluar.
"Aku ada urusan, kau di sini saja kalau nanti aku bertemu ayah mu akan ku bawa dia." ucap Louise dan kembali melanjutkan langkah nya.
Bianca terdiam, kaki kecil nya tak lagi mengejar dan masih berdiri di atas lantai yang sama.
"Mommy mau ninggalin Bian lagi? Hali ini Bian tunggu sampai sole lagi? Atau sampai malam?" tanya nya lirih dengan nada sedih.
Kali ini bukan acting dari sang ayah namun dari perasaan nya sendiri. Ingatan tentang menunggu sang ibu yang pergi begitu saja ketika makan es krim dengan nya.
Deg!
Louise terhenti, ia menoleh menatap ke arah iris coklat yang terlihat menyedihkan dan sendu itu.
"Aku tidak pernah meminta untuk tunggu aku kan? Dan lagi, berhenti memanggil ku dengan sebutan seperti itu karna aku bukan ibu mu." ucap nya dengan nada dingin walau entah mengapa ia merasa bersalah saat membuat hati gadis kecil itu terluka.
Bianca terdiam ia mendekat perlahan dan menatap sang ibu dengan netra coklat nya, "Mommy..."
Ia tak tau lagi pada siapa itu harus menyebutkan panggilan tersebut, ia bahkan baru mengetahui jika ia juga punya 'ibu' seperti kartun yang ia lihat.
__ADS_1
"Bianca? Itu nama mu kan?" tanya Louise sembari mendekat dan berjongkok melihat ke arah gadis kecil yang masih sangat kecil dan pendek itu.
Bianca mengangguk dan menatap sang ibu dengan raut sedih karena tak mau ditinggal lagi.
"Dengar, aku tidak ta-"
Brak!
Suara pintu yang terbuka memotong perkataan nya dan di ikuti dengan suara pria yang memanggil nya.
"Louise! Kau lama seka-" Louis terdiam sejenak saat iris mata nya menangkap ke arah anak kecil yang bersama dengan adik nya.
"Ada apa?" Louise langsung bangun dan menatap ke arah sang kakak.
"Kau harus datang bersama ku di rapat nanti," jawab Louis sembari menatap ke arah gadis kecil yang menatap nya dengan bingung.
Ia tak menebak jika gadis kecil itu keponakan nya sama sekali walaupun memiliki wajah yang sama seperti adik nya.
"Louise? Dia anak siapa?" tanya nya dengan bingung pada sang adik.
Louise hanya mengendikkan bahu nya, mana mungkin ia bilang kalau ia punya anak pada sang kakak dan dari pria yang ia sama sekali tak ingat.
"Tapi kalau di lihat lagi dia sangat mirip dengan mu," ucap Louis tertawa kecil sembari menatap wajah gadis kecil yang mendongak melihat nya dari bawah.
"Apa?" Louise mengernyit walaupun mirip namun ia tak mau mendengar nya secara langsung karena ia tak mau mengakui nya.
"Lihat dia, wajah nya ekspresi nya semua mirip dengan mu, oh kecuali mata nya." ucap Louis dengan wajah yang beralih kesal, "Mata nya mirip den-"
Deg!
Ia tersentak, ia ingat jika rekan medis sang adik menunjukkan pernah mengalami operasi ceasar sebanyak dua kali.
Ia tau dengan pasti anak pertama yang dulu di kandung adik nya adalah laki-laki namun yang tumbuh dan yang ia lihat sekarang adalah perempuan.
"Nak? Siapa nama mu?" tanya nya dan mulai mendekat ke arah gadis kecil itu.
"Bianca," jawab nya sembari melirik sang ibu.
"Nama lengkap?" tanya nya mengulang.
"Bianca Anastasya Dachinko," ucap nya yang setidak nya bisa lancar mengucapkan nama lengkap nya.
Louis diam sejak, tatapan nya terlihat membeku dan tak mengatakan apapun lagi pada gadis kecil di depan nya.
"Siapa yang bawa dia kesini," tanya nya pada sang adik dan masih memperhatikan wajah polos yang melihat nya itu.
Louise diam tak menjawab, suara sang kakak berubah terdengar tajam dan dingin hingga membuat nya gugup.
"A...aku tidak tau..." jawab nya lirih yang mengelak.
"Louise? Kau bertemu seseorang belakangan ini?" tanya nya menatap ke arah wajah sang adik.
Tentu ia tak terima dan membenci ayah dari keponakan yang ada di depan nya saat ini.
"Mommy?" panggil Bianca yang langsung beranjak ke sisi sang ibu.
Louise tersentak mendengar gadis kecil itu memanggil nya tiba-tiba dan mata sang kakak sudah menatap ke arah nya.
"Aku juga tidak tau! Tiba-tiba ada pria yang datang bilang kalau dia anak ku, tapi mungkin dia penipu!" ucap Louise pada sang kakak.
"Penipu itu apa?" tanya Bianca yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan dan menanyakan kalimat tersebut dengan polos nya.
"Kenapa tidak bilang apapun? Kalau ada yang seperti itu harus nya kau bilang pada ku!" ucap Louis sembari menatap tajam sang adik.
__ADS_1
Louise mengernyit, terlihat sang kakak yang tampak marah dan khawatir di saat yang bersamaan.
"Aku bisa tangani sendiri kok," jawab gadis itu berdalih sembari membuang mata nya.
Louis menarik napasnya, ia menatap kembali ke arah gadis kecil itu dan melihat ke arah nya.
"Kau ikuti rapat nya tanpa ku," Louis yang beranjak mendekati gadis kecil itu.
"Tapi-"
"Louise," panggil nya dan langsung membuat gadis itu terdiam tak berani membantah.
Louise pun beranjak pergi keluar mengikuti apa yang di katakan sang kakak.
Kini hanya tinggal gadis kecil yang memiliki duplikat wajah sang adik dan diri ny lah yang berada di ruangan tersebut.
"Nah, sekarang kau panggil aku paman atau uncle juga boleh." ucap nya yang berjongkok menatap mata gadis kecil itu yang melihat nya dengan bingung.
"Paman?" panggil nya mengulang menatap ke arah pria di depan nya.
......................
Pukul 01.36 am
Pria itu masih menatap ke arah sekumpulan pria berjas yang bertato dan tengah berlutut di depan nya.
Semua nya gemetar karna melakukan kesalahan saat pengiriman barang terlarang yang tak di bolehkan oleh hukum tersebut.
James melirik ke arah jam tangan nya, sudah dini hari pun masih tak ada kabar sama sekali dari gadis nya, bahkan memanggil nya untuk menjemput anak nya.
"Apa dia sudah tau?" gumam nya lirih.
Jika putri kecil nya masih tertahan hingga saat ini kemungkinan besar gadis itu membawa nya pulang dan jika di bawa pulang berarti saudara kembar gadis itu pun akan mengetahui keberadaan putri nya.
......................
Kediaman Rai.
Satu kediaman mewah itu terbangun di tengah malam karna tangisan yang begitu kuat dari anak kecil yang cantik itu.
HUAA...
HUHU...
Bianca yang tak pernah pisah lama dengan sang ayah kini menginap di tempat lain tanpa kehadiran ayah nya tentu membuat nya gelisah.
Berbeda dengan anak kecil lain nya yang mengenal 'bau ibu' gadis kecil itu hanya mengenal 'bau ayah' karna di besarkan oleh sang ayah.
"Mau Daddy..."
"Huhu..." tangis nya pecah saat malam dan mencari keberadaan sang ayah karna merindukan nya.
"Kenapa di bawa pulang sih kak? Sekarang lihat?" ucap Louise yang tak bisa tidur Karan tangisan gadis kecil itu.
"Mau tidur sama Paman?" ajak Louis pada gadis kecil itu.
Bianca menggeleng wajah dan mata nya memerah serta rambut yang basah karna terkena air mata nya.
"Mau Daddy..."
"Daddy mana?"
"Daddy..."
__ADS_1
"Huhu..."
Gadis kecil itu menangis mencari keberadaan sang ayah yang bagi nya segala nya, karna orang tua yang ia tau sejak kecil dan seseorang yang sudah terbiasa dengan nya hanya sang ayah.