
Mansion Dachinko
Tubuh mungil itu duduk di lantai dengan menangis dan wajah yang memerah serta mata coklat yang berair.
Terlihat menggemaskan sekaligus kasihan di waktu yang bersamaan.
"Bian mau ikut..." ucap nya yang terlihat membujuk sang ayah.
"Bian kan sekolah, Daddy juga cuma satu hari kok pergi nya." ucap pria itu yang membujuk putri kecil nya yang menangis itu.
James berjongkok di depan putri nya yang duduk di lantai sebagai protes pada diri nya. Dan untung nya Louise tak berada di sana, jika ada pasti rencana nya akan langsung buyar karna gadis itu pasti akan mengajak putri nya untuk ikut sekalian.
"Tapi Daddy pelgi nya sama Mommy..." tangis sendu gadis cilik yang menggemaskan.
Bianca sebelum nya tak tau jika sang ayah akan pergi dengan ibu nya, ia tau setalah mendengar telpon dan tentu ingin langsung ikut juga.
"Iya kan Daddy lagi ada urusan." ucap nya pada putri kecil nya.
Wajah bulat yang menggemaskan itu semakin menangis, "Daddy mau enak enak sama Mommy anak nya di tinggal huhu..." tangis nya yang sendu pada sang ayah.
Entah dari mana kata-kata yang keluar dari mulut kecil nya ia dapat.
"Eh? Bianca?" tanya James yang tentu mengartikan sesuatu yang lain dari ucapan putri nya.
"Iya! Daddy enak sama Mommy pelgi! Bian di tinggal huhu!" tangis nya lagi pada sang ayah.
James menghela napas nya, ia berusaha meraih putri kecil nya dan mencium nya untuk menenangkan nya.
"Kalau ga, Daddy aja yang sekolah, Bian yang pelgi sama Mommy?" tanya Bianca lagi saat sudah berada dalam dekapan sang ayah.
"Bian, Daddy sama Mommy kan cuma pergi nya sehari aja." ucap pria itu yang memeluk tubuh yang menangis gemetar itu.
Bianca tak menjawab, ia masih menangis dan terus menangis sebagai bentuk protes dan rengekan nya.
"Nanti Daddy bolehin makan es krim sebanyak yang Bian mau," ucap nya sekali lagi.
"Bian kenapa ga boleh ikut?" tanya Bianca yang bercampur dengan cegukan karna tangis nya.
James diam sejenak, "Bian?" panggil pria itu pada putri nya.
"Bian mau adik tidak?" tanya nya untuk mengalihkan perhatian putri kecil nya.
"Adik itu apa? Bisa di makan juga?" tanya gadis kecil itu dengan polos dan menatap dengan tidak tau.
"Kalau ada adik, Bian yang jadi kakak. Bian ga mau jadi kakak?" tanya nya pada putri kecil nya.
Bianca diam sejenak, saat mengatakan kata 'kakak' ia baru mengerti apa itu pengertian seorang adik.
Gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu menggeleng, "Bian ga mau punya adik..." ucap nya yang takut kasih sayang ibu dan ayah yang harus nya hanya untuk diri nya nanti di bagi.
James terdiam lagi, ia bisa saja meninggalkan putri nya yang menangis begitu saja dan memilih pergi langung namun ia tentu tak akan tenang sama sekali jika melakukan hal tersebut.
"Bian mau Daddy nikah sama Mommy?" tanya nya lagi pada putri kecil nya.
Kali ini satu anggukan di wajah yang sembab dan merah itu menjadi jawaban.
"Nah! Karna Bian mau Daddy sama Mommy nikah maka nya Daddy mau bujuk Mommy dulu." ucap James pada putri kecil nya.
"Bujuk nya ga bisa bertiga sama Bian?" tanya nya lagi dengan suara yang serak menggemaskan itu.
"Ini bujukan nya spesial, Daddy mau kasih Mommy mantra sihir. Kalau bertiga nanti sihir nya hilang." ucap James pada putri nya dengan nada berbisik seperti mengatakan rahasia.
"Silil? Oh, maka nya Daddy beli tongkat silil?" tanya Bianca pada sang ayah.
James mengernyit, ia lupa dengan persiapan nya. Namun saat ia memutar kembali otak nya ia langsung mengingat nya.
"Iya! Maka nya Bian di mansion ya? Nanti waktu Daddy pulang Daddy bawain mainan yang banyak!" ucap James pada putri kecil nya.
Gadis kecil itu mulai terbujuk dengan rayuan sang ayah.
"Habis ini Daddy sama Mommy nikah? Telus Bian boleh makan es klim yang banyak?" tanya nya mengulang pada sang ayah.
James mengangguk untuk pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh putri cantik nya. Bianca pun bangun dan mengusap sisa air mata nya.
"Yauda, Bian mau pelgi juga! Lapel!" ucap nya yang berbalik begitu saja dan langsung memanggil pengasuh nya karna ia sudah menggunakan energi nya untuk menangis dan tentu ia membutuhkan asupan lagi sekarang.
James tersenyum melihat tingkah putri nya, ia melihat ke arah Nick yang sejak tadi menunggu diri nya untuk merayu putri kecil nya agar berhenti menangis.
"Jangan sampai sesuatu terjadi lagi dengan Bianca, kau tau apa yang harus kau lakukan, iya kan?" ucap nya yang mengingatkan sekaligus memberi peringatan.
Nick mengangguk, "Baik, tuan!" ucap nya yang tentu akan melakukan segala upaya untuk memenuhi janji dengan tuan nya.
......................
Pesawat
Kelas bisnis yang di ambil di dalam pesawat itu terlihat nyaman untuk di duduki.
Louise menjatuhkan bangku nya dan merenggangkan tubuh nya.
Ia sudah banyak beralasan dan tentu sang kakak tak tau dengan siapa ia pergi saat ini.
Benar-benar tiket VIP karna bangku yang ia duduki juga di kelilingi oleh penutup sehingga tak memungkin orang lain melihat.
"Kau mau tidur?" tanya James saat melihat gadis itu memakai selimut nya.
"Pasti kau yang pesan bangku seperti ini kan? Dasar mes*m!" ucap Louise sembari memejamkan mata nya yang terasa mengantuk karna ia mengambil penerbangan malam.
Pria itu tak menjawab, ia tersenyum dan menurunkan bangku nya juga.
"Selamat malam," ucap nya yang mengecup bibir merah muda itu.
Louise membuka mata nya saat merasakan pria itu mencium nya, kepala nya langsung bergeser dan menatap ke arah pria yang mencium nya.
__ADS_1
Senyuman tipis yang menatap sebelum tertidur, "Aku mau kita seperti ini terus..." ucap nya lirih.
"Seperti ini? Memang nya ini seperti apa?" tanya Louise menatap pria yang tersenyum pada nya itu.
"Tidur melihat mu dan bangun juga melihat mu, kita bisa seperti itu?" tanya James yang melihat ke arah gadis nya.
Louise diam sejenak, ia tak mengatakan apapun karna ia tau kata-kata itu adalah kalimat tersirat dalam lamaran nya.
Ia melihat ke arah arloji yang menampilkan detikan jam yang akan segara ke angka 12.
Kedua jarum jam itu sudah lurus bersamaan ke angka yang berada di tempat paling atas itu.
Ia menoleh ke arah pria yang belum tidur dan masih menatap nya dengan senyuman, tangan nya mendekat dan meraih wajah tampan itu.
Cup!
Satu kecupan yang berhenti di bibir yang terasa lembut itu selama beberapa detik membuat pria tampan itu tersentak.
"Happy birthday, Xavier. I hope you'll find your happiness."
Kecupan yang lembut itu terlepas tanpa ada nya lum*tan sedikit pun, mata yang terlihat memandang lurus ke arah pria yang masih terdiam bahkan tak menjawab ucapan selamat nya.
James membuang napas nya, ia tersenyum tanpa sadar.
Setelah bertahun-tahun, baru kali ini ada lagi yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk 'Xavier' yang telah mati saat ia mulai memilih jalan yang penuh darah itu.
"You're my happiness, can I get you?" jawab nya sembari menyentuh pipi gadis yang berbaring di samping nya.
Louise hanya menjawab dengan senyuman, ia tak mengatakan apapun dan memegang tangan pria yang berada di pipi nya itu.
Jemari yang kecil dan lentik itu akan langsung menghilang saat ia memegang dan meletakkan jemari nya diantara jemari pria itu yang besar.
James tetap tersenyum walau gadis itu tak menjawab nya, ia merasa bisa melakukan apa saja dan sudah mendapatkan apa yang ia inginkan hanya dengan gadis itu memegang tangan nya dan tidur di samping nya.
......................
Paris
Setelah sampai, James membawa gadis ke apart nya ketika mobil yang menjemput nya tiba dan tak lain yang menjemput nya masih bawahan nya juga.
"Kau suka?" tanya nya ketika membawa gadis itu ke tempat nya.
Louise menangguk kecil, ia menjatuhkan tubuh nya ke atas ranjang dan memeluk selimut tebal itu.
"Kita istirahat dulu ya? Nanti siang aku temani kalau kau mau ke tempat lain." ucap nya pada pria yang masih berdiri tak jauh dari diri nya.
"Iya, kumpulkan saja energi mu." ucap James tertawa sembari mengusap kepala gadis itu.
Louise mengernyit namun ia tak mengatakan apapun, ia memilih untuk kembali melanjutkan tidur nya.
...
Pukul 01.24 pm
"Kau masak?"
Suara yang terdengar heran itu saat melihat punggung kekar yang tampak menyiapkan makanan.
Pria itu menoleh, ia menatap ke arah gadis yang duduk di meja makan nya.
"Kau sudah bangun? Untung waktu nya pas." ucap nya yang merasa sebenar lagi masakan nya selesai.
"Ini kan ulang tahun mu, harus nya aku yang buat kan?" tanya nya Louise yang beranjak mendekat.
"Aku saja!" ucap James yang langsung melarang gadis itu mendekat dan membantu nya memasak.
"Kenapa?" tanya Louise mengernyit.
"Kau tanya itu karna benar tidak tau?" James menjawab dengan senyuman yang tampak ragu.
Siapapun tau jika gadis itu tak bisa memasak apapun kecuali makanan instan dan tentu ia tak ingin memakan makanan instan di hari ulang tahun nya.
"Aku cuma mau membantu," ucap Louise yang kembali duduk ke bangku nya semula.
James tersenyum, ia menata makanan nya dan membawa nya satu persatu ke meja.
"Kalau mau membantu ku, harus nya kau makan yang banyak saja hari ini." jawab nya pada gadis itu.
Louise mengangguk dan mengambil makanan yang di berikan pada nya, ia tak terlalu peduli apa sedang di bicarakan oleh pria itu.
"Ku dengar ada pameran seni di salah satu galeri yang dekat di sini. Kau mau lihat?" tanya James yang ingin menghabiskan waktu siang nya dengan berkencan normal.
"Pameran seni?" tanya Louise mengulang saat mendengar tentang pameran seni.
"Mau! Jam berapa kita pergi?" tanya nya yang langsung semangat karna ia menyukai nya.
James tersenyum melihat mata yang bersemangat itu, ia tentu hanya memberikan apa yang di sukai gadis di depan nya.
......................
Galeri seni.
Mata hijau itu tampak berbinar saat melihat ke banyak karya yang di tampilkan dari mulai lukisan hingga seni patung dan juga seni yang lain nya.
Tanpa aba-aba dan di minta pria itu meraih tangan gadis yang berdiri berdampingan pada nya itu.
Louise langsung menoleh ke arah tangan nya yang di genggam, ia menatap ke arah pria yang tampak tak tau apapun itu padahal sudah memegang tangan nya.
Ia tak menepis nya karna ia tau hari ini adalah hari di mana pria itu ulang tahun.
Langkah nya terhenti saat melihat ke arah salah satu lukisan yang tampak dengan pola yang ia kenali.
Mata nya terpaku sejenak, ia menatap dengan seksama dan melihat karya siapa yang bergantung di dinding galeri seni itu.
__ADS_1
"ZE?" gumam nya yang melihat ke arah tulisan latin di ujung gambar yang terlihat sendu itu.
Pohon musim gugur yang hidup di pinggiran sungai, akar yang masuk ke dalam aliran air yang mungkin akan membuat pohon itu segera mati.
Bayangan seseorang yang menanti bintang di langit yang siang dan cerah namun terus mendongak kan kepala nya ke atas.
"Seperti nya yang membuat lukisan ini sedang patah hati," ucap James pada Louise yang masih terpaku melihat nya.
"Benar, ku rasa begitu." ucap Louise lirih yang melihat dan tampak tertarik sampai salah satu pendamping galeri mendatangi nya.
"Ini karya yang bagus kan?" tanya wanita yang merokok salah satu staf dari penyelenggara.
Louise mengangguk kecil mendengar nya.
"Karya ini sudah terjual, jika nona mau saya bisa bawakan anda untuk melihat ke karya yang lain nya dari seniman yang sama." ucap nya pada Louise.
"Seniman nya mengirimkan langsung dari Italy." ucap wanita itu yang dengan ramah mengantar kan nya pada dua lukisan yang sama dari satu seniman.
Dua Lukisan lain nya pun sama, kedua nya menampilkan tampilan yang sendu sesuai dengan hati sang pelukis.
"Aku beli yang ini, kirimkan alamat nya ke sini." ucap nya yang memberikan kartu nama nya dan tentu ia akan mengirim nya ke mansion nya.
"Lakukan pembayaran nya dengan ini," ucap James yang langsung mengeluarkan kartu nya.
Louise langsung menoleh, "Kau? Masa kau yang belikan aku sesuatu? Ini kan ulang tahun mu?"
"Tidak apa-apa," jawab James pada gadis itu.
"Lukisan yang kita lihat tadi, buatan Zayn." ucap nya setelah wanita tutor galeri seni itu pergi.
Tentu ia tau bagaimana corak dan ciri khas karya sahabat nya yang tumbuh dengan nya dari kecil terlebih lagi nama seniman nya yang hanya dua huruf dengan memakai singkatan dari nama pria itu sendiri.
James langsung menoleh, ia menatap ke arah gadis yang tampak menghela itu. Ia tak mengatakan apapun dan tak menunjukkan kecemburuan walau pun ia ingin protes.
......................
Apart
Pria itu tampak membuka jendela nya dan menuangkan sampanye yang ia miliki ke dalam gelas yang panjang itu.
"Kalau Louis tau kau memberi ku alkohol dia pasti akan semakin kesal," ucap Louise tersenyum.
"Kau bilang ini ulang tahun ku kan?" tanya James yang setelah menuangkan sampanye di gelas kaca itu.
"Ya," jawab Louise singkat.
"Kau masih ingat janji mu?" tanya pria itu lagi dan kini mulai meminta hadiah nya.
Louise mengangguk, ia menatap ke arah pria yang tampak menyimpan maksud terselubung itu.
"Ke kamar dan lihat kotak yang ada di atas ranjang, kau bisa pakai itu dan keluar." ucap nya.
Louise mengernyit, namun ia mengambil gelas sampanye yang berada di tangan pria itu dan meminum nya.
"Okey, sebentar." ucap nya yang masih tak curiga sama sekali.
Louise berbalik, ia je kamar dan melihat kotak yang di bicarakan, tangan nya beranjak membuka dan mata biru nya langsung membulat seketika.
"Apa ini yang dia suruh aku untuk pakai?" tanya nya terkejut melihat ke arah lingerie hitam yang di tujukan untuk nya.
Louise membuang napas nya, ia ingin berbalik dan protes namun masalah nya ia sudah terlalu percaya diri sebelum nya jika akan memenuhi semua yang di minta.
Gadis itu menggerutu namun tetap menurut dan memakai nya, langkah nya keluar namun ia mwrasa malu dan pada akhir nya tetap berada di sana dengan bingung.
Sementara pria yang tampak tak tahan menunggu itu mulai masuk, Louise yang tengah gelisah tak bisa keluar itu pun tak menyadari jika pria yang menunggu nya sudah datang untuk melihat sendiri.
"Cantik,"
Suara yang membuat nya tersentak seketika, dan langsung menoleh.
Pria itu mendekat ia membuka salah satu kotak perhiasan yang ia bawa dan memasangkan nya ke leher jenjang gadis itu.
"Kenapa kau yang terus memberi ku sesuatu?" tanya Louise menoleh pada pria yang memberikan nya kalung itu.
James tak menjawab, lingerie tipis yang berwarna hitam itu membuat hasrat nya perlahan bangkit.
"Apa sekarang boleh ku minta hadiah ku?" tanya nya pada gadis itu dan perlahan mengecup bibir merah muda itu.
Humph!
Louise tersentak, pria itu mengecup nya dengan pelan dan tangan yang tak meraba melainkan mendekap nya.
Ia terdiam dan pasif dalam ciuman yang berbelit dan menyeluruh di seluruh mulut nya.
James mencium dengan perlahan namun semakin intens sampai suara kecupan itu terdengar dan rasa manis dari sampanye yang di minum oleh gadis itu terasa di lidah nya.
Ia mendorong perlahan tubuh ramping yang pas dalam pelukan nya, ke arah ia menyimpan tali yang sudah ia pesan sekaligus bersama dengan lingerie nya.
Louise yang sudah kewalahan menghadapi ciuman yang tampak lembut namun begitu dalam itu tak terasa jika pria itu sudah mengikat kedua tangan nya ke belakang.
"James?"
Suara yang terengah-engah saat mengambil napas ketika ciuman di lepaskan itu menatap dengan bingung dan mata yang sayu.
"Sstt..."
"Ingat? Jangan mengeluh," ucap nya berbisik sembari membuka kaus putih yang ia kenakan.
Ia membawa gadis itu ke meja yang berada di dekat jendela apart nya, sehingga menampilkan kota paris dari atas.
__ADS_1
Tangan nya besar dan hangat itu mulai meraba paha putih yang mulus itu, menggelitik nya dengan senyuman yang mengatakan permainan akan segera di mulai.