
JBS Hospital.
Ruang visi.
Semua yang berada di tempat itu terlihat sibuk, mengkompresi data dan menyaring serta mengambil mana yang belum sempat terkena virus.
"Tidak pernah sampai seperti ini sebelum nya? Kenapa sekarang tiba-tiba begini?" tanya Louis membuang napas nya kasar.
Ia baik-baik saja walaupun sempat mengalami kecelakaan sebelum nya. Untung nya hal tersebut bukanlah kecelakaan besar dan juga airbag yang langsung berfungsi sehingga membuat pengemudi nya baik-baik saja, namun yang menjadi masalah...
"Kau membawa mobil dalam keadaan mabuk? Di situasi seperti ini?!" tanya Rian yang kesal sembari menunjukkan berita di ponsel nya.
Louis mengernyit, berita tentang ia yang kecelakaan memang sudah tersebar namun berita jika ia mabuk juga berada di dalam nya.
"Memang ada kadar alkohol waktu pemeriksaan, tapi aku tidak mabuk! Dan lagi pula sebelum pergi aku tidak ada minum alkohol sama sekali! Bir saja aku tidak ada minum!" ucap nya langsung pada paman nya.
"Kalau tidak ada kenapa bisa ada alkohol saat pemeriksaan?" tanya Rian mengernyit.
Louis hanya mengendikkan bahu nya sembari membuang napas nya dengan berat.
Kini semua nya tengah sibuk untuk mengembalikan situasi menjadi tenang dan normal kembali.
Pengendalian data, tuntutan dan opini publik serta harga saham yang harus tetap di pertahankan agar tak terjual secara keseluruhan agar menghindari kebangkrutan.
.....................
Mansion Dachinko.
"Kalau cctv nya di pintu belakang di rusak dan penjaga nya pergi pasti bisa keluar..." gumam nya yang merasa akan memiliki waktu beberapa menit sampai bisa melewati pagar tembok tinggi itu.
"Louis sekarang gimana? Apa dia pakai uang yang ku simpan? Atau saham yang ku beli? Kalau dia pakai pasti bisa jadi bantuan sementara..." ucap nya sembari mengusap anjing serigala berwarna putih milik pria yang mengurung nya.
"Masalah nya dia kan tidak tau aku pernah beli saham atau punya cadangan dana?! Sekarang mau gimana kasih tau nya..." sambung nya lirih yang bergumam dengan khawatir.
Tak hanya memikirkan bagaimana cara nya agar kabur, gadis itu pun juga memikirkan keadaan saudara kembar nya bersama dengan JBS grup satuan nama yang membuat nya tumbuh hingga saat ini.
Tenggelam dalam lamunan cara agar ia bisa kembali, gadis itu pun tak menyadari jika sudah ada yang berdiri di belakang nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya James sembari berbisik di telinga gadis cantik dengan wajah pucat itu.
Deg!
Louise tersentak, ia pun langsung membalik tubuh nya dan melihat ke arah pria yang baru saja berbisik di telinga nya.
Tak ada jawaban, ia tentu nya tak mau menjawab apapun pertanyaan dari pria itu.
James pun tak memberikan reaksi apapun, namun ia perlahan mencium lengkung leher jenjang gadis itu dan menyibakkan rambut nya hingga membuat tengkuk gadis nya terlihat.
"Kau tidak sedang memikirkan sesuatu yang di sebut dengan 'Kabur' kan?" tanya nya dengan nada penekanan sembari menghirup dan mencium leher gadis itu dari belakang.
Louise tak mengatakan apapun, tubuh nya menghindar sebagai respon refleks nya walau pria itu masih menciumi nya.
Mata nya memejam sembari meremas gaun longgar nya dengan tubuh yang mulai gemetar tanpa sadar, sentuhan pria itu kini mulai menakutkan bagi nya.
Ia merasa tak nyaman dan selalu berpikir jika sentuhan itu akan segera mengarah ke arah lain hingga membuat nya merasakan perasaan yang sama seperti trauma kecil nya dulu.
"Kau bisa bernapas, lagi pula aku tidak akan mengigit mu." ucap pria itu sembari menjauh dari tengkuk dan leher jenjang itu ketika selesai menc*mbu dan mengesap aroma nya.
"Pergi," ucap Louise lirih dengan ketus pada pria itu.
James bukan nya beranjak, ia malah duduk di samping gadis itu dengan wajah seperti tak memiliki dosa sama sekali.
"Pergi? Kemana? Semua tempat ini adalah milik ku," tanya nya dengan smirk yang membuat gadis itu mengernyit.
"Kalau begitu biarkan aku yang pergi," ucap Louise pada pria itu.
James diam sejenak, ia sedikit menurunkan tubuh nya agar bisa menatap wajah yang berpaling itu tanpa harus memaksa pandangan gadis itu mengarah pada nya.
"Kau pernah tanya apa setelah melahirkan aku akan membunuh mu atau tidak kan?" tanya nya sembari menatap wajah yang berpaling itu, "Jawaban nya tidak, walaupun mungkin aku akan menyiksa mu sampai sekarat aku juga tidak akan membiarkan mu mati."
"Lalu membuat ku jadi mesin pembuat anak untuk mu? Padahal kau sendiri punya wanita lain?!" sahut gadis itu terpancing sembari menggeser duduk nya agar menjauh dari pria yang berada di samping nya.
"Untuk beberapa alasan," jawab pria itu ambigu, mana mungkin ia mau mengatakan jika ia punya perasaan pada seseorang yang ia anggap musuh?
Louise mengernyit dan membuang pandangan nya yang tampak menahan amarah.
"Karna aku tidak akan membunuh mu, jadi aku harus membunuh kakak mu kan? Karna salah satu dari kalian harus ada yang membayar nya." sambung James dengan wajah dan nada yang datar.
"Kau itu manusia atau tidak?" tanya gadis itu sembari menggeleng dengan mata tak percaya.
"Entahlah," ucap nya mengendikkan bahu nya sembari memanggil anjing serigala yang berada di dekat gadis itu.
White pun mendengar panggilan dari tuan nya langsung melompat berpindah posisi, karna bagaimana pun ia tetap hewan peliharaan.
"Tangan?" James tersenyum kecil saat mengusap dan mengatakan kata untuk agr anjing serigala besar menggemaskan itu menurut pada nya.
White pun menurut dengan memberikan kaki depan nya, sedangkan Louise melihat nya, pria yang kini kembali seperti manusia biasa yang bisa tersenyum.
"Anjing saja lebih baik dari pada kau..." gumam nya lirih sembari membuang pandangan nya.
James menghentikan usapan nya pada bulu peliharaan nya, "Kau menyamakan aku dengan anjing?" tanya nya.
"Menurut mu?" jawaban ketus yang keluar dan gadis itu pun beranjak dari duduk nya.
......................
Kediaman Rai.
Pria itu tak tidur sama sekali, memikirkan cara agar bisa menangani kerugian yang begitu besar karna kebocoran data dan juga hilang nya kepercayaan dari rekan kerja sama.
"Siapa yang tikus yang masuk?" gumam nya yang sadar ada yang bermain di belakang nya.
Ia tak bisa mempercayai semua yang ia lihat lagi tempat nya berada, hanya beberapa orang yang ia percayai saat ini.
Beberapa perhitungan pun dimulai, "Masih kurang sekitar..."
Drtt...
Getaran ponsel pria itu membuat fokus nya teralihkan, ia pun mengangkat nya.
"Kau belum tidur?"
"Kau sendiri juga belum tidur kan? Ada apa?" tanya Louis yang tak berbasa-basi saat sahabat nya menelpon nya.
"Sudah lihat yang ku kirimkan? Seperti nya kau bisa pakai itu lebih dulu," ucap Zayn pada Louis.
Louis pun mengernyit, ia membuka pesan nya dan mata nya langsung menangkap sesuatu di depan nya.
__ADS_1
"Kapan Louise menjual saham nya? Dan beli saham baru?" tanya nya bingung.
"Sekitar 6 atau 7 bulan yang lalu, dia juga simpan uang sisa dari pembelian saham perusahaan lain." ucap Zayn yang juga baru ingat karna pernah mengurus nya dulu.
"Baik, terimaksih karna sudah memberi tau." ucap Louis sembari membuang napas nya.
Ia menutup ponsel nya, menyandarkan tubuh nya ke kursi yang ia duduki. Pencarian tentang kecelakaan adik nya sekarang tengah terhenti karna harus mengurus masalah besar yang datang.
"Louise..." gumam nya yang tertawa pahit saat ia tengah berusaha tak lagi mengingat kesedihan yang sama ketika melihat mayat yang hancur di depan mata nya saat itu.
Sejenak ia lupa bagaimana senyuman gadis itu ketika menganggu nya dulu, ataupun tatapan kesal ketika kalah saat berkelahi dan berebut mainan atau makanan karna tak mau kalah.
"Anak nakal itu..." gumam nya yang dengan tawa kecil namun mata yang berair.
Perasaan nya begitu kacau dengan semua masalah yang ia dapatkan secara bertubi.
Pukul 03.46 am
Pria itu baru beranjak, dari tempat duduk nya dan ingin ke kamar agar dapat beristirahat.
"Cla? Belum tidur?" tanya nya pada wanita yang terbangun itu dan menatap ke arah nya.
Clara masih diam, ia tak menjawab sama sekali pertanyaan tersebut.
"Maaf..." gumam wanita cantik itu lirih.
Louis mengernyit, diantara mereka ia lah yang harus nya meminta maaf namun malah sang istri yang kini berbalik meminta maaf pada nya.
"Untuk?" tanya nya mendekat pada wanita yang duduk di ranjang itu.
"Soal kecelakaan itu, sebelum sarapan aku memberikan ini di makanan mu." ucap nya yang mengaku dengan sendiri nya karna merasa bersalah.
Ia mengeluarkan serbuk abu-abu yang entah berisi apa dari laci dan memberikan nya ke tangan suami nya.
"Ini apa?" tanya Louis bingung.
"Ada yang memberikan nya pada ku, dia bilang itu kalau aku memberikan nya pada mu dia bisa bantu aku untuk bercerai dengan mu..." jawab nya lirih.
"Lalu kau mengambil nya? Bagiamana kalau dia memberi mu racun agar bisa membunuh ku? Kau tidak pikirkan itu?" tanya Louis mengernyit.
Wanita itu hanya menundukkan kepala nya, "Aku membenci mu, jadi ku pikir kalaupun itu racun tidak akan masalah..." jawab nya lirih.
Louis mengernyit, ia menggeleng pelan mendengar jawaban istri nya, "Lalu sekarang kau senang? Aku kecelakaan siang nya dan di katakan berkendara dalam keadaan mabuk."
Clara menggeleng, "Aku tidak menyukai nya..."
"Tapi tetap saja, aku tidak bisa hidup dengan mu. Mau seperti apa yang kau lakukan aku tetap tidak bisa..." sambung nya lagi.
"Cla! Berhenti bilang itu terus! Kau mau aku seperti apa? Aku juga sed-"
"Cukup satu! Kita bercerai!" sentak Clara langsung, "Kau itu pembunuh! Reno meninggal karna mu kan?! Aku juga seperti ini karna mu kan?!" tanya nya lagi.
Louis diam, ia memejam. Dari semua waktu kenapa sekarang harus menenangkan sang istri lagi yang terus meminta cerai dari nya.
"Reno? Kau sesuka itu pada
nya?" tanya pria itu mengernyit.
Clara diam, walaupun ia tak pernah benar-benar mencintai mantan kekasihnya itu namun ia terus merasa bersalah ketika mengetahui semuanya.
"Semua salah mu," jawab Clara lirih tanpa menjawab pertanyaan sebelum nya.
Walaupun hubungannya berkembang dari awal yang salah namun ia yakin ia sudah memperbaiki nya sedikit demi sedikit lalu hancur kembali.
"Kau memaksa ku sejak awal," jawab wanita itu lirih dengan suara gemetar.
Pria itu tersenyum pahit, "Kau bilang dulu kau sudah putus kan? Setiap kali aku tanya kau menjawab iya kan? Tapi apa?"
"Waktu aku kena tuduhan palsu dan di tahan kau dengan nya? Siapa yang tidak salah paham? Pakaian kalian berserakan di lantai, kau hanya memakai piyama dalam mu saja, seluruh leher mu penuh bekas ciuman! Dia juga ada dengan mu saat itu!" ucap Louis pada sang istri.
"Aku terus mengatakan aku menyukai mu, aku juga memastikan kita punya hubungan saat itu kan? Walaupun awa nya sepihak tapi kau juga mengakui nya kan? Tapi malam itu?"
"Kau ingat apa yang kau katakan, Kami tidak memiliki hubungan apapun, hanya atasan dan bawahan saja. Itu yang kau katakan." sambung nya mengingatkan kejadian masa lalunya.
"Tapi kami melakukan apapun!" sanggahnya langsung.
"Dulu waktu aku tanya kau tidak tidak menyangkal Cla!" ucap Louis yang tanpa sadar meninggikan suaranya.
Clara tersentak, wanita cantik itu hanya bisa menangis, "Kalau dulu aku bilang aku belum putus kau akan memaksa ku untuk melakukan itu..."
"Aku terpaksa bilang seperti itu..." sambungnya lirih.
Louis membuang napas nya, "Sekarang, kita tidur saja dan terimakasih karna sudah jujur soal ini." ucapnya sembari menunjukkan serbuk yang tadi di berikan pada nya.
Ia pun merebahkan tubuhnya, memiliki percakapan seperti itu entah mengapa membuat nya semakin merasa lelah.
"Sini tidur," ucapnya sembari menarik tangan wanita itu.
Clara langsung berbalik membelakangi pria itu seperti biasanya, "Aku tidak bilang yang ku lakukan itu benar tapi setiap orang punya kesalahan kan?" ucap nya lirih di telinga sang istri.
"Tapi kesalahan mu berkali-kali." jawab wanita itu segera.
"Kalau begitu aku juga akan memaafkan kesalahan mu yang selanjutnya, jadi kita bisa seri." sambung Louis lirih sembari memejamkan mata nya dan semakin memeluk sang istri dari belakang.
......................
Dua Hari kemudian.
GUK!
White pun segera mengigit salah satu penjaga yang lewat, sedangkan gadis itu terlihat bimbang.
Ia hanya punya waktu sekitar 1 menit untuk melewati tembok yang tinggi itu sampai para pengawal lain nya datang ketika melihat cctv.
"Kalau aku kabur sekarang, dia akan baik-baik saja kan?" gumamnya yang melihat dan mengusap perutnya sejenak.
Walaupun awalnya ia pernah berniat membunuh anak yang berada dalam kandungan nya namun itu sekaligus dengan bunuh diri untuk dirinya sendiri.
Louise memejam, ia mencari beban di ujung kain yang ia sambung dari pakaian nya dan melempar nya, bersikap masa bodoh dengan situasi diri nya dan tetap memilih lari dari mansion megah itu walaupun kebutuhan nya begitu di penuhi.
Ia juga memilih saat di mana James dan Nick bertepatan tidak ada di mansion.
"Cepat bawa nona Louise kembali!"
Gadis itu tersentak, bahkan belum sampai satu menit namun pengawal lain nya sudah datang menyusul nya.
Walaupun White kembali menggonggong dan menggigit namun tembakan bius penjinak hewan itu langsung di tembakkan hingga membuat anjing putih besar itu perlahan tertidur.
__ADS_1
Ia pun mempercepat gerakan untuk naik dan memutar kain nya sehingga ia bisa turun.
Auch!
Gadis itu terjatuh, namun untung nya bukan dari pagar setinggi 4 meter itu melainkan dari sisa kain nya yang tak lagi mampu menahan beban karna posisi yang salah.
Louise meringis, namun ia tau para penjaga itu akan segera menyusul nya.
Deg!
Mata nya tersentak, ia memang kabur dari pagar tengah mansion dan apa yang ia lihat saat ini?
Tak ada rumah sama sekali melainkan rumput dan juga pohon yang mengelilingi nya, "Di mana jalan nya?" gumam nya yang bingung namun lebih memilih untuk menyusuri pagar itu ke pagar utama karna ia yakin pasti ada jalan di ujung nya.
Deruan napas nya terdengar berat, jujur saja ia tak bisa memiliki fisik yang kuat apa lagi kini membawa beban besar di perut nya.
"Hah...hah...hah..."
Hanya suara tarikan napas dan degupan jantung yang terdengar dari nya.
Mata nya mulai menemukan satu harapan, ia melihat jalan utama. Gadis itu pun langsung berlari ke arah tersebut.
Namun,
Sekali lagi ia terasa bingung, hanya pohon-pohonan yang di dominan Pinus yang terlihat mengelilingi sepanjang jalan saat ini. Ia merasa baru pertama kali melihat nya.
Dulu ia memang sedikit merasa kalau ia tak pernah ingat apapun jalan mansion pria itu namun kini ia benar-benar tersadar sepenuh nya.
Louise merasa linglung, hanya ada satu jalan lurus dan tempat yang terasa asing bagi nya namun ia tetap melanjutkan lari nya.
Suara mobil membuat nya menoleh ke belakang, awal nya ia senang namun begitu melihat siluet pria berjas seperti pengawal nya rasa senang nya langsung luntur seketika.
Gadis itu itu pun kembali masuk ke arah hutan, berlari di tengah jalan sedangkan yang mengejar nya memakai mobil tentu akan membuat nya tertangkap lebih cepat.
...
Kabar bahwa gadis itu kabur pun kini sudah terdengar pada pria tak berhati itu.
Cras!
"Aku sedang berada dalam suasana yang buruk sekarang, jadi jangan membuat ku semakin kesal." ucap nya dengan tatapan tajam ketika menusuk perut seseorang menggunakan belati di tangan nya.
Siapapun yang berani membawa apa yang menjadi milik nya tak pernah berakhir dengan indah, "Bawa yang tersisa di sini, anak-anak dan gadis jangan sampai terluka." ucap nya pada Nick.
Nick pun langsung mengangguk, tuan nya mengatakan tak boleh melukai anak-anak dan gadis bukan karna memiliki rasa kasihan melainkan karna ingin menjual nya seperti biasa.
"Kabur, kau mencoba kabur rupa nya..." gumam nya dengan tatapan yang tajam sembari mengusap sisa darah di wajah nya.
...
Deg...deg...deg...
Degupan jantung gadis itu seakan ingin mencuat keluar, kaki nya tak sanggup lagi berlari, namun ia tau para pengawal itu masih mengejar.
Gadis itu sembunyi di antara rumput dan pohon yang rendah. Ia bahkan tak menyadari jika kini ia sudah berlari tanpa alas kaki.
Ukh...
Perut nya seakan berkontraksi hebat, tangan yang biasanya selalu lentik dan bersih itu kini terlihat kumuh dan kotor.
"Tuan akan ke sini juga, kita harus menemukan nya lebih cepat atau kita yang akan mati."
Louise menutup mulut nya dengan rapat, ia melihat dengan mata nya dua pengawal yang saling bicara satu sama lain tak menyadari jika ia tengah bersembunyi di dekat nya.
Dia kesini? Apa dia kembali lebih cepat?
"Itu apa?"
Deg!
Gadis itu tersentak, ia pun langsung menyadari jika kedua pengawal itu mulai mendekat pada nya.
terlihat mata yang seakan sudah menemukan nya.
Gadis itu pun langsung keluar, tak peduli bahkan jika ia harus merangkak dan kembali berlari.
Ukh!
Tetesan darah yang mengalir turun dari paha nya membuat nya meninggalkan jejak, kaki nya pun sudah tak perlu di tanya sekotor dan seluka apa sekarang.
Kali ini ia pun memilih tempat dengan tanah yang rendah dan bersembunyi di balik nya.
James sudah kembali, ia tak membersihkan sisa noda darah di tubuh nya karna langsung kembali dan masuk kehutan di mana gadis itu bersembunyi dan mengulur waktu.
Posisi dimana gadis itu terluka kini sudah di beri tau, ia menatap tajam pengawal yang bagi nya tak kompeten walaupun berhasil membuat gadis itu tak bisa pergi jauh dan hanya memutari hutan sekitar mansion.
Darah?
Ia melihat cairan merah kental yang berada di atas tanah dan daun kering tersebut.
Smirk terutas di wajah nya, "Kau seperti nya harus menghilangkan suara napas mu jika ingin bersembunyi dengan baik..."
Deg!
Louise tersentak, pria itu sudah kembali dan akan segera memburu nya juga, ia pun menutup mulut dengan rapat dan degupan jantung yang semakin cepat.
"Karna aku bisa mendengar nya..." sambung pria itu dengan lirih.
Tangan yang kotor itu pun dengan erat menutup mulut nya, sekujur tubuh nya gemetar hebat, air mata nya luruh dan bahkan kini ia sangat takut jika suara napas nya akan benar terdengar.
"Now I've found you, the game of hide and seek is over, dear."
DEG!
Sekujur tubuh gadis itu seakan mati rasa mendengar nya, tangan nya di tarik hingga membuat nya tersentak dan jantung nya terasa akan berhenti berdetak.
"Lepas!" ucap nya yang memberontak.
James mengernyit, ia tersentak melihat bagian bawah gaun gadis itu di penuhi dengan darah, walaupun wajah cantik itu saat ini terlihat kotor namun ia sadar jika wajah itu terlihat begitu pucat seperti tak memiliki darah sama sekali.
"Le..pas..."
Bruk!
Gadis itu merasa melihat dua James di depan sebelum semua nya menjadi gelap, rasa takut yang mengalahkan rasa sakit di tubuh nya membuat nya tak menyadari jika ia tengah berada dalam kondisi yang genting.
James langsung menangkap tubuh gadis yang berada di depan nya, Ia terkejut dan jujur saja merasakan perasaan yang begitu tak nyaman.
__ADS_1
"Panggil Chiko suruh dia datang dengan cepat!" ucap nya sembari menggendong tubuh gadis itu.