(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Kill my happiness


__ADS_3

Roma, Itali


Wanita cantik itu kini mengambil kamera milik nya, memulai hobi lama yang ia kembali kembangkan.


"Hasil nya bagus," Clara tersenyum sembari menggeser tangkapan gambar yang berada di kamera nya.


Senyuman nya perlahan memudar dan tersenyum hampa, "Aku tidak punya foto dia..."


Ya, walaupun sebelumnya ia memiliki nya namun ia menghapus nya dan kini ia mulai sedikit menyesali tindakan nya.


"Ya ampun Cla! Kenapa sih masih mikirin dia!" decak nya sembari membuka kemeja nya dan beranjak ke kamar mandi.


Wanita itu tak mencari tau apapun tentang mantan suami nya, bahkan saudara kembar mantan suami nya pun yang pernah menjadi teman nya juga tak ia cari tau sama sekali karna ingin benar-benar melupakan pria yang sudah menyakiti nya dan memulai hidup baru.


Telpon nya berdering tepat setelah ia selesai membersihkan diri nya.


Ia menatap sejenak, memang ada kenalan yang memiliki hobi yang sama dan juga menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan.


"Tidak apa-apa..."


"Dia pria yang baik, kan?" gumam nya yang mulai mencoba menerima pria lain yang datang pada nya.


Pikiran nya memikirkan pria yang menghubungi nya saat ini, beberapa ucapan mengalir begitu saja membawa ke obrolan ringan hingga membuat wanita berlesung Pipit itu tertawa.


Namun, ia mendengar salah satu candaan yang pernah ia dengar. Candaan yang kaku karna mencari di internet.


"Cla? Kau masih di situ?" ucap si penelpon pada wanita yang terdiam tersebut.


"Ha? Ya, aku di sini."


"Mike? Ku rasa aku ada yang harus ku kerjakan sekarang, akan ku hubungi lagi nanti." ucap nya yang langsung menutup telpon nya dengan segera.


Ia menarik napas nya dengan panjang, tubuh nya bahkan belum berpakaian dan masih memakai mantel handuk setelah ia mandi barusan.


Lagi!


Ia memikirkan mantan suami nya yang br*ngsek karna menghancurkan hidup nya.


"I hate him, but I think I miss him, too."


Mansion Dachinko.


Beberapa hari telah berlalu, semua nya terasa lambat dan setiap sudut serta dinding mansion megah itu memberikan kenangan tersendiri.


Mata nya tak bisa menggambarkan apapun, hal yang ia inginkan sudah tercapai tapi kenapa masih belum merasa bahagia sama sekali?


Mata nya mengandar kosong pada apa yang ada di depan nya, ia diam dengan seribu bahasa nya.


Langkah nya berbalik memutar ke kursi tempat ia bekerja seperti biasanya.


Tak!


Pria itu menoleh, pada cincin yang sejak awal ia beli namun tak pernah ia berikan sama sekali.


Deg!


Ia ingat, gadis itu pernah bertanya tentang cincin di depan nya dan berpikir jika perhiasan cantik itu bukan untuk nya.


Lalu apa yang ia lakukan?


Membiarkan nya terluka atas kesalahpahaman yang bahkan tak ingin ia luruskan.


Apa kau bahagia sekarang?


Membuat ku seperti ini?


Apa ini kebahagian mu?


Pria itu diam, suara nya kembali tercekat menyangkut di tenggorokan nya, sekali lagi luapan di dada nya membuat nya tak bisa bernapas.


"Bahagia?" gumam nya yang kembali ingat bagaimana tatapan gadis itu saat bertanya pada nya.


Manik kaca kembali tersimpan di mata nya, ia memang banyak merasakan kehilangan seseorang yang ia sayangi namun kenapa saat ini hati nya merasa sangat terluka?


Kelopak dengan bulu mata tebal itu memejam sejenak, buliran bening ikut terjatuh ketika ia menutup matanya sejenak.


"Si*l!" pria itu berdecak sembari mengacak rambut halus nya.


Ia tak mengerti mengapa lelehan cairan bening di mata nya itu tak bisa ia hentikan saat mengingat gadis itu.


I love you...


Do you love me, too?


No


Suara gadis itu kembali terngiang di kepala nya, dada nya semakin sesak membuat nya tak bisa menarik udara.


"I love you..."


"Aku tidak pernah mengatakannya," gumam nya lirih dengan suara serak


Satu kalimat yang belum pernah ia ucapkan melalui bibir nya untuk gadis cantik itu.


Rasa sakit nya begitu berbeda saat cinta pertama nya dulu mengkhianatinya, dulu ia memang terluka namun tak memiliki penyesalan.


You right, I never get my happiness...

__ADS_1


Cause it took a long time til' I realized that you're my happiness...


James diam seribu bahasa, ia tak bisa mengatakan apapun di bibir nya, setiap mengingat gadis itu dada nya terus merasakan sakit.


Rasa sakit yang bahkan tak hilang ketika ia meminum obat yang di berikan pada nya.


James?


Kau bisa menangis? Ku kira kau hanya bisa memberi wajah kaku itu saja?


Deg!


Pria itu tersentak, pikiran yang kacau menekan otak nya menimbulkan ilusi yang ia lihat.


"Louise?" gumam nya lirih dengan iris yang membesar menatap gadis yang tersenyum ke arah nya.


Tangan yang memiliki jemari yang lentik dan panjang itu terasa seperti menyentuh kulit wajah nya dengan lembut dan mengusap air mata nya.


"I love you, don't leave me..." ucap nya lirih sembari menatap ilusi yang berada di balik iris nya tersebut.


Wajah cantik yang tersenyum itu menatap nya dengan mata yang terluka, mata yang memberitahu semua yang ia rasakan selama ini.


Tangan pria itu mendekat, mencoba meraih jemari yang seakan terasa di wajah nya.


Deg!


Seperti terbangun dari mimpi yang tak pernah tidur, bayangan gadis itu menghilang. Ilusi yang ia inginkan tak datang lagi.


Waktu tak lagi bisa di putar kembali, hanya ada satu kata saat ini yang bisa ia lontarkan.


Seandainya...


Seandainya saja dulu, ia tak bersikukuh ingin mengambil apa yang ingin di lindungi gadis itu.


Seandainya saja ia dulu menerima kesepakatan gadis itu untuk tetap bersama nya, mungkin kini ia tak akan merasa kehilangan apapun.


Pria itu tak mengerti namun tembok di hati nya yang ia bangun perlahan runtuh, dan hanya mengisahkan ruang hampa yang tak bisa tersentuh.


*Ini yang kau inginkan, iya kan?


Jadi berhentilah*...


Pria itu terperanjat, walaupun ucapan tersebut tak ia dengar secara langsung namun bisa ia baca dari sudut bibir dan juga tatapan gadis itu kini semakin jelas di telinga nya.


"Aku tidak menginginkan ini,"


"Aku..."


"Aku menginginkan mu..."


Bahkan jika ia mengatakan ribuan kali pernyataan jika ia memiliki perasaan yang sama kini tak ada satupun yang mendengar nya.


Mengabaikan rasa sakit yang begitu terlihat di mata yang cerah itu hingga menghabiskan semua sinar yang di miliki nya.


......................


JBS Hospital.


Zayn menatap ke arah Louis yang terlihat tak bersemangat dan begitu suram.


"Kenapa kau tidak coba lakukan apapun? Dia yang buat Louise sampai seperti ini, kan?" tanya nya dengan heran.


Jujur saja ia juga berusaha menembus sistem keamanan pria yang sudah menyakiti gadis yang ia cintai, mencoba mencari cara untuk membuat pria itu ikut terluka.


"Lakukan apa?" Louis yang terlihat kacau itu menatap dengan mata yang mengernyit, "She love him!"


Deg!


Zayn tersentak, ia tak bisa mengatakan apapun karna ia juga tau gadis itu sangat mencintai pria yang sudah mencampakkan nya.


"Kalau aku melakukan sesuatu pun, apa kau yakin Louise memang menginginkan nya?" tanya Louis yang sangat ingin bagaimana adik nya menepis tangan nya agar tak menembak James.


Ia juga sangat ingat bagaimana gadis itu memohon agar ia tak melakukan apapun karna dan mengatakan jika ia mencintai pria itu.


"Kalau kau tanya aku mau apa, tentu aku mau dia mati! Bahkan ku rasa kematian juga tidak kan cukup!" tangan yang mengepal dengan kuat dan tatapan yang begitu membenci.


"Tapi kau tidak bisa karna takut Louise semakin terluka? Kau berusaha menghormati keinginan nya?" Tebakan yang tepat sasaran.


"Hm," Louis mencibikkan bibir nya dengan kesal karna ia berusaha menghormati pilihan adik nya.


"Aku berencana memindahkan Louise kerumah sakit yang berada di Kanada setelah mendapatkan darah nya," ucap Louis yang memejam guna menurunkan rasa emosi dan kesal nya pada pria yang menyakiti adiknya.


"Kanada?" Zayn mengulang pertanyaan tersebut.


JBS memang memiliki beberapa cabang rumah sakit di beberapa negara salah satu nya Kanada, dan sang ayah membangun cabang di negara tersebut hanya karna ibu nya pernah mencoba kabur dan pergi di negara itu.


"Hm, kau bisa menjaga nya?" memang ia ingin membawa adik nya pergi jauh dari tempat nya saat ini.


Dan jika sang adik memang selamat ia ingin gadis itu hidup dengan pria yang mencintai nya bukan pria yang dicintai nya.


"Rumah sakit yang berada di Kanada aku juga akan memberikan nya pada mu, kau juga tau cara mengelola nya, kan?" tanya Louis yang seakan hanya memberikan kemeja biasa pada seseorang.


"Tidak perlu, aku akan ikut ke sana kalau kau memindahkan Louise ke sana." ucap nya lirih.


Louis menarik napas nya, sebagai sesama pria ia tau sahabat kecil nya itu sangat menyukai adiknya sejak lama.


"Aku harap darah itu cepat di dapatkan..." gumam Louis yang menarik napas panjang mengingat setiap detik begitu berharga untuk kelangsungan hidup saudarinya.

__ADS_1


......................


Mansion Dachinko.


Pria itu diam sejenak, sejak tadi ia mendengar suara tangisan bayi mungil nya, putri yang ia dapatkan dari gadisnya.


"Kenapa dia terus menangis?"


Para pelayan tersentak begitu mendengar suara tuan mereka, "Kami akan segera memandikan nona tuan." ucap salah satu pelayan.


Tangisan bayi mungil itu berhenti dan menatap dengan mata bulat nya ketika ia datang.


"Berikan pada ku, dia akan mandi bersama ku." ucap nya yang mengambil putri kecil nya itu.


Walaupun baru kali ini mengurus anak namun ia bisa melakukan nya, banyak hal yang sudah ia lalui tentu nya membuat nya tau bagaimana dan apa yang harus di lakukan pada bayi mungil milik nya itu.


Abubu...


Tubuh gempal itu menggeliat dalam gendongan nya, wajah yang menggemaskan itu menatap nya hingga membuat senyuman nya perlahan naik ketika ia lupa sejenak tentang kesedihan nya.


Dinding yang penuh akan keramik hitam itu membuat suasana gelap dan putri kecil itu tertawa sembari melihat sang ayah.



James tersenyum sembari menggendong dengan satu tangan nya pada putri kecil nya.


Deg!


Ia tersentak, senyuman nya perlahan pudar dan menatap gadis kecil yang menggeliat itu dengan tatapan yang seakan melihat orang lain.


Dia juga tertawa seperti mu...


Lagi!


Bayangan gadis itu kembali menari di kepala nya, dada nya kembali terasa sakit dan membuat nya terkurung pada tempat yang sama hingga ia sulit untuk bernapas.


Tak ada lagi senyuman di wajah tampan itu, hanya tatapan yang mendambakan seseorang yang telah pergi dari nya.


"Ku rasa dia belum pernah melihat mu tertawa..." gumam nya lirih dengan suara yang tercekat di tenggorokan nya.


Kini bahkan melihat darah daging nya saja mulai terasa sulit untuk nya, putri kecil yang menggemaskan itu membuat nya kembali mengingat potongan memori yang di tinggalkan gadis nya.


"Sorry, I made your mom leave us..."


...


Pekerjaan yang terbengkalai karena James sebelum nya tak sadar dan kini terlihat kehilangan fokus nya.


"Tuan?"


James menoleh, menatap ke arah Nick yang memanggilnya.


Ia tak menjawab dan menatap bawahannya itu saja, "Apa anda akan tetap melakukan nya? Maksud saya JBS? Mereka kembali bangun lagi sekarang..." tanya Nick lirih dengan jawaban yang akan di berikan oleh tuan nya.


"Apa aku harus berhenti?" tanya James lirih.


Raut yang memang biasanya datar kini terlihat semakin kehilangan ekspresi nya.


"Saya harap anda memikirkan nya dengan baik," ucap Nick pada tuan nya.


James tersenyum pahit mendengar nya, dulu ia tak bisa menghentikan ambisi nya walaupun gadis itu meminta nya ribuan kali pun.


Dan kini? Tak ada yang meminta nya berhenti namun alarm dalam dirinya menghentikan nya.


"Nick? Kalau aku dulu bisa lebih jujur tentang perasaan ku, apa mereka akan marah pada ku?" tanya nya lirih.


Langit yang cerah dengan siang yang terasa hangat di kulit membuat pria itu menatap ke arah langit biru dengan di tutupi beberapa awan putih.


Nick diam sejenak, ia tau siapa 'mereka' yang di bicarakan tuan nya, tuan yang sangat tertutup tentang pembicaraan keluarga nya kini tengah bertanya pada nya.


"Jika mereka memang menyayangi tuan, saya rasa yang mereka inginkan adalah kebahagiaan tuan." jawab Nick pada tuan nya.


Ia memang membenci siapapun yang menyakiti tuan nya, namun ia tak bisa membenci gadis itu, selain karna perasaan pribadi nya ia juga tau gadis itu tak pernah menyakiti tuan nya kecuali dalam hal hubungan darah karna ia adalah putri dari penghancur hidup tuan yang sangat ia junjung.


"Dia salah karna dia punya darah yang sama dengan orang yang membunuh keluarga ku, tapi..."


"Dia tidak pernah melakukan apapun..." ucap nya lirih.


Gadis yang tidak tau apapun tentang apa yang di lakukan sang ayah harus ikut menanggung rasa benci yang sama.


"Aku takut kalau mereka akan marah pada ku karna mencintai putri dari orang yang membuat mereka tiada," ucap nya lirih.


Deg!


Sekali lagi Nick terkejut melihat tuan nya yang terlihat begitu kehilangan arah, bahkan sisi lemah yang tak pernah ia lihat sepanjang ia mengikuti tuan nya pun kini terlihat.


"Saya yakin mereka tidak akan marah, mungkin yang mereka inginkan dari tuan bukan balas dendam tapi kebahagiaan tuan?" tanya nya lirih.


"Bahagia? Apa aku bisa mendapatkan nya?"


"Kebahagiaan ku..." ucap nya lirih.


Ia sadar jika ia membunuh jiwa gadis yang ia cintai setiap hari tapi ia tak ingin melihat nya, mengabaikan nya hingga kini menjadi boomerang yang datang pada nya.


Dan butuh waktu yang cukup lama sampai ia benar-benar tau jika kebahagiaan nya kini bukan lagi terletak dari seberapa berhasil nya ia membalas perbuatan semua orang yang menyakiti kelurga nya, namun sudah perlahan pindah saat gadis itu hadir.


Karna aku sudah membunuh nya...

__ADS_1


Kebahagiaan ku...


__ADS_2