(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Kenal?


__ADS_3

2 Hari kemudian


Mansion Dachinko


"Daddy?"


Tangan mungil itu memegang kelingking sang ayah yang berdiri dan jauh lebih tinggi dari nya.


"Kita kapan ketemu Mommy lagi? Bian udah janji mau kasih Mommy coklat..." tanya nya sembari melihat ke arah sang ayah.


James mematikan telpon nya saat mendengar suara putri kecil nya yang memanggil.


Ia berjongkok dan menatap ke arah wajah mungil yang bulat itu.


"Coklat?"


James beranjak mengambil nya dan mengusap kepala putri nya.


"Nanti Daddy yang kasih ke Mommy," ucap nya pada putri kecil nya itu.


Wajah bulat yang menggemaskan itu mengerucut melihat sang ayah.


"Gak mau ah! Nanti malah Daddy makan!" ucap nya berdecak dengan menggemaskan.


James tersenyum dan bukan nya marah, siapa yang bisa merasa kesal dengan anak secantik itu?


"Bian main di sini dulu, jangan nakal sama Daddy. Nanti Daddy yang bakal bawa kamu keluar," ucap nya pada putri cantik nya.


Bianca mengerucutkan bibir nya, pipi nya menggembung dengan bukan seperti ikan buntal dan tampak lesu.


James hanya tersenyum melihat putri kecil nya beranjak pergi bermain ke arah lain. Mudah bagi nya untuk mengurung anak kecil karna ia bahkan bisa membuat alasan tak masuk akal.


Tak ada yang tau akan seperti apa di luar sana, seseorang yang bersembunyi seperti tikus di balik tubuh orang lain yang selalu membuat nya salah sasaran.


......................


Hotel


"Cla?"


Pria itu memainkan ponsel nya di atas tempat tidur, mantel putih masih melekat pada nya dan pakaian yang berserakan di atas lantai.


Sedangkan wanita yang baru saja mandi itu terlihat mengeringkan rambut nya.


"Hm?"


"Mau ku belikan apart saja? Kalau kau tidak mau ke apart ku." ucap nya yang merasa sedikit tak nyaman jika harus melakukan nya di hotel terus menerus.


"Kenapa?" Clara mematikan hair dryer nya melihat ke arah cermin yang memantulkan pria yang memainkan ponsel itu.


"Karna sekarang, kau mau pulang kan?" tanya Louis dengan kesal pada wanita itu.


"Pulang lah, kan udah selesai." jawab Clara sembari beranjak memungut pakaian nya kembali.


"Dasar!" ucap pria itu dengan wajah semangut namun ia juga beranjak mengambil pakaian nya.


"Gak mandi dulu?" tanya Clara mengernyit.


"Kalau aku mandi bau mu nanti hilang," ucap nya yang tak ingin membuat aroma tubuh gadis itu menghilang dari nya dengan cepat.


"Jorok!" ketus Clara pada pria tampan.


"Kau juga mau pulang kan? Tapi kenapa tadi memarahi ku?" tanya nya dengan raut kesal.

__ADS_1


"Aku harus pulang hari ini, Louise sendirian." ucap nya yang mengingat saudari kembar nya yang tak ia izinkan keluar rumah semenjak hari kecelakaan.


"Dia baik-baik saja?" tanya Clara lirih.


Louis mengentikan jemari nya yang mengancing kemeja, ia berbalik dan melihat ke arah wanita itu.


"Ku harap begitu," jawab nya lirih.


Ia masih mencari siapa yang mencelakai adik nya di mulai dari pesaing bisnis nya terlebih dahulu serta orang-orang yang berpotensi memiliki dendam kuat pada.


"Kau juga hati-hati sekarang," ucap nya sembari terus memakai pakaian nya satu persatu.


Clara tak menjawab apapun namun ia hanya melihat ke arah pria yang sekarang tampak gelisah lagi.


......................


Kediaman Rai


Louise masih memegang telpon yang melekat di telinga nya, ia sengaja tak menjawab panggilan video dan hanya menjawab panggilan biasa.


"Kau baik-baik saja kan?"


"Iya, Zayn..." jawab Louise yang selalu mendengar pertanyaan yang sama.


"Satu Minggu lagi aku kembali, di sini sedikit rumit. Banyak yang menggelapkan dana."


"Nanti kalau pulang aku buatin makan malam," ucap nya seakan memberi semangat.


"Jangan, aku aja yang buat. Kalau kau takut nya akan sama seperti yang sebelum nya."


"Kali ini berhasil! Jangan ngejek!" ucap Louise yang seakan kesal mendengar nya.


Terdengar suara tawa di balik telpon tersebut.


"Zayn? Aku tutup duluan yah?" tanya nya Louise dengan senyuman tipis.


Suara yang seperti tengah menggoda nya itu membuat sudut bibir gadis itu naik kembali.


"Yang penting gak kabur waktu ikrar kan?" balas gadis itu dengan mengulas senyum yang menggoda dengan sama.


"Kalau begitu istirahat, tidur terlalu malam juga tidak baik."


"Hm..." jawab Louise lirih dengan senyuman tipis.


......................


California


Pria itu mematikan ponsel nya dan tersenyum, ia tak mengetahui apapun situasi di sana.


Tak ada yang memberi tau nya sama sekali tentu membuat nya merasa baik-baik saja.


Ponsel nya bergetar, notifikasi masuk ke dalam nya yang berisikan pesan.


Hey? Will come to me tonight?


Pesan yang berisikan wanita dengan hanya memakai atasan nya saja yang menunjukkan belahan nya dengan terbuka.


"Eikh!"


Zayn menatap dengan geli, bukan nya bern*fsu ia malah jijik dengan wanita yang menawarkan tubuh dengan suka rela seperti itu.


"Jadi ingin cepat pulang," ucap nya yang memblokir kesekian kali nya nomor iseng tersebut.

__ADS_1


Selama ia berpergian dan melakukan perjalanan bisnis tak sedikit godaan yang yang datang pada nya.


Rayuan di perjamuan, pesan yang mengundang sy*hwat namun hal itu tak berpengaruh karna ia sudah terlanjur memberi hati nya pada seseorang.


......................


3 Hari kemudian.


Pria itu membuang napas kasar dan ingin berbalik segera setelah melihat wanita di depan nya.


"James tunggu!"


Tangan nya tercekal, tatapan yang tajam melihat ke arah tangan yang memegang nya tanpa tau malu itu.


"Bicara dengan ku sebentar saja! Ku mohon..."


Kali ini bukan teriakan yang berusaha membuat nya tak beranjak namun permohonan yang seakan terlihat sungguh-sungguh.


"10 menit," jawab nya yang membuang napas nya dengan berat.


...


Teh yang terlihat jernih berwarna hijau di cangkir keramik berwarna putih itu tampak belum tersentuh.


"Cepat katakan apa yang ingin kau bilang, aku tidak punya waktu." ucap nya yang mendesak wanita itu untuk segera bicara.


"Kenapa kirim Al keluar negeri?" tanya Bella seketika.


"Bukan urusan mu, kau tidak punya hak untuk bertanya." ucap nya dengan nada yang dingin dan mata yang tajam.


Bella hanya mengepal melihat nya, ia mulai terbiasa dengan wajah yang dingin itu padahal dulu selalu berbicara hangat pada nya.


"Dia yang suruh kan?!" tuduh nya akan seseorang.


"Siapa?" tanya James mengernyitkan dahi nya.


"Tentu saja jal- maksud ku gadis yang harusnya sudah mati itu!" ucap nya dengan menggebu.


James diam mendengar nya dan hanya menatap dengan semakin kesal.


"Kau tidak bisa jalani hidup mu dengan baik?" tanya nya dengan alis yang mengkerut.


Mau bagaimana pun juga wanita di depan nya adalah cinta pertama nya sekaligus seseorang yang menemani nya di saat masa sulit nya selama bertahun-tahun.


"James? Jangan menipu diri mu sendiri! Kau masih menyukai ku kan?" tanya nya dengan lirih dan berharap pria itu masih memiliki rasa yang sama dengan nya.


"No, I love her." jawab pria itu singkat namun menusuk.


Bella menggeleng, ia masih tak mempercayai perkataan pria itu.


Sedangkan James mulai melihat ke arah jam tangan nya dan beranjak bangun.


"10 menit mu sudah berakhir," ucap nya yang ingin pergi.


"Tungg-"


Drtt...Drtt...Drtt...


Kedua pasang mata itu langsung menoleh ke arah ponsel yang berbunyi itu.


James mengernyit, nama yang tak asing menelpon mantan kekasih nya itu.


"Alex? Kau mengenal nya?" tanya nya tanpa sadar.

__ADS_1


Bella langsung mengambil ponsel nya dan mematikan nya.


"Si..siapa?" tanya nya gugup sembari menatap pria yang berdiri itu.


__ADS_2