(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Let's play nice game, dear


__ADS_3

Mansion Dachinko.


James menyentuh leher nya berulang kali, suara shower yang masih menyala memenuhi ruangan yang penuh uap tersebut dan aroma mint yang menyegarkan.


"Apa aku sudah terlalu lama tidak melakukan nya?" gumam nya yang terus memikirkan semua permainan panas nya di masa lalu bersama gadis cantik itu.


Pria tampan itu pun kembali membasuh kepala nya hingga ke seluruh tubuh guna menetralkan pikiran kotor nya.


"Aku menginginkan nya lagi," ucap nya sembari mengusap wajah nya yang penuh dengan bilasan shower.


Namun ia tau, jika tak mungkin ia melakukan kembali hal tersebut pada gadis yang sudah ia campakkan.


Apa lagi pada seseorang yang bisa saja menjadi kemungkinan dari kehancuran keluarga nya.


"Tidak! Apa yang ku pikirkan?! Dia hanya mainan dan lagi dia..."


"Aku harus membenci nya, dia harus lebih menderita!" sambung nya kemudian dengan tatapan mata tajam saat terbesit kilas balik tentang kematian keluarga nya.


Semua yang berhubungan dengan kematian orang-orang tersayang nya di masa lalu menjadi target yang ingin ia hancurkan sama seperti kematian di depan mata nya 20 tahun silam.


......................


4 Hari kemudian.


Mall.


Pria itu datang hanya untuk melihat brand yang hari ini di luncurkan di salah satu mall ternama tersebut.


"Semua nya sudah kan? Kau juga sudah memanggil direktur Cero kan?" tanya nya pada Liam.


Ia berencana untuk merusak citra dari JBS grup sehingga obat-obatan yang di buat mendapatkan penurunan kepercayaan sehingga daya beli menjadi kurang.


"Sudah tuan," jawab Nick pada pria itu.


Deg!


Satu lagi langkah nya terhenti saat kembali memiliki pertemuan yang tidak di rencanakan sama sekali oleh nya.


"Kau sudah selesai?" tanya seorang pria yang berjalan menyusul di samping gadis itu.


Senyuman manis yang menjawab pertanyaan tersebut membuat sesuatu di hati satu pria yang melihat di depan nya memanas.


"Ayo," jawab gadis itu dengan senyuman nya sembari melewati pria yang berada di depan nya dengan tatapan tajam.


Tak ada pertemuan yang ia rencanakan, Louise hanya berniat membeli beberapa barang dan pakaian guna menyesuaikan bentuk tubuh nya, walau tak terlihat langsung namun ia mungkin akan membutuhkan nya beberapa Minggu lagi.


James diam tak mengatakan apapun, saling menatap dan melewati dengan mata tak acuh tak acuh.


Duk!


"James!" satu panggilan berserta dengan pelukan yang erat tiba-tiba datang pada pria itu.


Sejenak ia tersentak dan terkejut saat di peluk tiba-tiba, mata nya mengernyit saat melihat wanita yang tiba-tiba menghamburkan pelukan pada nya dengan sangat ringan.


"Kenapa kau tau aku di sini?" tanya pria itu mengernyit sembari melepaskan perlahan pelukan yang melekat pada tubuh nya.


Langkah Louise terhenti sejenak, ia menoleh dan langsung berjalan cepat pergi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Zayn pada gadis itu.


"Hm, memang nya aku ada alasan untuk tidak baik-baik saja?" tanya Louise dengan senyuman getir di wajah nya.


Ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang ada di pikiran pria tampan itu, apakah dirinya benar-benar di anggap hanya mainan?


Seperti mainan yang tidak memiliki perasaan, seperti itulah ia di perlakukan.


...


"James? Kita bisa bicara?" tanya Bella lirih sembari menggenggam tangan pria itu.


"Baik di mulai dari mana kau tau aku di sini?" tanya James mengulang lagi pertanyaan yang sama saat wanita itu memeluk nya.


"Tidak sengaja bertemu!" jawab Bella membuang wajah nya seketika.


James membuang napas nya, ia tau wanita di depan nya tak akan menjawab nya.


"Kapan kau ke apart?" tanya Bella membuka suara setelahnya.


"Untuk apa aku kesana?" tanya James mengernyit.


"Kau tidak mau bertemu Al? Dia sakit!" ucap Bella sembari menatap pria itu.


"Lalu? Kau harus nya bisa mengurus nya kan? Kau kan ibu nya," ucap James yang terlihat tak begitu memperdulikan.


Ia bahkan sudah menghentikan kiriman uang yang dulu sempat ia alirkan saat mengira jika bocah menggemaskan itu putra biologis nya.


"Dia anak mu!" ucap Bella dengan penuh penekanan.


James tertawa kecil mendengar nya, kebohongan yang terdengar yakin seperti sebuah kebenaran.


"Berhenti berbohong, aku sudah tau kalau dia bukan putra ku, ada dua jenis hasil yang berbeda menurut mu mana yang benar? Hm?" tanya pria itu dengan tawa nya.


Bella tersentak, iris nya membesar begitu mendengar pertanyaan pria tersebut.


"Kau pikir aku tidak tau? Mau sampai kapan kau menyembunyikan nya?" James kembali mengulang pertanyaan yang sama.


Bella menggeleng mendengar nya, ia meraih tangan pria itu dan menggenggam nya dengan erat, "Bukan James! Tes nya pasti bohong! Dia yang pasti nukar hasil nya!"

__ADS_1


"Dia siapa? Siapa lagi yang kau maksud?" tanya James tersenyum miring.


"Jal*ng itu!" jawab Bella dengan tatapan amarah nya.


"Dia tidak ada hubungan nya dengan masalah kita! Masalah aku dengan mu, tidak ada hubungan nya dengan dia!" ucap James sembari menekan di setiap kata nya.


"Tidak! Dia pasti yang mempengaruhi mu kan? Dia yang menukar has-"


"Bella!" bentak pria itu yang langsung membuat wanita di depan nya terdiam.


"Mau sampai kapan kau seperti ini?! Kau mau bicara kan tadi? Baik! Sekarang aku tanya apa yang sebenarnya terjadi 5 tahun yang lalu?" tanya James yang sudah muak mendengar alasan yang di bangun mantan kekasih nya itu.


"Aku sudah bilang kan? Aku sudah jelaskan!" ucap Bella yang masih kukuh dengan cerita yang tak pernah terjadi yang ia katakan.


"Kau yang mau sampai kapan seperti ini?! Harusnya kau mengerti! Kau harus nya bisa paham aku! Kenapa sekarang kau jadi begini?!" sambung wanita itu yang berbalik membentak pria di depan nya


James diam sejenak dan kemudian tertawa mendengar nya, tawa yang seakan-akan mendengar sebuah lelucon yang lucu.


"Aku harus mengerti?" tanya nya yang masih tertawa, "Coba katakan kapan aku yang tidak pernah mengerti diri mu?"


"Selama 8 tahun aku yang selalu coba mengerti! Kau tidak pernah jelaskan apapun dan aku yang selalu berusaha mengerti kan?" sambung pria itu sembari menatap tajam ke arah wanita di depan nya.


Bella menggeleng, mata nya berkaca dan mulai berair, "James, kau tidak tau apa yang ku rasakan..."


"Kalau begitu coba bilang, karna aku tidak tau harusnya kau beri tau!" ucap pria itu mengernyit dengan senyuman pahit.


"Selama 8 tahun kau 3 kali ikut kencan buta dengan pria lain, aku minta putus dari mu waktu itu? Tidak kan? Aku tanya apa perhatian ku masih kurang dan kau cuma bilang hanya ingin ikut karna penasaran, kau minta aku mengerti kan dulu?" tanya pria itu lagi.


"Bukan nya itu sudah berlalu?! Kenapa di ungkit lagi! Kenapa kau tidak bisa mengerti sih?!" tanya wanita itu sembari menahan tangis nya.


Ia memang mengikuti kencan buta saat kuliah karna penasaran dan hanya ikut dengan teman-teman nya saja namun ia tak pernah sekalipun berbuat lebih jauh dari itu.


James mengernyit, ia bahkan bingung apa yang harus ia mengerti lagi.


"Kalau begitu bilang kapan aku yang tidak bisa mengerti diri mu?! Kau tidak sadar?! Selama hubungan kita masih berjalan kau yang selalu jadi prioritas utama nya!" pria itu membuang wajah nya menyibak rambut nya dengan kesal.


Bella terdiam, ia sadar jika ia tak akan bisa menemukan pria yang sesabar itu menghadapi sikap kekanakan dan egois nya seperti dulu.


"Makanya aku..." ucap nya lirih.


"Kau itu melihat ku sebagai apa? Hm? Pria yang tidak punya apapun? Seperti waktu kita pertama kali kenal? Makanya kau tidak pernah jelaskan apapun? Kau pikir aku tidak tau apa yang lakukan di belakang ku dulu?" tanya pria itu sembari menatap mata di depan nya.


Kencan dengan pria lain saat masih berhubungan dengan nya, mengambil data yang ingin ia jadikan sebagai bahan pertukaran, menghapus sistem nya, bahkan saat kakak wanita itu dulu berhubungan dengan tuduhan palsu yang di berikan pada nya saat masa sekolah nya.


Ia tau semua nya, namun saat ia bertanya situasi nya akan sama seperti sekarang, bukan penjelasan dan alasan melakukan nya melainkan permintaan untuk di mengerti dengan sikap yang di lakukan.


"Bukan! Bukan begitu James, kau tau kan? Aku mencintai mu, kita saling mencintai kan?" ucap nya yang kembali ingin menggenggam tangan pria itu walaupun sudah di tepis berulang kali.


"Benar, tapi itu dulu dan tentang hubungan kita aku tidak punya penyesalan apapun pada mu, aku sudah lakukan yang terbaik dan kau yang menghancurkan nya sendiri." ucap pria itu yang kembali menepis tangan Bella yang berusaha menggenggam tangan nya.


"Don't you know? I can't treat other girls like we used to cause I'm afraid that all girls will be like you," (Kau tau? Aku tidak bisa memperlakukan gadis lain nya sama seperti waktu kita berhubungan dulu karna aku takut semua gadis akan sama seperti diri mu)


Hati pria itu tidak tergerak sama sekali melihat air mata wanita yang dulu sangat ia jaga.


Sikap posesif dan mengekang serta pencemburu yang dulu ia lakukan pada gadis cantik itu adalah perubahan yang di buat oleh mantan kekasih pertama nya.


Ia tak lagi mencoba mengerti, ia tak lagi ingin mengalah dan pada akhirnya berujung dengan luka pengkhianatan yang ia terima.


"Seharusnya waktu kau memilih tidak mengatakan apapun dan berbohong pada ku, bukan lebih tepat nya waktu kau memilih mengkhianati ku kau tau akan jadi seperti ini," ucap James saat melihat tangis wanita di depan yang semakin meleleh.


"Aku sudah coba mengerti diri mu kan? Lalu kali ini kau yang coba mengerti aku, aku juga punya batas untuk menghadapi mu dan kita sudah berakhir," sambung nya lagi.


"Tidak James, Belum..." ucap Bella lirih dengan tangis nya.


"Jangan terus menyentuh batas ku dan jalani hidup mu sendiri," ucap pria itu yang kemudian langsung berbalik pergi meninggalkan wanita tersebut.


......................


Apart Sky Blue.


Gadis itu kembali memuntahkan isi perut nya, ia mengusap bibir nya dengan air yang mengalir di wastafel di depan nya.


"Ini air hangat," ucap Zayn pada gadis itu sembari memberikan segelas minuman.


Louise mengambil nya dan meneguk nya beberapa kali.


"Masih sakit perut nya?" tanya pria itu sembari mengikuti langkah gadis itu yang duduk ke sofa.


"Sedikit," jawab Louise lirih.


"Mau tidur di kamar?" tanya pria itu lirih.


Louise menggeleng pelan dan menatap pria yang perlahan duduk di samping nya, "Zayn..." panggil nya lirih dengan suara parau.


"Loh?! Kenapa? Kok nangis?" tanya pria itu terkejut sembari mengusap satu tetes buliran bening yang jatuh di mata gadis itu.


Louise menggeleng, ia juga tidak tau kenapa mood nya kembali berubah saat melihat pria itu berpelukan di mall tadi.


"Perut nya sakit sekali? Mau kita priksa saja?" tanya pria itu dengan raut khawatir menatap gadis di depan nya.


"Tidak, aku tidak tau..."


"Tapi aku tidak bisa berhenti menangis, aku..." sambung nya lirih, entah kenapa tiba-tiba perasaan nya berubah sangat sedih, mungkin hormon kehamilan nya atau apapun itu.


"Sstt..."


"Sudah, tidak apa-apa..." Zayn ikut bingung namun ia hanya menarik pelan gadis itu ke pelukan nya dan menepuk punggung itu dengan lembut.

__ADS_1


......................


3 Hari kemudian.


Club'


Suara musik yang keras dengan minuman alkohol yang terasa pahit dan manis yang menjadi satu berada dalam gelas pria itu.


"Tumben kau mau ke sini?" tanya Zayn sembari duduk di samping sahabat nya.


"Sudah lama saja kita tidak ke sini? Ku rasa waktu aku mulai jadi Presdir kan?" tanya Louis tertawa.


"Padahal kau juga suka ke sini tapi Louise dilarang," ucap Zayn tersenyum sembari memesan minuman yang sama pada bartender.


"Kau tau kan? Dia sedikit berbeda," ucap Louis yang mengingat adik kesayangan nya.


Zayn mengangguk pelan mendengar nya, ia tau gadis yang ia sukai itu memang berbeda dari gadis lain nya, "Tadi kau bilang mau mengatakan sesuatu?"


Louis diam sejenak, ia pun berhenti memainkan alkohol di tangan nya, "Kau masih suka Louise?"


"Maksud mu?" tanya Zayn mengernyit.


"Karna kita sama-sama pria aku tau mana yang suka dan mana yang tidak jadi aku juga tau perasaan mu dengan adik ku," jawab pria itu lirih.


"Hm, aku menyukai nya." Zayn tak bisa pungkiri hal itu lagi, ia pun mengaku dengan perasaan nya.


"Kau mau menikah dengan nya?" tanya Louis lagi.


"Ha? Apa?" tanya Zayn terkejut mendengar nya.


"Aku bisa mengatur nya atau meyakinkan nya tapi dia saat ini sedang..." ucap Louis yang sedikit bingung bagaimana mengatakan tentang kehamilan adik nya.


"Hamil?" tanya Zayn menyambung kalimat.


"Kau sudah tau?" Louis mengernyit mendengar nya dan sahabat nya pun memberikan anggukan kecil.


"Dia sudah bilang," jawab Zayn sembari meminum alkohol nya.


"Aku egois kan? Aku cuma pikir kebahagian nya saja, jadi aku meminta mu untuk menikahi nya." ucap Louis lirih yang tersenyum pahit.


Ia tau meminta orang lain untuk menikahi adik nya yang tak memiliki perasaan apapun sekaligus meminta pria itu untuk bertanggung jawab atas kandungan yang tak memiliki hubungan apapun adalah hal yang egois, namun ia ingin hidup adik nya di penuhi dengan cinta dan kasih sayang.


"Tidak, lagi pula aku kan juga suka dia jadi ku rasa kau tidak perlu merasa bersalah, tapi bagaimana dengan dia? Standar kebahagian nya mungkin beda dari pikiran mu," ucap Zayn yang tau jika mungkin gadis itu tak akan bahagia saat bersama nya.


"Dari pada hidup dengan pria yang yang tidak mencintai nya lebih baik hidup dengan pria yang mencintai nya kan?" tanya Louis lagi.


"Kalau kau mau aku akan membujuk nya tapi kalau kau tidak mau aku tidak akan memaksa," sambung Louis lagi, karna saat ini yang harus menerima kekurangan adalah sahabat nya.


Ia tau adiknya memiliki nilai yang tinggi hanya saja anak yang berada dalam kandungan adik nya lah yang menjadi kekurangan gadis itu, pria lain pasti ingin menjadi suami dari gadis cantik itu tapi belum tentu ingin menjadi ayah dari anak yang di kandung gadis itu.


"Baik, ayo kita coba." ucap Zayn pada sahabat nya.


......................


Cafetaria.


Cafe yang berada di dekat JBS farmasi yang biasa di kunjungi gadis itu sudah menjadi bahan perhatian dari seseorang yang mengincar nya.


Kepala nya terasa berputar, pandangan nya mengabur dan ia mulai seakan ingin goyah dan jatuh ke lantai.


"Kenapa semua nya berputar?" gumam Louise sebelum semua pandangan nya menjadi gelap.


Bruk!


Beberapa teriakan kecil dari pengunjung lain terdengar dan tak lama kemudian seorang pelayan cafe memanggil ambulans segera.


Ia tak tau apapun dan hanya di perintahkan oleh orang yang membayar nya untuk memberikan obat tidur dalam milkshake pesanan pelanggan nya itu lalu memanggil nomor ambulans yang di berikan.


Saat mobil tersebut pergi, semua nya mulai tenang seakan kembali tak terjadi apapun.


...


Pria itu mengambil gadis yang berada di dalam ambulans dan memindahkan ke mobil nya, seutas seringai di wajah nya terlihat.


Ia melihat wajah yang tak sadar dan tertidur di samping nya, tangan nya mengusap pipi lembut yang sedang terpejam saat ini.


"Let's play nice game, dear." bisik nya lirih dengan smirk nya yang menyimpan rencana kotor untuk gadis itu.


...****************...


Jangan lupa dukungan nya yah😘😘


LikeπŸ‘πŸ‘πŸ‘


Komen πŸ’¬πŸ’¬πŸ’¬


Rate 5⭐⭐⭐⭐⭐


Vote πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸ₯³πŸ₯³


Favorit β™₯️β™₯️β™₯️


Hadiah πŸŽπŸ’πŸ’


Biar othor makin semangat hihi😊😊😊


Happy ReadingπŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2