(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Anggota baru


__ADS_3

Kediaman Rai.


Pria itu membuang napas nya lirih, ia menatap ke arah sang istri yang kembali marah pada nya.


"Cla? Jangan seperti ini terus, lagi pula kita juga sudah jalan satu tahun lebih kan? Kau ini kenapa sih?" ucap nya tak tau bagaimana lagi menghadapi kemarahan istri nya yang sering tanpa alasan dan mood yang sering buruk.


"Iya! Karna kita masih satu tahun maka nya kau belum bosan dengan ku!" ucap nya yang menyala dan terlihat tatapan nya yang khawatir dan gelisah di balik nya.


"Astaga! Kau ini kenapa sih? Apa lagi yang kau dengar di luar?" tanya Louis yang kehabisan kata-kata karna istri nya selalu penuh dengan kekhawatiran.


"Banyak yang menyukai mu dan mereka wanita yang normal kan?" cicit nya lirih dengan wajah yang tampak kesal namun menangis di depan suami nya.


"Lalu? Kau bukan wanita normal? Kau saja bahkan bukan transgender kan? Terus tidak normal dari mana?" tanya nya yang mencoba mendekati sang istri lagi.


Tak!


Tepisan kuat di tangan itu membuat pria itu memundur dan menatap ke arah wanita nya.


"Tapi aku tidak bisa punya, aku tidak bisa hamil!" ucap nya yang kesal dan berteriak pada suami nya.


Kali ini ia mendengar satu lagi cerita yang selalu membuat nya takut, ia mendengar jika suami teman nya selingkuh karna teman nya tak bisa mengandung.


"Aku tidak butuh anak! Aku butuh nya itu cuma kau!" Louis meninggikan suara nya, tanpa sadar ia mengatakan kata-kata yang setengah kebenaran dan setengah kebohongan.


Memiliki keturunan tentu ia menginginkan nya, namun ia juga sangat menginginkan dan menyayangi sang istri.


"Bohong..."


"Se.. semua pria pasti bilang begitu di awal..." tangis nya lirih yang kali ini mulai sering gelisah seiring dengan besar nya rasa cinta yang ia kembangkan untuk suami nya.


Louis mendekat lagi, ia menatap ke arah wanita itu dengan perlahan memeluk nya erat.


Tepukan lembut di punggung nya, membuat tangis wanita itu mereda.


"Kalau kau mau berpikir aku bohong tidak masalah tapi kau akan tau kalau aku tidak membohongi mu dan aku harap kau akan percaya penuh pada ku nanti..." ucap nya dengan suara berbisik ketika ia memeluk dan menepuk punggung istri nya sejenak.


Clara diam tak melakukan pemberontakan seperti amarah yang menggebu ataupun rasa kesal yang ia lupakan dengan suara tinggi dan mengamuk. Hanya tangisan lirih yang terdengar dari nya.


......................


Taman bermain.


Sementara itu.


Baling-baling putar yang tinggi itu tampak berada di puncak dan menampilkan semua kelip malam dari cahaya lampu yang tampak bersaut satu sama lain membuat nya bagaikan kunang-kunang yang bertebaran.


Salah satu ruangan dari tempat baling-baling yang tidak begitu luas namun juga bukan tempat yang kecil terasa panas untuk kedua orang yang berada di dalam nya.


Ungh!


Wanita itu tersentak, ia berusaha menahan suara nya yang halus dan *rotis itu saat kemeja nya sudah tersingkap, stocking nya sudah robek dan rok nya sudah terangkat.


"Tahan suara mu, mereka mungkin akan tau?" ucap pria itu berbisik yang terus menganggu dan menggelitik di bagian bawah sang istri.


"I.. ini curang nama- Uhh!" ucap nya terputus sejenak ketika pria itu mengecup telinga nya.


"Curang apa? Oh iya, harus nya aku meminta mu tidak banyak bergerak karna kalau pun bersuara tidak akan terdengar kan?" tanya pria itu yang tersenyum tipis ketika melepaskan kecupan nya.


Ia mendekat dan kembali menghisap ujung Piramida yang menyembul keluar dari penutup yang bewarna cream itu.


Tubuh wanita itu melekat pada nya, ia terus menganggu dengan jemari nya yang memiliki bunyi yang bagi nya indah ketika melesat masuk untuk menganggu sang istri.


"Uhm!"


Wanita itu tak tahan lagi, ia tak lagi mendorong suami nya dan kali ini malah memeluk nya dengan erat.


Suara napas nya terdengar lirih, mata nya menatap sayup ke arah sang suami ketika ia sudah mendapat sesuatu.


"Malam ini kau tidur luar," ucap nya lirih yang melihat ke arah suami nya yang tersenyum tipis.


"Maksud mu keluar di luar kan? Iya, nanti kita sambung di mansion." ucap nya yang mengecup pipi wanita itu sembari membereskan kekacauan yang sudah ia buat.


Helaian napas yang kesal terdengar namun ia hanya mendengus tidak dalam artian kata yang sesungguh nya.


"Kau ini punya kelainan menyimpang ya? Bisa-bisa nya kau mau melakukan itu di mana saja?" tanya nya yang kesal pada sang suami.


Pria itu tak menjawab namun ia hanya tertawa renyah, "Entahlah, mungkin karna aku terlalu menyukai mu." ucap nya yang menjawab dengan ringan dan kembali melihat ke arah luar dan jalanan kota yang tampak berada di bawah ketika posisi mereka masih di puncak namun sudah beranjak turun.


"Louise?" panggil nya lirih yang memeluk tubuh wanita itu ketika ia duduk bersebelahan di sisi bangku yang sama.


"Ya?" jawab nya singkat.


"Love you..." bisik pria itu yang sekarang ingin terus mengatakan kalimat yang dulu begitu sulit ia ucapkan.


"Love you too," jawab Louise tersenyum kecil.


"Apa kita harus ambil satu putaran lagi?" tanya James saat mendengar jawaban wanita nya.


"Lalu Bian akan marah karna cuma di temani pengasuh nya dan nangis malam dia akan mengamuk lalu kau tidak bisa melakukan apapun," ucap Louise yang menyadari siklus sikap putri nya.

__ADS_1


"Itu kan karna dia tidak mau ikut ke sini," jawab James singkat dengan tangan yang berusaha masuk ke dalam kemeja wanita itu dan memegang perut rata yang terasa hangat itu.


"Kalau dia ikut kau juga pasti tidak akan berani melakukan hal seperti tadi," ucap Louise yang membalas nya.


Pria itu tak menjawab apapun lagi, ia mengecup lengkung leher wanita itu dan mengesap nya sesaat namun tak meninggalkan bekas nya sama sekali.


......................


3 Hari kemudian


Kediaman Rai


Mata hijau itu menelisik ke arah rumah yang dulu ia tempati dari kecil hingga dewasa sebelum akhirnya ia pindah rumah.


"Bianca di mana?" tanya nya pada sang kakak yang memang tujuan nya datang adalah untuk menjemput putri nya yang dalam beberapa hari sekali di ambil untuk tinggal di tempat sang kakak.


"Masih pergi sama Clara," jawab Louis singkat yang merebahkan tubuh nya sekilas di atas sofa yang empuk itu.


Louise mengernyit, wajah saudara nya terlihat lelah.


"Dia datang juga?" tanya Louis pada adik nya yang beranjak duduk di sisi sofa yang berseberangan dari nya.


"James? Dia bilang ada sesuatu yang harus dia lakukan," jawab Louise yang mengingat jika suami nya pergi untuk beberapa waktu yang lalu.


"Oh," pria itu menjawab dengan datar dan lirih.


"Tapi, kau ini kenapa? Udah nikah malah lesu terus!" ucap nya pada sang kakak.


Louis membuka mata nya, ia melirik ke arah adik nya yang bertanya.


"Menurut mu bagaimana cara nya membuat wanita yakin dan tidak terus curiga dengan hal yang belum terjadi?" ucap nya yang mulai bertanya mengenai masalah yang bagi nya sulit itu.


"Kau sedang ada masalah dengan Clara?" tanya Louise yang mengernyit melihat ke arah sang kakak.


"Sedikit," jawab nya lirih.


"Apa lagi yang kau lakukan? Kau mau dia minta cerai lagi?" tanya Louise pada sang kakak yang langsung menyalahkan pria itu karna ia tau sejak awal sang kakak lah yang bermasalah.


"Aku? Aku tidak lakukan apapun, tapi dia selalu marah!" ucap nya pada adik nya yang tampak tak mempercayai nya sama sekali.


"Kalau begitu beri dia hadiah atau sesuatu? Walaupun dia bisa beli sendiri tapi lebih menyenangkan jika di berikan." ucap Louise pada sang kakak


"Hadiah apa? Yang dia mau itu yang aku ga bisa kasih," ucap nya pada saudari nya yang melihat ke arah nya.


"Memang nya dia mau apa?" tanya Louise mengernyit.


"Anak? Tapi kan kalian tidak ada masalah dalam sel kan? Lakukan nya rahim sewa." ucap Louise yang menarik napas nya.


"Kau pikir dia akan mau? Dia pasti akan bilang kalau itu anak ku dengan wanita lain," Ucap nya menarik napas nya karna kini sang istri begitu tak percaya pada nya.


"Katakan saja memakai rahim pengganti dengan inseminasi buatan itu beda," ucap nya yang memang prosedur yang di kerjakan pun berbeda.


"Tapi dia tetap tidak akan suka kalau ada wanita yang lain," ucap Louis lirih sembari membuang pandangan nya.


"Lalu anak nya mau tumbuh di mana? Lagi pula juga kan itu penyuntikan embrio bukan..." ucap nya yang memgangtung karna banyak yang masih salah paham dengan istilah tersebut jika di pandangan orang awam.


Louis membuang napas nya lirih, ia melihat ke arah adik nya yang memberi kan saran namun belum tentu sang istri mau menerima saran yang di ucapkan oleh adik nya.


"Bagaimana kalau kau carikan aku wanita yang masih virgin lalu punya usia yang tepat untuk punya anak, kalau bisa yang sekitar 22 sampai 26 tahun." sambung nya yang lagi yang mencari kriteria yang mungkin bagi nya akan mengurangi rasa ketidakpercayaan sang istri.


"Wanita yang masih virgin umur 22 - 26 tahun? Sekarang? Kau yakin masih ada yang begitu?" tanya nya yang mengernyit menatap sang kakak.


"Mungkin ada, dulu aja Clara- Bukan kau sendiri kapan? Kau tidak melakukan sesuatu seperti itu di bawah umur kan?" tanya yang sebelum nya ingin menjawab namun saat teringat dengan adik nya langsung mengajukan pertanyaan lain.


"Kau tau kalau kau tanya sesuatu yang tidak sopan kan?" jawab Louise dengan pertanyaan lain nya sembari membuang napas nya lirih.


"Tapi untuk apa tanya itu? Kau tidak berpikir untuk-"


"Apa? Aku lagi mikir tentang saran yang tadi kau berikan," potong pria itu segera.


"Astaga! Aku bilang rahim pengganti bukan inseminasi buatan Louis! Kau tau syarat yang yang lebih baik untuk ibu yang di gunakan untuk rahim pengganti? Yang pertama harus sudah mencapai usia di atas 20 dan setidaknya sudah pernah melahirkan satu kali anak yang sehat! Ingat ini rahim pengganti bukan inseminasi!" ucap Louise yang panjang lebar.


Louis memiringkan kepala nya, ada beberapa istilah medis yang tidak ia ketahui dan menyamakan arti nya.


"Kalau yang kau cari itu lebih cocok untuk inseminasi buatan, jadi cairan mu langsung di masukkan ke rahim dan kalau kau pakai rahim pengganti berarti sel kau dan Clara sudah di satukan di luar rahim sampai terbentuk embrio dan setelah itu baru masuk ke rahim wanita yang lain! Maka nya itu tetap anak mu sama Clara tapi beda tempat lahir nya aja!" ucap Louise yang kesal.


Louis mengangguk menandakan ia sudah sedikit mengerti perbedaan nya, "Kalau begitu kau saja, kau kan sudah cocok dengan syarat nya-"


Ctak!


"Anak gila ini!" ucap nya ketika kepala nya tiba-tiba di kemplang dengan suara yang renyah.


"Malas! Hamil anak sendiri aja udah malas malah di suruh hamil anak kalian!" ucap Louise yang langsung tau kalimat utuh sang kakak walau belum sempat selesai bicara.


"Kalau kau kan dia tidak akan cemburu," ucap nya yang ingin meminimalisir rasa cemburu sang istri karna tak mungkin ia punya hubungan yang kotor dengan saudari nya sendiri.


"Kau cari wanita yang lain aja tapi bawa dia selama proses di lab jadi dia tidak akan curiga atau cemburu," Ucap Louise yang tentu menolak karna untuk hamil anak suami nya saja ia masih tak mau apa lagi membawa beban yang lain.


Louis diam sejenak namun kemudian berpikir sesuatu yang lain.

__ADS_1


"Bagaimana kalau nanti kau hamil lagi anak nya aku adopsi, bukan sekarang tapi nanti kalau misal nya itu terjadi." ucap nya yang sangat yakin jika adik nya pasti akan mengandung lagi.


"Seperti nya otak mu sudah kehilangan setengah isi nya? Kau terus berbicara hal yang aneh," ucap Louise yang menggelengkan kepala nya.


"Astaga! Ku rasa kau benar! Aku sangat frustasi!" ucap Louis yang baru sadar.


"Sabar..."


"Semnagat kakak!" ucap Louise yang tersenyum kecil dengan memberikan kata semnagat untuk seseorang yang terlihat tengah frustasi menghadapi sang istri.


Louis tak menjawab lagi kali ini, ia hanya membuang napas nya lirih.


...


"Aku ga setuju! Bisa jadi nanti di tukar kan sel nya sama wanita lain!" ucap wanita yang kembali memulai pertengkaran.


"Ya ampun Cla! Kalau aku memang mau begitu kenapa ga selingkuh aja sekalian?" tanya nya yang kehabisan kata-kata dengan pikiran sang istri.


Jika dulu ia super cemburu sekarang wanita nya sudah mengimbangi sifat nya itu.


"Kan itu! Kau sudah ada niat selingkuh kan?" tanya nya yang lirih dan mencicit.


Louis membuang napas nya, "Kalau begitu kasih tau saja siapa yang buat kau terus seperti ini?"


Wanita itu tak menjawab, namun setiap kali ia pria itu membawa nya ke pesta atau pertemuan lain nya, wanita lain sering membicarakan nya.


Karna kini ia sudah aktif dan benar-benar menjalani peran nya sebagai istri maka tentu ia menemui banyak orang.


Desas-desus tentang gosip yang dulu pernah menjadi buah bibir di sebutkan lagi walau citra yang buruk itu pun di buat oleh pria yang menjadi suami nya sendiri.


Tak kunjung mendapat kan anak sedangkan pria yang ia nikahi merupakan seorang pebisnis besar.


"Aku..." ucap nya lirih yang hanya berusaha merapatkan bibir nya dan tak menangis lagi.


Louis membuang napas nya, ia beranjak memeluk istri nya itu saat kondisi nya mulai membaik dan kali ini ia mulai berpikir untuk membuat sang istri menjalani konsultasi.


......................


Dua bulan kemudian.


Mansion Dachinko


Hoek!


Perut yang selalu merasa bergejolak sejak pagi, dan terkadang mood yang terus menerus berubah.


"Kau mau kita priksa kan saja? Seperti nya kondisi mu tidak baik," ucap James sembari memegangi rambut istri nya agar tak kotor.


Louise membasuh bibir nya saat sudah memuntahkan semua isi di perut nya yang begitu mual.


Ia menoleh menatap ke arah pria yang memegangi rambut nya dan kemudian tampak kesal.


"Pegangin nya harus nya yang bener, ngomel mulu sih!" ucap nya yang kesal pada pria yang membantu nya dan kemudian keluar dari kamar mandi nya.


James hanya menarik napas nya, sejak beberapa waktu lalu wanita nya sangat mudah merubah mood nya, terkadang terus marah dan terkadang begitu manja.


...


Pukul 10.45 pm


"Louise? Kau tetap mau begitu?" tanya nya yang menarik napas nya sembari membenarkan posisi wanita nya yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan nya walau ia sedang bekerja.


"Kenapa tidak? Lagi pula Bianca juga udah tidur, kau tidak suka aku lagi?" tanya nya dengan cemberut namun mengecup pipi pria itu berulang kali.


Sekali lagi James hanya menarik napas nya, ia merengkuh tubuh sang istri dan memeluk nya.


"Suka, aku terus akan menyukai mu..." ucap nya yang kali ini memilih menyerah dan menghentikan pekerjaan nya saat sang istri terus menerus menganggu nya.


Padahal sejak pagi sampai siang wanita itu terus kesal pada nya akan semua hal yang sepele namun sekarang rasa kesal nya hilang bagai di telan bumi dan kini tinggal rasa manja yang tertinggal.


Louise tersenyum, ia memangut bibir pria itu dan memeluk nya.


"Kau mau malam ini? Apa ini undangan?" bisik pria itu yang tentu langsung memikirkan hal lain.


Louise menggelengkan kepala nya, "Aku mau di peluk terus tepuk-tepuk punggung ku begitu sampai tidur..." ucap nya yang manja pada pria itu.


James hanya tersenyum mendengar nya, "Kau seperti sedang hamil saja? Dulu waktu hamil anak kita yang pertama kau juga seperti ini."


Ucap nya yang ingat tentang kehamilan pertama wanita nya dan tentu dulu ia juga tidak tau kalau wanita nya hamil namun ketika ia tau ia baru menyadari sikap nya sudah berubah sebelum hubungan nya berakhir.


"Ck! James?" panggil nya yang kesal dan tampak cemberut.


"Iya?" jawab pria itu terkekeh, "Lagi pula kau juga seperti punya gejala nya, mood yang berubah terus, mual di pagi hari, sering merasa tidak nyaman kan mirip dengan orang yang sedang hamil kan? Dan juga kau kan juga belum datang bul-"


"Tunggu! Kapan kau harus nya datang bulan?" tanya nya yang baru sadar karna sebelum nya ia sering kesal akibat siklus wanita nya karna membuat nya tak bisa melakukan apapun.


"Eh? Ku rasa..." gumam nya yang ingat jika memang harus nya ia sudah datang bulan sejak beberapa Minggu yang lalu.


"Tiga Minggu yang lalu?" tanya nya yang mencoba menghitung namun ia juga sedikit lupa.

__ADS_1


__ADS_2