
Mata anak lelaki itu bum terpejam sama sekali, ia tak bisa tidur walaupun sang ayah sudah menyuruhnya untuk beristirahat.
Arnold mengintip mobil sang ayah yang sudah pergi dengan beberapa mobil lainnya yang mengikuti.
Hati nya risau melihat hal itu, ia menyatukan kedua tangan nya. Memejamkan matanya dan mulai memanjatkan doa yang begitu bersungguh-sungguh.
"Jangan bawa Bian pulang lagi..."
"Al mau kalau Al satu-satu nya anak Daddy..."
Anak lelaki itu bergumam dalam doa yang terlihat begitu sungguh-sungguh, di bandingkan khawatir dengan adik kecil nya yang ia tinggal sendirian. Ia lebih khawatir dengan keadaan nya yang selanjut nya.
Bagi nya adik kecil nya itu selalu memiliki keberuntungan karna mendapatkan kasih sayang yang sangat ia idam-idamkan maka dari itu ia berpikir kali ini pun adik nya akan beruntung.
Al pun kembali ke kamar nya, naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh nya sembari terus memanjatkan harapan nya dengan sungguh-sungguh.
......................
Meja kayu yang di lapisi dengan plastik terpal menjadi alas untuk anak perempuan yang tampak setengah sadar itu.
Tak lagi bergerak atau menangis, luka robek, lecet dan memar menjadi corak warna di kulit putih gadis itu.
Pakaian yang terlihat kotor dengan banyak memberikan warna merah itu pun mulai di buka.
"Ambil ginjal nya dulu?" tanya salah satu pria yang mengenakan alat seadanya.
Bagi ke tiga pria itu yang penting organ yang diambil masih bagus dan tanpa cacat. Tak memikirkan sama sekali apakah korban di operasi dalam keadaan sadar atau masih hidup.
Satu anggukan menjadi jawaban atas pertanyaan yang kejam itu, ujung mata pisau yang tajam mulai bergerak masuk untuk membelah kulit yang halus dan lembut dari anak kecil berumur tiga tahun itu.
DOR!!!
Suara tembakan yang terdengar keras membuat ketiga pria itu tersentak dan terkejut.
BRAK!!!
Belum selesai rasa terkejut karena suara tembakan, pintu dari bangunan yang tak lagi terpakai itu di dobrak dengan keras.
"Siapa kalian?!" tanya salah satu nya dengan menatap ke was-was dan mulai berpencar mencari senjata untuk melindungi dari masing-masing.
DOR!
__ADS_1
DOR!
DOR!
Masing-masing satu tembakan melayang ke kaki para pria itu hingga membuat nya tersungkur dan terjatuh seketika.
"Urus mereka, aku akan lihat nanti."
Ucap nya memberi perintah yang ingin ketiga pria itu masih hidup untuk ia siksa sendirian.
Begitu ia memasuki tempat yang terlihat kotor itu ia terkejut, melihat satu mayat pria dewasa yang terkapar dan kaki putri kecil nya yang terlihat dari jauh walaupun di kelilingi oleh para pria yang siap mengambil organ nya.
Jantung yang berdebar keras seperti akan berhenti. Ia takut dan tak ingin merasa kehilangan lagi.
Suara tawa, senyuman, tangisan, rengekan manja dan kelakukan nakal yang berhasil membuat nya dapat bertahan selama tiga tahun terakhir ketika ia kehilangan seseorang yang sangat berharga untuk nya.
Bayangan wajah putri kecil nya terus datang ketika ia menuju tempat tersebut dengan haru gelisah.
Langkah nya berjalan mendekat, hati nya terasa hancur melihat tubuh putri kecil nya yang penuh luka.
Bahkan pakaian yang sudah di buka agar bisa melanjutkan operasi yang di inginkan. Ia membuka kemeja berwarna biru yang ia gunakan.
Tak ada jas atau jaket karna ia ia langsung keluar dengan kemeja yang ia pakai ketika berkencan dengan gadis nya.
"Daddy di sini, kita sekarang pulang yah..." ucap nya dengan suara lirih sembari mencium putri kecil nya yang ia gendong dengan hati-hati itu.
Perasaan yang begitu campur aduk tak bisa di jelaskan melihat putri kesayangan nya terluka, anak semata wayang yang menjadi alasan ia dapat bertahan hingga sejauh ini.
......................
Mansion Dachinko
Pria itu diam melihat tubuh putri yang di bolak-balik untuk pemeriksaan sekaligus mengobati luka nya.
Ia merasa gugup dan khawatir, padahal tadi pagi gadis kecil itu masih dalam gendongan nya dan berbicara tentang nama baru untuk boneka jerapah nya namun kini situasi nya sangat berbanding terbalik.
"Gegar otak, patah tulang rusuk, kaki nya patah dan pergelangan tangan nya terkilir. Di perut tadi juga ada pendarahan. Selebihnya luka luar yang bisa tuan lihat." ucap Chiko memberi keterangan setelah menginati putri kecil kesayangan tuan nya.
James tak mengatakan apapun, ia masih diam melihat ke arah putri nya yang penuh dengan perban itu.
Ia mendekat dan mencium tangan mungil itu dengan lembut, "Bian tadi nunggu Daddy?"
__ADS_1
"Maaf, Daddy datang nya terlambat..."
Sambung nya lirih dengan sesuatu yang seperti akan meledak di dada nya. Ia baru tau jika memiliki anak berarti memiliki suatu kelemahan terbesar.
Padahal bukan ia yang terluka, namun entah mengapa ia merasa lebih sakit dari putri kecil nya.
"Dia bisa pulih kan?" tanya nya tanpa menoleh ke arah Chiko dan terus mengecup tangan putri nya dengan lembut.
"Tentu, tapi itu perlu waktu dan proses pengecekan yang rutin." jawab Chiko pada tuan nya.
James diam, bagi nya tak apa asal putri nya bisa kembali seperti semula.
"Katakan pada Nick untuk mencabut semua jari-jari kep*rat itu sampai aku datang memeriksa.
...
Pagi hari nya.
James tak bisa tertidur sama sekali, ia terus berada di samping tubuh putri yang masih di pantau dengan alat-alat medis yang ia miliki.
Rasa gelisah dan khawatir membuat nya tak mengantuk sama sekali.
"Morning, my baby..." ucap nya sembari mengecup kening gadis kecil itu seperti biasa ketika ia membangunkan nya di pagi hari.
Sementara itu anak lelaki berumur 8 tahun itu juga sudah bangun. Seperti biasa ia akan bersiap untuk ke sekolah nya.
Pagi ini ia tak melihat sang ayah sama sekali, sarapan yang di mulai sendirian tanpa adik kecil nya atau sang ayah.
"Daddy mana?" tanya pada salah satu pelayan.
"Tuan bersama nona Bianca," Jawab pelayan tersebut pada majikan muda nya.
Deg!
Al tersentak mendengar nya, padahal ia sudah berdoa dengan sungguh-sungguh namun yang di atas pun tak mengabulkan permintaan sepenuh hati nya.
"Bian udah ketemu?" tanya nya mengulang untuk memperjelas apa yang ia dengar.
"Sudah tuan," jawab sang pelayan pada anak lelaki itu.
Arnold membatu sejenak ia takut jika adik nya mengatakan jika ia yang meninggalkan nya bukan nya gadis kecil itu yang lari sendiri karena melihat anak anjing.
__ADS_1
Ia bahkan tak tau bagaimana kondisi gadis kecil itu, ataupun apa yang sudah terjadi akibat tindakan kekanakan nya karna merasa iri.
"Bian udah bilang belum yah sama Daddy?" gumam nya yang merasa risau dan khawatir takut sang ayah akan memarahi nya.