
Pria itu menatap ke arah gadis yang tidur di samping ranjang nya.
"Louise!" ucap nya sembari menarik selimut tebal itu.
"Ih! Berisik banget si?" tanya Louise yang seakan tak peduli dan kembali menarik selimut nya.
"Tidur di kamar mu, masa di sini?" tanya Zayn yang terus menarik selimut tebal itu agar gadis cantik itu segera beranjak.
Mungkin dulu ia sudah biasa tidur bersama atau mungkin bertiga karna sekalian tidur bersama saudara kembar gadis itu tapi sekarang?
Perasaan nya semakin kuat dan ia bukanlah lagi anak-anak polos yang tidak punya keinginan sama sekali.
"Lagi pula nanti kalau nikah juga tidur sama aku, bukan sama Louis." jawab Louise yang tak ingin beranjak sedikit pun.
"Kau memang nya tidak takut dengan ku? Kalau aku sampai ngapa-ngapain gimana?" tanya pria itu yang bahkan belum menidurkan dirinya dan masih duduk di pinggir ranjang.
Ia harus menahan setiap malam akan godaan yang di berikan gadis itu pada nya.
Louise membuka mata nya dan menatap ke arah pria yang bahkan belum menidurkan dirinya sama sekali.
Greb!
Ia menarik tangan pria itu dan membuat nya berbaring di samping nya.
"Sini adik ganteng tidur sama kakak..." ucap nya sembari menepuk bokong pria itu seperti bayi.
Wajah pria itu memerah seketika, "Louise!" ucap nya yang langsung menangkap tangan lentik tersebut.
Gadis itu tertawa renyah melihat wajah yang memerah karna malu tersebut.
"Gak lucu," ketus Zayn yang langsung membalik tubuh nya.
"Ih! Marah!" ucap Louise tertawa sembari menarik tangan pria itu agar kembali melihat nya.
Zayn diam tak mengatakan apapun, wajah nya semerah tomat hanya karna godaan kecil yang baru di layangkan pada nya
"Zayn?" suara tawa renyah itu perlahan mulai menghilang dan suasana kembali hening.
"Hm?" pria itu menyahut tanpa melihat ke arah wajah gadis yang tidur di samping nya.
"Aku masih bingung," ucap nya lirih.
Zayn berbalik menatap ke arah gadis itu yang masih tak kunjung tidur hingga sekarang.
"Bingung apa?" tanya pria itu mengernyit.
"Xavier Haider siapa sih? Serandom nya aku, masa aku buat nama yang bukan siapa-siapa? Kenapa gak nama ku aja? Atau Louis? Nama mu?" ucap nya yang tak habis pikir.
Ia bahkan mencari nama tersebut di internet karna berpikir mungkin ia menulis nama tokoh tapi tetap saja tak ada hasil sama sekali, lalu kenapa dia membuat nya?
"Kan yang buat kau sendiri," jawab pria itu mengelak.
Mana ia tau, tato latin itu nama siapa karna nama dari mantan gadis itu yang ia kenal Athan James bukan nya Xavier Haider.
"Kan aku lupa," jawab nya langsung, namun wajah cantik itu perlahan tersenyum lagi, "Uda ga marah kan?" tanya nya lagi.
"Louise?" pria itu memanggil dengan nada panjang.
"Kalau begitu aku juga mau tanya," ucap nya setelah tawa gadis itu habis.
"Tanya apa?" mata hijau yang mulai sayu karna mengantuk itu masih menatap nya.
"Kenapa setuju tunangan dengan ku?" tanya Zayn sembari menatap nya.
"Karna Louis yang suruh lagi pula kan aku juga sudah mengenal mu jadi lebih mudah untuk suka, kan?" jawab Louise dan mulai menguap.
Pria itu tak menanyakan apapun lagi, tangan nya perlahan menepuk punggung gadis itu hingga semakin mengantuk dan benar-benar tertidur.
......................
4 Hari kemudian.
Mansion Dachinko.
Gadis kecil itu tak keluar sama sekali dari ruang kerja sang ayah, bukan mendapat hukuman namun mata nya terus bersinar menatap ke arah wanita yang di katakan sebagai 'Ibu' yang ia tak pernah tau sama sekali.
"Bian?"
Suara yang memanggil nya dengan nada rendah yang terdengar bariton itu membuat gadis kecil itu langsung menoleh.
Tubuh nya yang masih ringan terangkat dan duduk tepat di paha keras sang ayah.
__ADS_1
"Daddy? Mommy itu jahat yah?" tanya nya dengan mata bulat nya yang polos.
"Jahat? Mommy Bian itu baik kok..." jawab James saat melihat wajah yang mirip dengan seseorang yang ia rindukan itu.
"Telus kenapa pelgi ninggalin Bian sama Daddy?" tanya nya mengulang dengan bingung.
James diam tak menjawab, bahkan kata pergi sedikit tidak cocok karna dulu ia lah yang terus mendorong gadis itu dari sisi nya.
"Bianca penasaran sama Mommy Bian?" tanya nya lagi sembari melihat pipi yang bulat dan putih itu.
Anggukan yang dalam terlihat, tentu nya ia sangat penasaran dengan seseorang yang belum pernah ia temui.
Penasaran dengan sosok yang sama seperti kartun yang ia lihat, jika saja ia belum tau ia tak akan menantikan nya. Namun kini ia sudah tau dan membuat nya mulai berharap.
"Nanti, kalau Daddy udah temuin Mommy Bian, Daddy bilang ya?" ucap nya sembari mengelus kepala putri nya dengan lembut.
Informasi gadis itu benar-benar kosong seperti abu, tak ada satupun yang dapat terlacak bahkan makam nya sekalipun. Entah bagaimana sang kakak menyembunyikan nya namun hasil nyata nya ia tak bisa menemukan apapun.
"Daddy?"
"Daddy!"
Gadis kecil itu berteriak sembari memukul dada bidang sang ayah dengan tangan mungil nya karna melihat wajah yang datar itu mulai melamun dan terdiam.
James tersentak, ia kembali mengalihkan mata nya pada putri tercinta nya dan mencium nya dengan gemas.
Bianca tak menolak karna pipi nya memang seperti selalu di jadikan mainan, mulai dari ayah nya, kakak dan paman-paman nya yang selalu ingin mencubit ataupun mencium nya.
"Daddy? Bian lapel," ucap nya pada sang ayah.
"Kau mau makan?" tanya pria itu dengan wajah yang datar.
Bahkan mungkin putri nya sendiri belum pernah melihat nya tertawa atau tersenyum lebar kecuali senyum yang sangat tipis yang jarang terlihat itu.
"Iya! Coklat sama jus woltel!" jawab Bianca dengan mata bulat yang bersinar itu.
James tak lagi mengatakan apapun, ia membawa putri kecil nya yang mirip dengan boneka hidup itu mencari makanan yang di inginkan serta membuatkan jus wortel untuk putri nya sekaligus untuk nya.
......................
2 Minggu Kemudian.
"Cla? Sini nak, Mama buat puding mangga." ucap Freya pada putri nya yang belum lama kembali ke rumah nya.
Clara berbalik, ia tersenyum melihat sang ibu yang memberikan sepotong puding lembut berwarna kuning tersebut.
"Papa kemana Ma?" tanya nya sembari memasukkan potongan puding lembut itu ke dalam mulut nya.
"Papa lagi ada urusan, kamu memang nya mau keluar?" tanya Freya sembari memberikan segelas air untuk putri nya.
Setelah perceraian yang mendadak putri tunggal nya ia tak bisa menanyakan apapun lagi, putri nya seakan selalu beralasan tak ingin mengatakan alasan nya dan pada akhirnya membuat nya ikut bungkam karna yang ia harapkan hanyalah kebahagian untuk putri nya.
"Clara nanti mau keluar Ma, Mama ada mau nitip?" tanya nya pada sang ibu.
Freya tersenyum dan menggeleng mendengar nya.
......................
Ottawa, Kanada.
Louise melihat dengan mata nya yang seakan berharap seperti anak kucing yang ingin di beri makan.
"Bilang aku pulang nya dengan mu," ucap nya dengan gerakan bibir saat sahabat sekaligus tunangan nya itu sedang bertelpon dengan sang kakak.
Zayn melihat ke arah gadis itu, ia tau gadis di depan nya sangat ingin kembali namun sang kakak melarang nya.
Dan alasan utama sang kakak melarang nya adalah untuk lebih dapat menyembunyikan dan melindungi nya dari pria yang pernah membuat nya terluka.
"Dia tidak bisa ikut pulang dengan ku bulan depan?" tanya Zayn dan langsung melihat senyuman mengembang di wajah cantik itu.
"Tidak, kau bisa pulang tapi Louise tetap di sana."
Mendengar jawaban dari telpon yang di speaker itu membuat Louise langsung berteriak memotong pembicaraan.
"Louis! Aku mau pulang, aku kan mau ke rumah juga! Aku makin sakit di sini! Bikin stres tau!" sambung nya langsung.
Alasan kuat ia sangat ingin kembali karna bagi nya di sana lah rumah nya, tempat ia tumbuh dan besar semasa kedua orang tua nya masih hidup.
"Sakit apa? Berat mu aja makin tambah!"
Bantah pria itu dan langsung menutup telpon nya.
__ADS_1
"Ish! Zayn? Aku pulang dengan mu juga yah? Boleh yah? Jangan bilang Louis..." ucap nya yang langsung putar haluan merayu teman nya.
"Kartu mu nanti di blokir lagi," ucap Zayn yang juga mencari alasan karna ia tau alasan saudara kembar gadis itu tak mengizinkan nya kembali.
Louise langsung diam, ia menunduk ia rindu suasana rumah nya, ia rindu dengan taman nya dan rindu dengan kamar nya serta halaman yang menjadi pemandangan balkon nya.
"Kalian gak ngerti! Lagi pula kan aku juga bukan buronan negara yang bakal di penjara kalau balik!" ucap nya lirih.
"Louise?" Zayn memanggil nya saat mendengar suara yang terdengar serak itu.
"Nangis?" ucap nya yang langsung menangkup wajah cantik itu.
"A...aku kan juga mau ikut..." ucap nya lirih dengan mata yang terlihat begitu berharap.
Zayn membuang napas nya, ia termakan godaan gadis itu sekali lagi, "Kalau kalian bertengkar nanti jangan libatkan aku juga."
Mata yang berair itu langsung ceria, seakan air mata yang tak jadi jatuh dan masuk lagi ke kelopak nya.
"Thanks my baby Zayn!" ucap nya yang memeluk pria itu seketika.
Zayn tersenyum tipis, dan membalas pelukan gadis itu.
...
"Nih!"
Louise memberikan segelas jus berwarna oranye terang itu pada pria yang tengah menatap ke arah laptop nya itu.
"Apa ini?" tanya Zayn sembari membuka kaca mata yang berguna untuk menghalau radiasi tersebut.
"Jus wortel! Kan ini kesukaan mu? Masa lupa?" jawab Louise tersenyum.
Zayn diam, dahi nya langsung mengernyit mendengar nya.
Suka?
Sejak kapan ia suka wortel?
"Aku? Kau tau dari mana aku suka nya wortel?" tanya nya dengan bingung.
"Iya ya? Kau suka wortel dari kapan?" tanya gadis itu berbalik dengan raut bingung.
"Terus kenapa buat ini?" Zayn tak habis pikir dengan gadis di depan nya.
"Terus yang suka siapa? Aku gak suka wortel Louis apa lagi malah paling gak suka, yah berarti tinggal kau." jawab Louise sekali lagi.
"Aku?" pria itu mengernyit dengan bingung.
"Iya! Aku ingat kok..." ucap nya lirih.
Ia ingat jika seseorang akan menyukai jus yang ia buat, dan ia juga ingat jika sang kakak dan dirinya tak menyukai makanan berwarna oranye itu, yang berarti hanya tinggal satu orang yang ia tau kesukaan nya.
Zayn diam tak lagi bertanya, "Hm, aku suka..." ucap nya tersenyum kaku.
"Iya kan?" ucap Louise yang kembali tersenyum.
Ingatan nya cukup bertabrakan dan memberikan gambaran abu-abu yang rusak pada nya, tembok tinggi yang bahkan tak bisa ia capai sekaligus.
......................
Mall.
Langkah pria itu terhenti yang membuat beberapa kolega di belakang nya juga terhenti.
Mata nya membeku sejenak menatap wanita yang kini sudah menjadi mantan istri nya. Ia bahkan tak pernah melihat wajah itu selama beberapa tahun terakhir dan kini melihat nya dengan jelas.
Clara tersentak, jemari nya terasa dingin saat cairan dari es krim yang meleleh dari cone nya itu mengenai tetesan pada nya.
Pria itu kembali tersadar, ia tak mengatakan apapun dan memalingkan wajah nya, kemudian berjalan melewati wanita cantik itu seperti tak pernah mengenal nya sama sekali.
Ia tidak tau harus apa, yang ia tau wanita itu sangat membenci nya dan ia yang takut semakin di benci hanya bersikap seperti yang di harapkan mantan istri nya dulu.
Deg!
Clara tersentak, ia berbalik melihat ke arah pria yang terlihat mengabaikan nya.
Perasaan nya terasa tak nyaman, ia sangat ingin pria itu mengabaikan nya sejak dulu tapi kenapa sekarang hati nya seperti tertusuk dengan serpihan kaca.
"Aku..." gumam nya lirih yang entah mengapa merasakan sesuatu yang remuk di dada nya.
Seperti kehilangan sesuatu yang ia pikir tak akan pernah bisa hilang dari nya.
__ADS_1