
Louise mengehentikan langkah nya dan berbalik menatap ke arah pria yang tersenyum simpul pada nya.
"Kenapa kau ikut terus sih?" tanya Louise kesal menatap ke arah pria itu.
"Aku hanya jalan," jawab pria itu enteng seperti tak merasa terganggu sama sekali.
Gadis itu membuang napas nya dengan malas dan melanjutkan langkah nya, memang berjalan kecil melewati beberapa toko adalah hal yang cukup menyenangkan.
Tidak terlalu lelah dan tidak menimbulkan banyak gerakan.
"Kau mau coba desert di sana?" tanya James sembari menunjuk ke arah yok dessert di sebrang jalan.
"Aku tidak suka," jawab Louise ketus yang bahkan terlihat tidak menanggapi ucapan pria itu.
James tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan menarik tangan gadis itu begitu saja.
"Eh? Apa ini?" Louise tersentak namun kaki nya mengikuti arah langkah pria yang menarik nya agar tak terjatuh.
Pria itu seperti kepala batu dengan tetap membawa gadis itu ke tempat yang ia tunjuk.
Louise diam, ia masih memproses keadaan nya yang tadi baru saja berdiri dan menyusuri jalan namun kini sudah duduk di cafe cake dengan berbagai cake cantik di depan nya.
"Kenapa tidak di makan? Coba," ucap nya sembari menatap ke arah gadis itu.
"Aku kan sudah bilang tid- Hup!"
"Manis kan?" tanya James tersenyum saat tiba-tiba menyodorkan cake dengan selai stroberi itu ke dalam mulut gadis di depan nya.
"Enak," ucap Louise tanpa sadar sembari mengambil cake yang awal nya masih di pegang oleh pria di depan nya.
Pria itu mengesap ujung jemari nya yang terkena cream manis itu dan tersenyum simpul menatap gadis di depan nya.
Tentu ia tau apa yang di sukai dan tidak di sukai gadis itu namun ia dulu selalu bersikap tak acuh karna tak ingin memiliki perasaan yang semakin jatuh.
"Kau tidak seperti ini untuk menipu kan? Atau kau itu memang penipu?" tanya Louise saat ia sudah menelan makanan yang berada di mulut nya.
"Aku tidak menipu mu," jawab nya singkat dengan dahi yang mengernyit karna bingung kenapa gadis di depan nya menuduh dirinya.
"Awal nya kau mendekati ku, setelah itu membawa anak dan karna tidak berhasil kau tidak membawa anak itu lagi tapi sekarang mendekati ku," ucap Louise yang juga bingung bagaimana menyampaikan maksud nya.
"Aku tidak bawa Bianca karna kau juga tidak mau dia kan?" tanya James yang mengerti apa yang di maksud oleh gadis di depan nya.
"Memang nya apa yang bisa ku lakukan untuk anak kecil itu? Kau mau aku mengurus nya? Anak yang aku sendiri tidak tau," jawab Louise yang langsung merubah ekspresi nya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengurus nya karna aku bis melakukan itu, kalau pun itu tentang Bianca aku hanya mau agar kau tidak mengabaikan nya dan yang paling penting jangan membentak dia..." ucap pria itu, kali ini nada nya terdengar berbeda.
Louise membuang wajah nya, sembari mengambil milkshake nya.
"Ck! Kau mau bersikap seperti ayah yang baik? Aku jadi yang terlihat seperti orang jahat di sini." decak nya sembari menyeruput minuman di tangan nya.
James tak mengatakan apapun, ia saja tak tau ayah yang baik harus seperti apa yang ia tau hanya tak ingin melihat wajah cantik putri nya itu menangis.
"Dia sangat menyukai mu, jadi ku harap kau juga bisa seperti itu..." ucap pria itu yang menatap wajah yang mengelak pada nya.
Louise tak mengatakan apapun, ia hanya melirik sekilas. Bukan masalah apa yang ia lakukan namun bagaimana mungkin ia bisa menganggap anak usia tiga tahun itu sebagai putri biologis nya jika ia tak pernah mengingat sama sekali?
"Louise?" panggil James pada gadis itu.
Tak ada jawaban namun mata hijau itu menatap pria yang memanggil nya.
"Kenapa kau tidak hapus tato nya?" tanya James saat sudah melihat gadis itu menggubris nya.
"Tato?" Louise refleks melihat ke arah tangan nya, memberikan bentuk sabit yang terlihat begitu jelas.
"Kalau aku tidak suka aku bisa menutup nya dengan make up," ucap nya yang tak sesuai dengan pertanyaan.
"Bukan di tutup tapi di hapus, kenapa kau tidak hapus?" tanya James mengulang.
"Tidak tau..." jawab nya lirih yang juga seakan tak mengerti kenapa tidak menghapus nya saja.
"Kau tau apa arti nya dan kapan itu di buat?" tanya James sembari melirik ke arah tato yang masih di usap gadis itu.
Louise menggeleng, mana mungkin ia ingat kapan membuat nya ataupun artinya jika semua memori tentang si pencipta tato itu hilang.
"Ini tanda nya kepemilikan, sabit itu simbol yang menunjukkan daerah teritorial seseorang." ucap yang menerangkan arti sabit di pergelangan tangan gadis itu.
Louise diam tak mengatakan apapun, bagaimana pun ia tak bisa menyangkal ataupun mengatakan sesuatu yang bahkan tidak ia ingat.
"Dan sabit ini di buat setelah kita tidur bersama untuk pertama kali nya," ucap nya sembari menyentuh ke arah gambar tato itu dengan ujung jemari nya.
Louise langsung mengernyit dan tampak tak setuju, ia tak pernah ingat pernah tidur dengan pria di depan nya sama sekali.
"Gila ya?! Kapan aku pernah tidur dengan mu?!" tanya nya dengan kesal.
"Yang pasti kau pernah melakukan nya dengan ku, kalau tidak kan tidak mungkin ada Bianca." jawab James dengan wajah datar nya.
"Lalu kenapa aku bisa lupa? Tentang mu atau tentang anak itu?!" tanya Louise yang masih menatap dengan ketidakpercayaan penuh.
__ADS_1
"Mungkin aku terlalu brengsek untuk kau ingat?" jawab pria yang sadar diri dengan perlakuan nya dulu.
"Kalau kau sadar kenapa masih mengikuti ku? Seharusnya kau tidak menganggu ku lagi kan?" tanya Louise mengernyit.
"Karna aku brengsek dan aku tau itu makanya aku tetap mengejar mu," ucap nya dengan senyuman dan mata yang tidak sinkron.
Seperti menyesal, senang, lega, dan beberapa ekspresi yang tak bisa ia baca sama sekali.
"Apa yang kau lakukan memang nya? Maksud ku kau itu dulu sebrengsek apa?" tanya Louise yang memang tak mengingat apapun tentang pria di depan nya.
James diam sejenak, ia saja bingung bagaimana mengatakan semua sikap keterlaluan yang sudah ia lakukan.
"Aku menyakiti mu," ucap nya lirih tanpa ada senyuman sama sekali dan mata yang terlihat merasa menyesal.
"Menyakiti ku? Sakit seperti apa?" tanya Louise mengernyit.
Tak ada jawaban lagi, pria itu pun hanya terlihat menarik napas nya dan mengangkat garpu nya.
"Mau ku suapi? Rasa mocca nya juga enak," ucap nya tersenyum kecil sembari menyodorkan garpu ke arah gadis di depan nya.
"Mocca? Aku jadi teringat Zayn..." ucap Louise tanpa sadar.
Pria itu tentu dapat mendengar nya, ia masih tersenyum namun kali ini tersenyum kesal mendengar nama pria lain namun ia tak bisa jelas menunjukkan kecemburuan nya untuk bisa mengambil hati gadis itu lagi.
"Zayn juga punya aroma mocca," jawab Louise yang tanpa sadar tersenyum sembari mengingat ruangan nya yang selalu memiliki aroma manis itu.
Entah coklat atau mocca yang membuat nya seakan ingin mengigit dengan gemas.
"Aroma? Haha..."
"Aroma sialan!"
Gumam pria itu yang mengumpat dan merasa panas mendengar nya namun berusaha tenang dan malah menunjukkan tawa mengerikan.
"Kau..."
"Jangan tertawa, itu mengerikan..." ucap Louise lirih yang merasa merinding walau pria di depan nya tersenyum dan tertawa.
"Memang nya aku kenapa?" tanya James yang tersenyum dengan lebar sembari memegang garpu cake dengan kuat sampai tampak gemetar dan hampir membuat nya bengkok.
Kenapa dia sampai tau aroma? Dia sudah melakukan apa saja?
Berusaha tersenyum dengan hati yang menggebu panas sama saja menunjukkan hawa mencekik nya.
__ADS_1
"Aku seperti masuk ke dalam film horor sekarang." ucap Louise lirih sembari menatap ke arah pria yang tersenyum dengan hawa yang memanas dan garpu cake yang mulai bengkok di genggaman pria itu.