
Mansion Dachinko
Nick melihat ke arah tuan nya yang kembali lebih awal dan tentu ia melakukan nya untuk menjemput putri nya yang baru pertama kali sekolah.
Pertama kali mengantar dan juga pertama kali menjemput.
"Anda tidak akan memberi tau nona Louise? Seperti nya nona Bianca juga pasti senang jika ibu nya ikut menjemput," ucap nya yang tuan nya yang tengah bersiap.
"Ya, tapi dia sedang pergi ke Korea sekarang. Dia kembali dua Hari lagi." ucap nya pada bawahan nya.
Peluncuran dari produk kosmetik dan perawatan wajah yang kali ini di luncurkan di negeri ginseng tersebut.
Dan tentu yang membuat nya juga harus ikut melakukan peresmian nya dan beberapa hal yang harus di urus.
"Siapkan mobil," perintah pria singkat.
"Baik tuan," Nick langsung menurut dan tentu ia pun beranjak melaksanakan perintah pria itu pada nya.
...
Sekolah.
Sudah ada beberapa jemputan lain nya, entah itu supir ataupun orang tua langusung dari anak-anak yang bersekolah di tempat tersebut.
"Daddy!"
Suara yang begitu familiar memanggil nya, kaki kecil yang memakai sepatu dengan pita di atas nya dan kaus kaki dengan sulaman kepala beruang itu berlari ke arah nya.
Pria itu merendahkan tubuh nya dan langsung menyambut putri nya.
Greb!
Tubuh mungil itu dengan cepat masuk ke dalam pelukan nya, wajah yang tersenyum cantik dengan mata yang bersinar berbeda dengan saat tadi pagi di tinggalkan.
"Gimana tadi? Seru?" tanya James sembari melepaskan pelukan nya dan melihat ke arah wajah putri nya yang cantik nan menggemaskan itu.
"Mommy mana?" tanya nya dengan mata berbinar dan tak menjawab pertanyaan sang ayah.
"Mommy masih sibuk, dua hari lagi nanti kita ketemu Mommy ya?" jawab James sembari mengusap kepala putri nya.
Bianca memanyunkan bibir nya tanda ia tak senang dan ingin sang ibu juga hadir.
"Jadi Bian udah punya berapa teman hari ini?" tanya James sembari menggendong putri kecil nya.
"Hehe! Ga ada!" jawab Bianca dengan full senyuman yang tampak tak peduli jika ia tak mendapatkan teman.
James terdiam, namun ia hanya mengangguk kecil untuk jawaban putri nya.
Memang sejak awal terlihat jika putri kecil kesayangan nya itu tak memiliki sifat bergaul walaupun terlihat ramah.
Pria itu meletakkan putri nya di bangku depan dan tentu mulut kecil itu terus mengoceh sepanjang perjalanan tentang yang tadi ia alami saat hari pertama sekolah.
James mendengarkan, ia masih menganggap wajar jika putri nya belum bertemu dengan banyak teman karna ini masih hari pertama nya.
......................
JBS Hospital
Wanita itu masih berada di atas tempat tidur yang empuk itu, ia masih mengambil napas nya dan terdengar suara guyuran air di balik pintu kamar mandi yang berada di ruang istirahat itu.
"Kau tidak mandi?"
Suara yang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk putih di pinggang nya.
"Kalau seperti ini bukan nya nanti akan ada rumor lagi?" tanya Clara lirih yang sensitif dengan pandangan orang-orang yang bekerja di rumah sakit itu.
"Rumor? Apapun itu ku rasa tidak akan jadi rumor yang buruk," jawab nya Louis yang tampak enteng sembari mengusap rambut basah nya.
"Kenapa? Kenapa kau pikir begitu? Bisa saja yang kira aku menggoda mu atau semacam nya?" tanya Clara yang begitu sensitif.
Louis menarik napas nya, ia berbalik melihat ke arah wanita yang tampak gusar itu.
"Kau tidak berpikir mungkin hanya rumor kita akan rujuk lagi? Dan itu juga bukan rumor kan?" ucap nya yang membuat wanita itu diam.
"Tapi kenapa kita rujuk? Aku kan belum maafin?" tanya nya yang bingung karna ia belum pernah sekali pun mengatakan memaafkan pria di depan nya.
Louis hanya tersenyum menanggapi nya, kalau belum mengapa wanita itu mau ia tiduri lagi?
Bukan satu kali tapi berulang kali!
"Setelah 6 bulan pembatalan pernikahan Louise aku akan mengirim lamaran untuk mu, kau bisa tentu kan tanggal pernikahan nya setelah lamaran nya datang." ucap nya yang tentu harus memberikan jarak antara pernikahan sang adik yang gagal.
Clara diam sejenak, "Kalau aku minta nikah nya 10 tahun lagi gimana?" tanya nya tersenyum pada pria itu.
"Kau tidak akan meminta hal itu," ucap pria itu sembari mendekat ke arah wanita yang masih tidur di atas ranjang nya itu.
"Kenapa?" tanya Clara yang bingung karna ia lah yang akan menentukan waktu nya tapi kenapa pria di depan nya yakin sekali jika ia tak akan meminta jangka waktu yang terlalu lama.
"Kau yakin? Bisa menahan nya selama 10 tahun? Bagaimana kalau selama 10 tahun kita tidak melakukan nya lagi?" bisik pria itu yang membuat wajah wanita itu memerah.
"Ta..tahan lah!" Clara yang langsung menepis dan menyanggah nya seketika.
Pria itu tertawa melihat sikap wanita yang nanti akan ia jadikan istri lagi.
"Aku nanti akan pesan makanan, kau bisa di sini dulu." ucap nya yang mengecup sekilas ke arah dahi wanita itu.
"Kau mau kemana?" tanya Clara tanpa sadar saat ia sejenak lupa jika pria itu bukan lah pria yang memiliki banyak waktu senggang.
"Kalau kau bilang rindu aku, aku akan selesai lebih awal!" jawab Louis dengan senyuman cerah yang membuat wanita itu langsung menarik selimut nya lagi.
"Ga jadi, pergi aja sana." jawab nya yang membelakangi pria yang tadi baru saja bicara pada nya.
......................
Dua hari kemudian.
Sekolah
Mis. Camila memperhatikan salah satu anak didik nya yang baru saja masuk ke dalam sekolah itu.
Tak seperti anak lain nya yang setelah pembelajaran usai akan bermain dan berkenalan dengan anak yang lain namun gadis kecil itu tampak asik sendirian.
Ia aktif saat pembelajaran namun saat waktu nya bermain tiba ia akan mengambil mainan nya sendiri dan tak bermain dengan anak-anak yang berada di sekitar nya.
"Bianca? Mis boleh ikut main?" tanya wanita yang duduk di samping gadis kecil yang tampak sangat menggemaskan itu.
Bianca mengangguk, ia membiarkan wanita itu duduk di samping nya.
__ADS_1
Wanita yang menjadi guru nya itu tentu mendekati nya dan bermain agar membuat ia tak merasa begitu asing lagi.
"Bian kenapa ga main sama yang lain? Main sama teman kan juga seru," ucap nya pada gadis kecil itu.
"Memang nya Bian halus punya temen ya?" tanya nya dengan mata coklat yang jernih itu dan tak mengatakan alasan nya.
Alasan ia tak mau tentu hanya karna ia tidak mau, bukan ada alasan spesifik yang membuat nya membenci anak lain nya juga.
Wanita itu memamgguk, "Kita kan harus punya teman, ga bisa sendirian terus. Yuk! Mis ajakin main bareng yuk?" ajak nya yang bangun dan menggandeng tangan mungil itu untuk berkenalan dengan yang lain nya.
Bianca mengernyit, ia memeluk boneka nya, dan beranjak ke belakang sang guru.
"Ih! Muka nya nyebelin!" ucap nya yang para sang guru yang mengenalkan nya dengan anak-anak lain nya.
"Bian? Ga boleh begitu, sini yuk? Coba main bareng-bareng sama Mis juga." ucap Mis. Camilla pada gadis kecil itu.
Bianca tak tampak mengerucut tak suka namun ia tetap menuruti apa yang di katakan oleh guru nya.
Tak butuh waktu lama, permainan tim adalah sesuatu yang cocok untuk membuat anak-anak menjadi dekat.
...
Bell pulang berbunyi, para guru yang mengajar anak TK itu langsung menyuruh untuk menyiapkan barang-barang nya agar bisa kembali pulang.
Gadis kecil itu melangkah keluar, tentu ia mencari sang ayah yang dalam beberapa hari awal terus mengantar dan menjemput nya.
"Mommy?" panggil nya memiringkan kepala nya yang melihat sang ibu yang datang menjemput nya.
"Myy! Mommy!" teriak gadis kecil itu yang langsung berlari mendekati sang ibu.
"Jangan lari Bian, nanti jatuh." ucap nya yang selalu memberi banyak pantangan pada putri nya.
Gadis kecil itu tak menjawab, ia hanya memberikan senyuman nya.
Louise pun mengangkat dan membawa putri kecil nya itu.
"Kita pulang kan Myy?" tanya Bianca pada sang ibu yang tengah membawa mobil itu.
"Bianca ga mau pulang sama Mommy dulu?" tanya Louise yang berniat membawa putri nya pulang dan kemudian mengembalikan nya saat malam nanti.
"Engga," jawab Bianca dengan cepat dan singkat tanpa mengerti apa itu nama nya sakit hati atau kecewa.
"Jadi Bian mau pulang?" tanya nya yang menoleh sekilas ke arah putri kecil nya.
Anak kecil itu mengangguk, ia ingin segara pulang dan bermain dengan sang ayah juga.
......................
Mansion Dachinko.
Mata coklat nya tampak lesu saat mendapati sang ayah yang tak ada di rumah saat itu karna memiliki sesuatu yang harus di urus.
"Bian main sama Mommy aja mau?" tanya nya yang menatap ke arah putri kecil nya.
"Di sini kan Myy? Kalau kita pelgi nanti waktu Daddy pulang kita ga tau..." ucap nya pada sang ibu.
Louise menarik napas nya, sekali lagi usaha untuk membawa putri nya keluar telah gagal.
"Iya, Mommy main nya di sini sama Bianca." jawab gadis itu sembari mengusap kepala putri nya.
"Main di kamal Bian yuk! Banyak boneka loh Myy!" ucap nya yang membentangkan tangan nya mengibaratkan ia memiliki banyak boneka.
Bermain dengan anak kecil yang begitu penuh dengan energi itu dan menemani nya.
Siang itu telah berganti petang, untung nya ia mengatakan pada sang kakak jika ia saat ini memang akan pulang malam karna ingin bermain dulu dengan putri nya.
Dulu memang ia bisa pulang pergi sesuka nya, namun sekarang menjadi lebih sulit saat sang kakak menjadi lebih protektif untuk sekarang.
Petang sore itu telah berganti namun pergantian malam dan siang tak terlihat sama sekali karna kedua ibu dan anak itu hanya terus bermain sampai mengantuk dan tidur.
Putri nya kelelahan karena bermain dan menghabiskan energi nya di sekolah sedangkan sang ibu kelelahan karena baru saja kembali dari perjalanan bisnis nya.
Sementara itu.
Pria yang mengenakan kemeja kasual dan tak selalu mengenakan jas itu pun kembali.
Tentu yang menjadi pertanyaan adalah di mana putri nya, dan ia pun mendengar jawaban yang mengatakan jika gadis nya pun juga berada di tempat itu.
Sudut bibir nya naik, putri nya selalu berhasil membawa sang ibu pulang ke tempat nya walau ia tau pasti wanita itu tak akan mau.
Ia berjalan dan melangkah ke arah kamar putri nya, tak ada suara apapun saat ia membuka pintu kamar itu.
Dan begitu ia melihat nya ia mendapati jika gadis nya sudah tertidur dengan putri nya.
Ia tak bersuara, ia perlahan memegang ke arah kening gadis itu dan menyentuh dengan ujung jemari nya.
Mata Louise bergerak perlahan, tidur nya terusik dan ia pun mulai bangun.
"James?" panggil nya lirih dengan suara yang hampir tak ada.
Ia pun perlahan bangun tanpa membuat putri nya ikut terbangun.
"Kau sudah kembali? Kapan?" tanya nya yang langsung menatap ke arah pria itu.
"Sst, bicara dengan pelan. Dia bisa bangun." ucap nya yang menunjuk ke arah putri nya dengan menggerakkan dagu nya.
Louise menoleh, ia pun bangun dan beranjak keluar agar tak membuat tidur putri nya terganggu karna pembicaraan nya.
"Tunggu! Bukan nya di harus bangun? Sekarang kan sudah malam? Dia juga belum makan malam tadi?" ucap Louise yang baru ingat jika putri kecil nya masih belum makan.
"Dia akan bangun kalau sudah lapar nanti, kalau di bangunkan sekarang pun juga akan percuma." ucap James pada gadis itu.
"Kau mau makan bersama?" tanya pria itu yang mengajak untuk makan malam bersama.
Louise tak menjawab, ia hanya menatap dengan lirikan yang tajam dan sinis.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya menarik napas nya dan memegang tangan gadis itu untuk membawa nya ke meja makan.
"Mau aku yang masakan untuk makan malam?" tanya nya pada gadis yang ia duduk kan di kursi meja makan nya.
Louise tak menjawab, namun ia ingat jika pria itu memiliki cita rasa saat memasak. Sama seperti mantan tunangan nya.
"Kau menemui Louis kan?" tanya nya yang membuat James menghentikan langkah nya saat ia ingin mengambil celemek agar tak mengotori pakaian nya.
Ia tak mengatakan apapun, namun gadis itu mendekati ke arah nya.
"Kalian bicara apa?" tanya nya yang ingin tau apa yang di bicarakan pria itu dengan sang kakak.
__ADS_1
"Dari mana kau tau?" tanya nya yang menatap ke arah gadis yang terus mendekat tanpa mengetahui jika ia juga memiliki alarm.
"Aku bisa tau dari mana saja," jawab Louise ambigu tanpa mengatakan dari mana ia tau jika pria itu menemui kakak nya.
James memundurkan langkah nya saat gadis itu terus mendekat.
Louise yang menatap ke arah kaki yang memundur menjauh itu membuat nya mengernyit, "Apa aku punya virus?" tanya nya pada pria yang sekaan tak ingin dekat dengan nya.
"Ya," jawab James singkat.
"Aku? Virus apa?" tanya Louise dengan nada kesal pada pria yang menjawab nya dengan asal itu.
"Virus yang bisa membuat seseorang menjadi agresif," jawab pria itu dengan wajah yang terlihat serius tanpa bercanda itu.
Louise mengernyit, namun ia kembali melangkah maju dan mendekat.
"Mana?" tanya nya yang terlihat kesal karna berpikir pria itu mengejek nya karna ia belum sempat bebersih saat baru saja kembali dari antar negara itu.
James diam sejenak, kaki nya sudah tak lagi bisa mundur saat ia sudah mentok di meja masak itu.
Ia diam tak mengatakan apapun, ia selalu menginginkan gadis di depan nya walau apapun yang sudah terjadi.
"Kau yakin? Mau ku tunjukan apa akibat jika virus mu menyerang?" tanya nya pada gadis itu.
Louise membuang napas nya kesal, ia semakin ingin memarahi pria di depan, "Kenapa kau buat darah ting-"
Humph!
Mata hijau itu membulat seketika, pinggang ramping nya di tarik dan tubuh nya langsung merapat seketika, sedangkan pria itu tampak semakin merengkuh nya.
Memutar langkah kaki nya dan membalik posisi gadis itu yang saat ini terhimpit. Tangan nya mengusap punggung gadis itu sembari tangan yang lain menarik simpul pita blouse gadis itu dan membuka kancing kemeja blouse yang di kenakan oleh gadis di depan nya.
Louise tersentak, seharusnya ia tak merasa kan tangan hangat dan besar itu mengusap nya dari dalam.
James melepaskan ciuman nya, ia menatap ke arah wajah yang baru saja ia kecup tiba-tiba.
Mata nya turun melihat ke arah kemeja yang terbuka di bagian atas nya nya itu.
Tanpa di beri aba-aba ia menunduk dan mengecup leher gadis itu, ia pun juga ikut mengangkat tubuh ramping itu ke atas meja untuk menyiapkan masakan itu.
"James..." panggil Louise lirih pada pada pria yang tiba-tiba menyerang nya dengan tanpa pembicaraan sedikit pun itu.
Pria itu melepaskan ciuman berbekas nya dan menatap sekilas namun tangan nya perlahan berusaha melepaskan celana panjang formal yang di kenakan gadis itu yang tampak sepasang dengan blouse kemeja yang ia kenakan.
Humph!
Belum sempat gadis itu kembali memproses pria itu kembali mencium nya.
Tak begitu terlalu terburu-buru dan juga tak menyakitkan walau pun ia meninggalkan bekas kecupan nya.
Hawa yang mulai menjadi berat, gadis itu berusaha mencegah dan melarang pria itu namun seperti sia-sia.
"Apa yang kau lakukan?" tanya nya saat ia menyadari kedua tangan di ikat ke belakang dengan tali dari blouse nya sendiri.
"Aku tidak akan menyakiti mu lagi, dan ini juga tak akan menyakitkan sama sekali." ucap nya yang mengecup kembali ke arah bibir gadis itu.
Sejak awal ia tau sifat gadis itu dan mengapa gadis itu bisa jatuh cinta dengan nya dulu.
Tentu saja semua itu berawal dengan hal baru!
Semua hal baru yang bisa ia berikan dan membuat gadis itu merasakan nya.
20 menit kemudian.
Suara yang berat dan beradu satu sama lain, gerakan yang dari cepat dan kini telah melambat.
Bibir yang basah dengan kecupan dan mata yang saling melihat satu sama lain.
"Bagaimana kalau ada yang lihat?" tanya nya lirih dengan napas yang masih tersengal-sengal sedangkan pria itu masih memeluk nya dan melepaskan ikatan di tangan nya.
Ia tak tau akan jadi seperti ini akhirnya, karna awal nya ia tak memiliki pikiran untuk melakukan sesuatu yang sejauh itu dengan pria yang berada di depan nya.
James menatap ke arah gadis itu, ia ingin lagi tapi jika ia melakukan nya maka gadis itu akan merasa kesal dan mungkin hubungan nya hanya akan memburuk.
"Tidak akan ada yang berani lihat jika mereka ingin hidup, bahkan tak akan ada yang berani menonton nya." ucap nya sebelum gadis itu menanyakan tentang cctv.
Louise tak mengatakan apapun, ia diam sejenak dan masih menarik napas nya.
"Kenapa di keluarin di dalam? Aku kan bilang nya di luar," ucap nya yang saat ini sudah mengambil semua napas nya.
"Oh iya? Aku tidak dengar." jawab pria itu sembari membuang pandangan nya.
"Tapi tetap di luar kan itu? Itu dia keluar," ucap nya yang menunduk melihat ke arah bagian bagian bawah yang meleleh itu.
Louise mengernyit dan langsung menutup mata pria itu. Sedangkan pria itu malah tersenyum saat merasakan tangan gadis itu menutup mata nya.
"Kau yakin kan tidak akan ada yang ke sini?" tanya nya lagi yang tetap merasa khawatir karna melakukan nya bukan di ruangan tertutup.
"Tentu saja, yang bisa ke sini sekarang kan cu-"
"Daddy!"
Deg!
Baru saja nama nya hampir di sebut dan kini langsung suara nya yang terdengar dari jauh.
Kedua mata itu tersentak seketika, tubuh yang awal nya masih berdekatan itu kini langsung merenggang dan membenarkan pakaian nya masing-masing yang untung saja memang tak di lepaskan seluruh nya. Hanya bagian-bagian yang di perlukan untuk saling terhubung saja.
"Daddy? Eh? Ada Mommy?" tanya nya yang baru sampai dengan mata bingung dan tentu terlihat ia baru bangun dari tidur nya.
"Bian udah bangun?" tanya Louise yang berbalik setelah mengancing semua kemeja nya walau terlihat tak rapi dan begitu berantakan.
Bianca mengernyit, kedua orang tua nya tampak berantakan, belum lagi yang terlihat berkeringat padahal ia yakin jika ia merasakan suhu udara yang dingin saat ini.
"Mommy sama Daddy kenapa kelingetan?" tanya nya dengan polos sembari mendekat ke arah sang ibu.
Louise tak menjawab, ia hanya memberikan senyuman sedangkan ekor mata nya melirik ke arah pria yang tampak dengan wajah tak berdosa itu.
Langkah kaki yang mungil itu berhenti, ia menatap ke arah noda yang terlihat berada di atas lantai itu.
"Itu apa Myy?" tanya nya yang menunjuk ke arah lantai.
"Hm?" mata hijau itu menoleh ke arah yang di tunjuk putri nya begitu juga dengan pria yang masih berdiri di tempat nya.
"Mayonaise, tadi Daddy yang buat tumpah, eh bukan maksud nya Mommy yang buat tumpah." ucap nya pada putri kecil nya.
Louise hanya melirik dengan tatapan kesal, namun pria itu mendekat ke putri nya dan menggendong nya.
__ADS_1
"Bian duduk di sini Daddy bakal masak makan malam," ucap nya yang tersenyum berseri seperti batu mendapatkan jackpot yang besar.