
Satu Minggu kemudian.
JBS Farmasi.
Gadis itu melihat layar di depan nya, kenaikan dan penurunan harga saham yang tidak berhenti dan terkadang tak seimbang mengikuti kemauan pasar dan masyarakat.
"Dia tak akan mungkin tinggal diam kan? Apa yang dia rencanakan?" gumam nya sembari melihat layar yang ada di depan nya.
Terkadang tangan nya mengelus perut nya yang semakin membulat ketika usia kandungan nya sudah mencapai 10 Minggu.
Dan sebenarnya Louis pun tak membiarkan nya pergi bekerja saat ini namun karna ia yang memang keras kepala dan dengan segala ucapan nya akhirnya ia bisa kembali masuk setelah satu minggu pulang ke rumah dari rumah sakit.
Tangan nya mulai bergerak mengambil telpon di meja nya dan menekan tombol guna langsung menyambung ke meja sekertaris.
"Ada apa?" tanya Zayn yang langsung datang ke tempat gadis itu usai ia menelpon.
"Resort yang berada di Ceko, aku ingin menjual nya." ucap nya lirih sembari memandang pria itu.
Mata Zayn membulat mendengar nya, ia tau jika resort tersebut sangat di sukai oleh teman nya.
"Kenapa kau mau menjual nya?" tanya Zayn mengernyit dengan heran.
"Harga nya sedang naik saat ini, saham ku juga meningkat di perusahaan Jafs kan? Aku juga mau menjual nya." ucap gadis itu membuang napas nya.
"Apa kau terlibat hutang?" tanya Zayn heran karna gadis itu ingin menjual beberapa aset nya.
Louise menggeleng, "Kalau aku punya pun aku juga tidak akan jual aset ku kan? Anggap saja ini persiapan." jawab nya lirih.
"Kau yakin?" tanya Zayn lagi.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk, ia tengah menyiapkan dana cadangan untuk dirinya atau sang kakak karna tak tau apa yang James rencanakan untuknya.
"Baik, akan ku urus." jawab pria itu menghela napas nya.
"Dan," ucap nya panjang dan lirih, "Dana nya nanti buat atas nama Louis." sambung nya.
Pria itu semakin memandang heran, ia bingung kenapa gadis di depan nya bersikap seperti tak biasa nya.
"Kau sedang membuat dana cadangan?" tanya Zayn lagi.
Gadis itu tersenyum saat pikiran nya tertebak dengan sempurna.
"Kalau ada sesuatu kabari dulu aku," ucap pria itu yang bingung dengan gadis di depan nya.
"Mungkin ada saat ini," jawab nya tersenyum.
Zayn melihat dengan mata yang menunggu jawaban gadis itu.
"Makan siang dengan ku," jawab Louise tersenyum.
"Sore nanti ada pertemuan dengan perwakilan dari FT grup, mereka ingin kau yang langsung ke sana di restoran hotel L'Hui jam 5 sore." ucap pria itu mengatakan jadwal yang harus di lakukan oleh gadis di depan nya.
"Tapi aku mengundur nya jadi jam 8 malam." sambung nya lagi.
"Kenapa?" tanya Louise mengernyit.
"Tidak ada yang menemani mu, aku akan meninjau pembangunan anak perusahaan di jam itu, atau kau mau pakai pengawal saja?" usul pria itu sekaligus jawaban.
"Tidak, aku baik-baik saja! Jangan bawa pengawal pada ku! Risih!" jawab Louise langsung.
Perdebatan pun mulai terjadi, yang satu versi kukuh ingin pergi tanpa penjagaan dan yang satu lagi tak ingin membiarkan begitu saja.
"Oke! Pakai pengawal! Hanya dua!" jawab Louise yang akhirnya kalah.
"Dua? Empat!" ucap Zayn lagi.
"Kau pikir aku mau pawai di hotel itu? Gak! Nanti jadi banyak yang lihat! Aku benci tatapan orang lain!" jawab nya mendengus kesal.
"Jangan kabur kalau sedang di jaga pengawal," jawab Zayn membuang napas nya karna ia tau betapa sulit nya membuat gadis keras kepala itu menurut.
......................
Hotel L'Hui
Pria yang menunggu di samping ruangan privat restoran tersebut.
Ia mendapatkan info jika pria yang ia incar berada di tempat itu dan ia pun memanfaatkan nya untuk menjalankan rencana bubuk halusinogen yang ingin ia pakai.
"Hari ini harus berjalan lancar," gumam nya sembari memainkan gelas nya yang berisi secangkir alkohol.
Ia pun mengambil ponsel nya, menelpon seorang wanita yang ia kenal dan menyuruh nya menunggu di kamar yang sudah ia pesan.
...
James melihat datar pada pria di depan nya, ia tau seberapa takut pria paruh baya itu dengan ancaman nya namun ia hanya menunjukkan smirk nya sembari memotong steik lembut di depan nya.
"Bagaimana? Sudah kau pikirkan?" ucap pria lagi menawarkan.
Pria paruh baya itu bernapas panjang, ia takut menjawab namun ia harus menjawab nya, dan ia jugalah yang membuat bocoran info tentang pertemuan nya hari ini.
"Baik, saya setuju." jawab nya sembari mengulurkan tangan nya untuk berjabat.
James tersenyum mendengar nya, ia pun melirik ke arah teh mawar di gelas keramik di depan nya.
Pria paruh baya itu takut ketahuan membocorkan informasi namun ia juga tak ingin nyawa nya melayang dengan cepat karna ancaman pihak lain.
Bagi nya dari pada mati sekarang, ia lebih memilih mati nanti.
...
Sementara itu di ruangan lain, pembicaraan bisnis yang bagi gadis itu membosankan namun juga menentukan kehidupan nya membuat nya tetap mendengarkan dengan seksama.
Sebuah kebetulan yang memang sangat tidak di sengaja ketika semua nya terkumpul dalam satu tempat.
"Saya dengar anda meminta saya untuk datang langsung? Apa alasan nya?" tanya Louise setelah pembicaraan tentang bisnis nya berakhir.
"Saya tak mau menjalin kerja sama dengan anak kemarin sore yang tidak tau apapun," jawab wanita yang terlihat anggun dengan wajah elegan nya.
"Apa saya seperti anak kemarin sore saat anda melihat saya?" tanya nya lagi.
Wanita yang masih terlihat cantik walaupun sudah berumur itu tertawa, "Saya rasa tidak, maka dari saya melanjutkan kerja sama."
Louise tersenyum, satu pekerjaan nya telah selesai oleh nya, pemimpin dari FT grup pun mulai pamit keluar.
"Kalian bisa keluar duluan," ucap nya pada dua pengawal yang bersama nya.
"Kami harus berada di dekat nona, itu perintah yang kami terima." jawab kedua pengawal itu tak mau pergi.
"Aku ada urusan, jangan menganggu ku! Kalian menunggu di mobil saja." ucap Louise yang sedari dulu memang tak suka pengawalan.
Tak ada satupun yang menggubris nya dan kedua nya tetap berdiri di belakang nya.
"Tidak akan ada apa-apa, kalau kalian tetap seperti ini aku bisa pastikan kalian di pecat setelah tugas ini." ucap nya lagi membuang napas kasar.
__ADS_1
Ia hanya ingin sendiri saat ini, karna baginya tak mungkin ada lagi yang meletakkan sesuatu di makanan dan minuman nya karna tadi ia sudah menyantap nya bersama dengan pimpinan FT grup.
"Bingung kan? Kalian keluar saja, tunggu di mobil nanti aku kembali 30 menit lagi." ucap Louise pada pengawal nya.
Mereka pun membuang napas dan pada akhirnya menunduk serta mengikuti perintah Nona muda itu.
Setelah sunyi, gadis itu terdiam melihat cahaya lampu dari jendela kaca besar di samping nya.
...
Sementara itu, pandangan pria itu mulai mengabur, ia menyentuh kepala nya seakan ingin goyah.
"Ada yang memberi ku sesuatu!" gumam nya sembari mulai menekan ponsel nya guna menghubungi seseorang.
Ia menarik napas nya dan berulang kali berusaha menjaga kesadaran nya, ia sudah pernah di latih untuk tahan pada obat bius tidur dan obat per*ngsang.
Namun apa jadinya jika kedua nya di gabung secara bersamaan dan di tambah bubuk halusinogen di dalam nya dengan dosis besar.
Ia pun mulai merasa seseorang memapah nya, namun tubuh nya terlalu tak memiliki daya untuk menolak, ia pun tetap berusaha menyadarkan kesadaran nya.
Bruk!
Tubuh nya di jatuhkan di atas ranjang yang begitu empuk, kesadaran masih ia pulihkan dengan segera.
Namun karna bubuk halusinogen yang ia terima membuat nya tenggelam keinginan dan mimpi buruk nya sekaligus.
Si*l! Kepala ku sakit sekali!
Batin nya saat pandangan nya mengabur, aroma parfum yang ia ingat mirip dengan gadis yang ia kenal tercium di hidung nya.
Satu-satu kancing kemeja nya terbuka saat ia merasakan hawa dingin yang datang.
Pandangan yang mengarahkan nya pada pemilik parfum yang ia kenal itu membuat bayang dari gadis yang sebenarnya tak ada saat ini.
Louise?
Batin nya saat ia mulai tenggelam dengan halusinasi nya, mengarahkan pada seseorang yang sebenar nya sedang sangat ia rindukan.
"James? Kali saja kau akan mengerti aku kan?"
Suara seorang wanita yang kali ini benar-benar membuat nya tersentak.
Bukan! Dia bukan Louise!
Ia pun langsung membalik tubuh nya, menarik tangan wanita itu lalu menindih nya, Satu tangan nya memegang erat di leher wanita itu hingga membuat nya tercekik.
Uhuk!
"James?" panggil nya lagi dengan terbatuk dan wajah yang mulai memerah karna tak bisa bernapas.
"Bella?" gumam pria itu mengernyit.
Ia pun mengambil pena di saku jas nya, ujung pena tajam yang ia arahkan pada leher wanita yang berada di bawah kungkungan nya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya nya lagi.
Kepala nya terasa ingin pecah dengan pandangan yang memutar memandang wanita di bawah tubuh nya.
Tangan nya mulai terasa dingin dengan cairan merah yang keluar dari leher wanita itu.
"Ini aku! Bella! James sakit..." ringis nya sembari berusaha melepaskan tangan pria yang tengah menusuk leher nya perlahan dengan pena.
"Karna itu kau, kenapa kau membawa ku kesini? Kau benar-benar mau mati?" tanya nya lagi sembari semakin menekan pena nya dengan kuat.
Jika saja ia tak pernah berlatih mungkin saat ini adegan panas yang penuh dengan bir*hi sedang terjadi di atas ranjang itu.
Ia pun bangun dan keluar, hanya dua yang akan terjadi pada wanita yang berada di dekat nya saat ini, entah itu mati karna ia bunuh ataupun ia yang meniduri nya karna melihat nya sebagai gadis yang ia inginkan saat berada di dalam pengaruh halusinogen yang kuat.
"James! Tunggu!" ucap Bella yang langsung mengejar pria itu sembari memegang leher nya yang penuh dengan cairan merah kental.
Bruk!
Pria itu mendorong kuat tubuh yang yang tengah meraih dan memegang tangan nya hingga jatuh ke lantai.
"Saat aku kembali normal kau harus katakan semuanya! Itu adalah alasan ku tidak membunuh mu saat ini!" ucap nya saat meninggalkan wanita itu.
Bella mengepal, leher nya memang sangat sakit namun harga diri nya lebih sakit karna pria itu menolak nya mentah-mentah walaupun ia tau sudah di berikan bius, obat per*ngsang, dan bubuk halusinogen dalam dosis besar.
Pria itu berjalan dengan menjaga keseimbangan nya saat semua pandangan nya berputar, ia pun berusaha kembali menelpon Nick.
Langkah nya berhenti tepat di saat seorang gadis itu melihat nya dengan mata terkejut.
Pena yang menjatuhkan tetesan darah berada di tangan pria itu yang juga terlihat berlumuran oleh cairan berwarna merah kental tersebut.
"James? Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu tanpa sadar dengan raut khawatir.
Ia tak tau jika itu bukan lah darah dari pria itu melainkan orang lain.
Pria itu mengernyit, kali ini ia melihat bayang yang sama dengan suara yang sama namun ia ia masih tak mempercayai penglihatan nya karna tau kondisi tubuh nya.
"Louise?" panggil nya memastikan.
Gadis itu hanya mengernyit, ruangan restoran privat memang berada di lantai yang sama dengan lantai sewa kamar presiden suite.
Greb!
Auch!
Louise meringis saat tangan nya tiba-tiba tangan nya di tarik kasar.
"Kau kenapa? Lepas! Sakit James!" ucap nya memberontak sembari memukul tangan pria.
Walaupun terlihat akan goyah dan jatuh saat di dorong namun nyata nya tenaga pria itu masih sangat kuat.
Ia pun dengan cepat mengeluarkan kartu nya yang bisa memakai salah satu kamar hotel disana karna ia memang ingin istirahat satu malam di sana.
Louise tersentak saat pria itu menyeret nya ke kamar lain.
Ia berusaha memegang ujung pintu saat tangan nya di tarik namun tenaga nya kalah jauh dari pria yang sebenarnya sudah terlalu banyak mendapatkan obat-obatan terlarang yang masuk ke dalam tubuh nya.
Bruk!
"Kau gila! Lepas!" teriak nya saat pria itu memegang nya dengan erat.
"Malam ini, ayo lakukan dengan ku." ucap pria itu dengan suara berat.
Ia bisa menahan nya, namun dengan semua obat yang di campur di dalam nya membuat tubuh nya seakan terbakar panas, kepala yang begitu sakit, serta rasa tak nyaman yang begitu menyatu pada nya.
Dan alasan paling utama nya adalah bubuk halusinogen yang di berikan pada nya membuat nya bersikap impulsif dan berbuat sesuatu yang tertahan dalam hati nya.
"Kau tau apa yang kau lakukan sekarang?!" tanya Louise yang semakin mencegah dan berusaha menepis tangan yang mencoba membuka pakaian satu persatu.
Sreg!
__ADS_1
Ia membalik tubuh nya, namun blazer yang ia gunakan di tarik kebelakang hingga terlepas sedangkan ia terhuyung dan jatuh di samping ranjang karna mencoba meraih tas nya yang jatuh.
Gadis itu mencoba menelpon pengawal yang ia suruh tunggu di parkiran sebelum nya.
Auch!
Ia tersentak saat rambut nya yang tergerai tertarik kebelakang dan kembali di hempaskan di ranjang.
Sebenarnya James tak ingin menarik rambut gadis itu namun yang di dapat oleh nya adalah siluet dari helaian halus tersebut.
Humph!
Mata nya membulat sempurna saat bibir nya di lum*t habis ia pun berusaha mendorong nya namun tak bisa dengan tenaga yang ia miliki.
Hingga pria itu mulai terganggu dan melepaskan dasi yang berada di kemeja nya, ia pun mengikatkan nya dengan segera di kedua tangan gadis itu.
"James? Kau sedang tidak sadar! Lepas James!" ucap Louise yang mulai dengan nada gemetar saat ia mulai semakin takut dengan tangan yang di ikat ke atas dan pakaian yang semakin berantakan.
"Aku sadar, kau Louise kan?" ucap nya dengan tatapan mata yang dalam pada gadis itu yang memandang nya dengan iris gemetar.
"Kau gila! Lepas!" ucap nya semakin menggeliat saat tangan nya tak bisa bergerak karna ikatan yang begitu kuat.
Pria itu memandang dengan datar dan menatap gadis itu tatapan yang lekat.
Ia mendekat ke telinga nya sebelum mengecup nya, "I Miss you," bisik nya tanpa sadar.
Ia mengecup pelan dan lembut telinga gadis itu dan mulai mengigit nya kecil.
Awalan yang masih sangat lembut karna ia memang ingin memperlakukan nya seperti itu namun saat obat perangsang tersebut mulai bekerja ketika ia semakin larut dalam hasrat nya membuat nya tak lagi mengecup dengan lembut melainkan mulai mengikuti hawa n*fsu yang membakar.
"James..."
"Berhenti..." lirih gadis itu saat pakaian nya mulai terlepas satu persatu.
Ia memang masih suka atau mungkin perasaan nya lebih dalam dari suka yaitu rasa cinta.
Tapi bukan berarti ia ingin di perlakukan demikian, ia tak ingin di sentuh lagi walaupun itu adalah pria yang sama dengan pria yang ia sukai.
Auch!
Ringis nya saat gumpalan daging empuk nya yang di gigit dan yang lain nya di rem*s dengan erat.
Tak hanya itu semua pakaian nya sudah tersibak menunjukkan bagian privasi yang selalu di tutup agar tak terlihat orang lain.
Humph!
Lum*tan penuh hasrat yang melekat bagai lem yang tak bisa di lepas membuat pria itu meraup dengan agresif.
Louise masih sama, ia berusaha menggeliat ingin melepaskan dirinya namun pria yang semakin tak tahan itu mulai melepaskan pakaian nya juga.
Ungh!
Suara nya tertahan dengan ciuman agresif membuat ringisan gadis itu terbungkam saat pria itu memasuki nya.
Gerakan yang awal nya pelan mulai tak beraturan dan bergerak dengan cepat mengguncang tubuh gadis itu dengan kuat.
Membalik tubuh dan lalu kembali menyatukan dirinya dengan berbagai posisi yang terkadang menyakiti nya.
"James, berhenti aku sedang ham- Humph!" suara lirih nya terbungkam saat ia kembali di cium dan bibir nya yang di hisap serta di limat habis.
Gadis itu tak lagi bisa bicara, tenaga nya mulai habis, bagian bawah tubuh nya mulai terasa perih ketika pria itu tak kunjung berhenti mengguncang nya dengan kasar.
Perih! Kapan dia akan berhenti!
Tak hanya bagian kewan*taan nya yang merasa perih namun perut nya pun mulai terasa sakit dan mulas, ia sudah kehabisan tenaga untuk memberontak dan menggeliat.
Sedangkan bibir nya selalu di bungkam dengan ciuman yang agresif membaut nya tak bisa berkata-kata.
Malam yang semakin larut serta rasa lelah, perih dan sakit yang ia rasakan menyatu dalam dirinya.
Satu hentakan kuat yang membuat mendesis lirih saat rasa perih nya semakin menjadi dan pandangan nya terasa gelap.
Pria itu tak pernah segila ini dalam melakukan hubungan itu dengan nya, semua nya seolah tumpah dengan hasrat yang terpendam sejak lama.
James mengambil napas nya yang terengah-engah dan berat, ia melihat wajah pucat yang terpejam di dalam pelukan nya.
Berbeda dengan nya yang merasa kantuk karna lelah, gadis itu sudah lebih dulu jatuh hilang kesadaran nya karna rasa sakit yang di timbulkan bahkan lebih buruk saat waktu pertama kali pengalaman nya dalam berhubungan.
...
Pukul 02.35 am
James terbangun, kini kesadaran nya sudah kembali, tak butuh waktu lama ia mengembalikan kesadaran nya karna ia memang sudah terlatih sejak awal.
Ia terbangun saat memeluk gadis yang masih terpejam tersebut dengan tangan yang masih di ikat dan membiru, tak hanya tangan namun tubuh gadis itu pun penuh dengan bekas merah dan memar yang menyebar rata.
"Louise?" panggil nya berusaha membangunkan gadis itu.
Ia mencoba memanggil dan menggoyangkan tubuh gadis itu namun tak ada hasil sama sekali hingga ia pun beranjak bangun dan menyibak selimut yang menutup mereka saat ia ingin mengenakan pakaian nya.
"Darah?" gumam nya mengernyit saat melihat noda merah di sprei yang mereka gunakan tadi.
Ia pun menarik selimut nya, dan benar saja banyak darah yang mengotori ranjang yang di lapisi sprei berwarna putih itu yang berasal dari bagian privasi gadis itu.
"Dia datang bulan?" gumam nya lagi namun ia pun ingat dari awal gadis itu tak mengenakan pembalut ataupun sebagainya.
"Apa aku terlalu kasar?" ucap nya lirih yang langsung mengambil ponsel nya.
Kali ini tak ada lagi halangan untuk menelpon bawahan nya.
"Bawa Chiko kesini juga," ucap nya dari telpon pada Nick.
Ia pun melepaskan ikatan di tangan gadis itu dan mengendong nya ke kamar mandi lalu membersihkan nya dan memakai kan nya kemeja nya karna ia sudah merusak pakaian gadis itu.
James memakai celana panjang nya, sembari menunggu bawahan nya membawakan kemeja ganti untuk nya.
Tak lama kemudian Chiko beserta Nick pun datang, James diam tak mengatakan apapun namun ia menunjukkan sprei yang penuh darah itu.
"Kenapa dia berdarah?" bukan nya mengatakan yang terjadi namun pria itu langsung menanyakan hal yang membuat nya penasaran.
Chiko termanggu melihat nya, "Apa yang tuan lakukan?" tanya nya terkejut dan langsung mendekat serta memeriksa gadis itu.
James hanya diam karna ia sedang tak ingin memberikan penjelasan namun ia ingin segera tau kondisi gadis itu.
"Dia datang bulan? Atau aku yang terlalu kasar pada nya tadi?" tanya nya lagi.
Chiko masih serius memeriksa gadis itu terutama menyentuh perut nya dan memeriksa kandungan nya.
"Datang bulan? Nona sedang hamil!" ucap nya saat membalas pertanyaan tuan nya.
Bagaikan tersambar petir, James terkejut yang hampir membuat nya terjatuh karna terkejut.
"Hamil? Dia?" tanya nya lagi dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejut nya.
__ADS_1