(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Dark man


__ADS_3

Sekolah.


Peristiwa jatuh nya nya salah satu anak didik di kelas pemula itu membuat sedikit kehebohan dengan ambulance yang datang.


"Bian jatuh juga tadi?" tanya Mis. Camilla pada anak kecil itu.


Bianca menggeleng, ia menunduk dan tak mengatakan apapun lagi.


"Mis? Bian boleh main lagi?" tanya nya pada sang guru.


Gadis kecil itu masih tak terlalu pandai mengatur ekspresi nya, ia belum terbiasa dengan pura-pura atau pun bersandiwara dengan baik.


Namun setidak nya ia tau dengan baik jika ia tak boleh sembarangan memberi tau apa yang ia lakukan kecuali pada sang ayah.


Wanita itu terdiam sejenak, mata coklat yang terlihat bulat dan jernih. Wajah yang polos dan menggemaskan dengan percikan darah yang mengenai nya begitu juga dengan seragam yang di kenakan.


"Bian ganti seragam dulu ya?" ucap Mis. Camila sebelum ia mengizinkan murid nya yang menggemaskan itu untuk kembali bermain.


Bianca mengangguk, seragam olahraga memang di tinggal satu untuk sekolah apabila ada siswa yang bermain dan membuat pakaian mereka kotor atau pun apa bila pergantian pelajaran olahraha dan liar ruangan.


Wanita itu menggendong murid cantik nya dan membawa nya ke kamar mandi, membersihkan sebagian tubuh nya yang terkena darah dan kemudian memanggil orang tua dari gadis kecil itu agar beristirahat di rumah karna baru saja melihat hal yang mengeringkan.


"Bian tadi ga takut?" tanya nya pada anak kecil itu.


Bianca menggeleng, "Luth kan jatuh dari tangga bukan di makan montel!" ucap nya yang memberi kesaksian jika teman nya jatuh dari tangga.


Memang apa yang ia katakan benar, namun ia tak mengatakan jika diri nya lah yang mendorong teman nya hingga terjatuh lalu memukul nya sampai tak sadar.


Wanita itu hanya tersenyum tipis, mungkin anak kecil itu terkejut namun tak mengatakan nya dan memberikan reaksi yang berbeda.


30 menit kemudian.


Pria itu memasuki wilayah sekolah di mana putri nya belajar.


Ia segera datang begitu mendengar berita kecelakaan dari guru yang mengajar putri nya.


"Daddy!"


Suara yang menggemaskan itu memanggil nya, iris coklat nya yang bersinar di bawah mentari cerah itu langsung teralihkan pada makhluk mungil yang tersenyum dengan cerah pada nya itu.


"Bian? Bian ga apa-apa?" tanya nya yang langsung mendekat dan melihat ke arah putri nya untuk mencari di mana bagian yang terluka.


"Dia tidak apa-apa, tapi ada kecelakaan yang terjadi dan melibatkan Bianca sedikit." ucap Mis. Camila.


Ia pun juga menjelaskan apa yang terjadi sebelum nya, James mendengarkan dan sesekali ekor mata nya melirik ke arah wajah putri nya.


"Baik, mungkin dia sedikit takut jadi seperti itu." ucap nya yang menggendong Bianca dan membawa nya ke mobil.


......................


Mansion Dachinko


Pria itu masih menggandeng tangan mungil putri nya yang berjalan dengan melompat itu saat menjadikan tangan sang ayah sebagai pegangan.


"Bian?" panggil nya yang beranjak berjongkok sembari melihat ke arah wajah cantik itu.


"Ya, Dad?" jawab gadis kecil itu menatap sang ayah, ia berkedip dengan mata bulat nya, "Daddy? Tadi kan ada temen yang nakal sama Bian, jadi teman nya Bian ilangin!" ucap nya pada sang ayah dengan tersenyum.


"Jadi tadi yang buat kecelakaan Bian?" tanya pria itu menatap wajah bulat yang polos dan menggemaskan itu.


Bianca mengangguk dengan semnagat, ia berharap sang ayah memuji nya karna ia sudah bisa menyelesaikan masalah nya sendiri.


"Ada yang lihat? Atau ada yang seperti itu juga?" tanya nya sembari menunjuk ke arah cctv.


Gadis kecil itu menggeleng atas ucapan sang ayah, "Ga ada." jawab nya yang menatap dengan wajah berseri.


Melihat wajah semangat putri nya yang tampak tak terguncang sama sekali tentu tak akan bisa membuat pria itu untuk marah.


Tangan nya mengusap kepala putri kecil nya, "Pintar, anak Daddy sekarang jadi putri pemberani." ucap nya yang memberikan apa yang di nanti oleh putri nya.


Bianca tersenyum saat mendengar pujian sang ayah.


"Kalau Daddy boleh tau siapa nama nya? Teman Bian yang nakal?" tanya nya pada putri cantik nya untuk lebih mudah mencari tau siapa yang harus ia urus.


"Luth!" jawab Bianca pada sang ayah.


"Luth?" tanya James mengulang atas nama yang ia dengar.


"Iya, Daddy!" jawab gadis kecil itu pada sang ayah.


Pria itu memperhatikan wajah putri nya sejenak, "Bian? Lain kali kalau ada situasi seperti ini lagi Bian harus pura-pura sedih ya?" ucap nya yang memberi arahan pada putri nya.


"Kenapa pula-pula sedih? Bian kan lagi seneng?" tanya gadis kecil itu dengan bingung.


"Karna biar Bian ga di marahi Bu guru, Bian mau di marahi Bu guru?" tanya nya pada putri nya.


Gadis kecil itu menggelengkan kepala nya, ia menatap sang ayah dengan mata bulat nya yang jernih, "Bian kan ga nakal, Bian ga mau di malahin!"


James menarik napas nya, ia kembali mengusap pipi lembut putri nya. Tak ada kata marah untuk gadis kecil itu.


"Nah sekarang, Bian mau ga buat rahasia sama Daddy? Jadi Mommy ga boleh tau ini dan semua orang juga ga boleh tau, cuma kita yang tau." ucap nya pada putri kecil nya karna ia tau jika gadis itu sampai mengetahui segala nya maka akan menimbulkan masalah.


"Kenapa?" tanya Bianca yang memiringkan kepala nya menatap sang ayah.


"Karna nanti Mommy bisa sedih, Bian mau buat Mommy sedih?" James yang mengatakan sesuatu yang tidak di inginkan putri nya.


"Kenapa sedih? Yang anak Mommy kan Bian bukan Luth?" tanya nya pada sang ayah.


"Karna Bian kan udah terlanjur main rahasia sama Daddy, nah kalau Mommy tau nanti Mommy bisa sedih, kalau Mommy sedih nanti Mommy ga mau main sama Bian lagi..." ucap nya pada putri kecil nya.


Bianca tampak menggembung kan pipi nya, ia berpikir sejenak dan menatap sang ayah kembali.


"Iya deh! Bian ga mau Mommy sedih." ucap nya pada sang ayah.


James tersenyum, ia menatap mata bulat yang penuh semnagat itu dan ia tak ingin meredupkan nya karna ingat dengan cahaya redup dari putri nya saat trauma pasca penculikan.


"Bian kan anak baik! Iya kan Dad?" tanya nya lagi pada sang ayah karna ia sungguh masih tak mengerti apa yang ia lakukan itu benar dan salah.


Perbuatan kecil yang menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang berubah sikap lalu sikap berubah menjadi perilaku dan perilaku akan berubah menjadi karakter.


Semua yang berawal dari hal yang kecil dan tampak sepele.


"Iya, Bian anak baik. Sekarang mau Daddy kasih coklat?" tanya pada putri kecil nya.


"Mau! Hehe..." suara mungil yang menggemaskan itu tertawa.


James beranjak menggendong tubuh mungil putri nya dan membawa nya ke lemari yang penuh dengan camilan yang di sukai anak perempuan cantik itu.


...


Skip


James memanggil Nick ke ruang kerja nya dan tentu tak lama kemudian pria itu mendatangi nya.

__ADS_1


"Cari tau anak yang bernama Luth atau sejenisnya di kelas Bianca," ucap nya memberi perintah pada bawahan nya itu.


"Luth?" tanya Nick mengkonfirmasi nama yang akan ia cari.


"Ya, dia terlibat kecelakaan kecil hari nya dan Bianca penyebab nya. Cari juga cctv di sekitar nya dan hancurkan kalau ada yang akan merugikan Bianca nanti." ucap nya pada Nick.


Nick mengangguk, ia tak terkejut karna bagi nya hidup memang sebuah kejutan.


"Lalu apa yang harus saya lakukan dengan anak yang bernama Luth itu?" tanya nya pada tuan nya.


"Jika dia sudah mati kau tidak perlu melakukan apapun, dan kalau dia masih hidup kau harus singkirkan." ucap nya dengan mata yang dingin.


Ia memang tak peduli tentang kehidupan anak lain nya selain putri nya sendiri. Dan tentu jika ia membiarkan teman putri nya itu hidup maka di kemudian hari pasti akan membuat putri nya tersandung masalah.


"Baik, tuan." ucap Nick yang mematuhi tanpa melawan sama sekali.


James menarik napas nya, ia menyuruh pria itu keluar


......................


3 Hari kemudian


JBS Hospital


Louise memasuki ruangan sang kakak, tentu ia datang karna ingin menanyakan sesuatu.


"Kosong? Tadi kan dia di sini?" gumam nya yang tak melihat tanda-tanda adanya sang kakak di ruangan nya.


"Hum?" mata nya mengernyit, ia melihat tas wanita yang berada di atas sofa sebelum mendengar suara yang lain.


"Ugh..."


"Ahh..."


"Shh..."


Semakin ia melangkah masuk suara itu semakin jelas karna berada di balik ruangan rak hiasan di tempat itu.


Louise memejam mendengar nya, ia tentu tau tas milik siapa yang berada di ruangan saudara kembar nya dan kemana saudara kembar nya berada.


"Kakak laknat! Dia kasih pekerjaan selalu banyak tau nya malah-" ucap nya yang memilih menarik napas nya karna mengatur rasa kesal nya pada sang kakak.


Gadis itu memilih berbalik dan meninggalkan kertas dokumen yang ia bawa di atas meja kerja saudara kembar nya.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Louise melihat ke arah ponsel nya yang bergetar setelah ia meninggalkan ruangan sang kakak dan ingin kembali ke ruangan nya, seseorang yang ia kenali memanggil nya.


"Mau makan siang bersama?"


Tak ada basa-basi di telpon yang ia terima, langsung ajakan untuk melakukan sesuatu.


"Makan siang?" tanya nya yang mengernyit sembari melihat ke jam di pergelangan tangan nya dan memang saat ini dekat dengan waktu makan siang.


"Ya sudah, di mana?" tanya nya berbalik pada pria itu.


"Aku jemput, tunggu aku."


Panggilan telpon tersebut pun berakhir, Louise membuang napas nya lirih saat melihat layar ponsel nya yang sudah kembali menu utama itu.


......................


Restoran


Gadis itu duduk di sofa yang di sediakan oleh restoran yang memiliki nama itu dan saat ini tengah menunggu makanan yang di pesan.


Louise yang menoleh, awal nya ia masih berfokus dengan ponsel nya. Ia pun meletakan ponsel nya dan bersandar ke sofa yang ia duduki.


Tubuh nya menghadap ke samping melihat punggung pria yang beranjak pergi itu.


"Daddy?"


James menghentikan langkah nya, ia memiringkan kepala nya saat mendengar sesuatu yang ia rasa berasal dari suara yang ia kenali.


"Pesankan es krim vanila ya, yang ekstrak vanila ya Dad." ucap gadis itu sembari mengedipkan satu mata nya dan tersenyum.



James terdiam sejenak, tumben sekali gadis itu menganggu nya.


"Are you teasing me?" tanya nya yang merasa gadis itu sedang menggoda nya.


"No, I just wanna extra vanilla ice cream." jawab gadis itu.


"But I can give you more vanilla," ucap nya dengan wajah yang tentu langsung memikirkan sesuatu yang lain di kepala nya.


"Ice cream! Not vanilla you have in mind!" ucap Louise yang saat ini tau apa yang terlintas di pikiran pria di di depan nya.


"Oh, okey..." jawab James yang terlihat kecewa dari raut nya.


Ia pun berbalik untuk mengangkat telpon yang masuk ke ponsel nya sekaligus memesan kan apa yang di inginkan oleh ibu dari putri nya itu.


Louise tertawa kecil melihat nya, memang ia tadi memberikan godaan kecil pada pria itu. Hanya mencari sesuatu yang berbeda karna ia tau sekarang pria itu akan menuruti semua perkataan nya.


10 menit kemudian.


Semua makanan yang di pesan telah tersedia di atas meja tersebut.


Sedangkan gadis itu masih memakan es krim nya lebih dulu.


"Kurang? Aku punya banyak, kau mau coba juga?" tanya nya yang melihat ke arah gadis yang tengah memakan es krim nya itu.


"Ga mau, vanila nya beda." jawab Louise yang menatap ke arah pria itu.


James menarik napas nya, secarik senyuman simpul naik ke sudut bibir nya dan terus melihat ke arah gadis itu.


"Kenapa melihat ku terus?" tanya Louise yang menatap ke arah pria itu.


"Tidak ada, hanya mau lihat saja." jawab pria itu yang terus menatap dengan senyuman di wajah nya yang tak bisa ia gambarkan apa maksud dari senyuman itu.


Louise meletakkan sendok es krim itu dan sedikit mencondongkan tubuh nya ke arah pria yang duduk di depan nya.


"Kau sedang tidak memikirkan hal m*sum saat melihat ku kan?" tanya nya dengan bibir tersenyum namun mata yang kesal.


"Ups! Seperti nya aku ketahuan," jawab James singkat pada gadis di depan nya.


Louise langsung tersentak dengan wajah yang berubah kesal.


"Apa kalian selalu memikirkan seperti itu?" tanya nya yang kembali menyekop es krim di depan nya lagi.


"Kalian?" tanya James mengernyit. Tidak mungkin ada pria lain selain ia dan mantan tunangan gadis itu yang pernah menyentuh seseorang yang tepat di depan nya saat ini.


"Hm, di tempat kerja, di restoran, di semua nya!" gerutu Louise pada pria di depan nya.

__ADS_1


"Kau pernah melakukan di ruang kerja mu?" tanya James pada gadis itu tanpa sadar saat ia merasa tak nyaman dan sedikit cemburu mengingat mantan tunangan gadis itu yang sempat menyentuh nya juga.


"Bukan aku tapi Louis," jawab nya yang kembali kesal.


Ia bukan kesal karna sang kakak bisa berci*nta dengan bebas, namun yang membuat nya kesal adalah kenapa saat sang kakak menambah beban kerja nya dan namun malah bersenang-senang.


"Louis?" tanya pria itu kembali mengulang.


Louise langsung membulat kan mata nya, ia menatap ke arah pria itu lagi saat ia sadar jika ia mengatakan sesuatu yang salah.


"Ya, maksud ku. Ku rasa aku sedikit kelelahan." ucap nya pada pria itu.


James mengangguk kecil, ia tak tertarik dengan hal apapun kecuali yang berhubungan dengan seseorang yang ia minati.


"Mau ku pijat nanti? Aku akan jemput kau sepulang kerja nanti," ucap nya pada gadis itu.


"Kau yakin aku tidak akan semakin lelah saat mendapatkan pijatan dari mu nanti?" tanya Louise yang menghela napas nya menatap ke arah pria itu.


James tersenyum kecil, "Tidak tapi kau akan puas." ucap nya yang penuh dengan banyak arti.


"Oh ya, tadi kau tanya apa semua pria hanya memikirkan 'Itu' saja kan? Jawaban nya tidak, karna kalau kami hanya memikirkan hal seperti itu maka tidak ada waktu bekerja dan tanpa kerja tidak akan ada uang." ucap nya yang merupakan pria yang penuh materialistis.


"Kau sangat peduli tentang uang seperti nya..." ucap Louise pada pria itu.


"Tentu, karna kau terlahir kaya kau tidak tau kalau uang sangat berarti." ucap nya yang tau bagaimana sulit nya kehidupan mencari uang untuk makan setelah kedua orang tua nya meninggal.


Maka dari itu saat ia sudah memiliki segala nya ia membuat putri nya tidak pernah kekurangan materi apapun.


......................


Mansion Dachinko


James menjemput gadis itu sepulang kerja, dan Louise langsung mengikuti sebelum pria itu bertemu dengan sang kakak dan pada akhirnya bertengkar lagi.


"Mommy!"


Suara kecil yang menggemaskan itu datang mendekat.


"Bian?" ucap nya yang menangkap tubuh mungil yang berlari ke arah nya.


"Mommy kenapa ga pelnah jemput Bian?" tanya nya dengan wajah yang lesu saat ia merasa ibu nya hanya sekali menjemput nya dan tak pernah mengantar nya ke sekolah.


"Mommy kan lagi sibuk, nanti kalau Mommy udah ga sibuk lagi pasti bakal jemput Bian." ucap nya pada putri kecil nya yang tampak lesu itu.


"Mommy lebih pilih sibuk dali pada Bian?" tanya Bianca pada sang ibu yang kini sudah lebih banyak memiliki kosa kata yang baru.


Louise diam sejenak, "Mommy lebih pilih Bian, Bian kan anak Mommy." ucap nya yang mengecup pipi bulat itu.


Sedangkan pria yang menunggu putri nya itu mulai kehabisan kesabaran, ia tau jika gadis itu selalu pulang cepat dari mansion nya dan ia tak akan bisa memiliki banyak waktu untuk diri nya.


"Nah! Sekarang Bianca main di sana dulu, sama kakak pengasuh." ucap nya yang mengambil alih gendongan putri nya.


"Tapi kan Bian mau sama Mommy," jawab Bianca yang tak ingin sang ayah memindahkan nya.


"Nanti Daddy kasih es krim yang banyak kalau Bian nurut," bisik pria itu pada putri nya yang saat ini sedang ia gendong.


"Benelan? Janji ya?" ucap nya pada sang ayah yang langsung tertarik.


"Tentu!" jawab James yang membangun kesepakatan dengan putri nya sendiri dan kemudian menurunkan gendongan nya.


"Kalian bicara apa?" tanya Louise yang melihat ke arah anak kecil yang tampak berlari ke arah berbeda itu.


"Tidak ada, kau mau ku buatkan minum?" tanya nya yang membutuhkan waktu berdua.


"Hm," jawab Louise singkat pada pria itu.


James mengangguk kecil dan kemudian berbalik meninggalkan gadis itu sendirian.


Louise menoleh ke mansion megah yang sempat mengurung nya selama beberapa tahun lama nya.


Kaki nya berjalan menyusuri beberapa tempat yang bahkan dulu tak pernah ia masuki karna merasa begitu membenci nya.


Dan sekarang?


Mungkin masih sama, karna ia masih tak bisa memasuki kamar yang dulu ia tinggali saat di kurung ataupun kamar pria itu lagi.


Seperti rasa takut yang akan menelan nya lebih dulu jika kembali memasuki tempat yang memiliki banyak kenangan pahit itu.


"Hum?" mata nya mengandar ke arah Poto di salah satu ruangan mansion tersebut.


Satu frame yang berisikan lima orang pria yang tengah duduk dan berdiri.



"Kenapa wajah nya tetap sama saja?" gumam nya yang tersenyum kecil melihat nya.


"Louise?"


Suara yang memanggil membuat nya menoleh.


"Kau sedang apa?" tanya nya pada gadis itu.


"Ini foto mu? Kapan?" tanya Louise yang membalik frame foto yang ia lihat pada pria di depan nya.


James terdiam sejenak, wajah dan eskpresi nya langsung berubah.


"Sudah lama, letakkan saja itu dan kita keluar." ucap nya yang mengambil frame foto tersebut dan menarik gadis itu keluar.


"Siapa mereka?" tanya Louise pada pria di depan nya.


"Saudara angkat? Aku pernah bilang dulu ada mengadopsi ku kan?" ucap nya yang mengingatkan kembali.


Louise mengangguk, "Lalu kau masih berhubungan dengan mereka?" tanya nya pada pria itu.


James diam sejenak, "Tidak, mereka sudah mati sekarang. Aku membunuh mereka." ucap nya pada gadis itu.


Louise yang kali ini terdiam, ia tersentak dan kemudian mengatur ekspresi nya lagi.


"Kau masih melakukan itu? Maksud ku pekerjaan yang ilegal seperti itu?" tanya Louise.


"Tidak semua nya, aku juga punya banyak properti dan perusahaan di bawah nama ku." jawab James yang memang saat ini ia memiliki banyak kekayaan.


"Kalau begitu apa kau bisa berhenti? Kau bilang kau mencintai ku kan? Kalau begitu berhenti dari melakukan hal seperti itu!" Louise yang sebelum nya lupa sejenak tentang siapa pria di depan nya.


"Tidak," jawab nya dengan singkat dan tegas.


"Aku sudah terlanjur jatuh ke dalam nya dan malah kau takut terluka lagi aku akan melindungi mu, kau tidak akan terluka lagi kecuali aku mati." sambung nya.


Louise diam, wajah dan ekspresi pria itu tampak serius dan bahkan seperti tak akan mempertimbangkan sedikitpun permintaan nya.


Kegelapan yang sudah terlanjur terbentuk di belakang pria itu dan tentu tak akan bisa di hapuskan lagi.


Ia mulai kembali memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Apa aku bisa hidup dangan nya?


Sesuatu yang tak akan bisa menghilang lagi bahkan jika ia sudah banyak memberikan cahaya untuk pria itu karna kegelapan selalu mengikuti di bawah kaki nya.


__ADS_2