
Apart L'Boneu
Wanita itu menatap ke arah makanan yang di berikan pada nya, ia menarik napas nya dan tentu ia sudah merasa kenyang namun pria itu tetap menyuruh nya untuk menemani nya makan.
"Kurang suka?" tanya Louis menatap ke arah wanita yang sudah tampak kenyang itu.
"Suka, tapi kenyang!" ucap Clara yang kesal pada pria di depan nya.
"Padahal aku belajar memasak untuk mu," ucap nya pria itu lirih.
Clara menarik napas nya, ia meletakkan sendok nya dan menatap ke arah pria yang tampak tak ingin beranjak dari apart nya.
"Katakan, terjadi sesuatu?" tanya Clara yang menatap ke arah pria di depan nya.
Louis menarik napas nya, ia bangun dan duduk di samping wanita itu.
"Cla?" panggil nya yang langsung menyandarkan kepala nya di pundak wanita itu.
"Hm?" wanita itu menoleh, ia menatap ke arah pria yang berubah menjadi manja itu.
"Ku pikir aku sudah di nodai..." ucap nya yang menyandarkan kepala nya di tubuh harum yang ramping itu.
"Ha? A.. apa?" tanya Clara yang bingung dan seperti masih belum loading.
Louis masih tak mengatakan apapun, namun saat ia mengingat kejadian siang tadi dan membuat gosip di rumah sakit membuat nya kembali kesal dan ingin memaki lagi.
"Pria si*lan benar-benar, dia membuat gosip dan mengejar ku. Aku merinding..." ucap nya yang tampak gemetar geli saat mengingat nya.
"Oh? Yang siang tadi?" tanya wanita itu dengan wajah yang terlihat ingin tertawa.
Louis mengernyit, ia menatap ke arah wanita yang terlihat mengetahui cerita yang ia bawa.
"Kau tau?" tanya nya menatap dengan bingung.
Clara mengangguk, "Ya, Louise yang bilang tadi." jawab nya dengan wajah yang ingin tertawa.
"Kasihan sekali kucing ku, tadi terkejut ya?" ucap nya yang mengusap kepala pria itu.
"Ku... kucing? Maksud ku, apa kau tidak bisa menyamakan dengan sesuatu yang lain?" tanya Louis yang menatap dengan tatapan kesal pada wanita yang malah menertawakan nya itu.
"Kucing hitam yang besar kan bagus, mirip macan kumbang. Cantik lagi? Iya kan?" tanya nya pada pria yang tak suka di sebut kucing itu.
"Aku cantik?" tanya Louis mengernyit dengan tatapan yang bingung.
Satu anggukan yang tampak jujur itu membuat nya kehabisan kata-kata.
"Cla!" ucap nya yang tampak kesal namun juga ingin merengek pada wanita itu.
"Uhh, marah? Sini peluk," ucap Clara yang tertawa kecil.
Louis diam tak mengatakan apapun, saat wanita itu memeluk nya.
"Kau tidak apa-apa kalau tidak pulang malam ini?" tanya nya pada wanita yang masih memeluk nya.
Clara langsung melepaskan pelukan nya beserta mengusap bibir nya dan berdiri.
"Papa ku nanti marah kalau aku ga pulang," ucap nya yang terlihat sudah siap di antarkan kembali ke rumah nya.
"Benarkah? Tapi aku sudah minta izin," ucap Louis yang tersenyum pada wanita itu.
"Benar, kau bukan kucing tapi rubah." ucap Clara yang menggelengkan kepala nya.
"Mau nonton tv dulu? Setelah kita mandi dan tidur," jawab Louis dengan tersenyum.
Clara tak mengatakan apapun, mana mungkin pria itu membiarkan nya tidur begitu saja?
Greb!
"Kita nonton tv," ucap nya yang menggendong wanita itu seperti karung beras.
"Ya ampun..." gumam wanita itu yang tak bisa mengatakan apapun lagi.
......................
Tiga hari kemudian.
Kediaman Rai
Louise mengernyit melihat ke arah kertas yang berisikan biodata beberapa pria beserta dengan Poto nya.
"Maksud mu apa memberi aku ini?" tanya nya mengernyit.
"Pilih salah satu dan kencan dengan mereka," ucap nya yang tersenyum menatap ke arah adik nya.
"Kencan? Kau suruh aku menemui pria lagi? Zayn belum cukup?" tanya nya yang mengingatkan kegagalan hubungan nya karna dorongan sang kakak.
"Mungkin kau tidak merasakan apapun karna tumbuh dengan Zayn juga, jadi kalau bertemu dengan pria lain mungkin akan memberikan sedikit efek kan?" tanya Louis tersenyum pada adik nya.
Selama tiga hari ia mencari pria baik lain nya yang bagi nya cocok untuk bersanding dengan adik nya.
"Kau lakukan ini karna masih kesal dengan nya?" tanya Louise pada sang kakak yang mengatakan tentang kejadian beberapa hari sebelum nya.
"Jangan bicarakan itu lagi, kau tau seperti apa yang mereka bicarakan di rumah sakit?" tanya Louis kesal dengan gosip angin yang menimpa nama baik nya.
Louise menarik napas nya, ia mengambil salah satu kertas yang berisikan data seperti CV itu dan melihat nya.
"Kalau aku tidak mau?" tanya nya yang melihat ke arah sang kakak.
"Kalau begitu kau terus di rumah selama tiga bulan, pekerjaan yang mengharuskan mu keluar kota atau negeri akan ku gantikan." jawab Louis pada sang adik.
Walaupun mereka sama-sama memiliki kendali untuk memerintah kediaman atau grup nya namun pria itu yang lebih memiliki kekuasaan dari pada saudari nya.
__ADS_1
Louise menatap kesal, sang kakak tak akan pernah berhenti untuk mendorong nya pada pria lain.
"Hanya makan malam, kalau kau tak suka aku akan cari pria lain yang lebih baik." ucap nya pada sang adik.
"Dasar! Keras kepala!" decak Louise yang menatap jengkel pada sang kakak.
"Kau sedang menyebutkan diri mu sendiri?" tanya pria itu dengan senyuman tanpa dosa.
"Pria menyebalkan! Ku rasa Clara akan menceraikan mu lagi." ucap nya pada sang kakak.
"Kau sedang memberi kutukan?" tanya Louis yang memiringkan kepala nya dan tentu tak ingin bercerai dua kali.
"Entahlah, menurut mu." jawab gadis itu berdecak.
Louis menarik napas nya, ia tak lagi melihat kaki nya dan duduk dengan sedikit condong melihat ke arah sang adik. "Jadi jawaban nya Ya atau Tidak?" tanya pria itu pada saudari nya.
"Kau bertanya tapi seperti memaksa," ucap Louise kesal.
"Aku tidak memaksa, kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Malah aku membiarkan mu istirahat selama tiga bulan." ucap nya yang tersenyum karna tau adik nya tak akan tahan berdiam diri di kediaman nya bahkan hanya satu Minggu.
"Bukan istirahat! Di kurung itu nama nya!" sahut Louise dengan kesal.
"Jadi kau akan makan malam dengan siapa?" tanya Louis yang sama sekali tak terpengaruh dengan sikap ketus sang adik.
"Yang ini," jawab Louise yang memilih dengan asal agar membuat sang kakak tak menganggu nya lagi.
"Baik, jam 7 malam hari Minggu di restoran R'scue." ucap nya pada sang adik.
"Kau memilih restoran hotel? Kau tidak takut kalau dia membawa ku kamar setelah makan malam?" tanya Louise pada sang kakak yang ingin memberikan stigma buruk.
Tak!
Pria itu tersenyum saat menjentik dahi adik nya, "Seharusnya kau tidak jadi dokter tapi jadi pengarang." ucap nya yang tentu tau siapa yang ia jodohkan dengan adik nya.
"Ck!" decak gadis itu sembari mengusap kepala nya.
......................
Mansion Dachinko
Louise menatap ke arah putri nya yang terlihat berlatih bela diri, tampak menggemaskan saat masih kecil namun ia sedikit merasa berbeda.
"Kenapa latihan nya sedikit berbeda?" tanya nya nya sembari memiringkan kepala nya menatap ke arah putri nya.
"Ya? Itu karna..." ucap James yang sedikit harus mencari alasan karna ia bukan melatih putri nya untuk melindungi diri melainkan untuk membunuh lawan.
"Dia belajar bela diri campuran," ucap nya pada gadis itu yang mengatakan alasan yang cukup bisa di terima.
Louise mengangguk, ia belajar sedikit bela diri juga dari pria itu karna sejak kecil ia tak pernah mendapatkan pendidikan seperti itu selain sang kakak akibat keterbatasan fisik nya yang lemah. Jadi ia tak tau apapun tentang trik perkelahian itu.
"Mommy!"
Mata coklat yang berbinar itu menatap ke arah sang ibu yang menunggu nya.
"Mommy nanti, mau main sama Bian?" tanya nya yang tampak senang sang ibu datang.
Gadis itu mengangguk, ia mencubit pipi bulat yang sejak tadi sangat membuat tangan nya gatal ingin mencubit.
"Iya, Bian mau kita main apa?" tanya nya pada putri cantik nya.
"Main Piuw! Piuw!" ucap nya pada sang ibu dengan melompat senang.
Louise mengernyit, ia menatap ke arah pria yang berada di samping nya.
James mengernyit namun ia dengan cepat langsung menangkup tubuh mungil itu.
"Main Piuw! Piuw! sama Daddy ya? Kalau sama Mommy main yang lain." ucap nya pada putri nya karna ia sudah tau apa yang di maksud.
Tak mungkin ia membiarkan gadis itu tau kalau ia mengajari putri nya berburu.
"Yang dia maksud itu apa?" tanya Louise pada pria yang tampak menyembunyikan sesuatu itu.
"Dia maksud belajar memasak," ucap James yang menyebutkan sesuatu yang memang gadis itu tak bisa lakukan.
"Myy? Mommy?" panggil Bianca yang kembali menggoyangkan tangan sang ibu agar melihat nya lagi.
"Iya?" jawab nya yang menoleh ke arah mata bulat yang menatap nya dengan penuh sinar itu.
"Besok Mommy datang lagi?" tanya anak perempuan yang menggemaskan itu.
Louise memutar mata ke atas mengingat jika ia apa bisa datang atau tidak.
"Mommy ga bisa datang besok, karna Mommy ada urusan." ucap nya pada gadis kecil itu.
"Yah..." Bianca tampak lesu saat mendengar sang ibu tak bisa datang.
"Bian? Kata nya mau kasih Mommy coklat? Mana coklat nya?" tanya Louise yang ingat apa yang di katakan putri nya kemarin.
"Oh iya! Bental!" ucap gadis mungil itu yang langsung berlari mengambil coklat yang bagi nya enak sehingga ingin ia tunjukkan untuk ibu nya.
James melihat ke arah gadis itu, "Besok kan libur, kau ada pekerjaan juga?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.
"Besok? Sebenar nya aku..." ucap Louise yang mendekat ke telinga pria itu.
"Aku punya kencan buta besok, di hotel." bisik nya pada pria itu.
Mata coklat itu pria itu membulat seketika, "Kencan buta? Siapa yang mengajukan nya duluan? Kakak mu?" tanya nya yang menebak.
Louise mengangguk saat pria itu bertanya.
"Hotel mana?" tanya pria itu yang tampak ingin mengacaukan nya.
__ADS_1
"Coba cari tau sendiri, jam 7 malam." ucap Louise tersenyum yang melihat pria itu tampak tak suka namun tak bisa mengatakan apapun.
James tak mengatakan apapun, ia diam beberapa saat sampai putri nya kembali muncul dengan coklat yang berada di tangan nya.
"Bianca?" gumam nya yang memikirkan sesuatu saat melihat ke arah wajah yang menggemaskan itu.
......................
Hotel R'scue
Pria yang bernama Jeff Cornel berusia 30 tahun dan merupakan putra pertama dari perusahan vendor makanan terbesar di negara nya.
Ia menunggu selama 10 menit sampai gadis itu datang.
"Jeff Cornel?"
Suara seorang wanita membuat nya menoleh dan menengandah pada seseorang yang terlihat mengenakan balutan dress berwarna marun yang membentuk tubuh indah nya.
"Ya," jawab nya tersenyum.
"Elouise Steinfeld Rai," ucap Louise yang juga memperkenalkan diri nya.
Ia pun duduk di depan pria yang menjadi partner kencan buta nya malam ini, Jeff pun lantas memesan beberapa menu umum yang biasa di sukai oleh orang-orang.
"Kau terlihat lebih cantik dari pada di foto," ucap nya yang menatap ke arah gadis di depan nya.
"Ya, terimakasih." jawab Louise singkat.
Jeff pun mencoba beberapa topik yang bisa ia gunakan untuk perbincangan di pertemuan pertama nya namun gadis di depan nya selalu menjawab singkat dan tak pernah menanyakan apapun.
"Lalu? Kau lebih suka pantai atau pe-"
"Mommy!"
Ucapan pria itu terpotong, suara anak kecil yang terdengar nyaring membuat beberapa mata menoleh termasuk gadis yang tengah memakan sup pasta nya nya itu.
"Bian? Kenapa bisa di sini?" tanya nya yang menangkup tubuh mungil itu dan membawa nya ke kursi yang berada di samping nya.
Jeff terdiam beberapa saat, namun ia mengambil napas nya. Teman nya sudah memberi tau jika gadis yang ia kencani saat ini sudah memiliki seorang putri.
"That's your kid?" tanya Jeff yang menatap ke arah wajah mungil yang menatap nya dengan tatapan tajam seperti tak suka ibu nya sedang bersama dengan diri nya.
"Ya, Kau sudah di beri tau kan?" tanya Louise yang memberikan anggukan kecil pada pria itu.
Jeff mengangguk, karna memang Louis sudah memberi tau nya dari awal, "With your ex boyfriend, right?" tanya nya sekali lagi pada gadis itu.
Louise mengangguk, ia menatap ke arah putri nya yang entah dari mana bisa menghampiri nya.
"Hey? Nama nya sia-"
"Mommy? Kok Mommy makan sama paman ini sih? Kenapa ga sama Daddy?" tanya Bianca yang tak mendengarkan seseorang yang ia anggap akan mengambil ibu nya.
"Ya?" Lousie mengernyit, ia menatap ke arah putri nya lalu melihat ke sekeliling karna tak mungkin gadis kecil itu bisa berkeliaran jika tak ada yang membawa nya.
"Mommy ga pelgi enak enak sama Daddy lagi?" tanya dengan wajah yang polos.
"Uhuk!"
Jeff hampir tersedak mendengar nya, ia memiringkan kepala nya melihat ke arah teman kencan nya.
"Ka... kapan Mommy?" tanya Louise yang menatap bingung dan tentu ia merasa tak pernah memperlihatkan adegan int*m pada putri nya.
"Waktu itu! Yang Daddy kasih Mommy mantla silil!" ucap nya yang menatap sang ibu.
Tentu ia tak bermaksud untuk mengatakan hal yang vulgar namun gadis kecil itu kali ini di biarkan sang ayah dalam kesalahpahaman yang menyesatkan dan tentu harus membuat orang lain ikut tersesat.
"Kau masih berhubungan dengan mantan pacar mu?" tanya Jeff pada gadis itu.
"Iya, eh? Tidak maksud nya." Jawab Louise yang memang sedikit memiliki hubungan yang ambigu.
"Padahal waktu Mommy kan tidul sama Daddy," ucap nya yang menatap kesal pada sang ibu.
Mata hijau itu menoleh pada putri nya, "Kapan?" tanya nya yang bingung bagaimana putri nya bisa berkata demikian.
Bianca mendekat di telinga sang ibu, "Yang Bianca ikut loh! Bian ga mau paman itu ikut g juga!" bisik nya pada sang ibu yang mengingatkan jika ia pernah tidur bertiga.
Namun pria yang mendengar nya tentu mengartikan kata tidur dengan hal yang berbeda, Jeff kehabisan kata-kata. Ia bangun dan menatap sejenak lalu tersenyum.
"Sebaik nya kau lebih berhati-hati di depan putri mu, dia masih kecil." ucap yang menatap dengan senyuman yang menahan sesuatu.
"Ya," jawab Louise lirih sembari mengangguk.
"Aku pergi lebih dulu, aku lupa jika ada urusan lain malam ini. Makanan nya akan ku bayar. Senang berkenalan dengan mu." ucap nya yang tersenyum sekaligus undur diri.
"Baik, hati-hati di jalan." jawab Louise yang menatap ke arah pria yang tak tahan bicara dengan nya lagi itu.
Melihat paman yang ingin mengambil ibu nya sudah pergi, Bianca tampak tersenyum.
"Yeeyy! Paman nakal nya pelgi!" ucap gadis kecil itu yang tampak senang.
"Bian? Siapa yang ngajari bicara seperti tadi?" tanya Louise pada putri nya karna terus mengatakan hal yang membuat orang lain salah paham.
"Daddy!" jawab gadis kecil itu dengan senyuman cerah.
"Daddy nya mana sekarang?" tanya Louise pada putri nya.
"Itu!" jawab nya yang menunjuk ke tempat sang ayah duduk.
Gadis itu tak melihat ada nya pria itu sampai salah satu pengunjung berdiri dan membalik tubuh nya.
"Bagaimana kencan nya?" tanya pria itu dari jauh dengan gerakan bibir tanpa suara dan senyuman.
__ADS_1
"Astaga, dia mengajari apa pada anak ku yang polos." ucap Louise menarik napas nya sembari memeluk putri nya.
"Hum?" Bianca merasa sang ibu memeluk nya dan tentu ia menyukai nya.