
Mansion Dachinko
Mata bulat yang berwarna coklat jernih itu mengintip ketika kaki kecil nya berjinjit untuk melihat ke dalam keranjang bayi itu.
"Adik nya jangan di pukul sama di gigit lagi ya nona?" ucap salah satu pengasuh pada nona muda nya yang selalu melakukan sesuatu pada kedua bayi mungil itu.
Gadis kecil itu mengangguk, tangan nya masih memegang mangkuk es krim dengan sendok yang selalu memiliki banyak suapan masuk ke dalam mulut nya.
"Kok meleka tau nya nangis aja sih? Di iket aja mulut nya bial diam." ucap nya yang sembari melihat ke arah adik nya yang menangis dan kemudian tangisan nya di tularkan pada kembaran nya.
"Iya, seperti nya tuan Arche dan tuan Aldrich lapar." ucap nya pada anak kecil yang melihat ke arah kedua adik kembar nya itu.
"Kasih makan lah, kan banyak makanan." jawab Bianca yang duduk di salah satu sofa sembari mengayunkan kaki nya yang belum menginjak lantai ketika ia duduk.
Tangan nya masih memakan es krim nya, rasa manis dan dingin yang meleleh di mulut nya membuat nya menjadikan makanan itu sebagai favorit nya.
Pengasuh tersebut diam sejenak, memang harus nya saat ini ia bersama dengan rekan nya namun rekan nya tak kunjung kembali dari kamar mandi dan rekan pengasuh nya yang lain pun belum datang membuat nya berjaga sendiri sejak 20 menit yang lalu.
Ia ingin mengambil asi yang sudah di sediakan di dalam dot karna botol asi yang bersama nya sudah habis.
Masalah nya ia takut meninggalkan kedua bayi mungil itu pada sang kakak yang memiliki wajah cantik namun memiliki pemikiran yang tak secantik wajah nya.
"Nona? Saya akan ambil susu tuan muda, nona jangan gigit atau pukul ya? Jangan di cubit juga." ucap nya yang berbalik dan mengatakan demikian pada anak kecil itu.
Bianca mengangguk, padahal ia tak menikam atau memotong adik-adik nya menjadi beberapa bagian namun semua orang yang berada di dekat nya selalu meminta nya untuk tidak melakukan apapun.
Hua...
Huhu...
Suara tangisan kedua bayi yang saling bersahutan itu membuat mata nya menoleh dan menatap tertarik.
"Kalau Bian sayang adik nanti Mommy makin sayang Bian." ucap nya lirih yang merasa kini sang ibu lebih memperhatikan nya dan memang hal itu harus di lakukan agar membuat nya diam.
"Alce sama Aldilp mau es klim? Enak loh!" ucap nya yang melihat ke arah kedua bayi yang menggeliat itu.
Mana mungkin ia tau anak bayi masih tak boleh memakan apapun.
"Nih," gadis kecil itu mulai tersenyum sembari memberikan es krim yang ia makan pada kedua adik nya.
Kali ini tak berniat sama sekali untuk mencelakai nya kecuali ingin mendapat pujian sang ibu.
"Hua... Eng..."
Mata bulat itu dah tubuh yang menggeliat itu perlahan diam saat merasakan rasa manis yang dingin itu.
"Eh? Alce diam? Eh? Ini Alce atau Aldilp?" Bianca masih kebingungan.
Walau adik nya itu merupakan bayi kembar non identik namun tetap saja wajah semua bayi itu sama sehingga membuat nya kesulitan membedakan mana nama untuk adik adik nya sebelum para bayi mungil itu beranjak tumbuh.
"Gak tau deh!" ucap nya yang mulai memberikan lagi es krim yang ia pegang lagi.
"Astaga! Nona!" pengasuh yang baru datang itu langsung terkejut.
Ia pun langsung menghentikan tangan nona muda nya yang memberikan es krim ke dalam mulut kecil itu.
Mata coklat itu langsung menatap dengan tajam, bukan karna tangan nya di ambil namun karna es krim nya yang jatuh akibat ia yang terkejut.
"Apa sih! Sekarang liat es klim Bian!" ucap nya yang juga langsung memarahi pengasuh adik nya.
__ADS_1
"Nona? Nona tidak boleh memberi adik nona es krim," ucap pengasuh tersebut.
"Keributan apa ini?"
Suara bariton itu membuat suasana hening sejenak, anak kecil yang cantik itu langsung berlari ke sang ayah.
"Daddy!"
Langkah kaki yang mungil itu langsung memeluk erat ayah kesayangan nya.
"Daddy? Masa tadi Bian kasih adik bayi nya es klim tapi di malahin. Padahal kan Bian sayang adik..." ucap yang mencari pembelaan.
James menoleh ke arah bayi-bayi mungil nya yang masih terlihat bekas es krim.
"Pintar anak Daddy, tapi adik bayi nya jangan di kasih es krim lagi sampai udah sebesar Bian ya? Dan Bian juga tidak salah karna pengasuh yang lalai itu yang salah." ucap nya sembari mengusap kepala putri nya.
Tentu nya pengasuh yang lalai menjaga anak-anak nya lah yang salah bukan pada putri cantik nya yang masih tak tau apa yang boleh di berikan pada bayi dan apa yang tidak boleh di berikan.
"Bian mau main di taman? Tadi Daddy beli kelinci cantik, mata nya berwarna Ruby." ucap James pada putri nya.
"Kalau di cincang boleh? Bian mau ambil mata kelinci nya untuk boneka Bian!" ucap gadis kecil itu dengan tatapan semnagat.
"Boleh, asalkan jangan sampai Mommy tau." ucap James sembari mengusap kepala putri nya.
Bianca tersenyum senang, ia langsung berlari dan tak lagi peduli dengan es krim nya yang tumpah.
Kini pria itu mendekat ke arah putra-putra yang sudah tampak tenang karna di berikan makanan yang sebenarnya bisa membahayakan itu.
"Siapa saja yang harus nya berjaga?" tanya pria itu sembari menatap ke arah pengasuh yang tampak takut itu.
"Itu... Ada Han-"
Ia pun mengayunkan pelan keranjang bayi nya saat menelepon seseorang untuk langsung memeriksa keadaan bayi nya.
Tentu ia tak bisa memarahi putri nya yang memberikan es krim itu karna ia tau jika ia melakukan nya mungkin gadis kecil itu akan menganggap jika ia di sisihkan.
Namun tentu hal itu pun juga tidak harus di biarkan dan perlu di beri tau.
......................
Kediaman Rai
"Boleh? Kami bisa adopsi?" tanya Clara dengan mata nya yang berbinar.
Louise mengangguk pelan, "James sudah setuju jadi dokumen adopsi nya bisa segera di urus." ucap nya yang memberi tau kabar yang tentu akan di sukai oleh ipar nya itu.
Louis diam sejenak, berdasarkan pembicaraan nya beberapa waktu lalu ia tau jika suami adik nya itu tak mau menyetujui adopsi.
"Anak itu tinggal di sini? Kau sudah bicarakan itu dengan dia?" tanya nya sekali lagi.
Karna yang ia minta adalah nama belakang untuk anak adik nya, namun ia tak begitu berharap untuk merawat nya secara langsung karena tau hal itu akan sedikit sulit untuk mendapat izin dari ayah nya.
"Ya, dia tau dan dia juga sudah memberikan izin." ucap Louise pada sang kakak.
......................
Satu Minggu kemudian.
Perjanjian dan surat kuasa di atas kertas mulai menunggu tanda tangan.
__ADS_1
Pria itu sedikit berat untuk menuliskan nama nya dan memberikan nya di atas kertas putih itu.
Karna begitu ia memberikan tanda tangan maka setelah itu nama belakang salah satu putra nya akan berganti.
"Aku mau tambahkan satu syarat lagi." ucap nya yang sebelum menandatangani surat setuju adopsi putra nya itu.
"Apa itu?" tentu Louis akan menyetujui syarat yang di berikan karna ia pun juga bisa memberikan kehidupan yang terbaik untuk anak adik nya yang beberapa saat lagi akan menjadi anak nya yang sah secara hukum.
"Dia tetap harus tau orang tua kandung nya, dan aku juga tidak mau kalau sampai anak ku nanti memanggil ku paman." ucap nya yang sangat takut akan hal itu.
"Tenang saja, aku tidak berniat menjauhkan nya dari mu. Aku akan beri tau kalau kami orang tua angkat nya dan kalian orang tua kandung nya termasuk situasi yang membuat kami yang mengasuh nya." ucap Louis yang tentu hal tersebut tak boleh ia pungkiri.
James diam sejenak dan kemudian memberikan tanda tangan nya.
Pengacara yang berada di tempat itu langsung mengambil surat-surat yang sudah di tanda tangani itu.
"Aldrich? Hey sayang?" Clara langsung menggendong bayi mungil itu dalam pelukan nya.
Kini ia sudah bisa mengajari anak itu untuk memanggil nya dengan panggilan seorang ibu.
James diam tak mengatakan apapun, mata nya melirik ke arah anak yang berada di dalam gendongan wanita namun bukan istri nya.
"James? Kita pulang? Bian kan mau makan malam?" ucap nya pada suami nya yang masih tak melepaskan pandangan mata nya.
"Ya," jawab nya singkat dan mulai bangun.
......................
Mansion Dachinko
"Padahal kita beli barang kembar sebelum nya," gumam pria itu menghela napas nya ketika ia berada di kamar bayi nya.
"James? Kan ga apa-apa lagi pula dia kan ga di bawa keluar negeri?" ucap Louise sembari memeluk suami nya.
"Ya, aku hanya sedikit kehilangan karna dia tidak tinggal dengan kita." ucap nya pada istri nya sembari mengusap rambut halus itu.
"Oh iya? Aku ingat sesuatu? Kau kan juga punya anak yang lain kan? Arnold?" ucap Louise yang baru teringat dengan anak pertama pria itu yang bahkan tak muncul di pernikahan nya.
"Oh dia? Aku lupa memberi tau mu. Dia bukan anak kandung ku, wajah kami mirip karna dia anak sepupu dari ayah ku." ucap James yang menjelaskan nya.
"Terus kenapa dia bisa mantan mu? Apa jangan-jangan..."
"Bella juga bukan ibu kandung nya, aku tidak tau kenapa anak itu bisa bersama dengan nya." Potong James langsung.
Louise mengernyit, namun wajah yang serius itu tampak tak berbohong sama sekali.
"Lalu anak itu di mana?" tanya nya dengan bingung.
"Secara hukum aku masih ayah nya dan kau langsung masuk menjadi ibu tiri nya tapi dia di Australia." ucap nya pada sang istri.
"Kenapa dia jauh sekali?" Louise memang tak tau apapun yang terjadi mengapa anak lelaki itu di kirim ke tempat yang jauh.
Ia bahkan juga tidak tau sama sekali bagaimana mantan pacar pria itu meninggal.
"Karna ku pikir itu yang terbaik," jawab James yang saat itu memang hal yang paling baik yang ia pikirkan.
Louise mengangguk, "Aku akan menemui nya, boleh?" tanya nya yang kali ini menatap ke arah sang suami.
James menarik napas nya, "Kau boleh menemui nya kalau mau." ucap nya yang tak melarang sang istri sama sekali ketika wanita itu menginginkan sesuatu.
__ADS_1