
Clara terdiam, ia menautkan jemari nya satu sama lain. Lidah nya masih kelu tak dapat menjawab pertanyaan yang di berikan pada nya.
"Kenapa tanya begitu?" ucap nya lirih sembari menatap ke arah Louise mencoba mengalihkan perhatian gadis itu.
"Kalau kau tidak menginginkan nya dan kali ini dia memaksa mu lagi aku akan membantu mu untuk pergi," ucap nya pada wanita itu.
"Pergi? Ke mana?" tanya Clara mengernyit.
"Kalau pun dia tau kau tinggal di mana, dia tetap tidak akan bisa menemui mu." ucap Louise pada wanita itu.
Clara terdiam, ia bahkan sudah memiliki waktu tiga tahun dan sama sekali tak berhubungan dengan mantan suami nya itu.
"Tidak, aku tidak menginginkan nya lagi." ucap nya lirih.
"Aku masih marah, tapi aku suka kalau dia membujuk ku." sambung nya dengan suara rendah.
"Hanya saja..." ucap nya yang tampak ragu.
"Hanya saja apa?" tanya Louise mengernyit ingin wanita itu menyambungkan kalimat nya lagi.
"Aku tidak bisa hamil atau pun memiliki anak. Itu..." ucap nya lirih.
"Tidak apa-apa, kalau dia tetap mau menikahi mu walaupun sudah tau berarti dia juga akan menanggung pilihan nya." ucap Louise pada wanita itu.
"Kau tidak perlu minta maaf, mungkin aku yang harus minta maaf pada mu. Jadi apapun yang kau lakukan sekarang aku harap kau bahagia." sambung gadis itu dengan senyuman tipis.
Clara diam, kemudian ia tersenyum lega. "Padahal kalian saudara, tapi kenapa bisa sangat berbeda?"
"Karna aku lebih cantik?" jawab Louise sangat candaan.
Clara tersenyum, ia tak mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
......................
Pukul 09.40 pm
Bianca tak tidur, ia masih bercerita di pangkuan sang ayah.
Sedangkan pria itu tampak sibuk mengurus berkas di depan nya sembari mendengarkan ocehan putri kecil kesayangan nya itu.
"Jadi Dad, nanti kalau Bian udah besal Bian bakal nikah sama Paman Eyn!" ucap Bianca yang langsung membuat James melihat ke arah putri kecil nya.
"Apa? Coba bilang apa tadi?" tanya nya pada putri kecil nya.
"Hum?" mata coklat itu tampak bingung melihat sang ayah yang ingin mendengar ulang perkataan nya.
"Bian mau nikah!" sambung nya lagi dengan wajah full tersenyum.
"Nikah? Kau tau apa itu arti nya menikah?" tanya James yang kali ini memperhatikan ocehan putri kecil nya.
"Udah deh, Bian mau makan coklat dulu." ucap Bianca yang turun dan pangkuan sang ayah dan langsung beranjak berlari dengan kaki kecil nya.
Sedangkan James terdiam, ia membuang napas nya dan menggeleng.
Hanya ucapan anak kecil berumur tiga tahun, mana mungkin ia terlalu menganggap nya serius.
......................
Dua hari kemudian
Kediaman Rai
Louise sudah kembali ke kediaman nya yang nyaman. Ia memasuki kamar yang ia rindukan itu.
__ADS_1
"Kau mau air?"
Gadis itu memutar kepala nya, ia menatap ke arah seseorang yang bertanya.
"Es krim? Boleh?" tanya nya pada pria yang menjadi tunangan nya itu.
"Tidak, aku akan bawakan jus saja nanti." jawab Zayn menggeleng atas permintaan gadis itu dan menggantikan dengan yang lain.
Louise mengerucut namun ekspresi nya cepat berubah saat ia di bawakan jus apel.
"Kenapa kau buat yayasan tanpa sepengetahuan ku?" tanya nya yang menarik napas nya dan ingin bicara tentang sesuatu yang di bangun untuk nya.
"Memang nya harus? Kan aku bangun nya dengan uang ku." jawab Louise yang terlihat santai sembari meminum jus nya.
"Tentu, walau pun pakai uang mu tapi itu untuk ku dan di bangun atas nama ku. Kenapa kau melakukan sampai sejauh itu?" tanya nya lagi.
Louise meletakkan gelas nya ke atas meja, ia menatap ke arah pria itu dan menarik napas nya.
"Kenapa kau sangat sensitif?" tanya nya yang melihat ke arah mata yang memandangnya lurus.
"Tidak apa-apa, hanya saja kalau kau mau sesuatu aku juga bisa memberikan nya. Dan kalau kau mau punya pasangan yang memiliki sesuatu seperti itu kau bisa bilang, aku akan bangun dengan uang ku." ucap nya pada gadis itu.
"Tidak, aku mau memberikan nya," ucap Louise menggeleng.
Zayn tak bisa mengatakan apapun lagi dan hanya tersenyum.
"Kalau begitu, itu artinya kita harus cepat menikah kan?" tanya nya lagi dengan senyuman lirih.
Setiap kali ia bertanya tentang hal itu, jantung nya selalu berdebar lebih cepat menantikan jawaban gadis itu.
Louise diam sejenak namun ia mengangguk pelan, "Ya, tentu..." jawab nya lirih sembari membuang arah mata nya.
__ADS_1