(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Nama nya?


__ADS_3

Rumah sakit


Setelah pemeriksaan tak ada apapun yang terjadi dengan gadis remaja itu. Darah yang berceceran di seragam nya pun ternyata bukan milik nya.


"Anda wali nya? Bisa isi formulir kelengkapan identitas?" tanya salah satu perawat yang datang di bangsal IGD itu.


Pria itu mengangguk dan beranjak berjalan ke meja pendaftaran.


Mata coklat yang bulat itu melihat, ia menatap ke arah pria yang hanya terlihat punggung nya itu.


Tangan nya memegang dan mengambil botol infus yang masih tergantung di samping nya agar ia bisa berjalan.


"Nama dari pasien yang anda bawa tadi?" tanya perawat tersebut yang mulai bertanya tentang identitas gadis remaja itu.


"Hm? Nama?" pria itu tampak bingung karna ia pun tak tau siapa yang ia bawa karna tak ada name tag yang bisa ia lihat tadi.


"Bianca, Bianca Anastasya Dachinko."


Suara yang terdengar itu langsung membuat kepala berputar melihat ke arah sisi kanan tempat di mana nama itu terdengar.


"Bianca?" pria itu mengulang sejenak saat mendengar nama nya.


Anak perempuan yang dulu nya sangat menggemaskan dengan mata bulat dan pipi yang menggembung serta cerewet itu kini sudah mulai dewasa.


Pria itu tersenyum kecil, pantas saja ia merasa wajah gadis remaja itu mirip seseorang.


"Ada lagi yang bisa ku beri tau kan?" tanya Bianca yang tersenyum sembari melihat ke arah pria di samping nya.


"Tidak, kembali ke tempat tidur mu. Bukan nya kau bilang tadi sedang sakit?" tanya pria itu yang menyuruh untuk kembali ke ranjang nya semula.


"Ha? Tapi kan paman belum tau nama ku?" ucap Bianca yang terkejut saat pria itu mengarahkan bahu nya kembali ke ranjang pasien nya di ruang IGD itu.


Beberapa saat kemudian.


Gadis itu melihat ke arah pria yang datang pada nya, setelah berbicara di pendaftaran tadi tentang identitas nya.


"Kau sudah besar sekarang, dulu kan sangat kecil." ucap nya yang tersenyum menatap ke arah gadis itu.


"Tunggu? Paman kenal aku?" tanya Bianca yang mengernyit karna ia merasa baru pertama kali melihat ke arah pria itu.


"Dulu aku lebih sering memanggil mu Asya dari pada Bianca karna yang aku dengar nama kedua dari belakang," ucap nya dengan tawa kecil.


Ia tak membenci anak perempuan itu, ia juga tak membenci siapapun untuk kegagalan asmara nya walaupun ia masih merasakan sakit di hati nya.


Namun tetap saja, luka yang mengering pun meninggalkan bekas.


"Aku sudah hubungi polisi untuk supir taksi yang tadi dan hubungi Paman mu, lalu soal yang terjadi dengan supir taksi itu aku mengatakan kalau dia terluka ketika kau mencoba melindungi diri mu," sambung nya pada gadis itu.

__ADS_1


"Tapi pertanyaan ku belum di jawab! Paman kenal aku? Kapan? Memang nya kapan aku kecil? Masa aku ga ingat sama sekali!" ucap Bianca yang menunjukkan penyanggahan di ucapan yang baru ia dengar.


"Waktu itu kau masih memakai popok, kau rewel suka menangis, sedikit nakal dan sangat menggemaskan." ucap nya dengan senyuman kecil.


Mata coklat itu membulat mendengar nya, dari semua yang bisa di ingat kenapa ada kata 'Popok'?


"Ka.. kapan aku pakai popok! Aku ti.. tidak pakai popok sejak usia satu tahun! Berarti paman bertemu aku waktu ba.. bayi!" ucap nya yang menyanggah dan kesal dengan pria itu walau pun ia menganggap wajah nya tampan dan jatuh hati dalam sekali lihat.


"Satu tahun? Benarkah? Padahal aku ingat waktu itu usia mu tiga tahun. Aku kan yang pernah ganti popok mu juga," ucap pria itu yang memiringkan kepala nya mencoba mengingat nya dulu.


Blush!


Wajah gadis itu memerah mendengar nya, ini adalah pertama kali nya ia memiliki ketertarikan dengan pria dan pria yang ia sukai itu malah membicarakan sesuatu yang bagi nya memalukan.


"Kenapa kau yang ganti! Memang nya kau ayah ku!" ucap nya yang kesal dan tak lagi memikirkan bahasa formal lagi.


"Aku memang hampir jadi ayah mu," jawab pria itu dengan nada yang tampak datar seperti menunjukkan kejujuran.


"A.. Apa? Da.. dasar br*ngsek!" ucap nya yang tampa sadar mengatakan kata umpatan karna ia merasa malu untuk sesuatu.


"Kau ma.. mau bicara omo- Hup!" Kali ini ucapan nya terbungkam, ia tak bisa mengatakan apapun ketika bibir nya di bungkam dengan capitan tangan.


"Kita di IGD, di sini banyak orang yang lebih tua jadi jangan berisik." ucap nya sembari melepaskan tangan nya.


Bianca menatap dengan bibir mengerucut, bahkan setelah di maki pun pria itu masih berbicara dengan nada yang lembut pada nya.


Pria itu melihat ke arah arloji nya, butuh sekitar 30 menit lagi untuk teman nya itu datang jika dari jarak yang ia dengar saat menelpon nya tadi.


Dan tentu alasan ia tidak menelpon Ibu atau Ayah gadis remaja itu karna ia sudah memblokir nya cukup lama.


"Aku bukan bayi!" ucap nya yang kesal sembari membuang wajah nya.


Pria itu hanya tersenyum kecil mendengar nya, ia beranjak bangun dan pergi meninggalkan tempat pasien di bangsal IGD itu.


Bianca menoleh menatap ke arah pria yang meninggalkan nya begitu saja bahkan tak ada kata pamitan.


"Ck! Ku pikir dia orang baik! Rupa nya engga! Cuma muka aja yang ganteng!" ucap nya yang berdecak kesal karna di tinggalkan padahal paman nya belum datang.


Bibir yang menggerutu dan wajah yang terus menekuk itu masih belum berhenti sampai,


"Eh?" Gadis itu tersentak, sesuatu yang dingin menyentuh pipi nya dan membuat nya menoleh ke belakang karna ia sedang berada di posisi tidur miring setelah pria yang bagi nya asing itu pergi.


"Kau mau makan ini? Aku tidak temukan yang coklat," ucap pria itu yang menyodorkan es krim strawberry pada gadis yang tertidur itu.


Bianca beranjak bangun, tangan nya melihat ke arah pria yang memberikan nya es krim itu.


Tangan nya mengambil dan melihat ke arah es yang berwarna merah muda dengan toping selai di atas nya.

__ADS_1


Ia terdiam beberapa saat, padahal ia tadi menggerutu dan terus mengutuk kesal pada pria yang membantu nya itu.


"Hm? Seperti nya paman mu sudah datang," ucap pria itu saat melihat seseorang dari kejauhan.


"Paman?" bibir merah muda itu bergumam mendengar ucapan pria di depan nya dan tentu arah mata nya juga menatap ke arah persis seperti seseorang yang berdiri di samping ranjang pasien nya itu.


Mata bulat itu melihat ke arah paman nya yang datang dengan tergesa dan tampak khawatir.


Tap!


Bianca tersentak, puncak kepala nya tersentuh dengan sesuatu.


"Eh?"


Tubuh nya memundur sedikit ketika ia menoleh dan melihat pria yang tiba-tiba menunduk untuk menyamai tinggi wajah nya.


"Dari hasil tes tadi kau baik-baik saja, dan seperti nya begitu." gumam pria itu sembari memperhatikan wajah gadis di depan nya dengan seksama.


Gadis itu masih tak mengatakan apapun selain melihat ke arah wajah pria di depan nya yang tengah memperhatikan diri nya.


"Karna kau anak yang baik, jangan mengumpat di tempat umum dan jangan terlalu percaya pada orang lain. Jaga diri mu dan semoga kau tidak terluka lagi." ucap pria itu dengan nada lembut dan senyuman tipis sembari mengusap puncak kepala gadis remaja masih terdiam itu.


"Makan es krim mu sebelum mencair," ucap nya yang berdiri dengan tegap lagi dan kemudian berbalik pergi karna sudah melihat paman gadis itu datang.


Bianca masih terdiam tak mengatakan apapun, ia berkedip dan membeku untuk beberapa saat.


"Me.. memang nya dia siapa nyuruh-nyuruh..." ucap nya lirih dengan gugup ketika ia baru pertama kali merasakan 'salah tingkah' saat bersama seseorang.


"Eh tunggu! Dia siapa? Astaga! Belum tanya nama nya!" ucap nya sedetik kemudian yang baru sadar jika ia memang tak tau siapa pria itu.


"Bianca!"


Suara yang memanggil nama nya itu menghilangkan rasa penasaran nya untuk beberapa saat.


"Kenapa bisa begini? Darah nya banyak sekali!" ucap Louis yang baru saja menghampiri keponakan nya itu dan melihat ke arah wajah gadis remaja itu.


"Bukan darah ku kok," ucap nya yang melihat kekhawatiran paman nya.


"Paman?" Bianca memegang tangan yang masih menjepit kedua sisi pipi nya hingga menggembung itu.


"Ya? Kenapa? Ada yang sakit? Mau kita cek ulang di rumah sakit Paman?" tanya Louis yang antusias mendengarkan keponakan kesayangan nya itu.


"Paman tau ga nama paman yang tadi? Itu..."


"Yang bulu mata nya lentik, terus berotot ada jenggot nya tipis-tipis, yang genteng itu loh..." ucap nya bertanya pada paman nya karna pria yang tadi membantu nya lah yang memanggil paman nya.


"Siapa? Kenapa yang kau tanya pertama kali hal seperti itu? Kepala mu terbentur?" ucap Louis yang malah semakin khawatir dengan keponakan nya.

__ADS_1


"Paman!" Bianca mendengus kesal melihat paman nya yang bukan menjawab malah memiliki kekhawatiran yang tak perlu pada nya.


__ADS_2