(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Jamur


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Dress room


Balutan gaun yang indah terlihat cocok di tubuh wanita yang memiliki kulit seputih susu itu.


"Bukan nya ini terlalu mahal?" tanya nya lirih pada gadis yang berada di samping nya.


"Mahal? Ku rasa tidak, di pernikahan mu sebelum nya dia juga belikan dari designer yang sama." jawab gadis itu sembari melihat kecantikan calon kakak ipar nya dan mengirimkan Poto nya pada saudara nya.


"Yang sebelum nya juga? Kalau tau begitu aku akan menjual nya saat kami bercerai dulu." jawab Clara dengan candaan kecil.


Louise tersenyum, ia menunjukkan hasil foto yang ia ambil barusan, "Mana yang harus ku kirim?" tanya nya pada wanita yang masih berbalut dress pengantin nya.


"Bukan nya ini sama saja ya?" tanya nya yang melihat hampir tak ada beda nya.


"Beda Cla! Ini kan mata nya lihat ke kanan, yang ini cahaya nya lebih terang, terus yang ini bunga nya ketutup." ucap Louise pada wanita itu.


"Oh? Ku rasa begitu..." Clara tampak memiringkan kepala nya melihat dengan bingung namun tak mengatakan apapun.


"Yang ini saja, seperti nya lebih bagus." ucap nya yang memilih gambar yang bagi nya sama saja dengan yang lain nya.


"Semua aja deh," ucap Louise yang malah mengirimkan semua foto yang ia ambil.


"Terus tadi ngapain tanya?" Clara mengernyitkan dahi nya sembari menggelengkan kecil kepala nya.


"Formalitas aja," jawab Louise dengan tawa kecil.


"Dia pasti kesal sekali karna harus tidak bisa ikut," sambung gadis itu dengan tawa kecil mengingat sang yang tengah melakukan perjalanan bisnis yang tak bisa di undur.


Clara hanya tersenyum mendengar nya, sekali lagi ia melihat ke arah cermin yang memantulkan bayangan diri nya.


...


Mata coklat itu menatap ke arah gadis nya yang masih duduk di samping calon ipar nya.


"Itu..."


"Aku harus pergi?" tanya Clara yang sedikit bingung.


Tak ada reaksi atau senyuman ramah dari pria di depan nya, hanya wajah datar dengan mata yang dingin membuat suasana sedikit menekan.


Louise membuang napas nya lirih, "Kenapa kau datang?" tanya nya yang menatap ke arah pria di depan nya.


"Karna aku rindu?" jawab pria itu dengan senyuman kecil yang mulai terukir saat ia berbicara dengan gadis nya.


"Sekarang sudah lihat kan? Kami pergi lebih dulu," ucap nya yang tampak tak begitu ingin hari nya di kacaukan.


Memang waktu bersama dengan pria yang ia sukai adalah waktu yang menyenangkan.


Namun ia juga membutuhkan ruang untuk berteman dan bermain dengan orang-orang yang satu frekuensi dengan nya.


"Ck! Tega sekali," decak James yang membuang wajah nya dengan kesal.


Clara menatap sejenak dengan menggerakkan ekor mata nya ke arah Louise, "Aku pulang dari sini saja, lagi pula kan ada supir." ucap nya yang tersenyum kaku.


"Sekarang? Tapi tadi kan kita mau spa dulu?" tanya Louise yang langsung mencegah wanita itu untuk kembali lebih dulu.


"Iya, tapi aku lupa kalau ada urusan." jawab nya dengan tersenyum.


"Benarkah?" Louise terlihat lesu.


James tersenyum mendengar nya, "Kalau begitu aku antar sampai mobil." ucap nya yang tak sabar mengirim wanita itu pergi.


"Eh? Iya..." jawab Clara singkat yang bingung bagaimana memperlakukan pria yang tampak tak memiliki emosi itu dan kini tersenyum membuat nya merasa merinding.


James membukakan pintu mobil yang menjemput Clara dan menunggu wanita itu untuk masuk.


"Semoga selamat sampai tujuan," ucap James singkat yang menutup pintu nya.


Setelah mobil berwarna hitam itu pergi, ia menoleh ke arah Louise yang berdiri melihat nya dari belakang.


"Mau spa dengan ku saja?" tanya nya yang menawarkan pengganti karna mengambil teman gadis itu.


"Padahal aku mau spa di..." ucap nya yang berjinjit dan berbisik pada pria itu saat akan mengatakan nama tempat nya.


Ia kesal karna pria di depan nya membuat calon kakak ipar nya kabur padahal masih memiliki rencana dengan nya.


James membulatkan mata nya, ia tau nama tempat yang populer untuk melakukan lebih dari perawatan dan pijatan tubuh.


"Louise!" ucap nya yang menatap tajam.


Namun gadis itu tampak tak peduli dan bersikap seperti memeluk diri nya sendiri.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? Aku punya pacar tapi dia adalah orang suci yang tidak mau melakukan nya sebelum menikah..." ucap nya dengan nada meledek.


"Karna aku sudah janji dengan kakak mu," ucap nya yang membuang napas nya dengan kesal.


Ia memiliki satu prinsip yang tak boleh di patahkan, yaitu hanya membuat janji yang bisa ia tepati.


"Tapi kau sungguh akan ke sana?" tanya James yang kembali ke topik pembicaraan yang membuat nya kesal.


"Aku rasa aku..." ucap nya yang lirih dan memegang dada bidang pria itu yang berbalut dengan kemeja berwarna biru.


Tangan nya terus mengusap pelan hingga turun ke bawah.


"Louise?" panggil James yang langsung menangkap tangan yang nakal yang menjahili nya itu.


"Iya? Ada apa?" tanya gadis itu dengan senyuman yang terlihat tak tau apapun namun mengusap sesuatu di balik celana yang di kenakan pria di depan nya.


"Kita sedang di luar," ucap James yang menangkap kedua tangan gadis itu.


Louise menangguk kecil, ia mendekat, "Tapi tadi tongkat sihir yang buat Bianca kenapa jadi besar? Padahal cuma di elus dari luar." bisik nya dengan senyuman kecil dan berbalik.


James menahan napas nya, ia ingin menarik gadis itu ke tempat yang sunyi dan melucuti pakaian nya kemudian saling terhubung.


"Ck! Janji si*lan!" decak nya yang kesal.


Louise berbalik pria itu masih berdiri di tempat nya semula.


"Kenapa diam saja? Aku mau ke mansion mu, mau ketemu Bian," ucap nya yang tentu mengajak pria itu untuk berjalan.


"Ya?" James yang masih tenggelam dengan sentuhan kecil gadis itu berjalan mengikuti.


Sudah memasuki bulan ke 4 ia tak lagi menyentuh gadis di depan nya walau ia punya banyak kesempatan.


......................


Mansion Dachinko.


Karna bayi ceria yang cerewet itu belum pulang dari sekolah maka Louise menunggu sejenak di mansion yang besar itu.


Perasaan takut nya masih belum hilang sama sepenuh nya, dan kenangan buruk nya juga masih tercetak jelas di kepala nya.


"James? Ada yang mau ku bicarakan." ucap nya yang berjalan ke arah pria yang baru saja ingin mendatangi nya.


"Oh ya? Apa itu?" tanya nya yang mengernyit.


Louise menarik napas nya, kini pria itu sudah berada di depan nya.


"Baik, katakan." jawab James yang menyetujui nya bahkan sebelum ia mendengar syarat yang akan di ajukan.


"Yang pertama aku tidak mau tinggal di mansion ini, terserah kau mau cari mansion lain, kediaman lain, atau apartemen tapi tidak di sini." ucap nya yang menyebutkan keinginan nya.


James terdiam sejenak, ia menatap wajah yang tak berubah dari semenjak ia pertama kali bertemu dengan gadis itu.


"Masih sulit untuk mu?" tanya nya dengan mata yang melihat lurus.


"Ya, aku saja tidak bisa masuk ke kamar mu sampai sekarang." jawab Louise yang memang masih tertinggal beberapa memori buruk yang belum bisa di hapus di kepala nya setelah tertekan selama hampir dua tahun bersama pria itu.


James mengangguk, "Baik, kita akan pindah setelah pernikahan." jawab nya yang setuju, "Masih ada lagi?" sambung nya bertanya.


"Akan ku pikirkan lagi nanti," jawab Louise dengan anggukan kecil.


"Lalu kau ma-"


"Aku lapar, masakan aku sesuatu." potong nya yang bahkan belum membiarkan pria itu menyelesaikan kalimat nya.


James mengangguk, ia bangun dan berjalan ke arah dapur sedangkan Louise mengikuti langkah nya.


"Kau mau makan apa?" tanya nya sembari membuka kulkas besar itu melihat persediaan makanan nya.


"Sup jamur dengan daging sapi," jawab Louise dengan cepat mengatakan apa yang ingin ia masak.


"Jamur? Seperti nya habis, aku baru memesan truffle putih tapi belum di kirim." jawab James yang melihat ke arah lemari es nya.


"Kalau begitu sup daging saja," jawab Louise singkat sembari memperhatikan pria itu.


"James?" panggil nya saat pria itu mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia gunakan.


Pria itu menoleh, sejenak seperti ingin menjawab pertanyaan gadis yang berdiri di samping nya.


"Louis nya kayak nya bakal curiga sama perut ku, kan ga besar sama sekali." ucap Louise pada pria itu.


"Pakai baju longgar saja, agar terlihat lebih besar." jawab nya yang memberi saran.


Louise mengangguk kecil, ekor mata nya terus melihat ke arah pria yang tampak memasak untuk nya.

__ADS_1


Sedikit pikiran jahil nya datang lagi padahal baru saja menggoda pria itu di depan cafe tadi.


"James?" panggil nya sekali lagi.


"Iya?" jawab pria itu singkat tanpa menoleh.


"Mau ku bantu?" ucap Louise yang mendekat ke arah pria yang tengah mengupas kulit tipis wortel itu.


"Tidak perlu, kau duduk sa-"


"Di mana ya? Tadi seperti nya aku lihat ada jamur juga?" ucap Louise lirih yang berjalan dan meraba pria dari belakang.


James membuang napas nya, ia harus berkonsentrasi penuh untuk menghilangkan keinginan nya seperti tadi.


"Louise? Jangan menganggu, kau bilang kau lapar kan?" tanya nya mengernyit yang beranjak menangkap tangan nakal gadis itu lagi.


"Sstt! Aku kan lagi cari makanan," jawab nya dengan senyuman kecil.


"Oh? Di sini mungkin?" tanya gadis itu dengan suara kecil saat ia merasakan ada sesuatu yang membengkak dari pria itu.


"Louise! Ka- Ugh!" pria itu tersentak sekali lagi, entah dari mana gadis itu bisa belajar membuka resleting dengan cepat.


"Ya ampun! Jamur nya kan ada, besar lagi! Tapi kenapa sangat panas? Astaga..." ucap nya yang bersikap pura-pura terkejut.


Dan mengusap penemuan jamur besar nya yang panas dan tumbuh dengan tegak itu.


"Louise?" panggil pria itu dengan suara berat dan kali ini tak lagi memiliki niat untuk menghentikan tangan yang tengah menumbuhkan jamur besar nya.


"Iya?" jawab gadis itu tersenyum.


Ia hanya sedikit mengambil keuntungan dari perjanjian pria itu dengan sang kakak, yaitu mengambilkan semua godaan yang dulu pernah ia terima karna sekarang pria itu harus menahan hasrat nya dan tak bisa menyentuh nya.


"Jangan terus menggoda ku," ucap James dengan suara berat.


"Oh ya? Coba lihat sini," ucap Louise yang membalik tubuh pria itu.


Wajah yang diam dan datar dengan tatapan yang lurus melihat ke arah nya begitu jelas terpancar pada pria itu.


"Astaga, jamur nya udah besar." ucap nya yang terlihat mengusap ujung kepala jamur yang panas itu.


"Louise!" ucap James yang langsung meraih tangan gadis itu untuk tak menyentuh sembarangan.


Hasil dari whisk cepat dengan menggunakan tangan nya membuat jamur panas itu tumbuh dengan cepat.


"Kenapa? Memang nya aku sedang apa?" tanya nya yang mendekat dan bersuara di leher pria itu sembari mengusap dan mengusap kepala jamur yang panas itu.


"Berhenti menggoda ku," ucap nya dengan suara berat pada gadis itu.


"Menggoda? Aku kan cuma lagi car- Humph!" mata hijau itu tersentak, pria itu secara tiba-tiba mel*mat bibir nya.


Lidah yang sangat pandai berciuman itu membuat nya meleleh sejenak.


"Daddy?"


Deg!


Ketua pasang mata yang awal nya terpejam itu langsung terbuka, sudah kedua kali nya putri kecil nya datang.


Louise langsung mendorong dada bidang pria itu, sedangkan James yang membelakangi putri nya dengan cepat memasukkan jamur besar yang berdiri dengan tegak itu ke dalam celana nya lagi.


"Daddy sama Mommy ngapain?" tanya Bianca yang masih membawa tas sekolah di punggung nya.


Ia tak dapat melihat jelas apa yang ayah dan ibu nya lakukan karna tubuh tegap sang ayah menutupi nya dari belakang.


Louise tersenyum kecil seperti menahan tawa nya.


"Awas jamur nya patah," bisik nya saat menoleh ke bawah melihat pria itu memaksa kembali memasukkan jamur panas itu.


Wajah pria itu memerah, ia menarik napas nya.


"Bian? Anak Mommy udah pulang?" tanya Louise yang langsung mendekati putri nya setelah mengambil tissue untuk mengusap tangan nya yang basah akibat menumbuhkan jamur panas itu.


"Udah!" jawab Bianca dengan senyuman cerah saat melihat sang ibu.


Sedangkan sang ayah langsung berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.


"Daddy?" panggil nya lirih melihat sang ayah beranjak pergi dengan cepat dan wajah yang memerah.


"Daddy sakit Myy?" tanya nya dengan polos saat melihat sekilas wajah sang ayah yang tampak berbeda.


Louise mengendikkan bahu nya dengan senyuman kecil yang ingin menahan tawa nya.


"Daddy paling ke kamar mandi," ucap nya sembari membawa putri cantik nya.

__ADS_1


"Oh! Daddy mau pup?" tanya Bianca yang asal menebak.


Louise tertawa kecil, "Hum? Mungkin?" jawab nya sembari mencubit pipi bulat putri nya.


__ADS_2