
Apart Sky Blue
Tak ada pembicaraan lagi, gadis itu kembali dan tertidur di kamar tunangan nya.
Wajah sembab itu kini memejam sedangkan pria itu terus menerus mengusap dengan lembut kepala tunangan cantik nya itu.
"Kau tidak mau bilang apapun pada ku?" gumam nya lirih karna merasa tunangan nya itu selalu bersikap menyembunyikan sesuatu dari nya.
Zayn pun beranjak memberi tau saudara kembar gadis itu agar tak mencari keberadaan nya karna adik nya itu sudah berada dengan nya.
...
Cahaya mentari mulai masuk, gorden jendela yang lebar itu di buka bersamaan dengan jendela nya agar sirkulasi udara pagi itu masuk.
Gadis itu menggeliat, ia terbangun lebih lambat karena memang ia yang juga tidur lebih larut kemarin malam.
"Sudah bangun? Nyenyak sekali?"
Pandangan nya masih mengabur namun ia perlahan melihat jelas siapa yang berbicara pada nya.
Wajah dengan senyuman hangat yang berbicara lembut dengan nya. Ia pun beranjak bangun dan menatap ke arah pria itu.
"Zayn?" panggil nya lirih dengan masih memiliki suara serak.
"Hm? Kau sudah lapar? Sana cuci muka mu dulu." ucap pria itu yang menarik selimut di tubuh gadis yang masih mengucek mata nya.
"Hum?" Louise melihat dengan mata yang masih menyipit, walaupun belum terlalu jelas namun pria di depan nya itu bersikap seperti tak terjadi apapun tadi malam.
Tak langsung menanyai nya atau pun memarahi nya sama sekali, pria itu hanya tersenyum dan membantu nya untuk duduk.
Pluk
Tangan Louise perlahan menjulur, memeluk pria yang berdiri di samping ranjang nya.
Zayn tersentak, namun ia juga tak memiliki komentar apapun, tangan nya perlahan membalas pelukan gadis itu dan mengusap punggung serta belakang kepala gadis itu yang memiliki rambut begitu halus.
"Maaf..." ucap nya lirih di dalam pelukan pria itu.
Zayn diam sejenak, apa yang harus ia maafkan?
Ia saja tidak tau apa yang sudah terjadi pada gadis itu selama ia tak ada.
"Memang nya kau salah apa?" tanya nya sembari melepaskan pelukan gadis itu dan duduk di pinggir ranjang agar dapat melihat wajah tunangan nya dengan jelas.
Louise diam, ia tak mengatakan apapun. Bibir nya bungkam dan tak menjawab sama sekali. Hanya mata yang masih sembab itu terlihat lebih sayu.
"Kau bisa melakukan kesalahan, bahkan mungkin seratus kesalahan. Aku akan memaafkan mu sebanyak itu." ucap nya lirih sembari mengusap wajah cantik walaupun baru bangun tidur itu.
"Kau memang nya tau apa kesalahan ku?" tanya Louise lirih.
"Apapun itu aku maafkan, tapi..."
"Jangan tinggalkan aku, aku benar-benar tidak tau harus apa kalau itu terjadi." ucap nya lirih sembari melihat ke arah tunangan nya itu dengan lekat.
Louise diam tak mengatakan apapun, iris pria di depan nya seakan memohon pada nya. Mengharapkan perasaan yang harus ia balas.
Melihat reaksi gadis itu yang tetap diam, Zayn tersenyum guna mengalihkan suasana. Ia menatap ke arah lain dan mulai berdiri.
"Kau tidak buatkan aku jus wortel pagi ini?" tanya pria itu tersenyum dengan mengalihkan pembicaraan lain.
Louise tak menjawab, jika ia dulu tak ingat kini ia sudah mengingat semua nya. Siapa yang sebenarnya menyukai jus sengit berwarna oranye itu.
"Mau jus yang lain? Seperti nya kesukaan mu sudah berubah akhir-akhir ini?" tanya Louise dengan senyuman tipis.
"Ya, ku rasa begitu..." ucap Zayn dengan senyuman bingung.
"Tapi, kau baik-baik saja kan?" sambung pria itu yang bertanya dengan hati-hati dan lirih.
"Ya, aku baik-baik saja. Kan ada kau." jawab Louise dengan senyuman tipis yang ingin menunjukkan jika ia baik-baik saja.
......................
Mansion Dachinko
Gadis kecil itu tampak cemberut dan lesu, ibu nya pulang begitu saja tanpa memberi tau nya padahal sang ayah sudah berjanji akan mengabari nya jika sang ibu sudah terbangun.
"Bian uda tidur semalam, Daddy bangunin tapi gak bisa. Jadi Mommy pulang duluan." ucap pria itu beralasan pada putri kecil nya.
Bianca menoleh sembari terus merapat ke dinding, ia menatap sang ayah dengan mata bulat nya yang memandang tak percaya itu.
"Benelan?" tanya menatap dengan mata bulat nya.
Pria itu beranjak mengambil tubuh mungil yang berdiri bersandar di dinding itu dan menggendong nya.
"Iya, Bian ga percaya sama Daddy?" tanya sembari melihat putri kecil nya yang cantik itu.
__ADS_1
Bianca diam tak mengatakan apapun namun ia masih terlihat cemberut.
"Bian mau keluar nanti sama Daddy? Makan es krim sama kak Al juga?" ajak pria itu agar tak melihat raut manyun putri cantik nya itu lagi.
Bianca langsung menoleh, anak-anak tetaplah anak-anak yang mudah terbujuk dan tergoda.
"Bian mau makan es klim nya tiga!" ucap nya sembari mengacungkan lima jari nya pada sang ayah.
Anak berumur tiga tahun itu masih belum terlalu mengetahui tentang perhitungan dan tentu nya ucapan dan jari-jari nya tidak sinkron.
"Iya, Nanti Bian boleh makan yang banyak..." ucap nya sembari mengecup pipi bulat putri kecil nya.
"Kak Al kemana Dad? Kenapa pelgi? Kan ini libul?" tanya nya ketika sang ayah mencium pipi bulat nya.
James tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis di tengah beban pikiran mencari cara agar gadis yang ia cintai itu maafkan dan menerima nya kembali.
......................
Apart Greenlousc
Wanita itu tersenyum sembari memberikan cupcake yang masih hangat dan baru selesai di berikan cream cantik di atas nya itu.
"Al? Daddy Al kapan keluar mansion lagi? Al tau dia mau kemana tidak?" tanya nya dengan lembut pada putra nya.
"Mom? Apa Mommy gak bisa cari orang lain aja? Kalau Daddy memang beneran suka sama Mommy, pasti Mommy udah sama Daddy sekarang?" jawab nya pada sang ibu.
Walaupun hubungan ia dan ibu nya tak berjalan baik karna kini wanita itu sudah terang-terangan hanya ingin informasi dari nya.
Namun ia tak bisa melepaskan nya, kasih sayang dari jeratan sang ibu masih melekat pada nya. Sedewasa apapun ia berusaha ia masih anak berumur 8 tahun yang belum matang dan memiliki sisi kenakan dan pengharapan pada orang dewasa.
"Al! Daddy kamu itu cuma marah sebentar sama Mommy! Tapi Mommy tau dia itu suka nya sama siapa!" sanggah Bella yang belum bisa keluar dari masa lalu nya.
"Daddy gak suka Mommy, Daddy suka nya kak Louise," ucap Arnold sembari melihat ke arah sang ibu.
"Untuk apa menyebut nama orang yang sudah mati?!" tanya nya dengan kesal pada putra nya itu.
"Kak Louise masih hidup, semalam Daddy bawa kak Louise pulang." jawab Arnold yang seketika membuat sang ibu terkejut.
Ia tak sengaja melihat gadis itu saat keluar dari kamar nya setelah belajar sampai larut. Awal nya ia memang terkejut namun ia yakin ia tak salah lihat sama sekali.
"Dia sudah mati? Apa yang kau katakan?" tanya Bella yang tertawa tak percaya.
Arnold diam tak mengatakan apapun lagi selain melihat sang ibu yang selalu memiliki emosi yang meledak-ledak itu.
"Mom? Kenapa Mommy gak sama yang lain aja? Mommy kan juga punya paman Alex..." ucap nya sembari beranjak memegang tangan sang ibu.
"Atau..." ucap nya yang tak bisa melanjutkan nya.
Jika saja ia tidak memiliki ketakutan pada ibu nya, ia ingin sang ibu bersama dengan ayah kandung yang ia tidak tau seperti apa.
Apa kah setampan ayah yang bersama nya saat ini?
Apa kah sedingin seperti sosok ayah yang ia kenal? Namun terkadang memberikan nya perhatian kecil agar ia tak terlalu kesepian.
Atau ayah yang jahat karna meninggalkan ia dan ibu nya?
Atau ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian walaupun memiliki wajah kaku seperti saat ia melihat adik nya dalam pelukan sang ayah?
Plak!
Arnold tersentak, sang ibu sudah jarang mengangkat tangan nya namun bukan berarti tak pernah melakukan nya lagi.
Walaupun terkejut anak berumur 8 tahun itu tak mengeraskan suara ringisan nya ataupun menangis.
Wajah nya diam berusaha tak menunjukkan ekspresi apapun, memang setiap makhluk akan mengikuti si pendidik atau induk nya seperti pria kecil itu yang tanpa sadar meniru gaya hidup sang ayah ataupun mengcopy-paste pria yang membesarkan nya itu tanpa sadar.
"Kau bilang apa? Al dengar Mommy? Daddy itu suka nya cuma sama Mommy, okey?" ucap nya yang memberikan nada penekanan pad putra nya.
Arnold tentu tak menjawab, ia hanya melihat sang ibu yang mulai gelisah saat ia mengatakan jika gadis yang menjadi saingan ibu nya itu masih hidup.
"Oh iya? Bagaimana kabar penyihir kecil itu?" tanya nya yang tak meminta maaf sekali pun pada putra nya setelah memukul.
"Bianca?" tanya nya pada sang ibu.
"Ya, kau tau kan dia anak siapa?" tanya Bella lagi yang mencoba mencari tau dari putra nya.
Arnold kembali diam, sang ayah memang sudah memberi tau nya untuk mengatakan siapa ibu biologis adik nya pada wanita di depan nya.
"Tidak tau," jawab nya singkat.
"Arnold?" panggil Bella pada putra nya dan membuat anak kecil itu menengandah melihat ke arah nya.
"Kau ingat kan? Kalau anak itu masih ada Daddy mu gak akan pernah sayang dengan mu." ucap nya yang selalu ingin putra nya itu menyingkirkan saingan kecil nya.
Siapa lagi jika bukan putri biologis dari pria yang ia cintai.
Arnold tidak menjawab, walaupun tidak di bilang ia juga tau kalau kasih sayang sang ayah begitu penuh pada adik nya.
__ADS_1
Cemburu? Iri?
Tentu saja ia juga punya perasaan seperti itu karna ia juga masih ingin di manja, bahkan ia juga terkadang punya pikiran sesekali untuk membuat adik nya hilang agar anak yang di miliki sang ayah hanya dirinya.
"Al mau pulang, Mommy jangan lupa jaga kesehatan, jangan tidur terlalu malam juga kalau ada paman Alex." ucap nya pada sang ibu.
Melihat hal yang seharunya tak ia lihat tentu membawa pengaruh buruk dan trauma tersendiri.
Terkadang ia merasa jijik dan hal itu yang membuat nya enggan berteman dengan Hadi kecil seusia nya kecuali dengan adik nya karna ia melihat sendiri bayi perempuan itu tumbuh.
......................
Prang!
Clara tersentak, teh yang ia bawa malas itu karna untuk tamu yang tidak ia inginkan langsung pecah ketika terjatuh dari tangan nya.
"A..apa kau bilang apa?" tanya Clara terkejut.
Bukan hanya dirinya namun kedua orang tua nya juga terkejut setengah mati mendengar penuturan dari pria tampan yang duduk di sofa keluarga itu.
"Saya tau ini tidak sopan, tapi putri anda harus bertanggung jawab pada saya..." ucap nya lirih dengan nada pura-pura sedih.
"A..anak ku mana mungkin seperti itu! Dan lagi aku juga tau dia seperti apa!" ucap Daniel tak percaya.
Louis ingin tertawa melihat ekspresi terkejut wanita nya namun jika ia menunjukkan wajah nya yang seperti itu maka rencana nya akan gagal.
"Dia meminta saya untuk tidur dengan nya setelah itu pergi begitu saja, jujur saja harga diri saya terluka..." ucap nya lirih.
"Yah kenapa tidak kau tolak?! Kau kan laki-laki!" ucap Daniel yang walupun marah namun ia membela putri nya.
Ya ampun, gimana mau di tolak anak nya? Kan aku nagih?
Ucap pria itu yang tentu tak mengucapkan kata seperti itu.
"Laki-laki atau perempuan semua nya tidak memiliki batas dalam pem- Hup!"
Mulut pria itu langsung terdiam saat tangan kecil wanita langsung menutup nya sampai tak sadar jika ia menjatuhkan dirinya pad pria yang tengah duduk itu.
"Sekarang anda lihat putri anda kan?" tanah Louis sembari menepis tangan mantan istri nya itu dan berbicara kembali dengan mantan ayah mertua nya.
"Clara?" panggil Daniel yang memang selalu memiliki sikap tegas pada kelurga nya.
Ia tak mentolerir tindakan memalukan, dan hal ini pun sama seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Pah? Jangan marah Pah..." ucap Freya menenangkan suami nya.
"Gak Pah! Dia bohong Pah!" sanggah nya pada sang ayah yang panik.
"Di leher ku ini kan bekas cakaran mu," ucap Louis yang menarik kemeja nya sedikit.
"Kan gak sengaja! Eh!" ucap Clara yang keceplosan karna panik.
"Kalian benar-benar! Astaga!" ucap Daniel yang menahan emosi nya agar menjaga jantung nya tetap aman.
Daniel tentu nya saja terkejut, masalah nya sudah ada yang datang mengatakan ingin melamar putri nya yang janda itu namun masih belum di terima.
"Kalau memang seperti itu kenapa tidak menikah lagi saja? Kau mau membuat Papa mu malu?" tanya Daniel dengan mata kesal pada putri nya.
Mendengar ucapan mantan ayah mertua nya membuat ia langsung senang, memang ini rencana nya mengapa ia berakting pura-pura sedih setelah tidur dengan wanita itu.
"Yess!" ucap nya tanpa sadar yang ternyata keluar dan bukan tersimpan dari hari nya.
"Hah?" Daniel langsung terdiam mendengar seruan pria tampan itu yang tampak senang.
"Maksud nya, saya senang karena saya tidak di perlukan seperti gig*lo lagi oleh putri anda..." ucap nya yang berusaha bersikap sedih walaupun sangat sulit.
"Kapan aku melakukan nya," tanya Clara dengan berbisik dan mata yang memelototi mantan suami nya itu.
Louis menunduk agar masih terlihat sedih namun ia mendekat ke telinga wanita perlahan.
"Kau kan suka main di atas, jadi itu hampir karna kau yang pegang kendali kan?" bisik pria itu yang masih bisa menggoda mantan istri nya walau tengah pura-pura sedih dan di depan orang tua wanita nya.
...****************...
Hayyy👋👋👋👋
Othor mau promosi novel baru othor hihi🤭🤭🤭
Mampir yah😘😘😘
Dan jangan lupa dukungan nya juga😘😘
Jangan lupa mampir yah😘😘
Dan buat yang tadi Uda sempat baca dan mampir bisa di buka lagi eps satu nya karna itu sudah othor letakkan visual nya🐈🐈🐈🐈
__ADS_1
Dan seperti biasa kalau misal nya gak suka visual nya bisa bayangkan dengan imajinasi masing-masing yang di sukai yah😘😘💕💕💕