
Mansion Alex
Mata gadis kecil yang menggemaskan seperti boneka itu tampak bengkak karna sembab, pipi bulat nya memerah.
"Daddy..."
"Mau Daddy..."
Tangis nya lirih yang hampir kehabisan suara. Tubuh mungil nya sudah di mandikan kembali setelah di siram dengan pewarna merah.
"Aku harus menidurkan mu lagi? Daddy terus!" keluh Alex yang kesal melihat anak kecil yang setiap kali terbangun selalu merengek meminta sang ayah hingga mata bulat nya bengkak karna tangis terus menerus.
"Makan ini," ucap nya sembari memberikan permen pada gadis kecil itu.
Bianca menggeleng, selera makan nya menghilang, keinginan bermain nya pun menurun. Tak ada yang ia lakukan lagi selain menangis dan merengek meminta sang ayah.
"Kenapa nangis terus? Penuh popok nya? Atau kau?" sambung nya sembari mengendus namun tak ada bau busuk sama sekali.
"Bian udah besal gak pakai popok lagi, huhu..." tangis nya yang kembali bersuara saat ia juga kesal karna masih di bilang memakai popok walaupun hal itu memang kenyataan nya.
"Astaga! Bisa gila aku!" decak Alex yang frustasi menghadapi tangisan anak kecil itu yang semakin menjadi.
......................
Kediaman Rai
Gadis itu terdiam, tangan yang menggenggam ponsel nya terlihat gemetar.
Kalian di mana?
Pesan yang ia kirimkan pada sang kakak, gadis itu ragu untuk memberi tau yang kedua kali karna tak ingin mendapatkan hasil yang sama.
"Apa karena aku?" gumam nya lirih sembari menutup mulut nya.
Buliran bening masih menetes di mata nya, ia takut akan memiliki akhir yang sama seperti putra pertama nya.
"Kalau saja aku tidak dekat dengan nya, mungkin..." gumam nya lirih yang berpikir memang ia yang membawa sial untuk anak-anak nya sehingga selalu saja mengalami hal yang tragis setiap kali ia mendekat.
Ting!
Mata hijau itu menatap ke arah ponsel nya, ia melihat jawaban yang di kirimkan pada sang kakak.
Di rumah saja, aku akan pulang malam ini. Jangan kemana pun dan jangan coba untuk keluar.
Tak ada balasan lagi yang ia berikan pada sang kakak, gadis itu masih kembali menggenggam ponsel nya.
......................
Apart
Mata yang saling memandang tajam dan melirik tak suka namun tetap harus melakukan sesuatu untuk menemukan gadis kecil yang di cintai banyak orang itu.
"Ini data nya,"
Louis langsung mendekat ke arah komputer yang baru saja di pegang sahabat nya itu.
"Sudah semua?" tanya Louis mengulang.
"Ya, kecuali beberapa tempat yang tidak punya cctv dan sudah di format," jawab nya sembari melirik ke arah pria yang tak jauh dari nya.
"Tapi? Kenapa dia di sini?" tanya nya pada Louis menatap ke arah pria itu.
James membuang napas nya, ia berdiri dan berada di tempat yang tak seorang pun menyukai nya kecuali bawahan nya yang ikut bersama.
"Aku akan kembali, jika menemukan sesuatu akan ku beri tau." ucap nya yang berbalik.
"Beri tau aku, jangan Louise." ucap Louis sebelum pria itu pergi.
Ia tidak mau pria itu berhubungan dengan adik nya sehingga menyuruh nya menghubungi nya walau ia tak suka.
"Ya," jawab nya singkat dan pergi.
Zayn menghela napas nya, ia menatap ke arah pria di samping nya yang tampak gelisah.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya nya setelah James pergi.
Louis melihat ke arah Zayn dan mulai menceritakan segala hal yang ia tau, semua dari awal sampai sekarang.
"Kalau dia tidak punya hubungan darah dengan Louise, aku juga tidak akan mencari nya." ucap nya lirih di akhir kalimat nya.
"Kita akan menemukan nya," ucap nya sebagai penghiburan untuk pria itu.
Mobil yang tadi nya bergerak mengikuti kini sudah berhenti, namun bukan nya berhenti di suatu tempat melainkan terperosok di tebing jurang yang mengarah ke laut.
"Mereka tau di ikuti dan menabrak mobil kita, berarti lokasi nya tidak jauh dari sana kan?" gumam Zayn lirih sembari melihat ke arah laptop nya.
......................
Drrtt... drtt... drtt...
"Kau sudah cari tau orang-orang yang datang ke pelabuhan? Tentang identitas mereka?" tanya nya yang masih tak sadar jika ponsel nya berdering.
Nick mengangguk kecil sembari melakukan mobil nya, "Tuan? Bukan kah lebih baik nada beristirahat sebentar dulu?" tanya nya pada pria yang belum tidur sama sekali itu.
"Aku tidak mengantuk," jawab nya singkat.
"Identitas mereka sulit di ketahui, tapi ada beberapa pesanan di pelabuhan yang memakai kode gambar jadi kami mulai men-"
"Tunggu," potong James yang sudah merasakan jika ponsel nya berdering di saku jas nya.
Mata nya mengernyit menatap nama panggilan yang menelpon nya.
"Halo?" jawab nya seketika.
"Jemput aku, kau pernah masuk ke sini tanpa ketahuan kan? Kau bisa lakukan lagi sekarang?"
Pria itu diam sejenak, gadis yang hanya menelpon nya saat ia memiliki keperluan kini menelpon nya lagi dan meminta untuk di jemput serta melewati semua penjagaan yang sudah di buat kakak nya.
"Tidak bisa, dulu aku bisa ke sana karena kakak mu tidak melakukan penjaga tambahan," ucap nya menolak.
Ia memang pernah diam-diam masuk ke kamar gadis itu tanpa ketahuan bertahun-tahun lalu ketika mereka masih memiliki hubungan dan itu pun saat gadis itu baru saja mengalami penculikan.
"Aku tau kau bisa, kau bilang kau hidup dengan cara seperti itu kan? Jemput aku..."
James diam sejenak, suara yang terdengar parau dan serak meminta nya untuk datang.
"Kau minta aku jemput karna mau keluar kan? Tetap di sana, dia tidak akan menyakiti Bianca sekarang. Aku tau hal itu dengan baik, aku juga bekerja di bidang yang sama." ucap nya pada gadis itu.
"Sekarang?! Bagaimana tentang nanti? Kenapa kau tidak bisa datang saat aku minta? Tapi terus datang saat aku tidak minta?!"
Suara yang terdengar marah itu membuat pria itu memejam.
"Jemput aku, aku ingin bicara..."
"Bicarakan dari sini," jawab nya seketika yang kukuh tak ingin menjemput gadis itu karna ia sudah tau apa yang ada di dalam kepala gadis nya.
__ADS_1
"Tidak bisa,"
"Kalau begitu akan ku tutup, kau tetap di rum-"
"Aku akan benar-benar mati! Kalau terjadi sesuatu aku akan mati juga! Kau tau kan? Siapa yang buat aku jadi gila seperti ini?!"
Pria itu mengernyit, kini gadis itu mulai mengancam nya bahkan saat pikiran belum beres sama sekali.
"Louise?" panggil nya pada gadis itu.
"Louis tidak tau tentang anak pertama meninggal seperti apa, Dia tidak tau detail semua yang pernah terjadi juga! Jadi..."
"Kalau terjadi sesuatu pada ku juga, kau yang bertanggung jawab..."
Sambung gadis itu lirih, sedangkan pria itu masih diam mendengar nya.
"Apa kau tidak bis-"
"Jemput! Aku tidak tau bagaimana cara nya tapi bawa aku keluar atau aku akan cari cara keluar sendiri bagaimana pun cara nya!"
Tip!
"Halo? Louise? Louise!" James melihat ke arah ponsel nya, yang sudah mati.
"Ck! Astaga!" decak yang penuh frustasi.
Mungkin secara sifat putri nya itu menurun nya 98 persen namun di dua persen yang berbeda yaitu menurun sang ibu dengan pasti seperti wajah nya.
Keras kelapa dan tidak mau mendengar kan!
"Putar balik, kau sudah tau di mana Louise tinggal kan?" tanya nya yang menarik napas nya sembari meletakkan ponsel nya di dashboard mobil nya.
Ia tau saudara kembar gadis itu akan semakin membenci nya, namun karna sudah seperti ini sekalian saja di benci.
......................
Mansion Alex
Bianca melihat sekeliling nya dengan wajah yang murung, ia merindukan sang ayah dan hanya ingin ayah nya.
Bukan mainan ataupun makanan, "Daddy mana?" tanya nya pada pengasuh yang menjaga nya.
"Masih di jalan," jawab pengasuh tersebut yang tampak tak begitu senang.
Ia tau gadis kecil itu hanyalah tahanan namun mereka harus memperlakukan nya dengan baik karena itu perintah dari atasan nya.
Dan yang membuat mereka malas adalah sikap manja dan menyebalkan karna ketika merengek tak bisa di hentikan ataupun di suruh diam membuat mereka harus bekerja lebih keras di bandingkan mengasuh anak kecil lain nya.
"Nona? Anda makan dulu ya?" ucap salah seorang pengasuh sembari memberikan makanan yang umum nya di sukai balita itu.
Prang!
"Mau Daddy! Bian mau Daddy! Huhu..."
Bianca menolak nya sekali lagi, ia menepis dan mendorong makanan yang akan di berikan pada nya karna yang ingin hanyalah sang ayah.
"Mulai nih anak?" gumam salah satu pelayan.
Awalnya mereka menyukai anak cantik dan menggemaskan itu namun pada akhirnya mereka juga kesal karna anak cantik itu selalu merengek meminta sang ayah.
"Tinggal aja? Tuan juga lagi pergi," ucap salah satu pelayan.
"Yasudah, salah sendiri tidak mau di kasih makan," jawab nya dan membersihkan lebih dulu makanan yang berserakan itu.
Ia melihat tak ada siapapun yang menemani nya lagi, interior yang tak kalah mewah dengan mansion sang ayah.
Dan sebenarnya ia tak tau jika diri nya saat ini tengah di sandera dan di culik karna ia di perlakukan seperti di rumah paman nya sebelum nya.
Mendapatkan semua nya kecuali bertemu dengan sang ayah yang sangat ia sayangi.
Kaki nya mulai bangun, ia melangkah mendekat ke arah kain gorden menjulang tinggi dan panjang itu.
Melihat satu persatu lipatan kain gorden di mansion mewah itu membuat air mata nya berhenti, ia melihat ke arah boneka yang di berikan pada nya dan mengambil nya lalu membawa nya lagi ke dalam lipatan kain jendela itu.
Seperti memiliki rumah di dalam rumah nya sendiri membuat nya menemukan hal baru sejenak.
Langkah kaki mungil nya mulai menelusuri mansion mewah itu, seperti anak kecil yang tersesat di dalam istana sendirian ia berjalan dengan menarik satu persatu kain yang membuat tubuh mungil nya tertutup.
Seperti kain meja, kursi, gorden dan yang lain nya karna bagi nya setiap kali berjalan ia sekalian bermain.
"Hng?"
Mata coklat yang bulat dan bersinar itu melihat ke arah ponsel yang berada di atas nakas.
Bukan di tinggal secara sengaja namun ponsel tersebut sedang di isi daya nya kembali.
"Elpon Daddy!"
Wajah cantik menggemaskan nya itu tersenyum merekah, ia mengambil ponsel tersebut dan membuka nya.
"Hum?" kepala bulat nya memiring melihat ke arah ponsel yang tak bisa ia buka karna di kunci dengan sandi.
"Tit Tut Tit!" gumam nya yang bersenandung dan mengeklik angka lima berulang kali.
Gadis kecil itu masih belum bisa menghitung dan mengenal angka maupun huruf namun ia bisa mengingat bentuk angka karna sudah di ajarkan walaupun tak tau ia angka berapa, ataupun bisa mengingat bentuk huruf nama nya walaupun ia belum bisa mengeja dengan benar.
"Eh?" Mata nya berbinar, siapa yang sangka jika akan ada sandi ponsel semudah itu dengan hanya menggunakan angka lima?
"Bisa elpon Daddy ga yah?" gumam nya yang melihat ke arah lemari nakas yang cukup besar dan masuk ke dalam nya seperti bermain rumah-rumahan boneka.
"Yang ini? Telus yang ini? Abis itu yang mana?" gumam nya yang berusaha mengingat nomor sang ayah yang telah di ajarkan pada nya.
"Yang bulat-bulat?" gumam nya yang tak tau angka menyebutkan angka delapan.
......................
"Sekarang apa?" tanya James sembari memegang stir nya.
Membawa gadis itu keluar bukan berarti ia benar-benar bisa membawa nya pergi tanpa ketahuan karna ia juga harus membuat pingsan 5 pengawal yang berjaga dan membuat nya ketahuan.
"Jadikan aku umpan saja, dia akan membawa Bianca keluar sendiri." ucap nya pada pria itu.
"Tidak," jawaban yang terdengar singkat namun terdengar tegas.
"Kenapa? Kau sayang anak itu kan?" tanya nya yang langsung menoleh ke arah pria yang masih memegang stir nya walaupun mobil itu tak lagi menyala.
"Kalau kau bicara soal omong kosong seperti itu, aku akan mengembalikan mu, lagi pula pasti kakak mu sudah tau kau pergi." ucap nya pada gadis itu.
"Kenapa kau tidak bisa lakukan? Lagi pula dulu kau juga tidak peduli aku kan?!" tanya nya pada pria itu.
James menarik napas mendengar nya, memang tak salah jika gadis itu berpikir demikian atas sikap nya yang dulu.
"Kenapa kau sangat khawatir? Kau bilang kau juga tidak menyayangi nya kan? Kau tidak menginginkan nya! Jadi kenapa dengan mu sekarang?" tanya nya yang ingin membuat gadis itu tak berusaha melakukan apapun.
"Kalau begitu harus nya dari awal kau tidak datang lagi pada ku! Dari awal kau tidak perlu bawa anak itu lagi pada ku! Sekarang? Kau bilang kalaupun aku menyayangi nya dia akan tetap hidup! Tapi apa ini?!" jawab gadis itu dengan emosi yang tak stabil.
__ADS_1
"Dia akan hidup! Aku yang akan bawa dia hidup-hidup!" ucap nya pada gadis itu.
Gadis itu tersenyum pahit dan menggeleng, "Kenapa tidak bisa sekarang? Kau dulu tidak pernah peduli pada ku apapun yang terjadi jadi tidak bisakah kau lakukan lagi sekarang?" tanya nya pada pria itu.
"James? Karna sudah seperti ini kenapa tidak di hentikan sekarang saja? Dia orang yang sama, mungkin sekarang bisa jadi akhir? Dia tidak akan menganggu lagi kalau kau menemukan nya sekarang ini?" tanya nya pada pria itu sembari meraih kemeja berwarna biru muda yang di kenakan.
"Karna dia sangat mau kau yang datang, itu berarti dia menginginkan mu! Bianca untuk sekarang tidak akan dia lukai, aku tau karena aku hidup dengan cara yang seperti itu juga." ucap nya pada gadis itu.
Louise meremas kemeja pria itu dengan tangan nya, ia tak bungkam dan tak mengatakan apapun tentang panggilan video yang ia dapatkan karna ia pasti tau jika mengatakan nya maka ia akan di kembalikan lagi ke kediaman nya.
Tuk! Tuk!
Nick mengetuk kaca jendela mobil silver tersebut.
James pun menurunkan nya dan melihat ke arah bawahan nya.
"Tuan? Ada yang ingin saya bicarakan." ucap Nick dengan gelagat meminta pria itu untuk keluar bicara dengan nya.
Louise melihat ke arah pria yang keluar dari mobil itu dan meninggalkan nya sendiri.
Drrtt.. drrtt... drrtt...
Louise melihat ke arah ponsel yang tertinggal di dashboard itu. Tak ada keterangan dari siapa yang memanggil nya.
Ia melihat ke dari spion pria itu masih berdiri berbicara dengan bawahan nya yang selalu bersama.
Tangan nya menggeser emoticon telpon bewarna hijau, dan menempelkan di telinga nya.
"Daddy!"
"Bianca? Itu kau?!" panggil nya ketika langsung mendengar suara mungil menggemaskan itu.
"Daddy? Suala Daddy kok belubah?"
"Bian? Sekarang di mana?! Bian di mana?" tanya nya yang tak menghiraukan pertanyaan dari gadis kecil itu.
"Suala Daddy milip Mommy,"
"Bian di mana? Hm?" tanya nya lagi.
"Gak tau Bian di lumah,"
Gadis itu melihat ke arah spion lagi, ia membuka nya dan ingin memanggil pria itu. "Jam-"
Namun suara nya terhenti, "Tidak! Kalau ku panggil dia pasti bawa aku kembali lebih dulu!" gumam nya yang malah beranjak ke kursi pengemudi dan membawa mobil itu.
"Tunggu! Itu nona Louise!" ucap Nick yang langsung menunjuk ke arah mobil yang berjalan pergi dengan sendiri nya.
"Astaga!" pria itu meremas rambut nya, ia langsung berusaha ingin mengambil ponsel nya namun, "Di mobil?" gumam nya yang lupa jika ia meninggalkan ponsel nya.
"Siapapun suruh ke sini secepat nya!" ucap nya pada pria itu.
"Bukan nya lebih baik merampok mobil?" tanya Nick pada pria itu karna memang jika mereka mengambil mobil orang lain yang lewat secara paksa lebih cepat dari pada menunggu ada yang datang.
...
"Bian? Coba cari jalan keluar dari rumah itu? Nanti Mommy bakal jemput kamu," ucap nya dengan tangan yang masih mengetik menghubungi sang kakak.
"Mommy? Ini Mommy?"
"Iya, Ini Mommy! Kamu cari jalan keluar dari rumah itu dulu!" ucap nya pada suara yang menggemaskan itu.
"Louise! Kau kabur?! Kau tidak tau sek-"
"010956772! Cari di mana nomor itu sekarang! Selagi pasti tersambung!" potong nya yang tak bisa mendengarkan Omelan sang kakak.
"Pulang sekarang! Kami yang akan cari!"
"Ku bilang cari sekarang! Kau mau aku mati lebih dulu karna kecelakaan?!" ucap nya pada sang kakak.
...
Apart.
"Cari saja dan kirimkan, kita juga bisa cari di mana dia sekarang." ucap Zayn pada Louis yang masih memegang telpon nya.
Louis pun menunjuk dengan dagu ke arah komputer yang masih berada di ruangan itu dan membuat beberapa orang IT itu langsung mendekat ke komputer.
"Masukkan nomor ini dulu," ucap nya yang menyebutkan nomor yang di sebutkan adik nya.
"Masih lama?"
"Sebentar lagi," jawab Louis pada adik nya dari sambungan telpon, "Sudah!" ucap nya sembari langsung mengirimkan titik merah seperti di maps pada sang adik.
"Sekarang cari Louise," ucap nya yang menyebutkan nomor adik nya juga agar mereka bisa melacak nomor gadis itu.
...
"Myy? Mommy ngomong sama siapa sih?"
"Uda keluar?" tanya Louise yang tak menjawab jika ia bicara di dua telpon.
"Babi myy,"
Louise mengernyit mendengar nya, "Kau mengumpat?" tanya nya pada putri kecil nya itu.
"Bian gak ngupil Myy,"
Louise menarik napas nya mendengar jawaban yang tidak nyambung itu, "Sekarang Uda di mana? Udah keluar?" tanya nya lagi mengulang sembari memijak gas semakin dalam agar semakin cepat sampai.
Ia tau kakak nya dan pria itu, pasti akan segara menyusul nya segera.
...
Mansion Alex
Gadis kecil itu masih memegang ponsel yang menyambungkan nya dengan suara sang ibu walaupun yang ia telpon ayah nya.
Ia keluar dengan berjalan entah dari mana yang bahkan ia sendiri lupa dan sekarang seperti berada di halaman belakang mansion itu yang terpisah cukup jauh dari bangunan utama.
Seperti kandang atau peternakan besar sekarang di mana ia berdiri.
"Babi nya, ngiik! Ngiik! Myy." jawab nya pada sang ibu meniru suara dari hewan merah muda yang tampak begitu banyak itu.
"Bab- Astaga! Cari saja jalan keluar! Dan jangan ada yang menemukan mu, kalau Mommy jemput kamu baru keluar!"
"Kenapa gak boleh ada yang ketemu Bianca Myy? Kita main petak umpet?" tanya nya pada sang ibu.
"Iya! Petak umpet! Kamu sama Mommy itu satu tim! Jadi kita gak boleh ketahuan!"
Bianca menoleh ke arah hewan ternak berwarna merah muda itu dengan ekor yang kriting itu.
"Bye! Ngiik! Ngiik!" ucap nya yang berlari mencari di mana pintu pagar dari peternakan di belakang mansion itu.
Walaupun ia memang sudah berada di luar karna bisa melihat langit dan cahaya mentari langsung di kulit nya.
__ADS_1