
Dua hari kemudian.
Hotel
Pria itu membuang napas nya dengan kasar, ia masih menutup setengah bangunan bawah tubuh nya dengan selimut tebal dan melihat ke arah wanita yang tengah memakai pakaian nya itu.
"Kau mau sampai kapan seperti ini terus?" tanya nya dengan nada sedikit kesal.
"Sampai aku tidak melihat mu lagi," jawab wanita itu dengan singkat saat memakai celana jeans nya.
"Tapi kau suka kan tadi? Jangan bohong kau juga menikmati nya," pria itu berdecak melihat wanita keras kepala yang masih saja bermain tarik ulur dengan nya.
"A...aku kan cuma..." Clara berbalik sesaat setelah memakai bra nya.
"Cuma apa? Kebutuhan biologis? Atau karna ku paksa?" pria itu berdecak namun ia tidak tutun dari tempat tidur nya.
"Kalau kau tidak menemui ku lagi, aku juga tidak ak-"
"Tidak apa? Kau mau kan? Apa kau tidak bis berhenti berbelit-belit?" tanya pria itu dengan nada yang sedikit kesal.
"Makanya jangan menemui ku lagi!" sanggah wanita itu dengan kesal dan membuang wajah nya.
Padahal satu jam yang lalu kedua tubuh itu masih beradu dan kini sudah berdebat kembali.
"Ayo, menikah saja." ucap Louis lirih.
"Tidak," jawaban ketus dan singkat itu terdengar dengan cepat.
"Dasar! Wanita tidak bertanggung jawab!" ucap Louis yang membalas tak kalah ketus dengan nada wanita di depan nya.
"A..apa?!" Clara tersentak dan langsung menatap dengan kesal.
"Aku akan mengadu!" ucap pria itu yang tak mau kalah.
Mengejar dengan cara yang baik sudah ia lakukan, bahkan ia sudah tidur dengan wanita di depan nya tanpa ada unsur keterpaksaan dari dirinya namun tetap saja ajakan menikah kembali selalu di tolak.
"Sama siapa?" tanya Clara mengernyit, ia tidak bisa menebak dengan siapa pria yang biasanya tak memiliki sifat pengadu itu mengancam akan mengadu.
"Sama orang tua mu, aku akan bilang kalau anak perempuan kesayangan mereka itu sudah meniduri seseorang tapi tidak mau tanggung jawab..." jawab Louis dengan senyuman licik nya.
"Kau gila! Papa ku bisa pingsan!" ucap wanita itu dengan kesal.
Louis tersenyum sembari menjatuhkan dirinya lagi ke atas ranjang empuk hotel tersebut.
"Entahlah..."
"Aku merasa kotor, ya ampun..."
"Kasihanilah aku..."
Ucap nya dengan memainkan nada mengejek dan tersenyum melihat wanita di depan nya.
Clara membuang napas nya dengan kesal, bagaimana pria di depan nya bisa begitu kekanakan padahal sebelum nya tak pernah seperti itu?
Pluk!
Rasa nya begitu kesal melihat ekspresi yang menggoda nya itu sampai ia melempar blouse nya yang belum sempat ia pakai ke wajah pria di depan nya.
"Apa nih? Ajakan mau lagi yah?" tanya Louis sembari menangkap blouse yang sempat menutupi wajah tampan nya itu.
"Entah kenapa kau jadi sangat menyebalkan akhir-akhir ini," ucap nya dengan kesal.
"Aku dengar katanya menikah bisa mengubah sifat seseorang, jadi kalau kau menikah dengan ku aku tidak akan menyebalkan lagi." ucap pria itu dengan enteng dan tersenyum.
......................
Sementara itu, gadis itu berjalan dengan cepat bukan lagi berjalan namun setengah berlari.
"Kenapa dia ada di mana-mana?" gumam nya yang ingin segera cepat ke mobil nya namun ia berada di zona pejalan kaki.
Langkah cepat nya membuat ia tak lagi bisa mengawaskan pandangan nya dengan baik hingga,
Ack!
Bruk!
Heels yang terpakai di kaki jenjang nya membuat nya dalam masalah. Mungkin sakit yang ia rasakan tak begitu seberapa jika di bandingkan rasa malu jatuh di tempat umum.
"Makanya jangan lari, memang nya aku setan?"
Suara bariton yang rendah dan berat itu kini berada di dekat nya dan membuat diri nya tak ingin melihat pria di samping nya.
Jatuh nya jelek lagi! Ya ampun malu nya!
"Bisa bangun nya?" tanya pria itu dengan senyuman kecil.
Walaupun khawatir namun posisi jatuh gadis di depan nya begitu mirip dengan putri nya ketika begitu aktif berlarian.
"Jangan tertawa!" ketus gadis itu dengan nada kesal dan tak meraih tangan yang di ulurkan pada nya.
"Ya ampun..."
"Kucing pemarah ini..."
James mengatakan nya dengan lirih sembari menarik tubuh ringan itu agar berdiri.
"Ukh!"
Suara ringisan terdengar, pergelangan kaki yang mulai tampak memerah sebelum membiru itu terlihat dengan jelas.
"Kau tau? Pengawal yang ada di dekat mu sekarang sudah mau mendekat, mau ku tinggalkan saja? Mereka mungkin akan menggendong mu dan menarik perhatian." bisik pria itu sembari memperhatikan sekeliling nya.
Ia tau gadis di depan nya tak menyukai keributan apalagi perhatian berlebih sehingga ia bisa memanfaatkan hal tersebut.
Tak ada jawaban atau balasan, Louise hanya memegang tangan pria itu agar para pengawal nya tak datang secara bergerombol dan membuat nya menjadi perhatian publik.
Pria itu tersenyum, ia memberikan arahan pada pengawal yang juga ia suruh untuk mengikuti gadis itu, membuat penghalang agar ia bisa membawa gadis yang bersama nya saat ini untuk kabur.
"Hei?! Kau mau bawa aku mana?!" ucap Louise yang tersentak saat pria itu yang malah menggendong nya dan membawa nya dengan cepat.
Tak ada jawaban yang terdengar namun pria itu hanya tersenyum sembari membawa nya dengan cepat.
......................
Mansion Dachinko
James mengernyit, harus nya gadis di depan nya akan terbangun saat ia sudah sampai ke mansion nya seperti biasa ketika ia memberikan bius tidur di dalam mobil namun gadis itu tak terbangun sampai saat ini.
__ADS_1
"Ada yang salah dengan nya?" tanya nya sembari menoleh menatap ke arah Chiko.
"Tidak ada, saya rasa ini karna efek kesehatan nona Louise yang tidak sama seperti dulu lagi jadi obat tidur nya bekerja dalam waktu yang lebih lama." jawab Chiko setelah memeriksa kondisi gadis di depan nya.
"Lalu kaki nya?" tanya nya lagi.
"Kaki nona Louise baik-baik saja tadi hanya sedikit keseleo tapi sekarang sudah tidak apa-apa," terang Chiko, "Tapi..."
"Nona Bianca seperti nya sedang di depan pintu," sambung nya sembari menoleh ke pintu kamar tersebut.
James membuang napas nya lirih, "Kau bisa keluar." ucap nya pada bawahan nya itu.
Chiko menunduk dan segera keluar dari kamar tuan nya, tak lama kemudian suara ketukan beserta suara pintu terbuka.
"Daddy?"
Suara yang terdengar kecil dan menggemaskan itu masuk ke dalam kamar sang ayah, mata bulat dan rambut coklat yang tergerai dan terlihat sedikit acak-acakan karna gerak gadis kecil itu yang begitu aktif.
"Mommy tidul? Boleh Bian pegang gak?" tanya nya mendekat sembari berusaha menyentuh pipi sang ibu.
"Bian suka Mommy di rumah?" tanya pria itu berjongkok sembari melihat ke arah wajah putri kesayangan nya.
Anggukan yang kecil menjadi jawaban bagi gadis kecil itu yang tentu menginginkan peran ibu di dalam dunia kecil nya.
"Bian? Sekarang dengar Daddy," ucap nya sembari melihat ke arah wajah polos putri nya.
"Kalau Bian mau di sayang Mommy Bian harus jadi anak baik, gak boleh main pisau atau main tembakan kalau ada yang nakal sama Bian." ucap nya pada putri kecil nya.
"Telus Bian halus diam aja? Kalau Bian luka gimana?" tanya nya dengan tatapan sedih saat mendengar ucapan sang ayah.
Pria itu tersenyum simpul, "Cuma di depan Mommy aja, kalau tidak di depan Mommy Bian boleh buat apa aja yang penting jangan ketahuan Mommy," ucap nya sembari mengusap rambut halus putri cantik nya.
Bianca diam, ia berusaha mencerna ucapan sang ayah.
"Bian? Kamu ngerti atau tidak?" tanya James mengulang pada putri kecil nya.
"Belalti Bian gak boleh main pisau atau piuw! piuw! di depan Mommy?" tanya nya mengulang dengan bingung.
James tersenyum, ia mengelus halus rambut putri nya dan tentu saja sikap nya sudah mengartikan jawaban nya.
Satu lagi didikan yang membuat putri nya akan menjadi pembohong yang paling handal saat ia dewasa nanti.
"Sekarang Bian main di luar yah? Kan mau tunggu kak Al pulang, biar Mommy Daddy yang bagunin." ucap nya mengusir putri kecil nya secara halus.
Bianca tersenyum cerah tangan mungil nya memeluk sang ayah dan mencium pipi yang terdapat janggut halus dan kasar yang membuat wajah nya terasa geli itu.
Muach!
"Dah! Dad..." ucap nya yang pergi dengan melambai setelah mencium pipi sang ayah.
James tersenyum kecil melihat ke arah putri nya, sedangkan ia kembali melihat ke arah wajah gadis yang masih terpejam.
Ia duduk di pinggir ranjang dan mengelus wajah halus itu sampai gadis itu akhirnya memberikan reaksi.
"Kau sudah bangun?"
Suara yang terdengar saat kelopak mata itu perlahan terbuka dan menatap ke arah seseorang yang masih belum dapat di lihat pandangan masih kabur tersebut.
"Ini di mana?" satu kalimat yang terdengar klise seperti sinetron malah terucap di bibir nya.
"Kau?" ucap nya lirih yang mulai terbangun.
Pria itu membantu gadis di depan nya untuk duduk dan menatap ke arah wajah yang terlihat masih linglung itu.
"Di rumah ku," jawab nya singkat sembari melihat ke arah gadis itu.
"Hah?" Louise yang masih antara sadar dan tidak masih memproses ucapan yang baru ia dengar.
"Kau ada di rumah ku sekarang, lebih tepat nya di mansion ku." ucap nya mengulang dengan lebih jelas sembari melihat ke arah gadis di depan nya.
"Apa?!" ucap Louise tersentak sembari menatap ke arah pria itu dengan jelas.
"Kenapa aku di sini?!" ucap nya yang kali ini dengan sadar.
"Aku menculik mu sekarang," jawab pria itu dengan tersenyum tanpa beban seperti tak ada dosa di wajah nya yang biasa seperti tembok itu.
"Gila! Dasar pria gila!" ucap Louise dengan kesal sembari langsung menarik selimut nya dan langsung turun.
Ack!
Louise tersentak, ia langsung meringis dan hampir terjatuh namun tak sempat menyentuh lantai karna pria di samping nya langsung menangkap tubuh nya.
"Hati-hati kaki mu masih terluka," ucap nya sembari menyandarkan tubuh gadis itu pada dirinya.
Louise mengernyit tak suka, mau bagaimana pun ia tak ingin di bawa ketempat yang ia tidak tau dan lolos dari pengawasan yang di berikan oleh sang kakak.
Tangan nya menepis dengan kasar dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari nya.
Langkah yang tertatih itu tampak tak ingin menyerah dan terlihat ingin menuju pintu keluar.
Mata nya mengandar pada bangunan mewah itu, tampak bagus dan elegan namun entah mengapa membuat nya tak nyaman sama sekali.
Mungkin memang benar ada beberapa hal yang memiliki kenangan tersendiri termasuk tempat mewah yang bagaikan neraka termegah untuk nya.
Obat yang di berikan sebagai terapi dari psikiater nya pun tak lagi ia minum walau sang kakak sering mengingatkan nya agar ingatan nya tak pernah pulih.
Deg...
Deg...
Deg...
Aku tidak nyaman, rasa nya aku tidak bisa bernapas...
Degupan jantung nya terdengar dengan kuat, namun ia masih sanggup untuk berjalan sampai ke pintu keluar.
Sedangkan pria yang melihat dan mengikuti nya dari belakang tampak hanya memperhatikan nya.
"Maaf nona anda tidak bisa keluar,"
Tak ada mobil yang bisa ia gunakan bahkan tas dan ponsel nya pun tak ada sama sekali hilang raib entah kemana.
Gadis itu mengernyit, ia sudah sampai di depan pintu gerbang mansion mewah itu dan penjaga langsung menghadang nya.
James yang masih berdiri di belakang mengikuti langkah gadis itu pun mengangkat tangan nya memberi isyarat untuk membuka gerbang nya.
__ADS_1
Karna sama saja gadis itu pun tak akan bisa pulang sendiri karna tau jalan pulang nya.
Pintu gerbang yang tinggi itu mulai terbuka, entah dibangun betapa meter namun yang jelas sangat menjulang ke atas.
Gadis itu bahkan mungkin tak akan sadar jik ia pernah melewati gerbang itu saat mencoba kabur.
"Sekarang kau mau pulang kan?"
Louise berbalik menatap ke arah pria yang membawa nya tanpa izin dari nya.
"Aku tau kau marah tapi kau juga tidak akan bisa kembali sekarang," sambung James sembari mendekat dan berusaha meraih gadis itu lagi.
Tak!
"Apa yang kau inginkan dari ku?!" tanya Louise yang merasa begitu kesal.
"Tidak ada, dan lagi aku akan mengantar mu pulang dan tidak akan menyakiti mu." ucap nya yang mengatakan sebuah janji.
"Bagaimana aku bisa percaya? Kalau kau mau bawa aku pulang seharusnya tidak bawa aku ke sini sejak awal kan?!" tanya nya dengan kesal.
"Aku hanya mau melihat mu lebih lama..." jawab nya lirih.
Walaupun wajah tampan itu tampak datar namun nada suara nya tampak jelas seperti tak berbohong sama sekali.
"Aku pulang sendiri!" ucap Louise ketus dan berbalik.
Ia tentu tak tau jalan pulang namun hanya melanjutkan langkah nya dengan acak.
Aroma Pinus yang masuk ke dalam hidung nya, pohon tinggi yang menjulang ke atas serta mentari terik yang jatuh ke tubuh nya.
Hah...
Hah...
Hah...
Suara berat dari tarikan napas itu membuat nya tersentak. Rasa nya kepala nya berputar melihat ke arah sekeliling nya.
Perasaan takut yang tidak asing dan merasa pernah melewati tempat tersebut dalam hidup nya.
Dia kesini? Apa dia kembali lebih cepat?
Deg!
"Aku? Apa aku pernah bilang begit- Ukh!" rasa nya kepala nya begitu berdenyut.
Aroma Pinus yang masih masuk menyeruak masuk ke hidung nya, mentari hangat yang menjatuhkan sinar nya dan pohon-pohon yang mengelilingi nya.
Kau seperti nya harus menghilangkan suara napas mu jika ingin bersembunyi dengan baik...
Karna aku bisa mendengar nya.
Now I've found you, the game of hide and seek is over, dear.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung nya terasa ingin berhenti berdetak, memang sesuatu yang paling meninggalkan kesal trauma akan sangat mudah di tansang saat berada di posisi yang sama.
Dan momen yang paling menyakiti nya seperti kembali datang.
"A...aku harus kabur..."
"A..anak ku..."
Gadis itu mulai bergumam nya, momen yang tak bisa ia lupakan saat kondisi yang tak stabil itu kehilangan seseorang yang ia nantikan.
AKH!
Gadis itu berteriak dengan kencang, ia memeluk perut nya yang kembali ramping itu itu ketika ia merasa seharusnya membawa perut yang besar
"Louise!" pria itu awal nya mengernyit dan masih memperhatikan gadis yang tampak hanya berdiri dan terlihat mulai ketakutan itu.
Namun ia langsung mendekat begitu melihat reaksi gadis itu mulai berlebihan, teriakan yang terdengar dengan kuat dan membuat langsung meraih tangan gadis di depan nya.
Ia tak pernah berniat untuk mengembalikan ingatan gadis itu saat ini, ia juga tak berniat untuk menyakiti nya lagi namun ia tidak tau ia membuat 'seorang ibu' begitu trauma sampai merasakan semua simulasi dari tempat iblis nya.
"Le..pas..." ucap nya lirih dengan mata yang berkaca, menatap nya dengan takut sembari terus meraba ke arah perut nya datar nya.
...****************...
Hay👋👋👋
Pembaca kesayangan Othor, sudah lama othor yang hobi halu ini tak menyapa wkwk
Oh iya sebenarnya othor mau bilang ini udh lama, kan dari maren banyak yang ngerasa si Louise nya itu ga sayang sama Bianca dan ga punya ikatan batin ibu.
Dan jawaban nya memang iya, karna hamil dalam kondisi yang benar" di paksa sama babang James itu udh buat dia trauma dan apa lagi dia kehilangan anak yang dia mau atau dia sayang.
It means anak pertama nya yah, karna waktu dia hamil pertama itu mbk Louise nya masih dapat dukungan dari kakak nya, mental nya masih bagus dan dia udah kembangin rasa sayang dari tuh anak dalam kandungan dan lagi juga waktu 'pembuatan' anak pertama dia kan juga mau sama mau sama babang James nya beda banget sama 'proses' Bianca ada
Dan waktu lahir dia cuma lihat dan di kurung sama bayi nya yang udah mati, nah belum habis di situ di juga malah di paksa hamil anak kedua yaitu Bianca.
Jadi di kehamilan kedua mbak Louise nya gak kembangin rasa syng sama sekali sama kandungan nya tapi tetap di jaga untuk sebatas tanggung jawab dan perjanjian sama babang James nya (Tau kan perjanjian apa yang di maksud hihi)
Dan kalau di tanya jadi mbak Louise gak akan sayang Dede Bianca nya?
Bisa sayang tapi yang harus utama nya dulu ngelepasin kehilangan anak pertama dan ngobati rasa sakit sama trauma dari anak yang bener-benar dia mau (Anak pertama)
Itu yang mau othor bilang tapi ga sempat" 🤧🤧🤧
Oh iya othor juga mau bilang nih mungkin kabar nya ga tau juga para pembaca bakal suka atau tidak tapi othor mau tanya dan mohon di berikan saran nya🙏🙏🙏
Othor kan rencana mau up karya ke empat dan karna memang rencana mau othor buat agar tidak menjadi wacana haha🤣 tapi ini ttp di lanjut dan tidak di drop kok wkwk
Menurut pembaca othor buat cerita genre isekai (kembali ke masa lalu) atau cerita modren lagi?
Dah itu aja🤗🤗😘😘😘
See you 👋👋👋
Jan lupa dukungan nya buat othor yang suka ngehalu ini yah😘😘
Semoga pembaca othor selalu sehat dan selalu punya serta mengahadapi hal" yang baik dalam keseharian nya😘😘😘
__ADS_1
Sehat selalu, bye bye 👋👋💕💕💕