(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Anak kesayangan


__ADS_3

Hiks...


Suara tangis kecil terdengar di balik dada bidang pria itu, tubuh mungil yang gemetar dalam pangkuan nya dan menyembunyikan wajah nya.


"Sstt..."


"Kenapa nangis? Biasa Bian jarang nangis..." ucap nya sembari menepuk punggung kecil itu dengan lembut.


"Mommy gak suka Bian..." jawab nya lirih dengan suara serak.


"Mommy pelgi kalna gak suka Bian yah?" tanya nya sembari mengangkat wajah nya yang begitu memerah karna tangis nya.


Tangan yang besar dan seukuran wajah mungil itu beranjak mengusap air mata jernih dari netra coklat itu.


"Mommy suka sama Bian juga kok, tapi tadi Mommy itu lagi sibuk, makanya gak mau main sama Bian..." ucap nya pada putri kecil nya.


"Tapi tadi Mommy bilang kalau Mommy bukan Mommy Bian..."


"Bi...Bian gak boleh manggil Mommy..." jawab nya yang semakin menangis bukan nya semakin tenang.


James diam sejenak, memang akan sangat aneh jika ada anak kecil yang mengaku sebagai anak dari sekarang wanita yang tidak merasa pernah tidur atau hamil sebelum nya.


Namun bagaimana lagi? Anak itu tetaplah anak yang di lahirkan dari wanita yang tidak mengingat nya sama sekali.


"Bian? Kamu tau tidak? Mommy itu lagi main permainan," ucap nya sembari mengangkat dan membenarkan posisi pangku putri nya di mobil.


Tangisan dan lelehan air mata itu mulai terhenti, wajah nya masih memerah, mata masih sembab dan hidung masih berair.


"Pelmainan? Tadi Daddy bilang Mommy lagi sibuk makanya gak mau main sama Bian?" tanya nya yang juga mengingat apa yang baru di ucapkan oleh sang ayah.


"Karna Mommy lagi sibuk makanya main nya seperti ini," ucap nya pada putri kecil nya.


"Main nya main apa?" tanya nya dengan polos yang mudah saja percaya dengan ucapan sang ayah.


"Main kejar tangkap, jadi Mommy itu bukan marah beneran tapi cuma pura-pura." ucap nya meyakinkan putri cantik nya itu.


"Jadi Mommy gak malah benelan? Mommy suka Bian?" tanya nya yang mulai tak lagi menangis.


"Iya, Makanya Bian harus sering deketin Mommy biar permainan nya berakhir," jawab James sembari melihat ke arah putri nya.


"Iya deh, besok Bian boleh ketemu Mommy lagi?" tanya nya sembari menyandarkan kepala kecil nya kembali ke dada bidang sang ayah.


Pria itu tak mengatakan apapun lagi, tangan nya hanya kembali menepuk pelan punggung yang masih sangat kecil itu.


......................


Kediaman Rai.


Rona dan raut wajah seseorang bisa tampak begitu jelas jika sudah di penuhi dengan suasana hati.


"Louis?" panggil nya pada sang kakak yang sudah beberapa hari terakhir terlihat senang terus.


"Hm? Kenapa? Kau mau mobil baru?" jawab pria itu yang memang dalam suasana hati yang berbunga.


"Tumben, biasa nya orang yang suka tiba-tiba berubah berarti udah mau mati loh." celetuk gadis itu menatap dengan mata yang menyipit pada sang kakak.

__ADS_1


"Hush! Mulut nya! Memang kau mau aku beneran mati?" tanya Louis seketika sembari menatap sang adik.


"Yah engga sih, aku kan cuma bilang..." jawab Louise sembari membuang mata nya.


"Kak..." panggil nya yang kadang berubah dari nama ke panggilan sesuai dengan suasana hati nya.


"Hm? Kenapa sih? Mau nikah malah cemberut terus?" tanya pria itu sembari beranjak mengambil air dingin yang berada di lemari es.


"Ga apa-apa," jawab nya yang tak jadi mengatakan jika ada orang aneh yang mengaku punya anak dengan nya.


"Kak? Kalau misal nya nih ada orang yang bawa anak terus ngaku itu anak mu gimana?" tanya nya yang tak bisa menahan rasa penasaran nya.


"Tinggal tes DNA, lagi pula kan sekarang bukan jaman batu lagi." ucap Louis enteng.


"DNA?" gumam gadis itu lirih.


"Kenapa?" tanya nya mengulang menatap sang adik.


"Penasaran aja," jawab nya lirih dan langsung beranjak masuk ke kamar nya lagi.


......................


Dua Hari kemudian.


Mansion Dachinko.


"Daddy!"


Arnold yang langsung berlari membawa kertas yang bertuliskan angka sempurna itu sudah tak sabar menunjukkan pada sang ayah.


"Lihat! Al dapat nilai sempurna!" ucap nya dengan bangga menunjukkan pada sang ayah.


Pria itu diam sejenak, ia sedikit bingung bagaimana cara mengapresiasi hal tersebut.


"Bagus," ucap nya sembari mengusap kepala anak berusia 8 tahun itu.


Al masih tersenyum dan menatap nya bersinar seperti masih menginginkan sesuatu kecuali pujian singkat yang datar itu.


"Kau pintar," ucap James lagi dengan bingung saat mata dan senyuman itu masih terpancar begitu jelas.


"Iya!" jawab Al dengan semangat namun masih menatap sang ayah.


James diam dan berpikir lagi, "Baik, karna kau sudah bekerja keras kau mau hadiah?" tanya nya lagi.


"Iya! Mau!" jawab Al yang terlihat begitu senang seperti sudah mendengar apa yang ia inginkan.


"Kau mau apa?" tanya pria itu yang berhasil menebak apa yang ingin di dengar anak lelaki di depan nya.


"Al juga mau ikut makan es-"


DUAR!!!


Suara keras memotong permintaan kecil anak lelaki itu, James pun tak jadi mendengarkan nya dan mencari sumber suara.


Taman yang hancur dengan beberapa pelayan yang terlihat memiliki luka bakar namun untuk nya masih hidup dan tak memiliki luka bakar yang begitu banyak setelah suara kegaduhan itu terdengar tawa yang begitu riang.

__ADS_1


"Bianca?" panggil nya dan langsung mengangkat putri nya yang tertawa renyah itu.


"Hihi, meleka lucu! Muka nya hitam!" ucap nya yang menertawai rasa sakit orang lain karna ia yang masih tak mengerti.


"Kau buat apa? Kenapa bisa sampai meledak begini?" ucap nya yang melihat kegaduhan yang di buat oleh putri nya.


"Bian cuma ambil itu dali luang bawah lantai telus Bian di malahi, kata nya gak boleh di mainin jadi Bian suluh meleka aja yang mainin Hihi," jawab nya tertawa polos.


Pria itu menarik napas nya, di bandingkan dengan luka orang lain ia lebih melihat ke arah putri nya terlebih dahulu.


"Daddy kan sudah bilang tidak boleh ke sana juga," ucap nya yang menarik napas nya.


"Huh! Semua gak boleh!" ucap nya cemberut, "Main Piuw! Piuw! Gak boleh! Main Dual! Dual! juga gak boleh?!" protes nya dengan wajah cemberut namun terlihat menggemaskan.


"Bian masih kecil, nanti luka." ucap nya yang menggendong gadis kecil itu.


"Obati mereka," perintah nya pada pelayan yang lain untuk membantu beberapa pelayan lain nya yang terluka karna ulah putri nya.


"Daddy kan sudah bilang tidak boleh kesana tapi karna Bian tetap nakal, tidak mau dengar Daddy jadi hari ini tidak ada coklat." ucap nya saat menggendong gadis kecil.


"Bian anak baik! Mau coklat!" ucap nya seketika.


James tak lagi menghiraukan nya namun ia masih menggendong anak cantik menggemaskan itu.


"Tadi Al mau bilang apa?" tanya nya sembari mendekat pada putra angkat nya agar mendengar kembali apa yang ingin di minta.


Al diam sejenak, menatap putri kandung pria itu yang masih protes namun tetap di gendong.


Kepala nya menggeleng, "Gak ada kok Dad..." jawab nya lirih yang tak jadi mengatakan nya.


"Al mau balik ke kamar lagi..." sambung nya dan beranjak memasuki kamar nya.


...


Pukul 09.12 pm


Gadis kecil yang mengenakan pakaian berwarna oranye dan rambut yang tergerai panjang itu mendatangi kamar sang kakak.


Apa lagi kalau bukan untuk mengajak nya bermain karna bosan sendirian.


"Kak Al?" panggil nya melihat ke arah sang kakak yang terus saja belajar.


Tak ada jawaban atau di gubris sama sekali, "Kak..." panggil nya lagi sembari melihat ke arah sang kakak sembari melipat bibir nya dan memainkan jemari mungil nya satu sama lain.



"Main yuk..." ucap nya lagi agar sang kakak mau menanggapi nya.


"Kakak mau belajar Bian!" jawab Arnold yang tak mau menemani adik angkat nya itu bermain.


"Kakak kan udah pintel buat apa belajal? Mending main boneka sama Bian," ucap nya pada sang kakak.


"Memang kamu? Yang pinter gak pinter tetep di sayang Daddy?!" tanya Arnold ketus pada adik perempuan nya yang tak mengerti ucapan nya itu.


"Hum?" Bianca terlihat bingung dengan apa yang di katakan oleh sang kakak.

__ADS_1


Ia tak mengerti ucapan yang baru ia dengar itu, perkotaan yang tidak bisa di cerna oleh anak berusia tiga tahun sama seperti pertengkaran orang dewasa yang ia dengar dan tak ia mengerti sama sekali.


__ADS_2