(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Poison


__ADS_3

Suara angin serta kobaran api yang masih hidup terdengar samar. Kini tak ada lagi suara dari kedua orang itu yang sebelum nya sangat berisik.


"Mau ku pakaikan?" pria itu bertanya sembari mengaitkan tali br* gadis itu kembali.


Tak ada balasan apapun, entah bagaimana jadi nya sebuah ciuman berjalan sejauh itu sampai melewati batasan.


"Luka mu?" tanya nya yang berbalik menatap ke arah pria yang berada di balik nya.


James tersenyum, walaupun ia berada di tempat yang tidak di ketahui dan mungkin tidak bisa kembali namun ia menyukai nya.


Situasi ini membuat hanya ia dan gadis nya saja. Tidak ada orang lain dan tidak ada embel-embel tentang kehidupan pribadi yang di miliki satu sama lain.


"Baik-baik saja," jawab nya sembari menyentuh anak rambut di dahi gadis itu.


Louise tampak canggung, ia membuang pandangan nya ke segala arah.


Bagaimana bisa seperti ini?


Apa yang akan terjadi kalau tunangan nya tau?


James menatap gadis itu, mungkin ini pertama kali nya sejak beberapa tahun gadis itu pergi.


Luka di perut nya terbuka sedikit walaupun sebelum nya mulai kering, namun ia tak masalah karna bagi nya ia mendapatkan hak yang sebanding dengan apa yang baru saja terjadi.


"Tapi kenapa kau semakin pucat? Apa tadi aku terlalu keras?" tanya nya mengernyit melihat wajah gadis yang semakin tampak sayu itu.


Louise menepis pelan tangan nya menyentuh wajah nya, ia menggeleng. "Tidak apa-apa," jawab nya lirih.


"Kau kedinginan?" tanya pria itu lagi.


"Kenapa? Kalau aku jawab iya kita akan melakukan nya lagi?" tanya nya pada pria itu.


"Kau mau lagi?" tanya James menatap gadis yang melihat ke arah nya.


Louise tak mengatakan apapun, namun tampak jelas jika wajah nya sudah kelelahan.


Pria itu membuang napas nya lirih ia menarik gadis itu ke samping nya, kepala dengan rambut yang sudah kering itu menyandar di bahu nya.


Tangan nya menepuk bahu gadis itu secara teratur.


"Kau potong rambut mu lagi?" tanya nya saat melihat ke arah laut yang entah kapan akan ada yang menjemput mereka nanti nya.


"Ya? Apa jelek?" jawab Louise sekaligus bertanya kembali.


"Tidak, kau tetap cantik." jawab nya dengan terus menepuk bahu gadis itu.


"James?" panggil nya lirih.


"Hm?" pria itu tak melihat ke arah wajah gadis itu namun menatap ke arah laut di mana pandangan gadis itu pun tertuju sama.


"Kalau dari waktu kita kabur tadi, ini sudah berapa jam?" tanya nya pada pria itu.


"Dari kita kabur tadi?" James mengernyit mencoba mengingat waktu mereka kabur menjelang siang hari itu dan sekarang tengah malam.


"Mungkin sekitar 13 jam yang lalu? Tapi karna aku tidak tau ini jam berapa bisa lebih dari 13 jam mungkin," ucap pria itu yang mencoba menjawab.


Louise diam, jika memang sudah 13 jam berlalu ia masih memiliki waktu 59 jam lagi karna racun itu bergerak lambat selama tiga hari yang tak lain adalah 72 jam.


Namun yang tidak ia ketahui adalah malam yang larut itu sudah lebih dari 13 yang di perkirakan.


"Kenapa?" tanya nya yang kali ini menoleh pada pria itu.


"Cuma tanya," jawab Louise sekilas.


Pria itu diam sejenak, wajah gadis yang bersama nya saat ini semakin pucat namun masih terlihat sedikit membaik.


"James?" panggil Louise lagi sembari menatap mata yang masih melihat ke arah nya itu.


"Hm?" pria itu menjawab singkat namun ia menatap dengan mata yang melihat lurus ke arah iris hijau yang tampak hitam karna tak ada cahaya itu.


"Yang kita lakukan tadi, bisa jadi rahasia?" tanya nya pada pria itu.


James tersentak, ia tersenyum getir dan membuang mata nya ke samping sejenak.


"Kenapa? Kau takut tunangan mu pergi kalau tau kau tidur dengan pria lain saat menghilang?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.


Gadis itu tak mengatakan apapun ia bungkam tanpa menjawab.

__ADS_1


"Atau kau menyesal karna melakukan nya dengan ku tadi?" tanya pria itu sekali lagi.


Dan kali ini pun sama, tak ada jawaban apapun. Gadis itu diam tanpa sepatah kata pun menjawab pertanyaan nya.


James menarik napas nya, kalau ia bisa memilih ia lebih ingin terjebak dengan gadis itu di tempat yang tidak di ketahui siapapun atau kembali membawa gadis itu pergi lagi dan mengurung nya.


Louise memegang tangan pria itu menautkan jemari kelingking nya ke kelingking pria itu.


"Janji ya? Jangan beri tau siapapun." ucap nya sekali lagi.


Bahkan jika memang ia akan mati pun ia sudah melewati batas dengan pria yang bersama nya saat ini sedangkan tunangan nya sibuk mati-matian mencari diri nya.


James tak mengatakan apapun lagi, ia hanya mengernyit melihat gadis itu memaksa nya membuat janji yang ia sendiri tak mau.


Cup.


Wajah pria perlahan mendekat memangut bibir gadis di depan nya, ia tak menjawab apapun dan memilih untuk mencium sesuatu yang selama ini tertahan pada nya.


Tak ada penolakan, gadis itu membalas ciuman nya dan perlahan memegang rahang kekar pria itu.


...


Sinar mentari yang hangat membangunkan kedua nya, api yang semalaman hidup kini sudah berubah menjadi abu.


James terbangun, entah sejak kapan ia tertidur namun mata nya memejam sendiri nya.


Ia melihat ke arah gadis yang tampak masih tertidur itu.


"Louise?" panggil nya lirih yang membangunkan.


Gadis itu tampak semakin pucat bibir nya membiru dan tampak keringat di dahi nya.


"Tangan nya juga..." gumam nya lirih yang melihat jemari gadis itu pun mulai memburu.


Louise terbangun, seseorang yang terus memegang tangan nya di tambah dengan situasi yang membuat nya tak bisa tidur dengan nyenyak.


"James?" panggil nya yang masih melihat dengan mata yang menyipit dan menarik tangan nya.


"Kau pucat sekali! Ada yang sakit di bagian lain? Tanya nya yang mencoba membuka kembali pakaian gadis itu.


Louise menepis nya, "Kau kan sudah lihat semua nya tadi malam?" tanya nya yang mencoba menghalangi pria itu membuka pakaian nya lagi.


"Aku tidak apa-apa! Wajar kan kalau pucat? Lagi pula aku juga penyakitan dari kecil terus sekarang malah jadi begini!" ucap nya yang mengalihkan pria itu dengan wajah dan nada bicara yang kesal.


James tak mengatakan apapun lagi, memang sangat masuk akal apa yang di katakan oleh gadis itu.


......................


Sementara itu


Seperti tim gabungan yang mecari ke pesisir pantai dan juga laut beserta mencari semua orang yang terlibat.


"Seperti nya mereka ke arah timur." ucap Zayn sembari memberikan kertas dari hasil pembacaan geografi dan angin laut yang kemarin malam menghalangi pencarian mereka.


"Coba cari ke sana," ucap nya yang tentu mengirimkan orang-orang nya ke sana.


Sedangkan Nick pun juga sudah mengirimkan helikopter begitu angin kencang mereda dan tak menghalangi pencarian lagi.


Semua nya tampak sibuk, lokasi jatuh pun di isi dari orang-orang yang tengah mencari Louise maupun James.


...


Kali ini bakaran kedua dari buruan yang lain pun di dapatkan.


"Bulu burung nya masih banyak James," keluh Louise melihat ke arah burung yang sudah tegang terbakar itu.


"Sabar, maka nya ini kan di bakar biar hilang bulu nya." ucap pria itu yang menghentikan ucapan rewel gadis di depan nya.


Beberapa saat kemudian.


Louise hanya memakan sedikit bahkan mungkin lebih sedikit di bandingkan yang kemarin malam.


"Makan mu sedikit sekali?" tanya nya yang ingin gadis itu makan lebih banyak.


"Iya, nanti kalau gemuk, aku yang di makan." jawab Louise yang membawa seperti biasa nya.


"Di makan siapa?" tanya pria itu tersenyum.

__ADS_1


"Kau," jawab nya singkat.


James tersenyum, namun ia memperhatikan jemari tangan Louise yang tampak membiru bukan seperti kedinginan.


...


5 Jam kemudian.


Hari sudah semakin menjelang sore, Louise mulai menahan rasa sakit di perut nya yang berbeda dari biasa nya.


Seperti ada yang bergerak memutar membuat nya merasa begitu tak nyaman.


"James? Ini jam berapa?" tanya nya lagi ingin tau tentang waktu.


"Entah lah, kenapa kau tanya soal jam ter-"


"James! Itu kapal kan?" potong nya yang melihat dari jauh.


Pria itu pun beranjak, walau ia ingin pulang lebih lama lagi namun ia merasa gadis itu harus cepat kembali karna semakin pucat.


James pun segera ke bibir pantai sembari melambaikan jas nya seperti meminta isyarat bantuan.


Kapal itu pun mendekat, tampak seperti kapal nelayan yang mengambil ikan di lautan itu walau biasa nya sangat jarang ada nelayan karna air yang tengah pasang.


"Bisa bantu kami? Kami akan memberikan kompensasi yang layak." ucap nya pada sang nelayan.


Para nelayan itu diam sejenak namun juga tentu membawakan bantuan nya.


Louise memegang ponsel lawas tanpa kamera yang akan menghubungi kakak nya itu.


Memang ponsel yang di gunakan seperti itu agar mencari jaringan telpon lebih banyak di pinggir laut.


"Mereka akan segara datang." ucap nya yang setelah selesai menelpon.


...


2 jam kemudian.


Greb!


Suara berisik dari helikopter masih terdengar di atas kepala mereka, pria itu memeluk erat sang adik saat menemukan nya kembali.


"Kau baik-baik saja kan? Kita pulang sekarang." ucap nya tanpa melihat ke arah pria yang juga ikut menghilang bersama sang adik.


"Tuan? Seperti nya anda cukup terluka." ucap Nick yang melihat khawatir ke tuan nya sedangkan James sendiri terus melihat ke arah gadis itu.


Gadis yang di kelilingi dengan orang-orang yang sangat menyayangi nya dan hanya ia lah di antara orang-orang itu yang pernah menyakiti nya.


Ukh!


"Louise?" Louis memanggil adik nya yang tampak berbeda.


"Kenapa?" tanya nya menatap khawatir.


"Kau merasa sakit? Pucat sekali?" tanya Zayn yang tentu juga ikut menjemput langsung.


"Aku tid- Hoek!"


Cairan kental berwarna merah itu mengalir keluar dengan deras dari mulut gadis itu.


"Louise!" James mendekat ia melihat gadis yang tak henti nya memuntahkan cairan berwarna merah segar itu.


"Bawa dia cepat!" ucap Louis yang langsung menggendong sang adik.


Mata hijau itu melirik sejenak ke arah pria yang mendekat pada nya tadi. Tangan nya sempat memegang ibu jari pria itu sampai memberikan cap darah nya yang tertinggal.


James tersentak, ia membatu sejenak tak menyangka jika gadis yang sebelum nya masih makan dan tersenyum pada nya malah berubah menjadi seperti sekarang.


Wajah yang pucat, bibir dan tangan yang membiru serta napas yang terdengar pendek dan tak teratur, keringat dingin belum lagi selaku beratnya tentang jam.


Deg!


Memang bukan tebakan pasti namun mirip dengan efek dari racun yang di bit oleh bawahan nya yang membuat jari tangan menjadi biru apalagi memang racun itu sudah terjual dengan satu orang dan ia pun tak tau terjual dengan siapa.


"Chiko!" ucap nya yang masih lirih.


"Ya?" Nick yang melihat tuan nya terdiam membatu mengulang ucapan nya.

__ADS_1


"Panggil Chiko dan suruh dia cepat menyusul! ucap nya yang langsung terlihat panik memberikan perintah.


Masalah nya tak hanya di racun yang mematikan namun juga kondisi gadis itu yang memang lemah membuat efek racun nya bisa lebih cepat.


__ADS_2