
Pria itu masih membatu, ia begitu terkejut hingga membuat semua suara nya hilang tercekat dan tak mampu keluar.
Terbesit beberapa ingatan tentang siluet tubuh gadis itu yang berbeda, keinginan dan rasa suka yang tak biasa nya serta pertanyaan tentang kapan hubungan mereka yang tak menggunakan kontrasepsi dan juga pertanyaan tentang anak.
"Kau yakin? Dia hamil?" tanya James lagi yang ingin memastikan nya.
Chiko mengernyit, sudah terlanjur untuk di tutupi lagi, "Benar, tapi seperti nya nona tidak mau mengatakan nya."
James membuang napas nya dengan kasar, ia melihat tubuh pucat yang tak sadar itu serta cairan kental berwarna merah yang menyebar di atas sprei berwarna putih tersebut.
"Bawa dia ke mansion, jangan sampai ada yang tau dan priksa kandungan nya." ucap nya setelah berpikir.
...
Derap langkah cepat yang terdengar di seluruh koridor dan pria yang memakai pakaian jas formal itu semakin banyak.
"Cari di lantai 10!" ucap salah satu pria yang sibuk mencari di mana nona nya.
Para pria itu pun panik, sedangkan dua orang yang tadi nya mengawal putri dari kelurga konglomerat itu tengah di marahi dan di beri sanksi oleh pengawal yang jabatan nya lebih tinggi dari mereka.
Belum lagi sanksi yang akan di terima setelah kakak gadis itu tau jika adik nya hilang.
......................
Mansion Dachinko
James duduk menatap gadis yang masih terpejam di atas ranjang empuk itu, tak ada suara sama sekali sedangkan Chiko berdiri di samping nya.
"Bagaimana kondisi nya?" tanya nya tanpa melepaskan pandangan nya.
"Tidak baik, dari kondisi nona Louise sendiri dia sudah kelelahan dan untuk kandungan nya..." ucap nya terputus.
James menoleh ke arah pria itu, ia semakin penasaran saat bawahan nya itu tak lagi melanjutkan kalimat nya.
"Lanjutkan," ucap pria itu sembari menatap bawahan nya.
"Kondisi kandungan nya sangat tidak bagus, saat terakhir kali sudah sangat lemah dan saat ini karna guncangan dan juga tadi tuan yang cukup kasar membuat perdarahan." ucap nya lirih.
"Kau sudah beri obat kan? Kau bisa selamatkan?" tanya nya lagi.
"Saya sudah berusaha tapi ada baik nya jika nona Louise tak lagi terkena hal yang membahayakan untuk janin nya di trimester pertama seperti ini, mungkin saja akan membuat bayi nya mengalami kelainan saat lahir jika selamat." jawab pria itu menjelaskan.
Tak hanya itu Chiko juga mengatakan tentang penyakit bawaan dan juga obat yang harus nya juga khusus untuk gadis itu selama kehamilan.
James membuang napas nya, ia pun menyuruh pria itu untuk keluar dan tetap menunggu di samping tubuh gadis cantik.
...
Pagi mulai berangsur datang, sinar yang kini sudah memenuhi ruangan tersebut dan juga istirahat yang mulai cukup membuat gadis itu perlahan bangun.
Tubuh nya terasa pegal, lelah, dan sakit di saat yang bersamaan, bagian inti nya pun masih sama. Masih terasa perih walau tak seperti sebelum nya.
Pandangan yang mengabur itu semakin jelas, ia melihat langit-langit yang tak asing untuk nya, menoleh ke sisi lain hingga membuat nya ingat sesuatu.
Apa aku bermimpi lagi?
Batin nya saat melihat ruangan yang dulu nya sering ia datangi.
"Kalau sudah bangun jangan tidur lagi,"
Suara pria yang membuat mata gadis itu tak lagi terpejam dan kembali membulat, sontak ia pun langsung menoleh dan menatap ke arah suara.
"James?" gumam nya yang baru menyadari jika sekarang ini bukan lah mimpi.
Ia memang benar-benar berada dalam kamar pria itu lagi.
Auch!
Ringis nya saat ia berusaha bangun dari tidur nya karna kondisi tubuh nya sedang tidak baik.
"Kau mau minum dulu?" tanya nya sembari mengambilkan segelas air untuk gadis itu lalu memberikan nya.
__ADS_1
Tatapan tajam dan iris yang bergetar terlihat jelas di mata gadis itu, ia merasa marah dan tak suka akan kehadiran pria itu.
Tangan nya menolak dan menepis air yang di berikan, ia merasa kesal dan dada nya bergemuruh merasakan luapan emosi nya.
"Kau mau apa lagi?" tanya nya sembari menatap tajam pria itu.
"Jawaban," jawab James singkat.
Louise membuang mata nya, tatapan yang seperti sudah mengetahui segala nya terlihat jelas di mata pria itu.
"Jangan menyentuh ku lagi," ucap Louise sembari tak menatap pria yang tengah berbicara pada nya.
"Kenapa tidak bilang kalau kau hamil?" tanya nya sembari menatap ke arah gadis itu.
Louise langsung menatap kembali ke arah pria itu, terlihat iris yang bergetar begitu mendengar nya.
"Bilang? Kau tanya pada ku, kenapa?" tanya gadis itu dengan tatapan emosi.
Tak ada balasan hanya wajah yang menatap nya lurus dan tak bisa di baca apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
"Aku sudah coba katakan tapi kau memutuskan ku hari itu, setelah yang kau katakan pada ku menurut mu aku bisa bilang?" tanya nya dengan tatapan sinis dan kesal.
"Kau bilang aku cuma pelampiasan mu, kau menanggap ku mainan dan tidak mencintai ku, kau hanya bosan karna kau menunggu pacar mu dan sekarang pacar mu sudah kembali, Lagi pula ini an-"
Deg!
Ia tersentak, ia ingat perut nya merasakan sakit yang luar biasa ketika pria itu melakukan hal itu pada nya.
"Anak ku? Bagaimana dengan nya?" tanya nya sembari memegang dengan erat perut nya.
"Kalau aku bilang kau keguguran?" tanya pria itu mengernyit sembari memperhatikan wajah panik gadis itu.
Mata Louise membulat, jantung nya hampir terhenti mendengar pertanyaan tersebut.
"A-apa yang kau bilang?" tanya nya dengan iris bergetar.
"Anak itu..." ucap nya lirih, "Anak ku kan?" tanya James mengernyit.
Louise tersentak, sesaat ia tak bisa mengatakan apapun karna pikiran yang penuh dengan sesuatu yang membuat nya tak bisa mengendalikan emosi nya.
Hati nya terasa sakit saat pria itu menanyakan anak yang ia kandung.
Apa dia memang berpikir aku pel*cur?
Gadis itu diam sejenak tak menjawab namun melihat iris pria yang menatap nya menunggu jawaban.
"Pfftt! Hahaha..." gadis itu tertawa nyaring tawa yang tak terdengar bahagia.
Tawa yang keras itu seakan menutup rasa sakit dan tangis nya.
James mengernyit, bukan nya menjawab gadis itu malah mentertawakan pertanyaan nya, Louise perlahan berhenti, air mata nya menetes tanpa sadar dan sulit ia hentikan namun ia tetap menatap dengan tajam di mata kaca nya.
"Bukan! Ini bukan anak mu tapi anak ku! Jadi kau tidak usah pikirkan!" ucap Louise dengan tawa pahit nya dan buliran bening yang tertumpuk di balik kelopak mata nya.
"Kau tau bukan itu pertanyaan ku, kan? Aku tanya siapa ayah nya!" tanya pria itu lagi.
Ia masih merasa jika gadis itu tak akan mempertahankan kandungan nya jika tau itu adalah dari benih yang ia berikan.
Gadis itu diam, dada nya semakin sesak saat pria itu menanyakan hal yang terdengar seperti merendahkan harga diri nya.
"Di mata mu ini aku apa? Pel*cur? Oh iya aku lupa, aku cuma pelampiasan kan? Apa pacar mu kesayangan mu tidak membuat puas? Kau jadi memperk*sa ku lagi?" tanya nya menatap pria di depan nya.
Tak hanya tubuh nya, hati nya pun juga terluka saat ini.
"Cukup jawab pertanyaan ku, bukan yang lain." ucap pria itu yang tau jika kemarin malam adalah kesalahan nya.
Hubungan nya sudah berakhir namun ia memaksa berhubungan dengan mantan kekasih nya.
"Aku keguguran?" tanya Louise lagi dengan suara yang semakin tercekat.
Pria itu masih diam tak menjawab, ia membutuhkan jawaban nya lebih dulu.
__ADS_1
Louise melihat iris pria itu, ia tersenyum pahit saat tak ada jawaban, "Mau bagaimana kau melihat ku dan di mata mu aku ini seperti apa..."
"Kalau aku sampai keguguran berarti kau membunuh darah daging mu sendiri," sambung nya sembari menatap ke arah wajah pria yang terlihat terkejut itu.
Iris pria itu bergetar mendengar nya, ia menatap dengan mata tak percaya pada gadis itu.
"Kenapa? Kau terlihat terkejut? Kau tidak akan merasa bersalah?" tanya Louise sembari menatap pria itu, "Lagi pula kau bilang memiliki darah yang sama juga kejahatan kan? Karna anak ini punya darah ku juga kau juga akan membenci nya."
James kehilangan kata-kata nya, ia kembali di buat terkejut sedangkan gadis itu di depan nya kini memejam tak bisa menatap wajah nya.
Louise membuang wajah nya, menatap pria itu membuat nya kembali terluka, pertanyaan yang meragukan nya dan juga ia yang merasa pria itu bahkan sama sekali tak peduli pada kandungan nya.
"Seharusnya kau bilang lebih cepat..." gumam pria itu lirih yang tak terdengar.
Ia memang tak bisa melupakan dendam nya begitu saja namun ia bisa mengubah rencana balas dendam nya.
"Kau tidak membenci nya?" tanya nya lagi menatap wajah gadis yang terus menjatuhkan bulir bening nya.
Louise kembali menengandah menatap pria itu, "Sudah ku bilang dia anak ku kan? Kenapa aku membenci nya? Dia tidak salah apapun," jawab nya menatap pria itu.
Jawaban yang seakan menyindir pria di depan nya. James tak mengatakan apapun, situasi yang sedikit mirip dengan gadis itu.
Gadis yang tak memiliki kesalahan apapun dan tak tau apapun namun juga harus menanggung akibat dari kebencian nya pada sang ayah karna merupakan putri nya dan memiliki hubungan darah.
"Kau tidak keguguran, tapi janin nya sangat lemah. Aku sudah memberikan obat tapi mungkin tidak akan terlalu efektif karna kau punya obat sendiri," ucap nya sembari menatap ke arah gadis itu.
Louise langsung menoleh, ia tak pernah sekalipun mengatakan tentang riwayat penyakit nya, "Apa yang kau katakan?"
"Aku tau semua tentang mu, obat mu, darah mu, penyakit mu. Semua nya." jawab pria itu sembari menatap mata gadis di depan nya.
Louise terdiam, ia bahkan kini tak lagi bisa menebak ataupun menjangkau pria itu.
"Tangan ku dulu..." gumam nya yang ingat dengan tangan nya yang terkadang terlihat bekas suntikan saat ia tak sadar.
Ia sudah lupa pernah memberi tau golongan darah nya ketika ia menyelematkan seorang anak kecil yang dulu nya hampir mati karna ingin di ambil karna pria itu menghipnotis dan menghapus ingatan nya tentang kejadian mengerikan itu.
"Benar, aku mengambil darah mu." jawab James pada gadis itu.
Memang dulu ia pernah mengambil darah gadis itu untuk di simpan jika tak ada golongan darah yang sesuai namun darah gadis itu lebih banyak di gunakan untuk penelitian membuat obat yang sesuai untuk penyakit gadis itu sendiri.
Karna ia dulunya ingin memiliki gadis itu hanya untuk nya dan mengurung nya di dalam mansion nya.
Louise tersenyum pahit mendengar nya, ia merasa pria itu benar-benar memanfaatkan nya dalam segala hal.
Ia pun beranjak bangun dari ranjang empuk itu, rasanya ia tak bisa berlama-lama bersama pria yang semakin membuat nya terasa sesak.
"Kau bisa istirahat dulu," ucap James sembari menangkap tubuh yang masih lemah itu.
Nada suara nya terdengar rendah dan khawatir ketika ia menangkap tubuh gadis itu.
Louise menepis nya, tatapan tajam terlihat jelas di wajah cantik itu melihat pria di depan nya.
"Lepas! Jangan menyentuh ku lagi!" ucap nya dengan tajam.
Manfaatkan aku.
Sekilas ia ingat dengan ucapan teman nya yang pernah di katakan beberapa saat yang lalu.
"Jangan mengganggu, aku akan menikah dalam waktu dekat." ucap nya pada pria itu.
Ia memang belum mengatakan setuju pada sang kakak ataupun pada sahabat nya, ia hanya ingin pria di depan nya tak lagi menganggu dan melukai nya.
Luka yang semakin besar karna ia juga mencintai pria itu sebesar kasih sayang yang ada di dalam hati nya.
Deg!
James tersentak mendengar nya, tentu nya ia tak akan mau dan tidak rela jika gadis itu sampai menikah dengan pria lain apalagi kemungkinan besar anak nya akan memanggil pria lain dengan ayah.
"Kau bilang apa barusan?" tanya nya sembari menahan lengan gadis itu.
"Lagi pula bukan urusan mu kan? Kau tidak mencintai ku ataupun menginginkan anak ku," jawab gadis itu sembari membalas tatapan mata pria di depan nya.
__ADS_1