(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Bebaskan aku


__ADS_3

2 Bulan kemudian.


Mansion Dachinko.


"Tata!"


Putri kecil menggemaskan itu berjalan dengan langkah yang masih goyah menuju anak lelaki di depan nya.


Tak ada satupun yang memiliki umur yang sebaya dengan nya di mansion dan yang paling dekat dengan umur nya hanyalah anak lelaki yang ia sebutkan 'Tata'


Arnold menangkap tubuh mungil itu, tak ada siapapun yang berada di dekat nya saat ini kecuali makhluk kecil yang mulai aktif di usia nya itu.


Tak mungkin ia tak memiliki rasa iri sama sekali pada adik kecil nya yang cantik itu, terkadang ia juga ingin meninggalkan nya dan menjadi satu-satu nya yang di perhatikan.


"Tata? Tata ncah?" mata coklat yang bulat bersinar seperti ayah nya itu menatap ke arah anak lelaki di depan nya.


Bahasa ambigu yang abstrak karna masih belum lancar berbicara itu menjadi hal yang sering ia dengar.


"Bianca mau main-main lagi?" tanya nya pada gadis kecil dengan mata bersinar tersebut.


Alasan mengapa ia bisa tinggal di mansion itu bersama ayah yang sangat ia dambakan adalah gadis kecil di depan nya.


Karna gadis kecil itu menarik tangan nya untuk bermain membuat James membiarkan ia untuk tinggal di sana.


"Addy!"


Baby Bianca langsung berbinar menatap sang ayah dari jauh, tubuh nya langsung beranjak dan menuju sang ayah.


James tak melanjutkan langkah nya agar putri kecil kesayangan nya itu bisa memiliki beberapa langkah yang lebih banyak lagi.


*Kau akan membawa nya ke wanita itu?


Kalian akan menikah, kan*?


Greb!


Ia memeluk putri nya membawa dalam gendongan nya yang biasa ia lakukan, suara gadis itu kembali pada nya lagi namun ia tak membalas nya.


Arnold diam, ia juga ingin di peluk ataupun di gendong. Kecemburuan anak-anak tentang kasih sayang memang nyata namun tak semua orang dewasa memahami nya.


"Kau sudah makan siang? Makanlah setelah itu baru lanjutkan permainan mu,"


Arnold hanya diam, wajah yang datar dengan nada suara rendah yang terdengar dingin dan hampa masuk ke dalam telinga nya


Ia tak sempat mengatakan kata balasan namun pria itu sudah terlanjur membalik tubuh nya dan menggendong putri kesayangan nya itu pergi.


"Da..Daddy!" Langkah kecil dan tangan kecil nya meraih kemeja pria itu.


James berbalik, bukan nya ia yang tak bisa mengatur ekspresi wajah nya dengan baik namun ia memang tak memiliki ekspresi sama sekali saat ini.


"Da..Daddy u..uda makan?" tanya Al lirih dengan gugup sampai membuat nya terbata.


"Aku akan makan dengan Bianca, kau makan lebih dulu saja." jawab nya dengan tatapan lurus pada anak yang masih begitu menginginkan kasih sayang nya.


James?


Iris pria itu kembali bergetar, mendengar suara ilusi yang selalu menemani nya sampai beberapa pelayan nya di mansion mulai mengganggap sedikit gila karna seakan terpaku pada sesuatu dan berbicara sendiri walau tentu tak ada satupun yang berani menegur nya karna masih menyayangi nyawanya.


Kau tidak tau? Itu tanda nya dia mau makan dengan mu


Pria itu menatap dengan iris kosong ke depan, Arnold diam tak berkutik bingung bagaimana cara nya menarik sedikit perhatian pria itu.


"Begitu..." gumam nya lirih.


"Da..Daddy?" pria kecil itu melihat ke belakang menatap apa yang di lihat 'Daddy' nya namun tak ada sama sekali.


"Kau mau makan dengan ku?" tanya James sembari memalingkan mata nya dari bayangan yang hilang itu dan menatap anak polos di depan nya.


Mata binar Arnold langsung naik, terlihat jelas di wajah menggemaskan nya itu jika ia sedang merasa sangat senang.


"Iya!" jawab nya seketika dengan riang.


"Daddy? Tadi Bianca bisa jalan dengan dengan cepat, dia hampir jatuh tapi Al langsung tangkap biar gak luka!" celoteh nya memamerkan apa yang tadi ia lakukan bersama 'adik' nya.


"Kerja bagus," ucap James yang memberikan apresiasi walau wajah nya masih menunjukkan ekspresi yang datar.


Al tersenyum, ia suka mendapatkan pujian walau hanya pujian kecil dan itu pun harus berhubungan dengan adik yang tak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan kasih sayang ayah yang sangat ia inginkan.


......................


Ottawa, Kanada.


Pandangan yang kosong dengan wajah pucat dan tubuh yang kurus terlihat jelas pada gadis yang duduk diam melihat ke arah luar dari jendela tersebut.


"Louise?"


Tak ada sahutan untuk menghiraukan panggilan tersebut.


"Kau sudah makan sesuatu? Karna kau baru bangun jadi aku bawakan ini," ucap Zayn yang datang dengan makanan yang bisa di makan untuk gadis yang masih dalam perawatan tersebut.


"..." masih tak ada jawaban sama sekali, hanya lirikan dari mata yang terlihat mati itu menatap ke arah makanan yang di berikan.


"Louis kembali tadi pagi, ada beberapa rapat yang tidak bisa di tunda. Dua hari lagi dia akan kembali ke sini." ucap Zayn lagi menjelaskan walau gadis itu tak minta.


"..."


Masih hening, tak ada sahutan sama sekali. Para dokter yang melihat maupun ia sendiri bagaikan melihat hal baru.


Gadis yang biasa nya ceria dan berisik itu kini menjadi diam tanpa sepatah kata pun.


Mungkin jika pria yang membuat nya seperti ini melihat nya akan terbiasa dengan sikap yang baru tersebut.


Diam tanpa mengatakan apapun seperti boneka yang cantik dan terkadang bisa lebih histeris dari siapapun, ia hanya melakukan hal yang sama seperti saat ia masih terkurung.


"Hm? Apa ini?" gumam Zayn saat mengernyit melihat seperti serpihan kertas yang melekat di balik rambut gadis itu.


Tangan nya beranjak mengambil nya, mengibaskan rambut panjang itu agar bisa menjangkau rambut bagian belakang yang dekat dengan tengkuk dan tentu nya tanpa sengaja ujung jemari nya akan mengenai leher gadis itu.


Deg!


Louise tersentak, baginya sentuhan merupakan salah satu yang sensitif apalagi di bagian leher atau bagian yang umum nya tidak mudah tersentuh.


Karna semua memori buruk itu akan datang pada nya lagi, kilasan tentang sentuhan pada seluruh tubuh nya, kilasan bagaimana ia harus menerima seseorang yang 'masuk' tanpa izin atau keinginan nya sama sekali.


"Louise?" Zayn baru menyadari, gadis itu memberi reaksi.


Tubuh nya bergetar dengan takut, mata nya memejam seakan menghindari nya dan tangan nya mengepal dekat kuat namun ia tak menepis nya.


"Kau baik-baik saja?" pria itu tak mengerti, tentu nya ia bertanya karna merasa khawatir dan memegang pundak gadis itu.


"Kau tanya keadaan ku?! Jahat..." gumam nya lirih dengan sorot mata yang terlihat begitu marah, benci, putus asa dan kecewa menjadi satu.


"Jahat..."

__ADS_1


"Kau..."


"Hiks..."


Gadis itu menunduk, mata nya mengalirkan bulir bening yang luruh jatuh dari pipi nya, waras atau tidak, benci dan marah namun ia masih tidak bisa melakukan satu hal.


Keberanian untuk melihat pria itu terluka ataupun melukai nya, bukan karna ia penakut namun karna bendungan yang masih berada di hati nya.


Tidak memiliki harapan namun ia masih memberikan perasaan nya dan membuat nya semakin terluka.


"Maaf..."


"Aku salah, aku tidak menyentuh mu lagi, hm?" tanya Zayn yang tak mengerti apa yang di maksud gadis itu namun ia hanya bisa menggunakan kata yang mungkin bisa menenangkan.


Tak ada jawaban lagi, gadis itu kembali menangis seperti sebelumnya.


...


3 Hari kemudian.


Pemeriksaan fisik dan juga terapi psikiater sudah di berikan semenjak ia bangun, namun tetap memiliki akhir yang sama.


Tak memberikan respon sama sekali dan bahkan tak ingat dengan memori terakhir nya jika ia sudah kembali dan tertembak dengan peluru.


"Louise?"


Hening, tak ada sahutan.


"Aku memberi ini tadi, kau suka kan? Cake stroberi kesukaan mu," ucap Louis sembari memberikan sepotong cake cantik tersebut pada sang adik.


Gadis itu bergeming, ia menatap diam tanpa bergerak sedikit pun.


"Kau tidak mau coba? Ini kan makanan kesukaan mu," ucap nya Louis sekali lagi.


Ia mulai pulang pergi antar negara karna urusan pekerjaan dan melihat kondisi sang adik.


"Kesukaan ku?" bibir gadis itu bergumam.


Ia lupa dengan apa yang ia sukai dan tidak ia sukai, tahapan stres yang membuat nya benar-benar terpuruk hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.


"Iya! Kau suka sekali sampai sering merebut punya ku juga!" jawab Louis tersenyum.


Tidak boleh marah ataupun memperlihatkan ketidaksukaan dan harus lembut serta perhatian itulah yang di minta oleh dokter psikiater yang tengah merawat gadis itu.


"Bukan..."


"Hm?" Louis bingung mendengar gumam sang adik.


"Bukan kau, tapi kakak ku..." ucap nya lirih, walaupun ia memiliki ingatan yang bertabrakan dan campur aduk namun bukan berarti ia sudah benar-benar gila tak mengingat apapun.


Louis diam sejenak, ia tersadar jika sang adik masih belum melepaskan belenggu di kepala nya dari semua yang terjadi selama menghilang.


"Kau suka berebut makanan dengan kakak mu?" suara pria itu mulai terdengar berubah saat menanyakan diri nya yang seperti orang lain.


Tak ada jawaban untuk pertanyaan nya, sang adik diam tak mengatakan apapun.


"Aku mau pulang..."


"Dia menyebalkan tapi aku rindu dengan nya,"


Ucap gadis itu yang terkadang bisa di ajak berbicara walau tak mengenal lawan bicara nya.


"Menyebalkan? Dia juga menganggap mu begitu," pria itu tertawa pahit, jika sang adik saat ini masih 'normal' seperti sebelum nya mungkin mereka akan bertengkar lalu berbaikan dan tertawa.


Louis tak menjawab apapun karna ia tau itu bukanlah pertanyaan untuk nya.


"Aku mau pulang..."


"Aku..."


Ucap gadis itu terputus dan tampak sendu, ia terus merengek meminta pulang walaupun sebenarnya ia sudah berada di 'rumah' yang ia inginkan.


"Louise?"


"Kau sudah pulang, kau sudah bebas..." ucap pria itu lirih.


Mau dengan raut apapun ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit nya ketika melihat satu-satu nya kelurga yang ia miliki seperti itu.


"Bebas? Kau tidak akan melepaskan ku..."


"Aku tau..." gumam nya lirih.


Kembali hening seperti yang sebelum nya, Louis pun mendekat melihat wajah sang adik berhadapan dan menatap mata nya.


"Kau menangis lagi?" ucap nya sembari menghapus air mata gadis itu.


Deg!


Kenapa kau terus menangis? Apa sakit?


Kalau sakit harus nya kau bicara kan?


Jantung gadis itu seakan ingin berhenti, ia mengingat perkataan yang hampir mirip walau berbeda dan di situasi yang tak sama.


Bayangan akan pria yang berada di atas tubuh nya kemudian menc*mbu nya dengan liar masuk begitu saja.


Louis tersentak, sang adik awal nya membatu namun kemudian perlahan membuka kancing kemeja baju pasien yang ia kenakan.


"Louise?" pria itu menatap bingung namun mencegah jemari yang ingin membuka kemeja nya.


"Lakukan dengan cepat lalu pergi dari sini," suara yang terdengar gemetar dan sedikit gelisah sembari menepis dan membuka kancing nya dengan sendiri.


Sedangkan ia yang masih terlihat bingung pun dengan cepat kembali mengancingkan kan nya seperti semula.


"Louise? Dengar-"


"Jangan..."


"Louise!"


Gadis itu tersentak, panggilan yang keras membuat nya berhenti membatu.


"Akh!"


Teriakan melengking memenuhi ruangan tersebut.


Ya, gadis itu kembali histeris seperti sebelumnya, dan tentunya hal ini adalah sesuatu yang harus di tangani oleh dokter yang tepat.


......................


Satu bulan kemudian.


JBS Hospital.

__ADS_1


Pekerjaan tetaplah sebuah pekerjaan, dan tak ada perkembangan sama sekali tentang sang adik.


"Kau sudah membeli tiket untuk ku?" tanya Louis sekali lagi pada sekertaris nya untuk jadwal yang baru agar bisa tenang menjaga sang adik.


"Sudah Presdir," jawab Michael pada atasan nya.


Ia membuang napas nya dengan kasar dan hanya bisa berharap agar sang adik mampu mengenali dirinya dan sekitar nya.


......................


Ottawa, Kanada


Hua...


Huhu....


Wajah gadis itu terlihat pucat, ia keluar saat ini dan memang tak ada yang melayang nya jika ingin keluar dari kamar namun ia langsung tersentak begitu mendengar tangisan bayi.


*Dia mati karna mu!


Bianca Anastasia Dachinko


Itu nama nya, ingat itu*


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung nya terasa ingin berhenti berdetak, ingatan tentang bayi yang meninggal dalam gendongan nya bertabrakan dengan bayi yang sehat yang ia lahirkan kedua kali nya.


Seorang ibu mana yang tidak trauma jika harus di kurung bersama dengan anak nya yang sudah tiada dan ia bahkan tak di beri kesempatan untuk menyembuhkan rasa takut nya itu.


"Kau di sini?"


"Sstt..."


"Mereka akan membawa dan menukar mu, kalau kau berisik..." ucap nya yang menggendong bayi mungil itu.


Mengambil bayi laki-laki yang membuat nya ingat dengan putra pertama nya yang telah tiada dari ruangan yang di tinggalkan bayi sendiri karna ingin berganti ruang oleh salah satu perawat.


Bayi mungil itu perlahan diam dalam gendongan nya sedangkan wajah pucat itu menatap dengan sendu.


Pikiran yang setengah waras itu tentu nya tak bisa menjadi jernih.


"Mereka akan menukar mu lagi, dia pikir aku tidak tau apa yang ku lahirkan?" gumam nya karna ingatan nya terjebak pada putra pertama nya dan tak ingat dengan anak kedua nya yang cantik.


...


Zayn tersentak melihat kamar yang kosong, ia pun langsung meminta para penjaga untuk mencari Louise secara langsung.


"Cari dia!" perintah nya seketika pada para penjaga.


Saat tak ada saudara kembar gadis itu tentu nya ia lah yang paling bertanggung jawab dalam menjaga nya.


"Atap!"


"Nona Louise pergi ke atap!" ucap salah satu penjaga yang melihat dari rekaman cctv mencari gadis itu.


Tentu nya ia pun pergi ke sana menyusul dengan beberapa orang yang ikut, hingga


Deg!


Pria itu tersentak, gadis itu melihat nya dengan tatapan kosong sembari menggendong bayi yang bukan milik nya dan berdiri di ujung dinding pembatas atap rumah sakit yang tinggi tersebut.


"Kau bilang akan membebaskan ku kan?" tatapan yang kosong itu mulai bersuara.


"Louise?" Zayn mendekat perlahan agar bisa menarik gadis itu.


"Kalau begitu berikan pada ku," ucap nya lirih yang memejam ingin menjatuhkan diri nya.


Greb!


Satu tarikan yang hampir tak di dapat langsung menarik tubuh kurus beserta bayi dalam gendongan itu ke sisi yang aman.


"Apa yang kau lakukan?!" tanpa sadar Zayn membentak nya, bukan marah melainkan rasa khawatir yang begitu dalam.


Para penjaga pun mulai mengambil paksa bayi lelaki milik ibu lain yang berada dalam gendongan nya.


"Jangan!"


"Jangan mengambil anak ku!" gadis itu berteriak histeris.


Rasa panik membuat nya semakin tak bisa berpikiran dengan normal, perasaan marah yang meluap melihat ke arah pria yang ia yakini masih sama.


Tak ada satupun atap yang yang benar-benar bersih, tumpukan barang-barang tak terpakai kadang di letakkan di sana.


"Louise!"


"Kau mau ke man-"


Tusk!


Ucapan nya terhenti, ia langsung kembali mengikuti gadis itu saat di dorong menjauh namun rasa perih menjalar masuk ke dalam tubuh nya membuat nya bungkam.


"Ja..jangan..." gadis itu bergumam dalam tangisan nya.


Yang ada di ingatan nya tentang bayi yang mati dalam gendongan nya dan yang ia lakukan adalah ingin mempertahankan anak nya.


Tes...


Cairan merah kental mengalir dari tangan nya yang kurus tersebut, melewati besi yang ia dapatkan dan ia tancapkan di perut pria di depan nya.


"Louise?" suara lirih membuat gadis itu tersentak.


Gadis itu menyadari tangannya yang basah dan penuh dengan cairan merah kent yang mengalir.


AAKKHH!!


Gadis itu berteriak, melihat ke arah bayi mungil yang menangis dan juga pria yang terluka di depan nya.


Ia menggeleng melihat dengan takut dan gelisah, ia bahkan tak sadar dengan apa yang ia lakukan barusan.


"A...Aku..." gumam nya lirih.


Semua nya gelap, tubuh nya terjatuh seketika.


"Panggil dokter!" perintah pria itu dengan cepat dan tentunya beberapa dokter memang sudah menyusul mereka sejak tadi.


"Priksa dia!" ucap nya saat melihat beberapa dokter yang datang.


"Pak? Yang harus di priksa anda dulu," jawab salah sang dokter yang melihat darah yang terus membanjiri keluar serta wajah yang semakin pucat itu.

__ADS_1


__ADS_2