
Mata yang mulai bergetar seperti sebuah kedipan dalam kelopak yang masih terpejam.
"Louise?"
Suara lirih yang memanggil terdengar sayup di telinga nya, jemari yang mulai menunjukkan gerak seakan memberikan respon.
"Louise? Hey?"
Suara itu masih memanggil berusaha untuk membuat nya bangun walaupun ia ingin tidur untuk beberapa saat lagi.
Iris yang hijau itu terbuka menyipit, kelopak mata yang masih segaris itu menatap silau dengan cahaya lampu di langit-langit kamar yang ia tempati.
"Hey? Kau bisa lihat aku?" ucap nya yang meraih tangan wanita itu sembari mengecup dahi nya beberapa kali.
Mata hijau itu menatap ke arah pria yang menatap nya dari dekat dan wajah yang tampak bersyukur melihat nya.
Pria itu memberikan senyuman tipis, ia bernapas lega. Mata nya melirik ke arah jam yang berdenting di dinding dan tampak bulat.
Pukul 05.32 am
Masih terlalu dini untuk bangun namun wanita itu sudah sadar.
Bibir pucat dan wajah yang lebih putih itu tampak tak bisa mengatakan apapun, suara nya masih begitu serak dan tercekat di dalam tenggorokan nya.
"A.."
Suara lirih itu terbuka dari bibir yang masih tampak kering itu.
"Mereka selamat, mereka baik-baik saja..."
"Terimakasih..."
Ucap pria itu yang berulang kali mengecupi dahi dan pipi wanita yang sudah melahirkan anak-anak nya.
......................
Kediaman Rai
Mata yang cerah itu tampak berbinar begitu mendengar jika adik ipar nya telah melahirkan.
Selama wanita itu mengandung, ia juga turut menunggu dan menantikan nya.
"Kapan kita akan jenguk mereka? Louise akan pindah rumah sakit?" tanya nya yang langsung mencerca dengan pertanyaan yang penuh dengan semangat.
"Iya, nanti malam kita jenguk. Dia seperti nya tetap di rumah sakit itu sampai pulih." ucap nya yang mana mungkin mau sang adik pindah ke rumah sakit yang berbeda setelah menjalani perawatan.
"Kita nanti ke sana? Aku mau lihat..." ucap wanita itu yang masih bergumam dengan senyuman tipis nya.
"Tapi setahu ku waktu kelahiran nya bukan sekarang kan? Masih tersisa beberapa Minggu lagi sesuai yang di jadwal yang di janjikan." ucap nya yang sedikit merasa bingung.
"Mungkin kontraksi sudah kuat jadi di operasi sekarang," ucap Clara yang penuh dengan pikiran positif karna ia sedang senang.
"Ku rasa ada terjadi sesuatu, kalaupun kontraksi nya sudah kuat tapi dia tidak mungkin ke rumah sakit lain selain jadwal yang dia buat." jawab pria itu menarik napas nya.
Clara tak mengatakan apapun, ia diam dan menatap pria yang akan pergi bekerja itu.
"Aku pergi dulu, jaga diri mu dengan baik." ucap nya yang mengecup bibir lembut dengan lipstick berwarna coral itu.
......................
Rumah sakit
Mata hijau itu kini menoleh ke segala arah, tak ada keranjang bayi yang berada di dekat nya sama sekali.
"Mereka mana? Kau tidak bohong tentang mereka kan?" tanya nya yang kini sudah bisa bersuara dan mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Inkubator, mereka masih butuh lebih di perhatikan dengan para dokter." ucap James yang tetap duduk di samping wanita nya.
"Kalau kau nanti sudah bisa berjalan kita akan lihat mereka bersama," sambung pria itu dengan senyuman pada istri nya.
Louise tak menjawab untuk beberapa saat, ia diam dengan wajah nya yang tampak ingin membicarakan sesuatu.
"Seperti nya kita harus bicara tentang sikap Bianca," ucap Louise yang tentu belum lupa kenapa ia bisa melahirkan lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
James terdiam sejenak, ia melihat ke arah wajah yang tampak sedang serius itu.
"Mungkin karna dia masih kecil, kau tau kan anak-anak kadang tidak tau apa yang mereka mainkan." ucap nya yang mengatakan seakan hal itu masih bisa di mengerti.
Louise menarik napas nya, ia berpikir mungkin saja suami nya tak tau apapun karna sedang tak berada di tempat bersama nya saat itu.
"Baik, anggap saja dia masih anak-anak dan bersikap nakal karna di manja. Itu wajar, setiap orang punya masa kenakalan nya." balas wanita itu yang tak mentahkan tentang sikap nakal anak kecil karna mereka masih makhluk yang belum mengerti memilah kesalahan.
"Tapi ada kenakalan yang masih bisa di anggap cuma sebatas anak kecil dan kenakalan yang keterlaluan juga harus di luruskan," sambung nya sekali lagi.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, memang kali ini putri nya sudah keterlaluan karna membahayakan ibu dan adik nya sendiri namun ia juga sudah memberi tau nya.
"Kau tau? Apa yang di lakukan anak itu? Dia memukul perut ku dan kemudian tertawa saat melihat darah, dia melompat dan bersorak senang mengatakan adik nya sudah mati, itu bukan sesuatu yang wajar untuk anak kecil." ucap nya tau sampai sebatas mana kecemburuan anak-anak yang normal.
"Aku akan memarahi nya, dan kali ini aku akan pastikan dia tidak akan menyerang adik nya lagi." ucap James yang tak lagi memberikan pembelaan apapun.
"Anak itu butuh psikolog, dia bertingkah tidak seperti pada umum nya dan mungkin ada gangguan kepribadian." ucap Louise yang ingin membawa putri nya langsung ke ahli nya.
"Do you think She's crazy? Your kid?" ucap nya yang menatap ke arah sang istri saat mendengar ingin membawa nya ke psikolog.
"No, She's like sociopath girl maybe even more?" jawab Louise pada suami nya.
"Ya, ku rasa karna dia masih kecil nya jadi dia bertindak impulsif dan tidak memikirkan akibat tindakan nya." jawab pria itu yang sempat terdiam beberapa saat.
"Aku akan buat janji dengan dengan psikolog nanti jadi-"
"Tapi aku harap kau juga tidak lupa kalau dia pernah mengalami beberapa hal buruk dulu, penculikan, penyiksaan di dalam nya dan pengabaian dari mu." sambung pria itu yang menatap ke arah sang istri.
Louise tersentak, bibir nya terbungkam sejenak dengan lidah yang kelu.
"Kau pasti mau bilang maka nya itu dia perlu psikolog kan? Aku sudah memberikan nya, bahkan untuk waktu yang lama, kau mungkin tidak tau karna kau tidak bersama nya. Dia baru kembali ceria lagi." ucap nya yang juga tidak lupa bagimana kondisi putri nya saat trauma dulu.
"Dia takut semua orang dan bahkan tidak bisa bicara sama sekali, dia bahkan tidak bisa mengangkat wajah nya." sambung nya sekali lagi.
__ADS_1
Wanita itu masih diam tanpa mengatakan apapun sepatah kata pun.
"Dan kau pasti tidak tau itu karna kau dulu tidak terlalu peduli dengan dia kan?" James yang mengatakan tepat pada sasaran nya.
Ia tau memang bukan hal yang buruk untuk membawa putri nya ke psikolog anak untuk membimbing nya dengan sikap yang mungkin akan lebih baik.
Namun ia takut kondisi di mana putri kecil nya itu kembali hancur terulang, maka dari itu ia membiarkan semua yang di lakukan putri nya mau itu benar atau salah.
Tak apa, asalkan senyuman yang ceria dan cantik itu ada di wajah yang menggemaskan itu.
"Soal Bianca biar aku yang mengurus nya, aku akan pastikan dia tidak akan menyakiti adik nya lagi atau pun membuat mu sakit, aku janji." ucap James pada sang istri sekali lagi.
"Apa? Apa yang akan kau lakukan? James? Sebenarnya, kau itu mendidik nya dengan cara seperti apa?" tanya nya wanita itu mengernyit.
Sepanjang ucapan yang ia dengarkan, ia menangkap sesuatu jika ia tak boleh ikut campur dalam asuhan dan didikan untuk putri nya.
Pria itu terdiam sejenak, ia menarik napas nya dan membuang napas nya dengan lirih.
"Aku hanya mau anak itu tumbuh dengan baik, dia juga sudah tau kesalahan nya dan merasa bersalah, jadi..."
"Untuk kali ini saja, biarkan dia satu kali. Jika aku memang tidak bisa mendidik nya kau bisa gunakan semua cara didikan yang kau inginkan." ucap nya pada sang istri.
"Anak-anak itu, kali ini aku akan jalankan peran ku untuk mereka jadi jangan menganggu." ucap nya yang menatap ke arah pria nya.
Memang bukan sebuah paksaan dan sebuah bujukan untuk membiarkan perbuatan putri nya namun entah mengapa pria itu juga seperti memojokkan sikap nya dulu yang mengabaikan dan tak mengacuhkan putri nya sendiri sehingga untuk didikan dan asuhan pria itu lah yang lebih tau dan lebih berhak.
"Ya, aku juga ingin kau menjalankan peran ibu dengan baik." ucap nya yang tersenyum saat ia berhasil mengendalikan wanita nya ke arah yang ia inginkan.
....
Klek!
"Mommy!"
"Mommy!"
Suara yang langsung menyambut begitu pintu tersebut di buka, kaki mungil yang langsung berlari mendekati wanita yang masih tertidur di ranjang pasien itu.
"Mommy..."
"Maaf..."
"Huhu..."
Wajah bulat yang menggemaskan itu tampak langsung menangis begitu melihat nya, kaki mungil dan tangan nya beranjak berusaha naik ke atas ranjang pasien sang ibu dan ingin memeluk nya namun ia tak bisa karna tubuh kecil nya yang masih begitu pendek.
James melihat ke arah makhluk mungil itu yang beranjak naik ke atas ranjang ibu nya namun tak bisa, ia pun mengangkat nya dan mendudukkan nya di samping wanita yang masih memakai infus itu.
Greb!
"Hua!!!"
"Mommy ma.. maaf..."
"Jangan mati, huhu..."
Bagai cicak yang melekat di dinding gadis kecil itu memeluk erat sang ibu sampai infus yang berada di tangan itu ikut tertarik dan hampir tercabut.
Louise masih tak mengatakan apapun, ia diam sejenak dan jujur saja ia sedikit merasa takut dengan putri nya sendiri yang sudah berada di luar kendali nya dan bahkan masih memiliki dukungan sang ayah.
"Huhu..."
"Ma.. maaf Myy..."
Tangis nya yang masih memeluk sang ibu dengan erat namun jarum infus yang di tarik itu sudah di benarkan oleh James agar darah nya tak naik.
"Bian?"
"Bianca?"
Panggil nya sembari melepaskan pelukan kecil dari putri nya.
Wajah bulat itu masih tampak sembab, mata yang masih bengkak karna menangis sepanjang malam dan berhenti hanya saat tertidur saja.
"James? Kau bisa bawakan aku sesuatu? Aku haus," ucap nya yang melirik sejenak ke arah suami nya agar pergi karna ia ingin bicara dengan putri nya.
"Ya, tunggu 5 menit aku akan kembali." ucap nya yang menatap ke arah wanita nya.
Mata dengan iris hijau itu masih tak melepaskan pandangan nya sampai suami nya benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Mommy maaf..."
Gadis kecil itu menatap sendu dengan wajah menggemaskan nya dan tampak takut kehilangan ibu nya.
Mata bulat nya masih merah dan sembab, mungkin bengkak?
Karna menangis sebelum tidur dan setelah bangun tidur menangis lagi.
"Bian sayang Mommy?" tanya nya yang menatap dan mengusap air mata di pipi bulat itu.
Satu anggukan yang tampak begitu jelas dan tentu menjawab berdasarkan keinginan nya terlihat.
"Iya, Mommy juga sayang sama Bian karna Mommy sayang sama Bian, Bian harus sayang sama adik bayi nya nanti ya?" ucap nya pada putri kecil nya itu.
"Mommy sama Daddy kan sayang nya sama Bian, jadi adik bayi nya ga ada yang sayang. Jadi kan kasihan adik bayi nya nanti, berarti kalau begitu kan yang harus nya sayang Bian kan?" tanya nya pada putri nya.
Gadis kecil itu mengangguk saja tanpa perlawanan karna ingin sang ibu, ibu yang sangat ia sayangi dan bahkan belum berapa lama ia rasakan kasih sayang nya.
"Tapi..." ucap wanita itu lirih.
"Kalau Bian nakal dan buat sesuatu sakit mau itu adik bayi Bian atau hewan peliharaan atau mungkin temen Bian, Mommy bakal pergi." ucap nya pada gadis kecil itu.
Mata coklat itu langsung membulat melihat sang ibu.
"Tapi kan Bian ga nakal Myy! Huhu!" tangis nya yang kembali pecah mendengar ucapan sang ibu yang bagi nya seperti ancaman.
"Maka nya Bian jadi anak yang baik, Mommy ga mau sampai lihat hal yang seperti ini dua kali. Mengerti?" ucap nya yang mengatakan pada putri nya itu.
__ADS_1
Mata bulat itu mengangguk melihat sang ibu, ia tak mengerti namun ia menuruti nya karna ia tak ingin ibu yang bagi nya sesuatu yang menyenangkan itu tiba-tiba pergi.
"Sekarang coba ulangi? Bian harus apa?" tanya nya pada gadis kecil.
"Halus sayang adik, halus sayang hewan, halus sayang sama temen." ucap nya lirih yang masih menangis.
Louise menangguk mendengar nya, jika ia saja yang ibu nya bisa mendapat kenakalan seperti itu apa lagi saat ketika putri nya marah dengan hewan atau teman nya?
Perasaan nya masih mengganjal dan jujur dari lubuk hati nya yang terdalam ia merasa sedikit takut dengan anak nya sendiri.
Memang gadis kecil berasal dari darah nya namun ia seperti tak mengenal nya sama sekali walaupun anak itu masih berumur lima tahun.
...
Tabung inkubator yang memperlihatkan kedua bayi mungil yang masih memiliki warna kulit yang merah dan mata yang bahkan masih segaris.
Kepala yang botak dan bulat serta tangan yang mengepal di balik kotak kaca itu.
Wanita itu tampak tersenyum tipis, mata nya menatap ke arah kedua putra nya yang tampak baik-baik saja.
Begitu pun dengan pria yang sedang menggendong putri kecil nya itu, ia tampak bahagia dan senang melihat ke arah kedua bayi mungil yang belum memiliki nama itu.
"Kok adik Bian jelek? Ga milip sama Daddy..." celetuk mulut kecil itu tiba-tiba yang tentu ia berpikir adik kecil nya akan keluar dan langsung memiliki janggut dan kumis tipis seperti sang ayah.
"Bian..." ucap Louise pada putri kecil nya.
"Iya Myy? Bian kan sayang adik..." ucap nya yang mengatakan apa yang ingin di dengar orang tua nya namun bibir nya masih cemberut.
"Iya, Bian sayang adik ya." ucap nya yang mengusap kepala mungil yang berada di gendongan suami nya.
Bianca mengangguk, ia menatap ke arah ibu nya di bandingkan melihat ke arah adik bayi nya.
"Mommy tetep jadi Mommy Bian kan?" tanya nya yang menatap ke arah wanita itu sekali lagi.
Louise menangguk, dan wajah cantik menggemaskan itu langsung melihat ke arah kedua adik bayi nya lagi.
"Aku sudah buat nama untuk mereka, kita gunakan yang ku buat? Atau kau punya nama yang ingin kau berikan?" tanya James pada wanita yang masih melihat ke arah makhluk mungil yang masih tidur itu.
"Nama? Sebenarnya aku mau melakukan sesuatu, jadi kita bisa memberikan nama nya nanti?" ucap nya yang menjawab pertanyaan suami nya.
"Apa itu? Setidak nya aku harus tau kan?" tanya James yang menatap ke arah sang istri.
"Ehhm..."
"Itu... Sebenarnya aku mau memberikan salah satu nama anak kita ke Clara, jadi salah satu dari mereka biar dia yang membuat nama nya." ucap nya lirih yang bahkan belum mengatakan hal itu sebelum nya pada suami nya.
"Kenapa harus dia yang kasih nama anak kita?" tanya James mengernyit.
"Ya, kau tau kan? Dia tidak bisa punya anak, kurang lebih memiliki kondisi seperti itu jadi aku..." ucap nya lirih yang menatap ke arah suami nya.
James menghela napas nya lirih, "Ya sudah, lagi pula hanya nama kan?"
"Ya, dan bagaimana kalau kita biarkan satu di adopsi sama mereka." ucap wanita itu yang mengatakan sesuatu yang melebihi planning suami nya lagi.
Ia mengatakan demikian karna selama kehamilan nya ipar nya begitu antusias dengan kandungan nya.
"Adosi itu apa?" tanya Bianca yang tentu mendengar nya karna masih berada dalam gendongan sang ayah.
"Adopsi itu sama seperti kasih salah satu adik bayi Bian ke Paman Louis," jawab Louise yang menatap ke arah putri nya.
Mata bulat itu tampak berpikir sejenak, "Oh? Kalau gitu adik bayi nya kasih aja semua ke Paman Uwis! Ups!" gadis kecil itu langsung menutup mulut nya ketika ia kelepasan menunjukan jika ia masih tak menginginkan kan adik bayi nya.
James menghela napas nya namun ia tak mengatakan ucapan setuju untuk usulan kedua.
"Kita bicarakan ini nanti," ucap nya yang tak bisa menjawab langsung.
Karna walaupun di adopsi oleh orang terdekat, dan tidak di bawa pindah ke tempat yang jauh tetap saja akan berbeda.
Putra nya mungkin nanti tak akan memakai nama belakang milik nya dan ia yang begitu menyukai semua anak-anak nya tentu harus memikirkan ulang.
"Ya," jawab Louise lirih.
...
Wanita dengan rambut yang bergelombang panjang itu dan kulit yang memiliki warna putih susu itu langsung bersemangat mendengar nya.
"Nama? Aku boleh beri mereka nama? Bukan maksud ku salah satu dari mereka?" tanya nya yang bersemangat menatap ke arah seseorang yang ia jenguk itu.
"Boleh Tan, sekalian bawa aja juga boleh." celetuk Bianca yang duduk di dekat Tante cantik itu sembari melihat ke arah ikat rambut yang cantik itu.
"Eh? Maksud Bian bial Tante ada yang nemenin? Iya kan?" ucap nya yang langsung meralat ucapan yang masih sering bablas ketika ia melihat tatapan sang ibu.
Clara tersenyum, ia menarik tubuh mungil itu dan mencium pipi bulat nya.
"Ya, Kau bisa menamai salah satu dari mereka." jawab Louise yang memberikan senyuman nya.
Louis tak mengatakan apapun, namun ia melirik ke arah suami adik nya yang tampak tak memberikan komentar dan duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Apa yang terjadi? Bukan nya harus nya kau tidak melahirkan dalam waktu ini?" tanya nya pada saudari nya itu.
Louise terdiam sejenak, ia menatap ke arah putri nya langsung berubah di ekspresi nya begitu juga suami nya saat mendengar pertanyaan dari paman nya.
"Aku tidak sengaja jatuh," ucap nya lirih pada sang kakak dengan senyuman tipis.
"Maaf Myy..." ucap nya Bianca lirih.
Clara melihat ke arah gadis kecil yang berada di pangkuan nya itu.
"Anak cantik Tante kenapa lesu?" tanya Clara sembari memegang pipi bulat itu.
Louise melihat ke arah putri nya, lalu menatap ke arah ipar nya lagi.
"Jadi sekarang kau bisa pikirkan nama yang bagus," ucap nya pada Clara.
"Ya, aku akan buat nama yang bagus nanti..." jawab Clara dengan tersenyum cerah karna bisa menamai bayi dan tentu bayi itu aman dari ketakutan nya.
__ADS_1
Ketakutan dan rasa cemas yang menyelimuti nya tentang pikiran negatif anak selingkuhan suami nya, karna ia tau anak itu murni dari adik ipar sendiri.