(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Kenapa berhenti?!


__ADS_3

Apart Sky Blue


Keheningan malam yang masih terjaga, mata yang terlelap dan seseorang yang tak bisa tidur.


Wanita itu tak mengatakan apapun, ia masih menatap ke arah pria yang masih memberikan nya satu kesempatan lagi setelah ia putuskan tiba-tiba.


Tangan nya menyentuh bibir lembut itu secara perlahan, ia menatap ke arah pria yang masih tidur itu dan mulai mengecup nya pelan.


......................


Tiga hari kemudian


Kediaman Rai


Mata hijau itu menatap ke arah foto yang berada di depan nya.


"Ini waktu kapan Al?" tanya Arche yang menatap foto liburan terakhir saudara kembar nya.


"Yang waktu itu, kamu di ajakin ga mau." ucap Aldrich yang menjawab saudara kembar nya itu.


"Kamu sih bilang nya satu Minggu, kan aku ada lomba!" ucap Arche dengan wajah cemberut.


"Mommy Daddy ga pergi liburan?" tanya Aldrich yang menyebutkan kedua orang tua kandung nya itu.


"Daddy masih ada kerjaan, kayak nya tahun ini kami ga bisa liburan deh." ucap Arche yang juga sadar jadwal orang tua nya padat.


"Sama kak Bian kan bisa juga, oh iya! Kita kan juga punya kakak baru!" ucap Aldrich yang mengingat jika ia juga memiliki kakak yang lain nya walau pun di rumah yang berbeda.


"Kak Arnold? Kita minta liburan sama dia aja yuk? Takut sama kak Bian!" sambung nya yang mengajak saudara kembar nya.


"Ga mau ah kalau kak Bian ga ikut!" jawab Arche yang menolak.


Walaupun ia selalu bertengkar setiap detik dengan kakak nya namun jujur saja ia lebih dengan kakak perempuan nya yang jahil itu.


"Ya kamu deket sama kak Bian!" ucap Aldrich yang sedikit berdecak.


Aliran darah nya memang sama dengan anak yang berada di samping nya, namun tentu ia juga tak bisa sedekat saudara kembar nya pada Kakak perempuan nya.


"Kak Bian kan kakak kamu juga, aneh ih Aldrich!" ketus Arche yang menatap ke arah perubahan saudara kembar nya.


"Tapi tuh kayak cuma kalian yang saudaraan, aku tuh kayak di asingin, tau ga?" tanya nya dengan cemberut.


Arche menoleh, "Ih! Apaan sih?" ucap Arche yang tertawa sembari memukul bahu saudara kembar nya.


Aldrich tak mengatakan apapun lagi, ia hanya mengerucut melihat ke arah saudara kembar nya yang tertawa.


......................


Apart Sky Blue


Suara kecupan itu terdengar, shower yang menyala dan membuat basah seluruh tubuh pria itu.


"Ed? Edna!"


Ia mendorong pelan pada wanita yang menerobos masuk saat ia tengah mandi dan mencium bibir nya.


"Ku bilang kita pelan-pelan saja kan?" tanya Zayn yang menatap ke arah wanita itu sembari membuang napas nya lirih dan mengambil handuk nya.


Edna masih tak mengatakan apapun, ia melihat handuk putih yang di lilitkan di pinggang yang memiliki otot sempurna itu.


"Kau juga mau kan?" tanya yang menatap ke arah sesuatu yang sedikit bangun itu.


"Aku masih normal Ed?" jawab Zayn yang mengusap wajah nya dengan air.


Tentu tak mungkin ia tak merasakan apapun setelah ciuman dan sentuhan halus dari wanita yang tak mengenakan sehelai benang pun di hadapan nya.


"Terus kenapa ga mau?" tanga Edna mendengat dan mengusap dada bidang pria itu.


"Kau bilang aku bisa lakukan apa yang aku mau? Kau bilang kita akan menikah kan? Jadi bukan nya itu tak masalah?" tanya nya sembari menjatuhkan handuk pria itu lagi.


"Ed? Tidak sekarang, kau tau aku sedang buru-buru kan?" ucap Zayn yang memang harus datang ke pameran dalam waktu 40 Menit lagi karna ia merupakan salah satu juri nya.


"Zayn? Sebentar saja, aku kangen..." ucap nya yang mengecup bibir pria itu dan mel*mat nya dengan lembut.


Drrtt... Drrtt... Drrtt...


Suara ponsel mulai kembali berdering, pria itu pun mendorong pelan dan meraih ponsel nya.


"Ya, aku akan segara ke sana." ucap nya pada sang penelepon.


Ia pun segara mengeringkan tubuh nya dan memakai pakaian nya dengan cepat.


Edna mengikuti nya dari belakang dengan handuk yang ia lilitkan.


"Ada yang kau mau nanti? Akan bawakan ketika pulang," Ucap Zayn yang menatap ke arah pria itu.


"Tidak ada, pulanglah lebih awal." ucap Edna lirih dengan wajah sedikit kecewa.


Zayn melihat nya namun ia tak mengatakan apapun.


Cup!


"Jaga diri mu di rumah," ucap Zayn singkat sembari mengecup pipi wanita itu dan beranjak keluar.


......................

__ADS_1


Galeri seni


Gadis itu melihat ke arah arloji nya, pria itu masih belum selesai melihat lukisan namun ia masih menunggu.


Bukan kebetulan ia berada di sana, karna ia memang mencari tau pria itu bahkan dengan jadwal nya sekalian.


"Paman! Ini kan waktu istirahat? Kita makan di luar?" tanya Bianca yang langsung mendekat.


Beberapa rekan dari pria itu menoleh ke arah gadis remaja yang masih mengenakan seragam itu.


"Ya, kita makan di luar." ucap Zayn yang tau tatapan penasaran rekan nya namun ia memilih untuk tak mengatakan apapun.


...


Cafe


"Dia masih tinggal dengan paman?" tanya Bianca yang menatap ke arah pria itu.


"Ya, seperti nya aku juga akan menikahi nya." ucap Zayn yang menjawab rasa penasaran gadis di depan nya.


Bianca tersentak, ia membatu sejenak dan kemudian menatap ke arah pria yang makan dengan baik di depan nya.


"Nama nya siapa?" tanya nya lagi yang menatap dengan tersenyum walau hati yang panas.


"Edna Biel," jawab Zayn singkat.


"Aku mau dekat dengan bibi itu, boleh kan?" tanya nya yang menatap dengan senyuman yang manis.


Zayn diam sejenak dan kemudian menangguk, "Tapi jangan menjahili nya." ucap nya yang memberikan peringatan.


"Ya!" jawab Bianca dengan senyuman.


......................


Apart Sky Blue


Edna diam sejenak melihat ke arah gadis yang di bawa pulang kekasih nya.


"Halo bibi?" sapa Bianca lebih dulu.


"Ah? Ya? Halo?" jawab Edna yang terkejut sekaligus tersenyum kaku setelah nya.


"Dia bilang mau makan malam di sini, kita keluar bersama?" tanya Zayn yang masuk ke dalam apart nya.


"Aku sudah masak makan malam, kita makan di sini saja." jawab Edna yang menatap ke arah pria itu.


Bianca tak mengatakan apapun kecuali senyuman manis yang sedang terbakar.


Enak! Si*l! Kenapa masakan nya harus enak!


Gadis itu diam sembari menikmati makan malam nya yang terasa enak dan ia pun melirik sesekali ke arah wanita yang tampak menggoda secara s***ual ke arah pria itu.


"Paman? Es krim paman abis? Belikan lagi..." ucap nya yang kemudian menatap ke arah pria yang tampak sedang mengerjakan sesuatu yang lain itu.


"Kau bisa memesan online," ucap Zayn saat melihat gadis itu meminta sesuatu.


"Paman..." ucap nya lirih yang kemudian memeluk tangan pria itu sampai membuat Edna menoleh.


"Apa kita keluar dan belikan saja?" tanya Edna yang menatap ke arah lengan kekasih nya dan ia sedikit tak menyukai nya.


"Tidak, aku saja. Kalian di sini." ucap Zayn yang melepaskan rangkulan tangan gadis itu dan keluar.


Kini hanya tinggal kedua perempuan yang saling menatap. Yang satu tersenyum kaku karena canggung dan yang satu nya lagi tersenyum dengan tatapan kesal.


"Kau mau menonton tv bersama?" tanya Edna menawarkan.


"Tidak, aku makan ini saja sebelum es krim nya datang." ucap Bianca yang tersenyum dan kemudian mengunyah permen karet yang ada di tangan nya.


Bianca menatap kesal ke arah wanita yang tertawa itu, "Ck! Harus nya kalau ga mau putus ga usah sok mau mutusin! Malah balik lagi!" decak nya yang kesal sembari meniup permen karet nya dan kemudian meletup di bibir merah muda.


"Eh?" gadis itu tersenyum dengan ide jahil nya.


Ia mendekat dan tiba-tiba,


Tap!


"Astaga! Maaf Bi!" ucap nya yang pura-pura terkejut sembari menarik rambut wanita itu.


Auch!


"Aduh! Kenapa?" tanya Edna yang terkejut saat gadis itu tiba-tiba menarik rambut nya.


"Aduh! Maaf Bi! Permen karet ku keluar dan kena rambut Bibi!" ucap nya yang menarik kuat rambut wanita itu. "Hehe..." Bianca tertawa kecil.


Edna berusaha melepaskan nya, namun tenaga gadis itu begitu kuat. Rambut di kepala nya seperti akan tercabut dan tangan kecil gadis itu seperti besi karna tak bisa di singkirkan.


Bianca mendengar samar ke arah pintu yang akan terbuka, dan kali ini ia langsung mengurangi tenaga nya.


Bruk!


Tubuh kecil nya tentu langsung terhempas saat Edna yang dari tadi ingin melepaskan nya dan berusaha menepis nya dengan sekuat tenaga.


"Ack!" Bianca meringis dan waktu yang sangat tepat.


"Bianca?" Pria itu langsung mendekat dan memapah gadis yang jatuh itu.

__ADS_1


"Aduh..." ringis nya pelan dengan senyuman di dalam hati saat melihat ke arah rambut panjang yang banyak rontok di tangan nya itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Zayn yang menatap ke arah kekasih nya yang juga terlihat berantakan itu.


"Aku tidak sengaja! Sungguh!" ucap Edna yang juga terkejut.


"Paman gendong..." ucap Bianca lirih dengan mata yang sayu pada pria itu.


Zayn diam sejenak dan kemudian meraih tubuh kecil, mata coklat itu melirik ke arah wanita yang jumlah rambut nya sudah berkurang itu.


Deg!


Edna tersentak, ia tak salah karna melihat ke arah gadis itu yang tampak melirik nya dengan smirk saat di gendong.


......................


Mansion Damian


"Daddy! Aku mau megang yang penjualan Dad! Satu hari! Kalau ga bisa satu Minggu!"


Rengek gadis itu pada sang ayah saat tiba di mansion nya.


"Tidak," jawab James singkat pada putri nya.


"Kenapa? Daddy biasa nya juga boleh?" tanya Bianca pada sang ayah.


"Aku tidak suka kalau kau melakukan nya untuk pria itu." jawab James singkat.


"Ck! Yaudah!" Bianca kali ini berdecak pada sang ayah dan pergi dengan kekesalan nya dan tentu nya ia juga memikirkan sesuatu yang lain di kepala nya.


......................


Skip


Satu Minggu kemudian


Gadis itu datang tanpa pemberitahuan, dan ia yang sudah tau sandi apart dari paman yang ia sukai itu tentu nya sering menerobos masuk tanpa permisi.


"Oh! God!" ucap nya yang terkejut.


Wanita itu yang membuka bagian atas pakaian nya dan berada di atas pangkuan pria yang duduk di sofa itu terkejut.


Baru saja ia ingin membuka kemeja kekasih nya namun sudah ada perusuh yang datang.


"Bianca?" Zayn menyingkirkan secara pelan kekasih nya yang naik ke pangkuan nya itu.


"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya nya yang menatap ke arah gadis itu sedangkan Edna memakai kembali sweter nya.


"Lewat pintu lah, masa aku nembus dinding!" ucap Bianca yang menatap dengan kesal dan tangan yang mengepal.


"Ah? Aku keluar sebentar, kamu mau es krim?" tanya Edna dengan canggung ke arah gadis remaja itu.


Bianca tak menjawab kecuali hanya lirikan tajam bahkan saat wanita itu keluar.


"Paman tidur sama dia?" tanya Bianca yang langsung mencerca setelah wanita itu pergi.


"Kalau pun iya, juga tidak akan masalah kan? Dia kekasih ku." ucap Zayn yang ingin menelpon pengawas keamanan untuk mengganti sandi nya.


Bianca semakin geram mendengar nya, "Aku kan sudah bilang suka sama Paman!" teriak nya yang seperti anak-anak yang marah ketika permen nya di ambil.


Zayn tersentak mendengar suara yang besar itu dan langsung menutup ponsel nya.


"Bianca?" panggil nya yang terkejut.


"Kenapa harus dia sih? Aku juga masak! Bukan! Aku bisa belajar! Aku juga bisa jadi pacar Paman! Kenapa milih balikan sama mantan yang minta putus tiba-tiba!" ucap nya yang berteriak dan tampak tak terima.


"Kau tau dari mana?" tanya Zayn mengernyit.


"Paman pacaran sama aku aja! Aku ga bakal minta putus tiba-tiba terus datang minta balikan tiba-tiba juga!" ucap Bianca yang tak menjawab dari mana ia mendapat informasi itu.


Zayn menghela napas nya, "Kau masih anak-anak, dan aku sudah bilang aku tidak mau pacaran dengan anak-anak kan?" tanya nya yang kembali menyinggung dengan tipe ideal yang tak mungkin bisa di raih gadis remaja itu.


"Aku tuh udah besar! Bukan anak-anak lagi! Aku tuh bisa semua nya!" gadis merengek dengan mata yang tajam dan kesal.


Tentu ia kesal karna baru kali ini keinginan nya tak terwujud dengan sempurna.


"Semua nya? Kau tau apa yang tidak bisa di lakukan anak-anak untuk menjalin hubungan dengan ku?" tanya pria itu yang menghela napas nya karna melihat rengekan yang selalu ia dengar.


"Apa? Memang nya apa yang dia bisa tapi aku tidak?" tanya Bianca yang menatap ke arah pria itu dengan tatapan menantang dan tajam.


Tak ada jawaban untuk sementara, pria itu diam sejenak sampai ia tiba-tiba menarik dan mendorong gadis itu ke sofa lalu ikut menjatuhkan diri nya di saat yang bersamaan.


"Kalau begitu lanjutkan apa yang dia lakukan tadi," ucap pria itu yang memegang kedua tangan kecil itu dan mengecup telinga gadis berambut pirang itu.


Bianca tersentak, ia terkejut dan tentu ia mengalami respon membeku untuk beberapa saat ketika merasakan napas hangat yang berada di telinga nya dan bibir yang menggelitik leher nya serta tangan yang masuk dan mengusap perut rata nya dari dalam namun tak menyentuh bagian privasi nya sama sekali.


Zayn menoleh, ia mengangkat wajah nya dan menatap ke arah gadis itu.


"Takut? Sekarang kau tau kan beda nya?" tanya yang perlahan bangun kembali setelah sedikit menakuti gadis itu.


"Jangan bersikap seperti itu lagi, kau masih muda dan bisa menemukan seseorang yang lebih cocok untuk mu." sambung Zayn yang beranjak keluar dari apart nya karna ia merasa gadis itu akan segara takut dan marah pada nya atas tindakan lancang yang baru ia lakukan.


Bianca masih terdiam dan meloading nya karna ia baru pertama kali merasa begitu gugup dengan jantung yang mau meledak keluar.


"Eh? Tunggu! Paman! Ulangin!" ucap nya yang baru tersadar setelah pria itu keluar dari apart nya.

__ADS_1


"Aduh! Kenapa berhenti?!" teriak nya saat pria itu sudah menghilang di balik pintu.


"Astaga! Kok panas tiba-tiba!" ucap nya yang dengan wajah yang kali ini tiba-tiba memerah dan merasa panas.


__ADS_2