(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Bad jenius


__ADS_3

5 Hari kemudian.


Liburan yang harus nya berlangsung selama 7 hati di percepat menjadi lima hari demi bayi rewel yang menggemaskan itu.


Dan tentu bulan madu kali ini berhasil tanpa gangguan sama sekali dari polisi kecil yang seperti memiliki indera ke 6 untuk menganggu dan mengusili kedua orang tua nya.


Tak ada satupun yang menyadari tentang seseorang yang mungkin mereka kenali saat bukan madu.


Mata coklat yang bersinar dan jernih itu tampak membesar.


Ia suka dengan semua mainan dan makanan yang di berikan pada nya.


"Yeeyy! Mommy Daddy udah pulang! Sekalang bisa main sama Bian telus!" ucap nya yang tampak begitu senang dan berpikir kehidupan ada agar bisa bermain.


"Iya, nanti kita main sama bareng ya." ucap Louise yang mengusap kepala putri nya.


Rambut halus itu membuat nya merasa gemas, pipi bulat yang sangat cocok untuk di cubit dan mata coklat yang begitu cerah membuat nya ingin memeluk nya.


"Bian?" panggil Louise sembari melihat ke arah putri cantik nya.


"Ya?" suara khas anak kecil itu menjawab, tangan nya membuka satu persatu bungkus boneka baru nya.


"Mommy ga di kiss? Padahal udah bawa mainan sama makanan loh," ucap nya pada putri nya.


Bianca menoleh, ia perlahan bangun dan langsung mengecup pipi sang ibu.


"Telimakasih Mommy!" ucap nya dengan senyuman dan suara yang bisa membuat siapa saja merasa gemas.


Louise tersenyum, ia melihat ke arah putri nya dan membalas ciuman pipi itu sampai membuat Bianca merasa kesal dan risih.


"Ih Mommy!" ucap nya yang kesal pada sang ibu karna selalu menciumi nya dengan bertubi dan melihat nya dengan gemas.


"Louise," panggil James yang menghentikan sang istri yang terlihat memiliki rasa gemas yang berlebihan pada putri nya.


"Dia lucu! Kenapa aku baru tau sekarang?" ucap nya yang terkekeh karna sekarang ia baru sadar jika putri nya begitu menggemaskan.


James tak menjawab apapun lagi selain menghembuskan napas nya lirih.


......................


Tiga bulan kemudian.


Awal pernikahan yang telah kembali ke kehidupan seperti semula, dan sekarang wanita itu pun juga sudah kembali ke pekerjaan nya seperti biasa.


"Aku akan ke Jepang Minggu depan, mungkin akan makan waktu tiga atau empat hari." ucap nya yang memberi tau suami nya sembari memakai serum wajah nya sebelum tidur.


James masih diam tak mengatakan apapun, ia melihat ke arah wanita itu dan mendekat.


"Kau pergi dengan siapa?" tanya nya yang memegang pundak wanita yang tengah duduk menghadap cermin rias nya itu.


"Siapa lagi? Aku akan pergi dengan sekretaris ku." jawab Louise enteng dengan santai memakai serum wajah nya.


Wajah pria itu tampak mengernyit, ia tak suka dan karna sekarang wanita itu sudah ia nikahi maka ia memiliki hak untuk melarang atau mengatur nya.


"Kenapa dia selalu dengan mu?" tanya nya yang melihat dengan tatapan kesal.


Louise mengernyit, ia langsung membalik tubuh nya untuk melihat langsung ke arah sang suami alih-alih berbicara dengan bertatap muka dari cermin.


"Lalu? Dia mau sama siapa? Louis? Dia kan kerja nya untuk ku," ucap nya yang mengernyit dan berbalik lalu naik ke ranjang nya.


"Tapi kalian sering bersama," Ucap nya James lirih dengan raut yang tampak tak menyukai nya.


"Jangan aneh-aneh, aku mau tidur duluan tadi kami banyak jalan ke area pengembangan." ucap Louise yang tak mau ambil pusing dengan sikap cemburu suami nya.


Bagi nya tak perlu lagi ada kecemburuan seperti karna sekarang mereka telah menikah dan bagi nya itu sudah cukup untuk membuktikan jika ia hanya mencintai pria itu saja.


James tak mengatakan apapun lagi, ia melihat ke arah sang istri yang ingin cepat tertidur karna lelah dengan pekerjaan nya siang tadi.


"Good night luv," bisik nya sekilas pada wanita yang langsung memejam dan ingin tidur itu.


Tak ada jawaban yang terdengar, wanita itu hanya ingin tidur dan tangan yang menarik tubuh bidang pria itu untuk memeluk nya.


James memposisikan tubuh nya dan menepuk punggung sang istri yang mengenakan piyama tidur itu dengan lembut.


Sebenarnya malam ini ia ingin melakukan hubungan suami istri itu lagi namun ia memilih mengurungkan niat nya karna melihat wanita itu yang sudah kelelahan dan ingin langsung istirahat itu.


"Apa kau tidak bisa di rumah saja? Aku tidak suka melihat mu bekerja..." gumam nya lirih sembari mencium rambut halus wanita itu.


Dan mungkin pernyataan yang lebih tepat lagi jika ia mengatakan ia tak suka melihat wanita itu berbicara dengan pria lain selain ia atau saudara kandung yang tak mungkin memiliki ketertarikan suka lawan jenis.


"Tapi karna kau suka bekerja aku tidak bisa mencegah mu, karna itu aku yang harus nya lebih menjaga mu kan?" bisikan yang terus terucap di bibir nya, ia mengatakan sesuatu yang ingin ia katakan.


Berubah bukan berarti menghilangkan semua sifat yang sudah mendarah daging pada nya.


......................


Tiga hari kemudian.


JBS Hospital.


"Astaga..." gumam nya lirih ketika tau sekertaris nya mengalami kecelakaan dan cidera sampai harus di rawat di rumah sakit.


"Kau sudah tau apa saja pekerjaan nya kan? Untuk sekarang gantikan dia dulu dan setelah dia sadar kau bisa datangi untuk meminta beberapa file nya," sambung Louise yang melihat ke arah sekertaris magang yang sebelum nya menjadi asisten sekertaris.


"Baik, nyonya." ucap pria itu yang tampak berkisar di usia 20 an.


"Dan nanti coba hubungi Sekertaris Michael karna salinan data tentang bio JBS juga ada pada dia." ucap nya yang memberikan perintah karna ia tau sekertaris sang kakak juga memegang beberapa salinan pekerjaan nya.


....

__ADS_1


Skip


Louise menoleh ke arah mobil yang menjemput nya kali ini sampai satu mobil yang ia kenali mendekat.


Sebenarnya ia selalu membawa kendaraan sendiri namun terkadang ia meninggalkan mobil nya di rumah sakit dan di jemput dengan seseorang.


Wanita itu masuk dan duduk di bangku depan karna sang suami sendiri yang menjemput nya.


"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya James yang menoleh ke arah wajah yang tampak memiliki pikiran itu.


"Kita ke rumah sakit Fatgh dulu, kau tau Eric? Sekertaris ku? Dia kecelakaan kemarin." ucap nya yang membuang napas nya lirih karna hal itu membuat nya mengalami lonjakan pekerjaan.


Ketika kecelakaan wajar jika seseorang di bawa ke rumah sakit terdekat alih-alih ke tempat dimana ia bekerja.


Jika tak ada agenda penting untuk beberapa hari mungkin tak akan begitu sibuk.


"Oh? Sudah ternyata..." gumam James yang tampak tak terkejut atau pun simpati mendengar nya.


"Hm? Apa?" tanya Louise menoleh yang menatap ke arah sang suami yang tengah menyetir.


"Tidak apa-apa, kita akan jenguk dia sekarang?" tanya nya yang menoleh sekilas ke arah sang istri.


"Kalau kau sibuk aku bisa masuk sendiri jadi nanti kau bi-"


"Kita jenguk dia bersama saja," ucap James yang langsung memotong ucapan istri nya, percuma saja ia membuat sesuatu untuk membuat wanita itu tak menemui sekertaris nya.


"Okey," jawab Louise yang langsung menyetujui nya.


......................


Rumah sakit


James mengernyit, ia melihat ke arah wanita muda yang bersama dengan sekertaris sang istri.


Sejak awal ia hanya memberikan bunga sebagai buah tangan saat menjenguk dan kemudian tak mengatakan apapun selain melihat situasi sampai saat ketika ia kembali.


"Maaf, saya akan akan kembali pulih secepat nya." ucap pria yang memakai gips di tangan dan kaki nya itu.


"Ya, tidak perlu buru-buru dan semoga kau bisa cepat pulih." jawab Louise dengan senyuman tipis sekaligus pamit karna ia memang tak berniat lama di tempat itu.


Gadis muda yang tengah menjaga seseorang yang menjadi pasien itu tersenyum ramah pada nya.


...


"Tadi itu siapa?" tanya James saat langkah kedua pasang kaki itu berjalan dengan irama yang sama.


"Yang tadi? Tunangan nya, padahal mereka mau nikah dua bulan lagi tapi malah dia kecelakaan." ucap Louise yang menggeleng dan merasa kasihan.


"Oh? Dia sudah punya tunangan?" tanya James dengan wajah yang merasa senang.


"Iya? Kenapa?" Louise mengernyit melihat ke arah pria yang tampak senang itu.


"Tidak apa-apa, hanya saja nanti malam jangan tidur cepat." ucap nya yang mencium pipi istri nya.


"Aku akan bantu pekerjaan mu, pasti akan selesai dengan cepat nanti." ucap James yang tak kalah dengan situasi nya.


Louise tertawa kecil melihat semangat membawa sang suami.


......................


2 Hari kemudian


Mansion Dachinko


Louise menoleh ke arah wanita yang datang dan berdiri di depan nya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ini apa?" tanya nya yang melihat ke arah sang suami yang membawa wanita itu pada nya.


"Sekertaris baru mu, dia bisa bekerja dengan baik dan bisa mengejar ketertinggalan nya dari sekretaris mu." ucap nya yang langsung memperkenalkan sekertaris baru dan tentu kali ini ia mencari yang sesama jenis.


"James?" panggil Louise lirih yang melihat ke arah suami nya.


"Sekertaris mu yang lama kan bisa di pindahkan tugas kan ke tempat lain, dan sekarang kau bisa bekerja dengan nya." ucap pria itu yang langsung mencarikan pengganti sekretaris istri nya.


"Saya akan bekerja dengan baik, nama saya Nolle Adison, umur 34 tahun dan berpengalaman di bintang administratif serta memiliki kualifikasi sebagai pembu- "


"Ekhm!" James langsung memberikan kode agar bawahan nya itu tak mengatakan apapun lagi tentang pekerjaan nya sebagai pembunuh bayaran yang berlindung di sayap mafia itu.


"Oh? Okey..." jawab Louise yang mengangguk karna lamaran nya seperti sebuah laporan tentara pada komandan nya.


"Saya akan bekerja dengan baik," ucap nya sekali lagi.


Louise membuang napas nya, kali ini ia membiarkan dan tak mengatakan apapun lagi dengan pekerja yang di atur oleh suami nya.


"Baik, kau akan bekerja dengan ku selama tiga bulan. Jika kau bisa melakukan pekerjaan mu dengan baik kau akan tetap bekerja dan jika tidak aku akan memecat mu," ucap nya yang kini sudah tau jika ia harus memperkerjakan wanita itu.


......................


8 Hari kemudian.


Mansion Dachinko


Louise langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang sedangkan sang suami tengah pergi entah kemana dan mungkin sedang melakukan pekerjaan yang sejujurnya selalu ia benci.


"Mommy!"


Suara yang menggemaskan itu membuat nya menoleh, ia menatap ke arah gadis kecil dengan tubuh mungil dan wajah bulat itu membuat nya langsung memiliki tenaga itu mendatangi putri nya.


"Mommy capek kelja? Yuk main sama Bian aja yuk!" ucap nya yang mengajak sang ibu bermain dan bukan nya menyuruh untuk istirahat.

__ADS_1


"Bian? Mommy kangen...." ucap nya yang memeluk tubuh mungil itu dengan gemas dan seperti melakukan pengisian daya pada diri nya.


Selama beberapa bulan terakhir, ia sudah terbiasa dengan tingkah putri nya yang bagi nya polos dan lugu seperti bayi berumur 4 tahun lain nya tanpa pernah ia tau bagaimana kelakuan putri nya yang lain.


"Hihi! Bian juga kangen Mommy! Mommy bawa coklat?" ucap nya yang menjawab sekaligus meminta sesuatu dari ibu nya.


Louise melepaskan pelukan nya dan melihat ke arah putri nya, "Kamu kangen Mommy atau kangen coklat?" tanya nya yang menggeleng namun beranjak ke tas nya untuk mengambil sesuatu yang di sukai oleh putri nya.


"Yeyy! Colat! Besok Bian kasih satu sama Syl boleh?" tanya nya dengan mata coklat yang bulat itu.


"Boleh," jawab Louise yang tersenyum pada putri nya.


"Muach!"


Satu kecupan mungil di pipi nya datang membuat wanita itu tersenyum.


"Bian main lagi ya Myy!" ucap Bianca yang langsung berlari keluar setelah mendapatkan coklat nya.


Louise hanya tersenyum tipis, wajar bagi anak-anak menyukai makanan manis itu karna ia pun juga menyukai nya dulu.


...


Air hangat yang merendam kedua tubuh nya tampak tenang karna tak ada gerakan apapun.


"Tadi kemana?" tanya Louise sembari bersandar di dada bidang yang penuh otot itu.


"Ada sedikit urusan," jawab James singkat sembari terus membasahi punggung istri nya dengan air sabun yang berada di bath up.


Louise membuang napas nya lirih, "Kau tau? Sekertaris baru yang kau sarankan waktu itu sikap nya sangat aneh," ucap Louise yang mulai mengadukan sikap wanita yang menjadi sekretaris nya selama di Jepang.


"Aneh nya?" tanya James mengernyit.


"Setiap kali dia bicara pasti dia akan bilang 'Apa saya perlu membunuh nya nyonya?' dia bilang begitu dengan wajah datar!" ucap Louise pada pria itu.


James tertawa mendengar nya, tentu saja wanita itu akan sering mengatakan demikian karna wanita itu termasuk dalam agen pembunuh yang berkerja untuk nya.


Hanya saja wanita itu pun memiliki kelebihan yang cukup pintar di urusan administratif.


"Yang penting dia bisa melindungi mu," ucap nya yang mengecup bibir sang istri.


Ia tak suka jika istri nya bersama dengan pria asing untuk waktu yang lama, dan bahkan jika ia menuruti kemauan nya maka ia ingin mengurung wanita itu lagi di dalam mansion nya namun itu tak mungkin.


"Ih! Pasti kan!" ucap Louise yang menyibakkan air di dalam bath up pada pria yang mencium nya dan membuat nya kehabisan kata-kata.


James hanya tertawa, ia memeluk wanita itu dan merasa senang dengan kehidupan sekarang.


"Nanti kita kan bisa lanjut di ranjang, apa mau di sini saja?" goda pria itu dengan senyuman nya yang menginginkan sesuatu.


"James! Besok ih! Aku juga baru pulang! Sama aja kayak Bian! Baru pulang udah di ajak main!" ucap nya yang teringat dengan putri nya yang mengajak nya bermain tadi siang.


"Kan main nya beda, kalau main sama Bian kau tidak akan mengeluarkan suara yang cantik itu." ucap nya yang berbisik dan menggoda sang istri.


"James!" ucap Louise sekali lagi yang kesal namun pria itu hanya membalas dengan tawa kecil.


......................


Satu tahun kemudian.


JBS Hospital


Departemen Psikologi


Wanita yang memakai kaca mata serta jas putih itu tampak memberikan beberapa pertanyaan pada anak kecil yang bermain kubik itu karna sekarang ia mulai tertarik.


"Begitu ya?" ucap nya yang memberikan respon di setiap balasan dari ucapan gadis kecil yang pintar itu walau masih cedal.


Louise melihat ke arah putri nya, sama seperti ia kecil dulu ia tentu mengikutkan putri kecil nya pada tes IQ untuk anak-anak.


Setelah waktu yang di habiskan dalam sesi tanya jawab yang terlihat seperti percakapan itu maka hasil nya sudah di dapatkan.


"Bianca Anastasya Dachinko? Dia sangat pintar, hasil dari tes memiliki skor 147," ucap wanita itu yang juga terkejut melihat hasil tes yang baru ia dapatkan.


"Wah, dia sangat pintar..." ucap Louise lirih juga ikut terkejut mendengar hasil dari tes putri nya.


James tersenyum tentu saja putri nya pintar karena ia saja memang memiliki IQ yang tinggi begitu juga dengan istri nya yang menjadi ibu putri nya.


Dan saat ini mereka bicara tanpa kehadiran putri nya karna sekarang gadis kecil itu sudah mengacau sang paman di ruangan nya.


"Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda dari hasil yang harus nya di dapatkan anak-anak lain nya," ucap wanita itu yang menunjukkan jawaban dan hasil reaksi dari putri nya.


"Di beberapa pertanyaan jawaban nya memiliki arti yang agresif tapi dia menjawab seperti hal yang ringan, dan di sini dia juga bilang ingin mencincang paman angsa yang nakal lalu mengeluarkan usus nya," ucap nya yang menunjukkan jawaban agresif dari anak kecil itu saat ia bertanya dengan visualisasi boneka angsa dengan beberapa pertanyaan.


Louise terdiam, ia ingat dulu pun sebelum ia menikah putri kecil mengatakan tentang menggunting kepala orang lain yang membuat nya kesal.


"Wajar dia kan masih anak-anak," ucap James yang tentu membela putri nya.


"Tapi ini jawaban yang tidak wajar untuk anak-anak, dan lagi dia menganggap itu hal yang baik dan menyenangkan, mungkin karna dia masih kecil dia bisa di berikan pengarahan yang le-"


"Kami akan mengatur nya nanti, dan jika anak itu butuh pengarahan profesinal kami juga akan memikirkan nya." ucap James yang menyela.


Pengarahan yang baik?


Jika itu di lakukan mungkin kenakalan putri nya yang ia simpan bisa tercium oleh sang istri dan ia tak menginginkan konflik seperti itu.


"James?" panggil Louise pada sang suami.


"Aku akan mengajari nya nanti, jangan khawatir. Mungkin dia sedikit terpengaruh dari lingkungan atau tontonan nya." ucap yang memang beberapa kartun menampilkan adegan kekerasan namun di kemas dalam hal yang lucu.


Wanita itu menarik napas nya, memang pengarahan yang baik berasal dari didikan orang tua lebih dulu.

__ADS_1


"Ya, itu memang benar. Lagi pula nona Bianca juga pintar jadi dia pasti lebih mudah untuk mengerti." ucap nya tersenyum.


Louise mengangguk kecil mendengar nya, ia tak mengatakan apapun lagi dan hanya perlu mendidik putri cantik nya dengan lebih baik lagi tanpa ia tau ajaran dan didikan suami nya lebih melekat dan mungkin sudah menyatu dengan jalan pikiran anak kecil yang sangat mudah menyerap apa yang ada di sekitar nya itu.


__ADS_2