(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Kembali


__ADS_3

Mansion Dachinko


"Dad? Daddy?"


Suara yang memanggil sang ayah terdengar dari anak lelaki itu.


Iris coklat itu menoleh, ia menatap ke arah putra nya yang memanggil nya barusan.


"Mommy kenapa selalu ke Australi sih? Kata Mommy, Mommy ga ada buka rumah sakit di sana?" tanya Arche pada sang ayah.


Walaupun singkat dan hanya beberapa hari namun tentu ia menandai waktu setiap kali sang ibu pergi.


"Kenapa? Kangen? Kalau dia mengajak mu kau tidak pernah mau, waktu ga ada di cariin." jawab pria itu yang kembali meminum teh nya.


"Kami kan sekolah Dad," celetuk Bianca yang saat ia sedang ada di sana juga.


"Libur satu atau dua hari juga ga akan buat kalian bodoh." ucap nya pada putri dan putra nya.


"Jadi sekarang inti nya Mommy ngapain?" tanya gadis itu yang juga tidak pernah tau.


"Ada urusan, kalian tau kan Mommy kalian sibuk?" jawab James yang tentu bisa di terima oleh anak-anak nya.


Semenjak putra nya berumur 5 tahun, sang istri mulai kembali bekerja walau ia bilang masih bisa menggantikan nya.


Bianca memanyunkan bibir nya, namun tentu ketika kembali dari mana pun termasuk perjalanan bisnis sang ibu selalu membawa kan sesuatu untuk nya dan adik nya.


......................


Australia


Apart


Suara daging yang terpanggang di atas minyak dengan alas wajan itu terdengar, aroma nya memenuhi dapur.


"Kakak dari dulu masak nya selalu sandwich aja ya?" tanya nya yang merasa wanita itu hanya bisa memanggang roti dan daging.


"Jadi mau pesan makanan di luar saja?" tanya Louise yang memang kemajuan memasak nya hanya membuat sandwich karna ia tak pernah belajar memasak.


Arnold menggelengkan kepala, tentu walaupun bosan namun ia selalu menunggu makanan buatan wanita itu.


Louise tersenyum, setelah beberapa saat sandwich isi daging itu pun datang dengan salad sayuran yang menjadi pendamping nya.


"Arche kalau lihat aku bawa sayur pasti langsung buang muka," ucap nya dengan tawa kecil yang mengingat kelakukan putra yang selalu memalingkan wajah ketika ia membawakan salad.


Arnold tertawa, selama sebelas tahun ia selalu mendengar tentang adik-adik nya. Walaupun ia tak pernah bertemu langsung namun ia tau wajah nya dan juga apa yang di sukai atau tidak di sukai adik nya.


Dan tentu semua informasi itu ia dapat dari ibu tiri nya yang selalu mendatangi nya setiap bulan.


......................


Satu Minggu kemudian.


Sekolah


Sekolah kembali tenang seperti sebelum nya, Walaupun sebelum nya sempat heboh karna beberapa murid yang nakal itu menghilang tanpa jejak namun kini semua nya telah mereda.


Gadis itu memasuki wilayah sekolah nya lagi, ia menatap ke arah teman-teman nya yang lain yang datang dengan mobil yang mahal.


Walaupun orang-orang di sekolah itu mulai merasa jika murid terpintar itu hanya lah orang biasa yang bersekolah di tempat itu namun tak ada satu pun yang menggangu nya.


Dan tentu itu semua karna prestasi yang di raih.


"Menurut mu yang dia pakai itu asli atau engga sih?" ucap salah satu siswi yang melihat teman nya itu beranjak masuk ke kelas.


Karna hari ini memakai seragam tentu semua pakaian sama, namun untuk sepatu tak ada keharusan yang menyuruh memakai warna serempak.


Selagi bukan sepatu heels tentu di perkenankan untuk di gunakan.


"Kalau asli mungkin temen nya yang kasih? Atau pinjam mungkin? Bukan nya temen nya anak hakim mahkamah agung ya?" jawab siswi itu pada teman nya.


"Mungkin..." ia membalas lirih dan melihat ke arah siswi yang tentu di kenal seluruh sekolah karna memiliki akumulasi nilai tertinggi karna selalu mendapatkan nilai penuh.


Bianca ke kelas nya, ia tak pernah ambil pusing dengan omongan yang di lakukan di belakang nya karna ia tak hidup untuk memenuhi standard orang lain.


"Syl!" gadis itu mendekat, ia duduk ke meja nya dan menatap ke arah teman nya yang sudah datang lebih dulu.


"Kok terlambat? Eh? Ga terlambat banget sih karna masih sisa waktu tiga menit lagi." ucap Sylviana yang melihat ke arah jam tangan nya.


"Iya, bus nya lama datang," ucap Bianca yang menghela napas nya.


"Kamu sih, maka nya tuh di anter aja. Ada yang ga repot malah milih yang repot." ucap gadis itu yang menggeleng pada teman nya.


"Kok Syl marahin aku?" gadis itu memanyunkan bibir nya dan menatap ke arah teman nya.


"Bian..." Sylviana memanggil lirih.


"Aku bawa coklat mau?" ucap Bianca yang tertawa kecil sembari membuka tas nya.


"Kamu nih udah besar tapi suka nya coklat terus..." ucap nya yang menggeleng melihat ke arah teman nya.


"Jadi mau ga ini? Kalau ga mau aku makan sendirian." ucap Bianca yang membuka makanan berwarna gelap dan terasa manis pahit itu.


"Eh? Mau lah! Jangan di habisin!" ucap Sylviana yang langsung mengambil coklat yang baru saja di keluarkan oleh teman nya.


"Tadi ga mau?" ucap Bianca sembari melirik ke arah teman sebangku nya yang membuka makanan yang ia bawa.


"Kan aku ga ada bilang ga mau, kamu aja yang salah ngartiin." ucap Sylviana pada gadis itu.


......................


Satu bulan kemudian.


Pria yang memiliki postur yang tinggi itu tiba di bandara, satu koper besar berada di tangan nya dan ia geret mengikuti langkah nya.


"Apa aku pakai taksi saja?" gumam nya lirih yang ia ingin pulang ke apart lama nya lebih dulu.


"Zayn!"


Suara yang memanggil nya begitu keras membuat nya langsung menoleh, tak hanya ia namun orang-orang di sekitar nya pun ia melihat secara refleks.


"Mama?"


Pria itu mengernyitkan dahi nya melihat wanita yang menjemput dan menunggu nya itu.


Greb!


Wanita itu mendekat, ia memeluk putra nya dengan erat yang tak pernah kembali selama hampir 12 tahun itu sejak pernikahan nya di batalkan.


Dan tentu ia menemui putra nya dengan mengunjungi nya beberapa kali.


"Mama? Kenapa di sini?" tanya nya sembari melepaskan pelukan ibu nya sejenak.

__ADS_1


"Iya, kalau ga Mama jemput pasti kamu pikiran nya mau pulang ke apart mu dulu baru ke rumah Mama kan?" tanya Larescha pada putra nya yang sangat ia rindukan itu.


"Zayn kan udah besar Ma," ucap nya yang berbalik dan berjalan beriringan dengan wanita yang melahirkan nya itu.


"Engga! Bagi Mama tuh kamu masih tetep anak kecil," ucap wanita yang masih terlihat kecantikan nya itu Walaupun sudah memasuki usia enam puluh tahun lebih dan masih memiliki fisik yang kuat.


"Mama masih ga berubah juga ya?" pria itu tersenyum kecil melihat kelakuan ibu nya yang tak pernah berubah walaupun sudah mulai memasuki usia yang senja.


"Iya dong! Kan Mamah kamu, kita pulang karna Mamah udah masakin semua yang kamu suka. Papa mu juga pasti udah ga sabar mau ketemu anak ganteng nya." ucap wanita yang tersenyum melihat ke arah putra nya.


Pria itu menurut, ia tak mengatakan penolakan apapun karna tak ingin menyakiti hati ibu nya.


......................


Apart Winter Garden


Pukul 07.15 pm


Pria itu tersenyum melihat ke arah putra yang kembali setelah sekian lama.


Ia memeluk nya, dan kali ini berharap besar putra nya sudah pulih dari 'sakit' nya setelah sekian lama.


"Bagaimana? Kau sudah lebih baik sekarang?" tanya nya sembari membenarkan kaca mata nya karna kini ia sudah selalu memakai lensa yang bening itu setiap saat.


"Ya, tapi Pa?" jawab Zayn yang melihat ke arah perubahan sang ayah. Tak hanya ayah nya namun ibu nya juga tampak mulai berubah.


"Papa udah tua juga ya?" ucap nya dengan tawa kecil pada sang ayah.


"Dasar anak tidak sopan! Papa udah tua punya pasangan kau belum!" ucap nya yang memarahi putra nya sekaligus menyindir.


Zayn terdiam dengan senyuman yang tampak tak bisa memberikan kalimat sanggahan.


Kepribadian nya berubah seiring dengan waktu yang berlalu, namun saat berhadapan dengan orang-orang yang membesarkan dan memberikan nya dengan kasih sayang yang berlimpah itu ia tak bisa berprilaku dingin.


Karna perilaku dingin nya bukan di buat-buat melainkan keluar dengan sendiri nya saat ua menghadapi orang-orang.


"Nah kan! Malah bertengkar! Ayuk, makan malam dulu, laper itu!" ucap Larescha yang melerai kekesalan sang suami.


Semua makanan yang di sukai nya kini sudah penuh di atas meja, pria itu melihat kedua orang tua nya sekali lagi.


Senyuman tipis tampak di bibir nya saat ia merasakan perasaan hangat yang di berikan oleh orang-orang yang tidak akan pernah menyakiti atau meninggalkan nya.


"Zayn?" Rian menghela nafas nya dan memanggil nama putra nya.


Pria itu menoleh tanpa menjawab dan mengentikan sendok yang ia pegang di tangan nya.


"Kau masih normal kan? Maksud ku kejadian yang dulu itu tidak membuat orientasi mu berubah kan?" tanya Rian yang memiliki kekhawatiran seperti itu karna putra nya tak pernah mengenalkan perempuan mana pun.


Zayn menangguk, "Masih normal, aku masih suka wanita kok." ucap nya yang tak memiliki kelainan karna merasa sakit hati sebelum nya.


"Baguslah kalau begitu," ucap nya yang sedikit bernapas lega.


Larescha melihat sejenak ke arah putra nya, "Zayn? Mau Mama kenalin sama anak teman Mama ga? Masih umur 30 tahunan, anak nya cantik, baik juga." ucap nya yang berbicara pada putra nya.


Zayn membalas dengan senyuman tipis, "Nanti kalau aku bertemu yang cocok akan ku kenalkan sama Mama Papa." ucap nya yang tak mengiyakan tawaran sang ibu.


Wanita itu hanya menghela napas nya, ia tak mengatakan sesuatu lagi tentang mengenalkan pada wanita.


......................


Satu bulan kemudian.


Mansion Dachinko


Koper masih terlihat di bagasi taksi yang ia naiki dari bandara.


Ia pun beranjak turun dan melihat ke sekeliling rumah megah itu yang tampak berbeda dari tempat yang ia tau dulu nya.


Pria itu bahkan tak tau mengapa sang ayah pindah setelah menikah dan ini adalah pertama kali nya ia menginjak kan kaki kembali ke tempat di mana sang ayah tinggal setelah 13 tahun hidup di luar negeri.


Tak ada siapapun yang menyambut kecuali pelayan yang datang dan mengambil koper nya.


"Saya akan siapkan kamar untuk anda," ucap sang pelayan pada pria itu.


Mata nya menengandah, ia menatap ke seluruh interior. Ia datang ke sana karna wanita yang harus nya ia panggil 'Ibu' itu menyuruh nya ke sana.


Pria itu mengangguk, ia ingin mengatakan jika ia ingin di ambilkan sesuatu yang bisa untuk di minum.


Namun begitu ia ingin mengatakan nya, pelayan yang tadi datang pada nya sudah pergi.


"Apa aku cari saja dapur nya di mana?" gumam nya yang tentu mencari tempat untuk bisa meminum segelas air di mansion yang letak nya tak ia hapal seperti mansion lama yang dulu pernah ia tinggali.


Sementara itu, gadis yang merupakan putri tunggal keluarga itu sudah kembali pulang dari sekolah.


Tak ada suara mobil karna ia memang menggunakan bus dan berjalan ketika turun dari pemberhentian ke mansion nya karna tak memiliki jarak yang begitu jauh.


Prang!


Langkah nya terhenti, ia mendengar suara gaduh seperti vas yang terjatuh.


"Arche..." gumam nya lirih yang menyebutkan nama adik nya karna memang adik nya itu yang selalu membuat kekacauan.


Namun...


Mata nya mengernyit, ketika ia mencari di mana sumber suara berasal.


Pria dengan postur tinggi yang tak ia kenali sama sekali, terlihat berjalan seperti sedang mencari sesuatu di mansion nya.


Tangan nya melepaskan tas nya perlahan, ia mendekat dan beranjak menarik lengan pria itu untuk membalik nya.


Tap!


Arnold tersentak, ia berbalik dan menarik tangan yang ingin membanting nya itu, dan tentu ia juga melakukan hal yang sama dengan berusaha menarik dan memutar nya.


Gadis itu membulatkan mata nya namun ia menepis dan berusaha mendarat di atas kedua kaki nya hingga membuat nya tak terjatuh.


"Bianca?" ia memanggil nama gadis yang ingin menjatuhkan nya itu.


Bianca mengernyitkan dahi nya, pria itu mengenal nya namun ia tak mengenal nya.


Ia tak ingat sama sekali dengan seseorang yang ia panggil kakak ke sana ke sini dan mengikuti nya sepanjang hari dulu.


Prang!


Satu guci keramik itu berhambur ke kepala pria itu dan tangan yang di tarik ke belakang, tubuh yang di putar serta bagian belakang dengkul yang di tendang membuta nya berlutut seketika.


"Bian! Ini kakak!" ucap nya yang mengingatkan gadis itu.


"Kakak siapa? Aku aja anak pertama!" ucap nya yang tak percaya dan tentu menganggap pria itu sebagai penyusup karna sejak awal ia melihat nya tingkah nya begitu aneh.


Terutama saat melihat seluruh rumah nya seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


"Kak Arn- Akh! Anak ini!" ucap nya yang tak jadi menyebutkan nama nya saat tangan nya semakin di pelintir ke belakang.


"Astaga! Bianca!"


Suara wanita yang di kenali oleh dua anak itu terdengar seketika.


Bianca menoleh, ia menatap ke arah wanita yang memanggil nya dan mendekat pada nya dengan wajah yang panik.


"Lepas nak," ucap Louise yang di beri tontonan mengejutkan setelah lelah dari pekerjaan nya.


Bianca tak melepaskan nya karna bagi nya pria itu asing dan mencurigakan.


"Bian? Ini kak Arnold, kakak mu. Lepas Bianca." ucap Louise yang melepaskan genggaman putri nya.


Gadis itu melepaskan nya perlahan, sedangkan pria itu tampak meringis sembari memutar bahu nya agar menghilangkan rasa pegal.


"Kenapa ini bisa berdarah?" tanya wanita itu yang melihat noda merah yang menetes di dahi putra angkat suami nya itu.


"Kecelakaan kecil tadi," jawab Arnold singkat.


Sedangkan Bianca tak meminta maaf sama sekali, ia tak merasa bersalah karna memang situasi tadi mewajarkan nya jika ingin curiga.


"Myy? Masa dia bilang dia kakak aku. Aku akan anak pertama Myy." ucap nya pada sang ibu yang tampak berbicara dengan pria yang tak ia kenal namun mengaku sebagai kakak nya.


"Yah, dia memang kakak mu sih secara hukum." ucap Louise yang menjawab pertanyaan putri nya.


Bianca mengernyitkan dahi nya, "Mommy selingkuh dari Daddt?" tanya nya pada sang ibu dengan tatapan yang tak suka dan terkejut.


"Hush! Selingkuh dari mana? Dia anak Daddy kamu jadi kamu adik nya berarti kesimpulan nya kalian itu saudara," ucap Louise pada putri nya agar lebih bisa mencerna.


"Walau ga ada hubungan darah sih sebenarnya," sambung nya lirih dengan suara bergumam namun tentu tak di dengar oleh putri nya yang cantik itu.


"Anak Daddy? Udah sebesar ini?" tanya Bianca yang membuatkan mata coklat nya.


"Bian? Kau lupa sama kakak ya? Padahal dulu suka ngikutin kemana-mana," ucap Arnold yang menatap ke arah gadis itu.


Ia memang selalu di berikan kabar tentang adik-adik nya itu bahkan foto-foto saat mereka beranjak tumbuh.


Namun ia tak pernah sekalipun bertemu secara langsung dan melihat dengan mata kepala nya sendiri.


"Kakak?" Bianca masih terdiam dan mencoba mencerna nya.


"Myy?" panggil nya pada sang ibu dan menatap dengan tatapan yang merasa kahwatir.


"Daddy selingkuh dari Mommy?" tanya nya yang melihat ke arah ibu nya.


"Ha? Apa? Bu-"


"Tenang Myy! Bian dukung Mommy kok!" ucap nya yang beranjak pergi tanpa mendengarkan sang ibu.


Louise membuang napas nya sejenak, ia menatap ke arah putri nya yang beranjak pergi dengan kesalahpahaman itu.


"Dia mau ke mana?" tanya Arnold yang menatap ke arah gadis remaja itu.


"Entahlah, memarahi Daddy nya mungkin?" jawab Louise sembari menghela napas nya.


Arnold menangguk pelan, dan iris hijau itu menoleh ke arah nya.


"Sekarang kita obati dulu luka nya, mungkin pecahan nya ada yang masuk." ucap Louise pada pria itu.


Arnold menangguk, ia suka sentuhan dari ujung jemari halus yang melihat luka nya.


......................


Sementara itu


Mansion lama Dachinko


James tetap sering berada di tempat itu karna tempat itu merupakan jantung dari segala lalu lintas pekerjaan nya.


Dan tentu putri pertama nya pun tau karna gadis itu begitu dekat dengan nya.


Brak!


Ia menoleh, menatap ke arah pintu yang di buka dengan kasar itu.


"Kalian? Kenapa datang nya begitu?" tanya nya saat melihat ke arah kedua anak nya yang tampak mendatangi nya dengan raut wajah kesal.


"Daddy jahat! Daddy selingkuh dari Mommy!"


Pria itu langsung tersentak mendengar ucapan putra nya.


"Arche? Siapa yang bilang Daddy selingkuh?" tanya nya yang kebingungan dengan apa yang di katakan oleh putra nya.


"Kak Bian!" jawab anak laki-laki itu yang tentu hanya ikutan saat mendengar sesuatu dari sang kakak.


"Bianca?" James memanggil nama putri nya itu dan melihat ke arah mata yang mirip dengan nya.


"Aku tau! Tadi ada yang datang ke mansion terus ngaku-ngaku kakak aku! Mommy juga bilang dia anak Daddy!" ucap nya yang merasa marah pada sang ayah.


"Hah..."


James menghela napas nya, ia tak tau kalau memulangkan anak angkat nya akan membuat keributan seperti ini.


"Secara hukum dia memang kakak kalian tapi Daddy ga selingkuh sama sekali, kalau Daddy selingkuh udah lama Mommy ceraikan Daddy kan? Kalian lupa dia orang nya seperti apa?" tanya pria itu yang menjawab lirih.


"Tapi kenapa kami bisa punya kakak! Bukan dari Mommy lagi kakak nya!" ucap Bianca yang tak terima kalau sang ayah benar-benar mengkhianati ibu nya.


"Anggap saja Daddy sudah punya anak sebelum menikah dengan ibu kalian," jawab nya memberikan penjelasan singkat tanpa harus memberi tau tentang masa lalu nya.


"Terus kenapa kami ga pernah tau?" tanya Arche yang bingung.


James melihat ke arah wajah putri nya sekilas, alasan mengapa putra angkat nya itu di kirim jauh adalah agar tak membahayakan putri nya lagi.


Namun setelah ia lihat sekarang gadis remaja itu tak mengingat sama sekali tentang kakak yang dulu sering ia ikuti.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa hindari waktu itu jadi dia tinggal terpisah," James menjawab pertanyaan putra nya.


Kedua anak itu diam sejenak namun masih memandang penuh curiga.


"Astaga, kalau Louise tidak punya masalah kesehatan aku sudah buat anak lagi." gumam nya yang merindukan memiliki anak-anak lucu yang bisa ia gendong dan bawa serta selalu mengikuti nya.


Karna sekarang kelucuan anak-anak nya sudah menghilang tidak seperti dulu.


"Daddy bilang apa tadi?" tanya gadis itu yang mendengar sang ayah bergumam dan menghela napas nya.


"Daddy bilang kalau Daddy rindu lihat kalian yang dulu masih pakai popok terus nangis karna minta susu," ucap nya yang memberikan senyuman kecil antara kesal namun tak bisa marah.


"Daddy!"


Kedua anak itu langsung serempak memanggil sang ayah dengan wajah kesal.

__ADS_1


__ADS_2