
Mall
Louis melihat ke arah keponakan nya itu setelah memilih baju baru karna mengganti pakaian yang terkena noda darah.
"Kau benar-benar baik-baik saja kan?" tanya nya sekali lagi yang masih risau.
"Tenang aja, lagi pula mana ada pasien yang minta shoping?" jawab Bianca dengan santai karna kali ini ia tengah 'merampok' paman nya yang menyayangi nya itu.
Louis tak mengatakan apapun lagi, sampai sekarang ia memang belum memiliki darah daging nya sendiri namun ia sudah menganggap ketiga keponakan nya itu sama seperti anak nya.
Walau satu di antara nya tentu yang paling ia sayangi karna berada dalam asuhan nya sejak umur beberapa bulan saja.
"Paman? Yang tadi jangan kasih tau Daddy Mommy ya?" ucap nya yang memohon pada paman nya.
"Kenapa kau tidak mau naik mobil saja?" Louis membuang napas nya lirih yang heran dengan sikap keponakan nya itu.
"Ya, karna aku tuh mau nya naik bus. Bosen hidup kaya lagi mau ngerasain jadi miskin, Hihi!" tawa yang terdengar renyah itu.
Louis menggeleng, "Kalau ibu mu tau dia pasti akan memarahi mu."
"Maka nya aku bilang ke Paman bukan ke Mommy," jawab Bianca singkat.
......................
3 Hari kemudian.
Mansion Dachinko
Anak lelaki yang penuh dengan senyuman itu mendatangi ibu nya, menunjukkan piagam yang menerangkan jika ia memang di lomba fisika di sekolah nya.
"Pinter banget sih anak Mommy? Mau Mommy kasih hadiah apa?" tanya Louise yang tersenyum sembari mengusap kepala putra nya dengan lembut.
"Apa ya Myy? Arche mau motor deh Myy." ucap anak lelaki itu yang meminta sesuatu pada ibu nya.
"Mommy belikan sepatu basket yang baru aja yah?" jawab Louise dalam kata lain menolak permintaan putra nya.
"Mommy, Ih! Padahal tadi tanya loh!" ucap Arche yang langsung melengos pada sang ibu.
"Iya! Mommy tanya tapi kamu minta nya yang bahaya! Masih umur 10 tahun kamu nak!" ucap wanita itu yang mencoba menjadi ibu sabar penuh senyuman walaupun tangan nya mencubit pipi anak lelaki nya.
"Kar Arnold yang bawa Myy," celetuk Arche yang memutar cara.
"Kenapa ga bawa motor Daddy mu aja? Tuh masih tiga kali di pakai, cuma di rawat aja." celetuk Louise yang juga tak mau kalah dari putra nya.
"Mommy...." Arche mendengus kesal dengan nada merengek.
Ia memang anak lelaki namun ia juga begitu manja pada ibu nya.
"Arche..." Jawab Louise dengan nada yang sama pada putra nya.
Sementara itu mata yang melihat dari salah satu sudut terdiam sesaat.
Ia merasa tak nyaman, mungkin lebih tepat nya cemburu?
Sama seperti ketika ia kecil dan menginginkan kasih sayang ayah nya yang tergeser saat sudah memiliki putri kandung. Sekarang pun hampir sama.
Wajar bukan, bergantung pada seseorang yang terlihat menyayangi dan menjaga nya?
"Kak?"
Kali ini ia beranjak mendekat, panggilan nya terkadang masih sama dan sulit ia ubah. Bukan nya tak bisa namun rasa nya begitu canggung jika harus membuat wanita itu terlihat seperti ibu tiri sesungguh nya.
Kedua pasang mata yang berwarna hijau itu menoleh.
"Iya? Kenapa Al?" tanya Louise yang melihat ke arah salah putra nya yang lain itu walau tak memiliki hubungan darah dengan nya.
"Itu, aku su-"
"Kak Arnold nih, panggil Mommy mesti kakak terus! Nanti aku panggil Paman baru tau loh," celetuk anak lelaki itu sembari memeluk ibu nya mencoba menunjukkan jika wanita itu adalah ibu nya.
Walaupun ia baru memarahi cara memanggil kakak baru nya itu.
"Ah iya, Mom..." ucap Arnold yang merevisi ucapan nya.
"No, No! She is my Mom not your Mom..." ucap nya sekali lagi yang menganggu kakak baru nya itu dengan ledekan.
Arnold tak menjawab atau pun membalas nya, ia dapat mewajari jika anak-anak orang tua angkat nya itu tak menerima kehadiran yang tiba-tiba.
Auch!
Arche langsung menjauh, cubitan yang kecil dan panas datang ke pinggang nya.
"Sakit Myy, Mommy nih malah melakukan kekerasan pada anak!" ucap nya yang pada ibu nya.
"Kau itu mirip siapa sih? Apa jangan-jangan ketukar lagi waktu di rumah sakit," ucap Louise pada putra nya.
"Mirip Mommy," jawab nya dengan senyuman sembari menyilangkan ibu jari dan telunjuk nya agar membentuk tanda cinta 'saranghae' pada ibu nya.
__ADS_1
"Astaga Arche, belajar dari mana ngerayu begitu? Hm?" tanya Louise menggeleng.
"Dari kak Bian," jawab nya yang sembari kabur.
"Minta maaf dulu sama kak Arnold!" ucap Louise yang berteriak agar putra nya bisa mendengar nya.
"Maaf kak Arnold! Saranghae!" ucap nya yang sembari berlari pergi.
Louise hanya menarik napas nya, melihat tingkah putra nya.
Berbeda dengan wanita itu yang melihat ke arah putra nya, Arnold hanya menatap ke arah wajah ibu tiri nya itu.
"Ada apa?" tanya Louise yang kali ini sudah melihat lagi ke arah putra nya yang lain itu.
"Oh itu? Aku sudah temukan apart yang cocok, sebelum nya ada apartemen yang biasa tapi Daddy bilang tukar ke apart yang lain, sampai aku benar-benar lulus kuliah dia baru akan melepaskan ku," ucap nya pada wanita itu.
Louise mengangguk, ia tau suami nya masih memiliki tanggung jawab untuk anak angkat nya itu dan tak bisa lepas tangan begitu saja.
"Kalau begitu ke mana?" tanya Louise yang ingin tau apart mana yang sudah di temukan.
"Sky Blue apartemen, jarak nya dekat dengan tempat kuliah dan tingkat keamanan nya juga tinggi," ucap Arnold yang menyebutkan nama tempat yang akan ia tinggali.
Louise tersentak, tentu ia tau apart itu karna sahabat sekaligus mantan tunangan nya tinggal bertahun-tahun di sana dan mungkin apart itu bukan lagi di sewa perunit namun sudah di beli.
"Lantai?" tanya nya yang ingin tau dimana tempat putra nya.
"Aku pilih yang lantai tiga, sewa nya tidak terlalu mahal." ucap Arnold yang tau semakin tinggi lantai apartemen nya maka semakin tinggi biaya nya.
"Pilih yang lantai 10 saja, lagi pula kan Daddy yang bayar. Anggap saja kompensasi karna jarang mengunjungi mu di Australia dulu." ucap nya yang tersenyum pada putra itu saat sembari mengatur kembali eskpresi nya yang sebelum nya sempat bernostalgia sedikit.
"Tidak perlu..." jawab Arnold yang tersenyum kaku.
"Kenapa tidak perlu kau kan juga anak nya, anak ku juga." ucap Louise yang menggerakkan tangan memberi isyarat agar pria itu menunduk karna ia malas berjinjit.
Arnold berkedip sejenak, mau sejauh apapun wanita itu hanya akan tetap menanggap nya sebagai salah satu putra nya walaupun ia juga termasuk putra yang di asingkan untuk waktu yang lama.
......................
Dua Minggu kemudian
Apart Sky Blue.
Bianca menggerutu, sang ibu menyuruh nya datang dan membantu kakak nya walaupun akan ada orang-orang yang membereskan tata letak tempat tinggal baru sang kakak.
"Lesu terus dari tadi? Kau mau pulang saja? Aku akan beri tau kak Louise kau banyak membantu," ucap Arnold yang terus melihat wajah kecut adik nya itu.
"Bener nih? Aku pulang ya?" ucap Bianca yang menoleh sesaat ketika memainkan ponsel nya.
"Ada yang aku suruh di kamar ada yang di dekat ruang tengah, tergantung tipe barang nya." jawab Bianca pada pria itu.
"Oh, okey." ucap Arnold yang mengangguk.
"Yaudah, aku pulang duluan. Nanti bilang sama Mommy yang baik-baik aja tentang aku ya." ucap Bianca yang beranjak pergi.
Arnold menangguk nya, bahkan jika tak di minta ia tak akan mengeluh tentang sikap 'anak kandung' karna ia sudah cukup tau diri akan posisi nya.
Setelah Bianca pergi, Arnold pun mencoba menyusun barang-barang di perabot yang sudah tersedia di apart nya.
"Loh? Yang buku di mana?" gumam nya yang tak melihat kotak yang berisi buku-buku kuliah nya sedangkan ia ingin melanjutkan jenjang pendidikan nya.
Pria itu pun merogoh saku celana nya mencoba memanggil dan menelpon adik perempuan nya itu untuk bertanya.
"Malah ga di angkat, apa di susul aja? Kayak juga belum jauh." gumam nya yang menutup telpon dan langsung beranjak untuk memanggil Bianca.
Sementara itu Bianca mulai turun ke lantai dasar dan tentu ia menuju lift.
"Bian!" langkah nya tersentak ia mendengar seseorang yang memanggil nya dari belakang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Kayak suara Arnold," ucap nya yang tak pernah memanggil pria itu dengan sebutan kakak.
Namun ia tak begitu peduli, Bianca melanjutkan kembali langkah nya sampai.
Miaw!
"Astaga! Kucing *****!" ucap nya yang terkejut ketika tiba-tiba kucing gembul dan besar milik penghuni lain itu berlari ke arah nya.
Karna sejak kecil ia punya pengalaman yang buruk dengan kucing dan bahkan walaupun sekarang ia lupa mengapa bagaimana pengalaman nya itu dan alasan yang membuat nya tak suka kucing.
Namun yang jelas nya sekarang ia adalah anti dari hewan berbulu yang bernama kucing itu.
Greb!
"Akh!"
Bianca tersentak, ia terkejut untuk kedua kali nya sampai kaki nya memutar namun membuat nya hilang keseimbangan.
Duk!
__ADS_1
Ia tau tangan yang menarik nya itu berusaha untuk menahan tubuh nya agar tak terjatuh dan karna kedua tubuh itu yang memiliki bobot itu hampir kehilangan keseimbangan pria itu mendorong nya ke dinding di lorong agar tak jatuh bersama.
Mata coklat itu membulat, wajah pria itu sangat dekat dengan nya.
Bukan!
Bukan dekat namun menempel dan kedua bibir itu hampir terjadi kecelakaan.
Sementara itu lift yang sudah naik dan terbuka tepat di hunian tempat seorang pria yang juga tinggal di situ pun membuat pria itu keluar.
Ia menghentikan langkah nya sejenak, tak aneh jika ada seseorang yang berciuman di lorong bangunan apart mewah itu.
Namun tepat setelah ia ingin melanjutkan langkah nya lagi.
"Dasar! Kakak si*lan! Hampir aja! Waktu it-"
"Eh?" Gadis itu tersentak, amarah nya terjeda saat ia melihat ke arah pria yang belum ia ketahui nama nya itu.
"Maaf! Tadi ga sengaja! Serius!" ucap Arnold yang memang murni tak sengaja ingin melecehkan atau mencium gadis itu.
"Da.. dasar! Orang jahat..." ucap nya yang langsung mengubah suara nya agar sedikit gemetar.
Mata kehijauan pria itu membulat melihat nya, ia melangkah mendekat.
Greb!
"Ada apa ini?" tanya pria itu yang lebih dulu mengambil gadis itu di sisi nya.
"Maaf, anda siapa?" tanya Arnold yang tak mengenal pria di depan nya dan tentu ia tak bisa membiarkan putri kesayangan kelurga angkat nya itu bersama orang asing.
"Lalu kau siapa?" tanya pria itu dengan nada yang masih tenang.
"Aku kakak nya," Ucap Arnold yang sembari melihat ke arah Bianca, ia mengernyit karna tak mengerti mengapa gadis itu terus menggelengkan kepala nya.
"Kakak? Mana ada kakak adik yang ciuman? Lagi pula seharus nya dia anak yang tertua." ucap nya yang masih tak percaya.
"Kami ga ciuman! Tadi ga kena ke bibir," ucap Arnold yang menjelaskan walaupun di sebagian sisi terlihat tengah berciuman.
"Pa.. paman aku takut..." cicit Bianca dari belakang.
Arnold tersentak, ia bingung mengapa adik nya yang biasa nya jadi singa betina itu malah berubah menjadi anak kucing.
"Hey? Bi.. Bian! Memang nya aku gigit? Kau takut apa?" ucap Arnold yang ingin bicara namun tubuh gadis itu tenggelam di balik pria yang tegap itu.
Bianca menggeleng, mencoba memberi kode agar kakak baru nya itu bisa di agak kerja sama.
PURA-PURA! AKU LAGI MAU AMBIL HATI CRUSH! KAK...
BANTUIN...
Tak hanya gerakan kode, namun gadis itu juga mengeja satu persatu kata yang tak bisa ia suara kan itu.
Pria itu menoleh ke belakang saat ia merasakan hawa yang berbeda di tengkuk nya.
"Hum?" gadis itu langsung berubah secepat kilat dan tampak melihat dengan mata nanar yang bulat dan bersinar.
Arnold masih loading namun ketika otak nya sudah connect ia langsung menangguk.
"Hey! Ke sini! Dasar!" ucap nya yang mencoba meraih gadis yang bersembunyi di balik dewasa itu.
Bianca menarik jaket kaus pria yang melindungi nya itu seperti menunjukkan jika ia merasa takut.
"Minggir, jika kau mencoba mengambil nya aku akan telpon polisi." ucap nya yang menghalangi Arnold.
"Po.. polisi? Dasar polisi!" ucap Arnold yang terlihat pura-pura marah walau akting nya begitu buruk.
Ia pun beranjak pergi secara perlahan, Bianca tak mengatakan apapun selain tersenyum dan memberi lambang hati di tangan nya.
MAKASIH KAKAK! NANTI AKU KABARI! SAYANG KAKAK ARNOLD!
Ucap nya tanpa suara yang mengeja apa yang ia katakan dan tentu gaya serta bentuk tangan nya mirip dengan apa yang biasa di lakukan Arche, karna anak lelaki itu mencontoh kelakukan nya.
"Aduh! Aku sangat terkejut!" ucap Bianca tiba-tiba yang kemudian terjatuh.
"Kau tidak apa-apa? Bisa bangun?" tanya pria itu yang langsung berbalik.
Dan melihat ke arah gadis yang tampak terkejut itu dengan akting yang mendekati sempurna dan bahkan sangat sempurna karna sudah mampu menipu psikiater yang dulu nya di bayar ibu nya itu membuat nya normal seperti anak lain nya.
"Paman tinggal di sini juga?" tanya nya yang mencoba bertanya ke arah pria itu.
"Ya," jawab pria itu singkat sembari melihat ke arah kaki yang tampak baik-baik saja.
"Unit?" tanya Bianca sekali lagi.
"03, kaki mu baik-baik saja?" tanya nya yang masih tampak khawatir.
"Nama! Nama nya siapa!" ucap Bianca yang tak menjawab dan begitu antusias untuk tau nama nya.
__ADS_1
Pria itu diam sejenak, memang wajar anak-anak untuk lupa jika ia bertemu dengan seseorang di masa kecil di usia yang begitu muda dan tak kembali bertemu untuk waktu yang lama.
"Zayn, padahal aku dulu bilang untuk jangan lupa dengan ku. Dasar anak nakal." ucap nya yang menjawab sembari menjentik dahi gadis itu.