
JBS Hospital.
Setelah pertengkaran yang saling beradu argumen itu seminggu yang lalu kini pria itu menemui seseorang yang juga bersangkutan dengan masalah nya.
Dan tentu hal itu tak sulit, karna kini ia sudah bekerja di tempat itu untuk menggantikan peran sang istri walupun harus membuat nya menjadi memiliki pekerjaan yang doble.
"Kau tidak punya rencana untuk punya anak?" tanya nya tanpa basa basi setelah mengesap teh nya.
"Kau tau itu pertanyaan yang sedikit tidak sopan untuk di tanyakan," jawab Louis dengan mata yang menyipit dan melihat dengan alis yang mengernyit.
"Ya, tapi aku perlu konfirmasi nya." jawab James yang menghela napas nya.
"Untuk?" Louis masih tak mengerti maka dari itu ia perlu konfirmasi ulang sedikit lagi.
"Kau butuh pewaris kan? Jadi kau tidak ingin punya anak?" tanya James yang ingin pria itu memiliki anak nya sendiri bahkan dengan wanita lain asalkan tidak dengan anak nya yang di ambil.
"Oh itu? Anak Louise kan sudah tiga, salah satu dari mereka bisa jadi pewaris kan?" tanya nya yang kali ini sudah tau arah pembicaraan nya.
"Lalu kau mau anak kami yang meneruskan nya? Kalau hanya seperti itu tak masalah tapi aku tidak mau memberikan anak ku." kali ini pria itu mengatakan nya dengan gamblang.
Jika istri nya tak bisa mendengar perkataan nya mungkin bisa mendengarkan perkataan saudara kembar nya.
"Kalau begitu aku juga ada yang ingin ku katakan," kali ini mata dengan iris hijau itu tampak serius.
Tak ada jawaban namun wajah yang mendengar nya menanti perkataan selanjut nya.
"Salah satu dari anak kalian tolong ubah nama belakang nya," ucap nya yang sama saja mengatakan hal yang tidak di inginkan oleh pria itu.
"Kalau begitu aku sama saja setuju dengan memberi kan anak ku ke kalian kan?" tanya James yang tersenyum miring mendengar nya.
"Ya, secara hukum. Aku mau anak itu punya nama belakang dari keluarga kami dan kalau kau tidak mau memberikan nya tidak apa, tapi aku butuh nama belakang juga dan nama belakang yang di ganti yang akan mendapat didikan pewaris." jawab nya dengan tenang tanpa mengatakan kata bujukan.
"Kalian gila, bukan! Maksud ku apa pikiran kalian tentang pewaris? Apa meneruskan harta kalian itu sangat penting?" tanya nya yang tampak bingung.
Ia pikir akan sedikit berbeda jika bicara dengan saudara kembar istri nya namun ternyata sama saja.
"Ya, aku tidak tau kau punya hidup yang seperti apa atau berniat untuk mewariskan apa yang kau miliki dengan anak mu atau tidak. Tapi kami di besarkan dengan seperti itu." ucap nya yang menjawab dengan tenang.
"Kami bahkan di berikan pendidikan pewaris sejak umur 8 tahun dan mulai belajar manajemen ketika berumur 10 tahun." ucap nya yang menganggap penting garis keturunan.
Jika ia memiliki anak dengan nama belakang yang memakai nama keluarga nya maka garis nama keluarga tak akan terputus.
James masih tak mengatakan apapun, ia tak tau bagaimana kehidupan anak-anak konglomerat yang memang sudah terlahir kaya.
Karna ia dulu di lahirkan di kelurga yang berkecukupan walau bukan keluarga yang kaya raya dan kemudian tumbuh di tempat yang gelap setelah membunuh seseorang yang menyeret nya kesana dan membesarkan nya seperti iblis.
Mewariskan pekerjaan itu pada anak nya? Tentu ia tak mau melakukan nya dan tentu ia hanya akan mewariskan semua saham dan perusahan legal yang ia miliki agar anak-anak nya masih memiliki tangan yang bersih walau kadang didikan nya mengajarkan apa yang ia lakukan.
"Louise meminta mu untuk menyetujui adopsi? Aku juga akan meminta hal yang sama, aku juga butuh nama belakang untuk seseorang yang akan jadi pemilik tempat ini selanjutnya kan?" tanya nya pada pria itu.
"Kau kan tidak bermasalah, kenapa kau tidak cari wanita lain saja untuk buat anak dengan mu setelah itu membawa nya." ucap James dengan hal yang gila juga.
"Kalau Louise tidak punya anak kau akan lakukan itu? Kau akan cari wanita lain lalu menghamili nya setelah itu membawa anak selingkuhan pulang dan menyuruh istri mu membesarkan nya?" tanya Louis dengan kesal.
"Kau gila?" James menatap dengan kesal mendengar nya.
__ADS_1
"Itu dia, kau sadar ucapan mu juga gila kan?" tanya nya yang mengembalikan saran itu lagi.
James kembali diam, istri nya terus mendesak nya dan ipar nya pun melakukan hal yang sama.
......................
Mansion Dachinko.
Kedua bayi mungil itu tampak menggeliat, pipi bulat dengan kepala yang di isi dengan sedikit rambut itu tampak menggemaskan.
Tangan nya terus menggendong bergantian, ia mengecup berulang kali dan tampak tak peduli dengan sekitar nya.
"Cla?"
Suara yang terdengar sembari menyentuh bahu nya membuat nya menoleh.
"Sstt, Aldrich sedang tidur." ucap nya lirih ketika tangan nya sedang menggendong satu bayi tampan itu.
"Okey..." Louise terdiam sejenak.
"Arche? Dia menghabiskan susu nya?" tanya nya yang menoleh ke arah pengasuh yang tak meninggalkan tempat itu walau majikan nya sedang menjaga putra-putra nya juga.
"Sudah nyonya," jawab pengasuh tersebut.
Louise menarik napas nya, ia menggendong putra nya yang lain itu karna masih tak tidur sama sekali seperti saudara kembar nya.
"Arche Mommy ga mau tidur juga? Apa karna baru pup? Kamu sih abis makan malah langsung di produksi keluar..." ucap nya yang menggendong bayi mungil itu yang tak begitu menggeliat ketika berada di gendongan nya.
"Louise? Sstt.. jangan berisik..." ucap Clara sekali lagi.
Setelah mentari semakin meninggi, kali ini wanita yang menjadi nyonya pemilik mansion itu melihat ke arah jam di dinding nya.
"Cla? Aku mau jemput Bianca dulu, kau di sini saja lagi pula James pulang biasa nya sore atau malam." ucap nya yang tau jika wanita itu begitu canggung dan gugup jika berada di dekat suami nya.
"Iya," satu anggukan menjadi jawaban dari wanita yang tampak dengan senang bermain dengan bayi-bayi mungil itu.
Louise tersenyum tipis, ia melihat ke arah wajah bulat kedua bayi mungil nya nya yang tampak menggeliat karna sudah terbangun.
Cup!
Cup!
"Bye Bye! Arche, Aldrich! Mommy pergi dulu ya nak." ucap nya setelah mengecup kedua bibir mungil itu.
Memang mencium bibir bayi adalah sesuatu yang menyenangkan dan menggemaskan di setiap orang tua.
"Louise?"
Suara yang terdengar lirih memanggil nya saat ia tengah mengusap pipi bulat putra-putra nya.
"Ya?" ia menoleh menatap ke arah wanita yang memanggil nya.
"Mencium bibir bayi kan tidak boleh, anak bayi rentan dengan penyakit." ucap nya lirih yang tampak dengan suara yang gugup.
Mata hijau itu tampak canggung sejenak dan kemudian menutup nya dengan tawa kecil.
__ADS_1
"A.. aku tidak punya penyakit apapun yang menularkan dan aku juga tau itu tidak terlalu bagus maka nya aku hanya sesekali melakukan nya, dan aku juga sudah sikat gigi lalu belum makan apapun kecuali air putih." ucap nya dengan tawa kecil.
"Ah... I.. iya maaf..." Clara merasa canggung, harus nya ia menahan mulut nya untuk tak mengatakan apapun.
"Okey, aku akan jemput Bianca dulu." ucap Louise yang tak ambil pusing karena kali ini ia perlu menjemput putri nya dan kemudian membawa nya ke psikolog sesuai dengan jadwal yang sudah ia buat.
......................
Skip.
Untuk memberikan suasana yang nyaman dan tak tampak seperti rumah sakit, wanita itu membawa putri nya ke salah satu apart milik nya beserta dengan konselor nya.
Pertanyaan yang bagai obrolan terdengar dengan camilan manis dan mainan yang menemani nya sehingga gadis kecil menggemaskan itu tak tau jika sedang melakukan terapis.
Dan saat ini sang dokter mulai memberikan hasil nya ketika berbicara dengan ibu gadis kecil yang pintar itu.
"Simpati nya hampir tidak ada, Empati juga sama dan emosi nya masih tidak stabil. Mungkin ini masih terlalu dini dan perlu perkembangan lagi." ucap nya yang tentu memerlukan beberapa konseling lagi.
"Tapi anak itu normal?" tanya Louise yang memiliki kekhawatiran tersendiri untuk putri nya.
"Sejauh ini dia masih menunjukkan kepribadian anti sosial mungkin dapat saya katakan Antisocial Personality Disorder, tapi ini juga masih terlalu dini apa lagi nona masih berumur 5 tahun." ucap nya pada ibu dari anak kecil yang tadi ia amati.
"Dan karna nona Bianca lebih pintar dia juga mudah menyerap situasi jadi saya sarankan untuk selalu menunjukan perilaku yang baik, karna anak kecil punya kemampuan meniru yang sangat baik." ucap sang dokter sekali lagi.
NB KET : Antisocial Personality Disorder adalah sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku yang tidak mempedulikan atau melanggar hak asasi orang lain secara berkepanjangan. Ciri lainnya adalah rasa moral dan nurani yang rendah serta perilaku kriminal, impulsif, dan agresif.
Pepatah buah tak jatuh jauh dari pohon adalah pepatah yang tepat. Bahkan jika seekor anjing di asuh dengan induk ayam ia pasti akan berjalan dengan kedua kaki nya mengikuti ajaran yang membesarkan nya.
Apa lagi manusia? Yang bisa memilih dan memiliki sifat alamiah untuk mengikuti apa yang di inginkan dan di anggap menarik.
"Itu tidak apa-apa kan?" tanya Louise yang masih ragu.
"Karna dia menjalani konseling sejak kecil mungkin bisa di tangani secepat nya," jawab nya yang tak berbohong namun bukan berarti itu adalah hal mudah untuk merubah apa yang sudah terbentuk dan menghapus apa yang sudah tercoret.
......................
Mansion Dachinko
Pukul 10.35 pm
Pria itu memejam, ia mulai bosan mendengar pertengkaran yang sama. Ia tak tau apapun tentang ajaran keluarga konglomerat seja lahir namun ia juga tak ingin bertengkar.
"Baik! Kita berikan satu anak kita! Sekarang kau sudah bisa diam?" ucap nya yang meninggikan suara nya tanpa sadar.
Wanita itu terdiam beberapa saat, sudah berapa lama pria itu tak pernah membentak nya lagi?
James menarik napas nya, ia memegang bahu wanita nya dan memeluk nya.
"Kau terkejut? Maaf aku membentak mu..." kali ini suara mulai merendah lagi.
Sudah begitu sulit ia mendapatkan istri nya tak mungkin ia ingin hubungan nya kembali merenggang lagi.
"Aku kan cuma mikir kemungkinan yang terbaik untuk kita semua, lagi pula dia kan juga ga pergi jauh-jauh..." jawab wanita itu yang berada di dalam pelukan suami nya.
James tak mengatakan apapun lagi, tangan nya mengusap rambut halus sang istri untuk beberapa saat.
__ADS_1