
Sementara itu mobil berwarna putih yang baru saja dari kediaman mewah itu berbalik saat melihat ponsel yang tertinggal di bangku penumpang nya.
"Dia lupa membawa ponsel nya?" gumam Zayn dan kembali ke kediaman mewah itu.
Mobil nya berpapasan dengan Louise yang langsung keluar untuk ke dokter hewan segera agar kucing cantik nya segera mendapat pertolongan.
"Dia mau kemana?" Zayn terlihat bingung namun ia tak berbalik dan tetap memasuki halaman kediaman tersebut.
Terlihat jelas jika Louise tak melihat nya sama sekali, gadis itu tampak memiliki pikiran tersendiri dan Zayn berniat menunggu nya hingga kembali.
Hiks...
Huhu...
Suara tangisan anak kecil menjadi sambutan saat ia baru memasuki kediaman mewah itu. Dahi nya mengernyit, ia tak yakin jika mendengar suara anak-anak di kediaman mewah itu.
Namun suara tangisan tersebut begitu jelas sampai membuat nya mencari sumber suara.
"Eh?"
Wajah tampan itu tampak bingung, bagaimana tidak? Ada seorang anak kecil yang menangis di lantai sendirian dengan tangan dan pakaian yang berlumuran darah.
"Kenapa?" ucap nya yang membangunkan gadis kecil yang menangis itu.
"Myy...Mom..myy... ting...galin... Bi..an.." jawab nya yang tak jelas karna sambil menangis dan cegukan di saat yang bersamaan.
"Ha?" Zayn mengernyit, ia tak bisa mengetahui suara yang tak jelas itu namun pipi bulat itu kini sudah memerah sepenuh nya karna tangisan.
"Hua..." tangisan Bianca semakin menjadi dan pria itu pun langsung terkejut.
"Loh? Malah makin nangis?" ucap nya yang bingung melihat gadis kecil rewel yang tak tau asal usul nya itu.
"Ssttt, anak cantik gak boleh nangis nanti cantik nya hilang..." ucap nya yang tidak tau harus mengatakan apa lagi.
"Hng?" Bianca terdiam sejenak, ia masih cegukan dan menatap pria di depan nya.
"Mau susu?" tanya Zayn saat tangisan gadis itu berhenti.
Bianca menggeleng mendengar nya, walaupun suara tangisan nya berhenti namun air mata nya masih tetap jatuh.
"Mau es krim?" tanya pria itu lagi mencoba mencari tau apa yang di sukai anak-anak.
Lagi-lagi gadis kecil itu menggeleng dan masih menatap pria di depan nya.
"Mau Daddy..." ucap Bianca yang mulai mengatakan keinginan nya.
Ia kembali merindukan sang ayah, karna di tempat nya saat ini tak ada yang menggendong ataupun menemani nya bermain sedangkan sang ibu meninggalkan nya.
"Daddy? Paman gak kenal Daddy kamu selain Daddy mau apa?" tanya Zayn yang bingung harus memberikan apa jika ia saja tidak tau anak siapa itu.
"Mau Mommy..." jawab Bianca lirih sembari cegukan di suara serak nya.
"Paman juga gak kenal Mommy kamu, selain Mommy kamu mau apa?" tanya nya lagi yang kali ini gadis kecil di depan nya pun menginginkan hal yang tidak ia tau di mana mencari nya.
"Hua..."
"Mau nangis aja, huhu..."
Jawab Bianca yang kembali menangis dengan kencang.
Zayn terdiam sesaat, rasa nya seperti melihat dejavu menghadapi anak yang rewel. Belum lagi wajah anak kecil di depan nya terlihat mirip seseorang.
"Yasudah, nangis dulu. Kalau sudah selesai bilang yah." ucap nya yang menarik napas nya dan berjongkok di depan gadis kecil yang berdiri itu.
Sementara ia mencari sapu tangan nya mengusap darah yang berada di tangan mungil itu serta mencari di bagian mana yang terluka namun tak menemukan apapun.
"Hua.."
"Huhu..."
Bianca kembali menangis, mungkin hampir sama saja dengan rengekan nya namun kali ini tidak ada yang membujuk nya saat seperti tadi malam.
"Sudah nangis nya?" tanya Zayn sembari menatap ke arah wajah menggemaskan yang memerah karna menangis itu.
"Be..lum... hiks..." jawab Bianca dengan cegukan.
"Lanjut lagi," ucap nya yang mempersilahkan tangisan gadis kecil itu sampai selesai.
Bianca mulai berhenti, tenggorokan nya teras kering karna tangisan yang menguras energi nya.
"Su...dah.." jawab nya lirih yang tanpa sadar malah laporan setelah berhenti menangis.
"Haus?" tanya nya yang beranjak menggendong gadis kecil itu.
Anggukan kecil menjadi jawaban di kepala mungil itu.
Kemana lagi jika bukan menuju lemari es yang menjadi sasaran tujuan dari langkah nya.
Tak sulit menemukan produk susu di lemari pendingin tersebut karna di isi dengan minuman dari pemilik nya.
"Ini mau?" tanya nya sembari menunjukkan susu stroberi milik tunangan nya.
Bianca mengangguk, kemudian segelas susu stroberi kini sudah penuh di depan nya, kedua tangan mungil nya langsung memegang gelas tersebut dan meminum nya.
Tak lama kemudian para pelayan kembali, membawakan salah satu bunga yang terlihat seperti rumput putih pada gadis kecil yang nakal itu.
"Kalian bisa mandikan dia?" tanya Zayn yang menatap mata terkejut dari pada pelayan ketika melihat tubuh mungil itu memiliki bercak darah.
"Oh iya, dia punya pakaian?" tanya nya mengulang yang baru teringat jika tak ada yang memiliki anak kecil di kediaman tersebut.
__ADS_1
"Tuan Louis sudah membelikan beberapa pasang pakaian kemarin," jawab salah satu pelayan pada Zayn.
Tak lama kemudian gadis kecil itu kembali, rambut nya basah yang baru saja di keringkan pakaian berwarna kuning namun dengan wajah yang masih cemberut dan mata yang masih sembab.
Pria itu menarik napas nya menatap ke arah gadis kecil di depan nya yang terus merapat ke dinding.
"Kenapa?" tanya nya sembari melihat ke arah mata yang sedih itu.
Tak ada jawaban yang di lontarkan gadis kecil itu dan hanya diam.
"Hey?" panggil nya lagi melihat wajah lesu yang belum habis itu, "Nama nya siapa?" tanya nya lagi.
Bianca kali ini menoleh ke arah pria di depan nya menatap wajah yang terlihat ramah dan hangat.
"Bian..." jawab nya lirih dengan suara yang hampir habis di gunakan untuk menangis.
"Siapa?" tanya Zayn mengulang karna memang suara yang di keluarkan anak perempuan di depan nya sangat kecil.
"Bianca Anastasya Dachinko..." jawab nya lirih namun masih dengan suara yang pelan karna suara nya hampir habis.
Zayn mengernyit, suara gadis kecil di depannya begitu pelan namun ia mendengar sepenggal nama yang di lontarkan.
"Asya?" ulang nya dengan senyuman sembari menatap ke arah anak perempuan yang terlihat seperti boneka itu.
"Hum?" Bianca menatap bingung, memang benar namun itu bukan nama panggilan nya yang biasa ia gunakan.
"Kenapa masih cemberut? Tadi katanya sudah nangis nya?" tanya nya pada gadis kecil itu.
Bianca masih mengerucut namun gadis kecil itu tetaplah anak-anak yang mudah marah, menangis, ataupun senang.
"Mau main..." ucap nya menarik tangan pria di depan nya.
Zayn mengernyit namun ia mendengar ujung kata yang di ucapkan, "Main apa?" tanya Zayn sembari menggandeng tangan mungil itu.
"Piuw! Piuw!" jawab nya singkat sembari menatap polos pria dewasa di depan nya.
"Apa?" Zayn mengulang, ia tak terbiasa dengan ucapan ambigu anak kecil.
"Piuw! Piuw!" jawab Bianca mengulang dengan nada dan gerak tubuh yang mengisyaratkan keinginan nya.
"Ohh..." Pria yang memiliki kepekaan itu kini mengerti, namun tentu piuw! piuw! yang ad di bayangan nya dengan bayangan anak kecil itu sedikit berbeda, "Sebentar yah."
Ia pun beranjak untuk meminta beberapa penjaga membeli beberapa bahan yang ia butuhkan.
Baginya sembari menunggu tunangan nya pulang ia bisa menemani anak kecil yang mencari kedua orang tua nya itu walaupun ia tidak tau anak siapa itu.
......................
Klinik Hewan
"Kau tidak bawa Bianca?"
"Astaga!"
Louise terpekik, ia tak tau jika pria itu sudah menunggu nya di luar.
"Kau menguntit ku?" tanya nya mengernyit, jika tidak mengapa pria itu bisa tau dia ada di mana sekarang.
Tak ada jawaban, pria itu mendekat dan melihat ke dalam iris hijau gadis di depan nya.
"Kenapa tidak bawa Bianca?" tanya James mengulang.
"Kau tanya anak itu pada ku?" ucap Louise yang terdengar kesal.
"Anak itu? Dia adalah anak mu," balas James pada gadis itu sembari menarik tangan nya.
"Apa yang kau lakukan?!" Louise terperanjat dan tentu ia langsung berusaha memberontak.
James menarik nya dalam satu kali hentakan dan membuat tubuh ramping itu melekat ke arah nya.
"Kalau tidak mau di kirim ke luar negeri lagi oleh kakak mu kau tenanglah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti mu." ucap nya di telinga gadis itu.
Ia melihat penjaga yang di berikan mulai mendekat ke arah mereka.
Louise diam, ia mulai tenang dan pria itu mulai melepaskan tangan nya perlahan.
"Ayo," ucap nya mengajak gadis itu masuk ke mobil nya dengan sendiri nya.
Louise diam sejenak, ekor mata nya melirik ke arah penjaga yang akan mendekat ke arah nya jika ia memberi aba-aba dalam bahaya namun jika ia melakukan sang kakak akan kembali mengirim nya keluar negeri.
Ia pun mengikuti langkah pria itu dan memasuki mobil yang sama
Miaw...
Kucing gembul yang terlihat menggemaskan itu menggeliat dalam gendongan nya.
"Jelly sakit?" tanya nya lirih sembari mengelus bulu lebat kucing nya itu.
"Bicara mu lembut sekali," ucap James dengan nada menyindir. Ia mendengar gadis itu bicara lembut pada peliharaan nya namun dingin pada putri nya sendiri.
Louise terdiam, ia tak tau kemana mobil itu akan berlabuh namun ia menarik napas nya sejenak.
"Anak itu bukan anak ku, dia monster." ucap nya seketika membuat James tersentak.
Ckiitt!!!
James langsung menepi dan menghentikan mobil nya, seatbelt yang di kenakan pun langsung berfungsi saat pria itu berhenti tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau bilang apa?" suara yang terdengar dingin dan tak terima akan ucapan nya yang baru ia lontarkan.
"Kau tidak dengar? Anak itu seperti monster! Dia masih kecil tapi sudah memotong ekor hewan! Dia juga bilang ingin memotong telinga nya!" jawab Louise seketika.
"Lalu? Itu hanya hewan kan? Hanya kucing kan? Karna itu kau mengatai anak mu sendiri?!" bagi James putri kecil nya bisa melakukan apapun asalkan tersenyum dan tertawa.
Raut Louise langsung berubah, ia melihat pria di depan nya yang membenarkan perbuatan tercela itu.
"Pantas saja dia seperti itu," ucap nya yang berusaha membuka pintu mobil itu.
Kini ia tau kepribadian monster dari mana yang di ikuti gadis kecil yang masih berumur tiga tahun itu.
"Kalau kau mau protes tentang cara mendidik nya kenapa tidak kau saja yang melakukan nya?" tanya James sembari memejam berusaha menurunkan rasa kesal nya.
Ia tak suka siapapun mengatakan hal yang buruk tentang putri nya tapi jika yang mengatakan hal tersebut adalah gadis nya ia bisa memikirkan nya dua kali.
"Kenapa aku? Aku bukan ibu nya!" sanggah Louise langsung.
"Kalau begitu lakukan tes! Kau bersih keras kalau dia bukan anak mu tapi kau tidak melakukan konfirmasi apapun!" ucap pria itu segera.
"Kau mau aku lakukan tes?! Aku saja tidak mengingat siapa kau sama sekali! Aku tidak ingat pernah hamil anak itu!" suara tinggi nya memenuhi seisi mobil.
"Aku pikir bagus kalau kau tidak ingat apapun tapi ku rasa kau lebih baik mengingat sedikit, setidak nya tentang anak mu," ucap nya yang beranjak menarik tengkuk gadis itu.
Humph!
Mata hijau itu membulat seketika, kucing yang berada dalam pangkuan nya langsung terlonjak mencari tempat yang lebih lapang agar tidak terjepit.
Kini tubuh gadis itu terhimpit, tangan nya memukul dan berusaha memberontak sebisa mungkin namun pria itu terus berusaha memasuki mulut nya.
James menarik tengkuk gadis itu dan mulai cenderung meremas rambut halus itu, bahkan jika gadis yang berada dalam kungkungan nya semakin berusaha keras mendorong tubuh nya itu akan membuat rambut nya tertarik seketika.
Ia melepaskan ciuman nya, menatap ke arah mata berair yang hampir kehilangan nafas nya itu.
"Kau bilang kau lupa kan? Mau ku bantu ingat bagaimana anak itu bisa ada?" bisik nya saat melepaskan ciuman nya.
Ukh!
Walaupun bibir dan lidah pria itu tak lagi menjelajahi mulut nya namun tubuh nya masih terhimpit, ia berusaha kembali mendorong nya.
Deruan nafas hangat itu menyapu leher nya, ia mendengar suara dan detak pria yang melekat pada nya itu.
Deg!
Ia tersentak, ia semakin berusaha meloloskan dirinya dari himpitan di tempat sempit itu saat merasakan rasa geli dan hangat di leher nya.
"Lepas!" tangan nya berusaha memukul dengan keras dan mendorong pria itu.
Akh!
Pekik nya seketika, ia mendorong tubuh pria yang melekat pada nya, rasa geli di leher nya mulai berubah menjadi perih.
"Ber..berhenti..." ucap nya lirih dengan sembari terus memukul tubuh pria tegap itu.
"Sakit?"
Deg!
Jantung nya terasa ingin berhenti, kepala nya terasa berdengung saat pria itu seakan mengatakan sesuatu yang membuat nya merasa takut.
Perasaan Dejavu yang seperti pernah ia rasakan namun ia tak tau kapan ia mengalami nya.
Sekujur tubuh nya mulai terasa dingin, detak nya melaju dengan cepat dan mulai gemetar. Rasa takut yang tak ia mengerti namun tubuh nya mengingat dengan pasti.
Sakit?
Kalau sakit, bicaralah...
Suara yang berdenging di telinga nya, suara yang dingin dengan siluet yang terlintas di pikiran nya. Bayangan yang tak memiliki wajah namun membuat nya merasakan rasa sakit di seluruh tubuh nya.
James melepaskan ciuman yang berbekas itu, ia merasakan gadis itu tak lagi memukul nya ataupun memberontak.
Tubuh yang tadi nya banyak bergerak kini mulai terasa gemetar, ia mengangkat wajah nya menatap ke arah gadis itu.
Tes...
Netra hijau itu menyimpan kaca bening di balik nya dan mulai menjatuhkan satu persatu buliran air di ujung mata yang memiliki bulu lentik itu.
"Louise?" panggil nya langsung namun gadis di depan nya seakan tak mendengar nya sama sekali.
ARGH!!
Teriakan melengking nya terdengar memenuhi isi mobil, seluruh tubuh gadis itu gemetar hebat, ia meremas rambut nya dan terlihat seperti tengah menahan sakit.
Tes...
Tes...
Tes...
James mengernyit, terlihat dari gaun berwarna peach yang perlahan di berikan tetesan corak warna yang berbeda.
"Louise?" panggil nya lirih sembari mengajar wajah gadis itu.
Tubuh kecil itu tak lagi gemetar, wajah nya pucat seketika, tatapan mata yang terlihat kosong dan darah yang mengalir tanpa henti di hidung mancung itu.
James tersentak, gadis itu tak bicara ataupun mengatakan sepatah kata. Ia diam dengan mata kosong seperti tak merasakan apapun dan melihat ke arah nya.
Pria itu pun dengan cepat mengambil tissue dan langsung meletakkan nya di hidung gadis itu untuk menghentikan perdarahan di hidung mancung tersebut.
__ADS_1
Ia kembali menghidupkan mesin nya, dan memutar mobil nya ke arah rumah sakit terdekat.