
Hotel
Louise melihat ke arah putri nya yang cemberut, "Bian?" panggil nya yang mencoba membujuk putri nya.
"Huh! Bian malah sama Mommy!" ucap gadis kecil itu yang tampak kesal.
Beberapa saat lalu ia melihat kedua orang tua nya keluar dari kamar mandi dalam kondisi yang basah dan tampak sudah menganti pakaian nya dengan mantel handuk.
Dan yang membuat nya paling kesal bukanlah karna menunggu saat ia ingin buang air kecil melainkan karna ia merasa kedua orang tua nya bermain sendirian dan tak mengajak nya.
Di dalam kepala kecil nya ayah dan ibu nya tengah berendam dengan mainan karet serta membawa boneka Barbie seperti yang biasa ia lakukan.
Pikiran yang terlalu polos sesuai dengan usia nya yang memang tak tau apapun itu.
"Bian? Jangan begitu sama Mommy nanti Mommy kabur lagi loh," ucap James pada putri cantik nya.
"Bian yang kabul duluan nanti! Ih! Daddy juga! Bian kan malah sama Daddy juga!" ucap nya yang kesal pada sang ayah.
"Iya, sekarang kan Daddy Mommy udah di sini sama Bian..." ucap nya yang masih berusaha merayu putri nya.
Wajah menggemaskan itu menekuk dan tampak sedih, "Mommy Daddy enak enak di kamal mandi ga ngajak Bian..." ucap nya yang mengerucut pada kedua orang tua nya.
"Eh?" Louise tersentak, ia tentu takut putri nya mendengar suara nya tadi dan mengerti apa yang ia lakukan sampai membuat nya lupa jika putri nya masih lah bayi polos yang menggemaskan.
James menarik napas nya, semakin lama ia sudah terbiasa nya dengan bahasa ambigu putri nya.
"Mommy sama Daddy ngapain di kamar mandi? Bian memang nya tau?" tanya nya pada bayi mungil 4 tahun itu.
"Tau! Mommy sama Daddy main ail kan? Ga ngajak Bian! Bian kan mau main ail juga! Telus nanti buat gembung gembung!" ucap nya yang menatap sedih dengan bibir yang manyun.
"Ohh..."
"Main air..." ucap Louise yang mengangguk dan melirik ke arah pria di samping nya.
"Jadi sekarang gimana kalau kita main air kolam aja? Di atas ada kolam renang, Bian mau renang sama Mommy?" tanya nya pada putri nya.
Mata coklat itu menoleh, ia menatap dengan tatapan yang tertarik akan ajakan sang ibu.
"Kolam lenang?" tanya nya menoleh.
"Iya! Nanti kita beli balon bebek juga ada yang donat juga, Bian mau?" ajak nya pada putri nya.
Rasa kesal dan sedih di wajah menggemakan itu perlahan memudar, ia menatap berbinar dan tampak tertarik.
"Mau!" jawab gadis kecil itu yang langsung tertarik dan terbujuk dengan rayuan ibu nya.
Louise tersenyum, ia meraih putri cantik nya dan mencubit pipi bulat nya sekilas.
"Nanti malam kita juga sudah pulang, kita kan mau ke mansion baru malam ini." ucap James yang semakin membuat mata coklat gadis kecil itu berbinar.
"Yeeyy! Bian punya kamal balu! Nanti Mommy tidul nya sama Bian! Mommy nanti bacain celita putli!" ucap nya yang senang dan bersemangat.
"Mommy tidur sama Daddy, Masa Daddy tidur sendiri?" tanya nya yang was was putri nya akan minta di temani setiap malam.
"Kan ga tiap hali Daddy! Bian kan juga punya pli.. plipil!" ucap nya yang bingung dan lupa bagaimana menyebut nya karna kosa kata itu juga masuk ke telinga nya akibat beberapa orang dewasa yang berbicara di dekat nya.
"Plipil?" tanya Louise mengulang.
"Iya! Itu loh yang kalo mau ga di ganggu loh Myy..." ucap nya yang menjelaskan dan mengartikan sesuai dengan apa yang ia tangkap.
"Privasi?" tanya James yang mengerti.
"Iya! Mommy nih gitu aja ga ngelti!" ucap nya pada sang ibu saat ia mendengar kosa kata yang benar.
Louise mengangguk, ia tertawa kecil mendengar nya dan melihat jika putri nya mudah menyaring apapun yang ada di sekitar nya.
"Iya, anak Mommy pintar sekali..." ucap nya yang mencubit pipi bulat dan merasa gemas.
......................
Skip
Mansion Dachinko
Kali ini ia menginjak kaki nya di mansion yang baru, tak seperti sebelum nya yang membuat nya muak dan tertekan.
Interior nya sama mewah dan sama besar nya, beberapa bagian tampak seperti suasana yang menyegarkan untuk nya.
"Bian mau lihat kamal balu!" Seru gadis kecil itu dengan semngat.
James pun langsung memberikan kode pada pelayan nya untuk mengantar putri nya ke kamar baru nya.
Louise masih tak mengatakan apapun dan masih melihat ke arah mansion baru itu.
"Kau suka? Atau masih ada yang kurang?" tanya nya pada gadis itu.
Anggukan kecil terlihat, langkah nya masih melihat dan menelusuri.
"Tempat ini bukan tempat yang rahasia kan? Seperti jaringan internet yang bisa di pilah seperti mansion mu sebelum nya," tanya nya pada pria itu.
__ADS_1
"Tidak, bahkan kalau teman Bianca ada yang mau menginap juga bisa ke sini." ucap nya yang kali ini membuat mansion nya sama seperti rumah pada umum nya.
Louise mengangguk kecil, ia berbalik ke arah pria itu dan mendekat.
"Dan sekarang? Di mana kamar kita?" tanya nya sembari meraih tangan pria itu.
James tersenyum, tentu dengan senang hati ia akan menunjukkan di mana kamar yang akan mereka tempati.
"Kau mau mencoba ranjang nya? Aku beli yang paling bagus," ucap nya pada wanita itu seakan memberikan isyarat lain.
Louise tertawa kecil, "Bisa, nanti setelah Bianca tidur." ucap nya dengan tawa kecil.
"Ya, dan ku harap kau juga tidak ikut ketiduran." ucap James menarik napas nya.
"Iya!" jawab Louise dengan tawa kecil.
...
5 Hari kemudian.
Mata coklat itu tampak berkaca, buliran bening jatuh ke pipi nya dan menahan orang tua nya untuk pergi.
"Mommy Daddy kan kerja, Bian sekolah nanti yah? Nanti kita main bertiga," ucap James berbohong sedikit dan tak mengatakan tentang bulan madu karna jika putri kecil nya tau pasti akan merengek minta ikut juga.
"Iya, Bian kan anak pintar, anak cantik nya Mommy..." ucap Louise yang kali ini pun membujuk putri nua untuk tinggal.
"Tapi kan Bian mau ikut..." ucap nya lirih pada sang ibu dengan mata berair.
"Iya, Bian ikut nanti. Kalau Mommy Daddy nanti pulang kita pergi lagi bertiga." jawab Louise sembari berulang kali mengecup pipi bulat itu.
"Nanti waktu pulang Daddy bawain mainan sama coklat yang banyak, Daddy juga bakal kasih es krim yang banyak juga!" ucap pria itu yang sekali lagi membujuk putri cantik nya.
"Sebanyak apa?" tanya gadis kecil itu dengan mata yang polos pada sang ayah.
"Sebanyak yang Bian mau! Daddy bakal kasih semua nya!" ucap pria itu yang membujuk putri nya.
"Benelan?" tanya Bianca yang mulai percaya pada ucapan sang ayah.
"Iya, bener. Nanti waktu Daddy Mommy pulang bawa banyak hadiah sama makanan untuk Bian, terus nanti juga kita bakal pergi bertiga." ucap James yang semakin membuat putri nya yakin.
"Janji," ucap Bianca yang memberikan jari kelingking nya agar sang ayah menempati janji nya.
"Iya, Daddy kan ga mungkin bohong sama Bian." ucap nya pada putri cantik nya dan menautkan jari kelingking nya.
"Yauda, Bian mau main ayunan." jawab nya sembari mengusap air mata kemudian bangun dan mengajak pengasuh nya untuk bermain di ayunan nya.
James tersenyum dan kemudian menoleh ke arah wanita nya, "Ayo." ucap nya yang mengajak dan kali ini bisa bulan madu tanpa memikirkan gangguan dari putri cantik nya.
......................
Terlihat beberapa pesawat yang baru saja turun, dan tentu salah satu nya membawa pasangan yang ingin bulan madu itu.
"Kau sudah pesan hotel nya?" tanya Louise yang menoleh ke arah pria yang berjalan membawa koper di samping nya itu.
"Sudah, kita akan ke vila nya lusa." jawab James yang tentu tau jika hari pertama sampai lebih baik mencari hotel yang terdekat dari bandara lebih dulu.
"Aku tidak sabar besok!" ucap Louise yang sudah lama tidak melihat bunga tulip yang mekar karna ia sudah cukup lama tidak ke tempat itu lagi karna sibuk.
James hanya menggelengkan kepala nya dan tersenyum kecil.
...
Skip
Ke esokan hari nya.
Aroma bunga yang menyeruak masuk ke dalam indera penciuman, udara yang segar dan memberikan angin yang dingin datang.
Warna yang bermekaran itu tampak banyak dan tumpang tindih dengan cahaya senja yang terlihat ingin turun.
"Kau sudah mau kembali?" tanya James yang bertanya pada istri nya itu karna beberapa turis lain nya pun sudah ada yang kembali.
"Kembali? Nanti dulu! James? Kau tau? Kalau di pemandangan seperti ini biasa nya yang paling di cari seniman loh!" ucap Louise yang tentu saja mengatakan apa yang ia tau, entah itu pelukis atau fotografer pasti berusaha mencari timing yang terbaik.
"Kau seniman dalam hal musik, tidak ada hubungan nya dengan ini." ucap James yang tersenyum dengan niat karna ia ingin membawa istri nya untuk kembali ke villa sepenuh nya.
"Yakin ga mau di sini dulu?" tanya Louise yang melirik dan tersenyum tipis ketika ia bersikap kekanakan dan tetap ingin bermain serta berjalan-jalan tanpa peduli ia tak boleh kelelahan.
James menarik napas nya, ia mendekat dan mengigit telinga wanita itu dengan gemas karna tak ingin mendengarkan nya.
Ack!
Louise tersentak, pria itu tiba-tiba mendatangi nya dan mengigit telinga nya sampai membuat nya meringis.
"Aduh! Sakit tau!" ucap nya yang memukuli lengan pria yang hanya tertawa melihat nya yang menjadi kesal.
Sementara itu.
__ADS_1
Seorang pria yang sedang mencari referensi dari lukisan nya tentu menyesuaikan timing yang paling tepat untuk mendapatkan scene yang bagus.
"Apa bulan depan aku ke Norway saja?" gumam nya yang ingin mencari pemandangan Aurora untuk referensi dari pekerjaan nya.
Memang ia kerap berpindah dari satu tempat ke tempat lain nya, liburan sekaligus bekerja dan berusaha membuat nya lupa akan yang tengah ia rasakan.
Udara yang sejuk itu menerpa wajah nya, tangan nya mengambil beberapa gambar yang bagi nya memiliki spot foto yang cantik, sampai suara yang bagi nya tak asing terdengar setelah sekian lama.
Deg!
Mata nya tanpa sadar menoleh, berusaha mencari di mana sumber suara yang terdengar itu.
Jantung nya berdegup kencang, ia berpikir sudah melupakan segala nya dalam jangka waktu yang hampir setahun itu tapi.
Deg!
Deg!
Deg!
Nafas nya terasa sesak, dada nya sakit seperti seseorang yang tengah mengalami asma.
Mata hijau yang cerah di tengah senja yang mulai tenggelam, senyuman ceria yang menunjukkan suasana hati yang gembira dan seseorang yang menarik nya dalam pelukan kemudian mencium bibir merah muda itu sehingga senyuman nya terbenam.
"Hah..."
"Mereka sudah menikah ya? Mungkin..."
"Mungkin..."
Suara nya lirih, rasa nya napas nya semakin tertinggal, ia merasa tiba-tiba panik dan takut seperti sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.
"Tapi kenapa aku- Heuk!" langkah nya berbalik menjauh ke arah pasangan yang terlihat di depan mata nya barusan.
Napas nya tidak teratur, suara lirih terdengar. Wajah tampan nya menjadi pucat, tubuh nya gemetar dan tampak panik walau seharusnya ia tak melihat ada yang salah.
Perut nya terasa begitu mual bahkan sampai tak bisa ia tahan sekalipun.
Kenapa? Kenapa aku...
Pria itu kesulitan mengambil napas nya, ia merasa sesak dan bahkan memuntahkan isi perut nya karna merasa mual.
Wajah nya menjadi pucat pasi dan tangan nya masih tak mau berhenti untuk tidak gemetar.
Langkah nya berjalan ke tempat di mana mobil nya ia parkiran, dengan cepat ia pun masuk dan mengambil botol mineral nya untuk langsung ia teguk.
"Astaga..."
"Ada apa dengan ku..."
Gumam nya lirih yang menyembunyikan wajah nya di stir mobil nya namun tangan nya masih begitu gemetar.
Harus nya ia baik-baik saja walaupun melihat seseorang yang sebenarnya masih sangat ia cintai.
Berpisah adalah keputusan yang ia buat tanpa di desak oleh orang lain, ia yang mengatur segala nya dan harus nya ia semakin membaik ketika tak bertemu lagi dengan cinta pertama nya untuk waktu yang cukup lama.
Jadi sekarang kenapa?
Serangan panik mendadak yang tiba-tiba muncul ketika melihat wanita itu lagi, perasaan yang sebelum nya hancur ternyata belum pulih sama sekali.
Mungkin terdengar sepele dengan kata patah hati, tapi tak semua orang bisa menjalani nya dengan baik-baik saja.
Mengalami traumatis tentang hubungan pun bukanlah sesuatu yang mudah.
Pria itu menarik napas nya, mencoba mengatur nya kembali dan berusaha agar menjadi normal seperti sebelum nya.
Namun masih sulit, ia masih merasa sesak dan kesulitan bernapas serta tangan yang masih gemetar.
Tangan nya pun membuka dashboard mobil nya dan mengambil beberapa pil penenang yang memang ia miliki karna sebelum nya ia pun sering mengalami mimpi buruk atau mood suram yang kadang membuat nya kesulitan dalam beraktifitas.
"Bodoh! Aku harus nya senang..." gumam nya yang menarik napas nya lirih saat ia mulai kembali tenang ketika reaksi obat nya berjalan.
"Dia bahagia seperti yang ku mau..." bibir nya bergumam namun seperti menancapkan kalimat itu di kepala dan hati nya secara bersamaan.
Traumatis akan hubungan yang membuat nya mengalami gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau mungkin bisa di sebut PTRS (Post Traumatic Relationship Syndrom)?
Suatu gangguan mental yang terjadi akibat patah hati dari sebuah hubungan yang dapat di timbulkan oleh berbagai alasan.
Memang untuk kasus nya sendiri mungkin bisa hilang dalam waktu beberapa bulan karna ia tidak mengalami hubungan yang kasar dan tak sehat, baik untuk apa yang ia lakukan atau pun yang di lakukan wanita itu pada nya.
Namun tetap saja, perasaan dan rasa sakit itu masih membekas dan bahkan belum pulih saat ia berpikir jika ia sudah baik-baik saja.
...****************...
Nih bonus pic Baby Bian karna othor memang gemas sekali dengan anak ini wkwk
__ADS_1