
Pria itu menurunkan ciuman nya, leher jenjang itu menjadi santapan empuk yang membuat nya terus mencium dengan gemas.
Sedangkan gadis itu tampak semakin sulit untuk melawan, tali yang mengikat tangan dan kaki nya begitu kuat hingga membuat nya sakit.
"Ini juga tidak akan buruk, kau hanya belum mencoba nya saja." ucap nya dengan suara berat sembari melepaskan dasi di leher nya.
"Brengsek! Kau yang buruk sialan!" ucap Louise dengan kesal yang penuh umpatan.
"Kenapa mulut mu kotor sekali? Atau perlu ku bersihkan? Hm?" tanya nya yang mencengkram kuat rahang gadis itu dan mulai melahap nya.
Ukh!
Louise berusaha menggerakkan kepala nya, pria itu dengan lihai nya sangat ingin memasukkan lidah nya dan mel*mat isi mulut nya.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Ponsel nya bergetar, kali ini ia melihat nya sejenak karna masih berada di kantung jas nya.
"Kenapa jal*ng ini?" gumam nya lirih yang membuang ponsel nya ke sisi ranjang.
Louise mengernyit, ia menggeliat dan berush untuk turun walau kaki nya tak bisa berlari dan tangan nya tak bisa bergerak.
Alex kembali menatap nya, pria itu menunjukkan smirk nya melihat gadis itu yang kesulitan.
"Kau ak-"
Brak!
"Kenapa kau tid- Astaga!"
Pria itu tersentak, pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat nya terkejut belum lagi suara yang terdengar memarahi nya itu.
"Kenapa jal*ng itu ada dengan mu?" tanya nya menunjuk gadis yang berada di bawah tubuh pria yang ia ajak bicara.
Louise mengernyit, seharus nya jika dari cerita yang ia dengar sebelum nya maka hubungan wanita dan pria yang saling bicara itu tak baik.
Tapi kini?
Kenapa bisa ada di mansion pria yang menculik nya dan lagi seperti memiliki akses tersendiri.
Alex beranjak bangun, ia menatap tak suka dengan kehadiran Bella.
"Kenapa kau bisa ke sini?" tanya nya yang mendorong wanita itu keluar dari kamar yang ia tempati saat ini.
Louise masih diam tak mengatakan apapun, ia melihat pintu kamar tersebut kembali tertutup rapat suasana kamar pun kembali sunyi.
Sedangkan di luar sana terdengar suara pertengkaran.
"Aku terus nelpon kenapa ga di jawab? Ya aku cari sendiri lah!" ucap nya pada pria itu dengan wajah yang tak mau di salahkan.
Bella sendiri semakin merasa gelisah saat ia tak bisa menghubungi putra nya sama sekali.
Sebelum nya ia di izinkan untuk setidak nya menelpon atau mengirim pesan tapi sekarang sama sekali tak ada izin yang membuat nya mencari pria itu sebagai jalan satu-satu nya.
"Kenapa jal*ng itu ada di sini?" tanya nya pada pria yang tampak malas menanggapi nya.
"Bukan urusan mu, dan jangan sampai ada yang tau dia di sini, bukan! Kau juga tidak boleh keluar!" ucap Alex yang geram dengan wanita yang merasa bisa melakukan apa saja itu.
"Loh? Kenapa aku juga tidak boleh?! Aku ke sini karna mau bilang kalau sekarang aku juga sudah tidak boleh berhubungan dengan Al!" ucap nya pada pria itu.
"Lalu? Apa urusan nya dengan ku?" tanya nya menatap bingung ke arah wanita itu.
"Ada! Kau yang buat Al di kirim jauh!" ucap nya yang seperti memiliki penyakit lama kambuh kembali.
Yaitu menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia buat.
Plak!
Satu tamparan keras melayang ke pipi wanita itu, bola mata wanita itu tampak bergetar sejenak saat suara yang keras begitu juga rasa perih yang terasa menjalar di pipi nya.
"Sebaiknya kau tidak lupa sedang bicara dengan siapa," ucap nya pada wanita itu yang mengingatkan.
Bella terdiam, terlalu sering berhubungan sampai ia lupa jika pria itu tak memiliki rasa apapun untuk nya dan juga tidak memiliki hubungan apapun.
"Ck! Kau membuat ku merasa kesal saja!" ucap Alex yang merasa tak bersemangat lagi untuk melakukan hal yang tertunda tadi nya.
Alex berbalik pergi ke arah lain dan memanggil pengawal nya, "Jangan sampai membiarkan dia keluar kalau kalian tidak mau mati." ucap nya yang menunjuk dengan dagu nya ke arah wanita itu.
"Baik tuan!" ucap para pengawal itu mengerti jika wanita itu tak boleh keluar sama seperti juga dengan gadis yang di kurung di kamar tuan nya.
...
Pukul 03.45 pm
Louise tak menyentuh makanan nya sama sekali, bagaimana ia bisa makan kalau tangan dan kaki nya saja di ikat?
Pria itu lama tak kembali lagi semenjak keluar tadi.
Klek!
Pintu tersebut terbuka, ia langsung menoleh dan menatap ke arah seseorang yang membuka pintu kamar itu.
"Kau terlihat bukan apa-apa," ucap Bella yang tertawa sinis.
"Ku juga pernah di posisi yang sama kan?" tanya Louise yang malas melihat ke arah wanita itu.
Bella menatap dengan geram, ia melihat ke arah gadis yang tak ia sukai sejak lama.
"Dia tidak akan menjemput mu! Kau itu cuma pengganti!" ucap nya yang mendekati gadis yang duduk di pinggir ranjang itu.
__ADS_1
"Kalau mau berisik keluar saja," ucap Louise dari tadi sudah susah payah ingin melepaskan kan tali yang mengikat tangan nya ke belakang menggunakan garpu
makan yang di berikan untuk nya.
Mata wanita itu menatap tajam dan kemudian mendekat.
Plak!
Satu tamparan kuat melayang ke pipi gadis itu.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya nya yang heran mengapa ia di tampar walaupun tak melakukan apapun.
Akh!
Kali ini rambut panjang gadis itu yang tertarik dengan kuat, tanpa sepatah kata pun wanita itu kembali mengangkat tangan nya.
Plak!
Plak!
Plak!
Tamparan yang bertubi datang untuk gadis yang tak bisa melakukan perlawanan apapun itu.
Kondisi tangan dan kaki yang terikat membuat nya tak bisa menghentikan tangan yang semena-mena itu.
"Ck! Sial!" decak Bella yang penuh dengan rasa kesal dan langsung menghentikan tangan nya sembari menjambak kuat dan kemudian mendorong gadis itu.
"Hah..."
"Seperti nya kau memang sudah gila..."
Ucap Louise lirih yang merasakan perih di wajah nya, pipi nya memerah di kedua sisi bahkan mungkin membiru dengan sudut bibir yang terluka.
Ukh!
Ia meringis, wajah nya terluka dan wanita itu mencengkram dagu nya dengan kuat.
"Kau tau? Karna kau aku menderita! Kalau kau tidak ada, aku juga tidak akan sampai seperti ini!" ucap nya yang menyalahkan gadis di depan nya.
Louise hanya mengernyit dan menggeleng pelan, ia tak bisa mengatakan apapun pada seseorang yang seperti mengalami konslet di kepala nya.
"Mungkin dia mau pada mu karna kau cantik, tapi tetap saja wajah mu menjijikkan!" ucap nya yang terus berbicara merendahkan pada gadis di depan nya.
Louise mulai merasa kesal dengan hinaan yang ia dapat padahal ia tak pernah melakukan apapun, ia menatap dengan tak suka dan beranjak mengigit jari yang dekat dengan bibir nya.
"Akh!"
"Dasar jal*ng gila!" ucap nya yang mendorong langsung dan memukul kepala gadis itu dengan gelas minum yang seharus nya untuk makan siang tadi.
Prang!
Ukh!
Perasaan nyeri dan perih di kepala nya terasa, sprei yang basah karna air minum itu pun juga terlihat basah karna hal lain nya juga.
"Berani sekali kau!" ucap nya yang terlihat benci dan meraih salah satu pecahan.
Ia berusaha menahan wajah gadis itu dan ingin merusak nya.
Greb!
Tangan nya terhenti sebelum ujung percahan gelas tajam itu menyentuh nya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Suara bariton yang terdengar meninggi itu langsung menghempas kuat tubuh wanita yang hampir merusak sandera nya.
"Aku cuma mau kasih pelajaran kecil sama dia!" ucap Bella yang tampak kesal ketika tangan nya terluka akibat terhempas ke lantai.
Alex memutar mata nya dengan kesal dan langsung memanggil beberapa pengawal nya yang tak jauh dari kamar nya untuk mengusir Bella.
"Kurung dia!" perintah nya dengan kesal dan setelah wanita itu di seret pergi ia menatap ke arah Louise yang tampak membuang wajah nya.
"Kau baik-baik saja?" tanya nya yang melihat darah di dahi gadis itu.
Louise menjauhkan kepala nya, "Kau juga sama saja."
Alex tak mengatakan apapun lagi, ia duduk di samping gadis yang terlihat penuh luka akibat wanita yang ikut campur itu.
"Aku sudah membeli senapan, tembak dia di tempat yang ku atur nanti," ucap nya dengan datar yang masih ingin memanfaatkan gadis itu.
"Kenapa aku harus menuruti mu?" tanya Louise dengan senyuman tipis sembari menahan sakit luka-luka yang baru ia dapatkan.
"Kalau kau tidak menuruti ku, aku akan membunuh mu juga." jawab Alex dengan datar.
Tak masalah ia membunuh gadis yang ia suka jika ia tak bisa memiliki nya, lagi pula ia akan segara mati juga pada akhirnya.
"Aku tidak bisa menembak!" ucap nya pada pria itu.
"Tenang saja, itu senapan jarak jauh, aku yang akan mengarahkan kau hanya tinggal menarik pelatuk nya saat sudah siap." balas Alex dengan senyuman tipis nya.
......................
Sebuah bangunan yang sebelum nya adalah Mall menjadi tempat titik temu yang pria itu inginkan.
Bangunan nya sudah kacau, debu dan lumut terlihat jelas dengan fasilitas yang tentu nya tak lagi berfungsi.
Senapan di lantai tiga di susun, lantai satu yang terlihat jelas jika dari atas karna merupakan bangunan yang di desian untuk dapat melihat bagian tengah lantai satu walaupun berada di urutan lantai tinggi.
__ADS_1
"Lihat? Kau hanya perlu menembak dia dari sana, seperti ini." ucap Alex yang mengukung tubuh gadis itu dari belakang dan mengarahkan nya seperti tengah bermain tembakan.
Dor!
Louise tersentak, memang tangan nya yang menarik pelatuk namun tangan nya itu di bimbing bergerak dengan tidak sesuai kemauan nya.
"Akan ku telpon dia," ucap nya yang beranjak mengambil ponsel nya.
Sedangkan tempat itu sudah di kepung dengan penuh anak buah nya.
"Kau menjawab cepat?" tanya nya yang tertawa dengan senang.
"..."
Tak ada balasan dari jawaban apapun, hanya menunggu nya untuk kembali bicara.
"Gedung mall di jalan xx kota xx, datang ke sini sekarang juga dalam waktu satu jam, kalau kau mau menemui wanita mu," ucap nya dengan senyuman.
"Oh, aku salah! Datang ke sini sekarang juga kalau tidak mau wanita mu mati perlahan." ucap nya sekali lagi.
"Biarkan aku bicara dengan nya,"
Kali ini terdengar balasan, Alex tertawa, "Dia masih hidup atau kau tidak percaya?" tanya nya yang mengarahkan ponsel nya ke arah Louise.
"Bicara," ucap nya pada Louise.
Louise diam tak mengatakan apapun, sampai tangan pria itu menarik rambut nya dengan kuat.
"Ukh!"
Suara ringisan keluar secara alami, "Kau tidak mau bicara? Dia mau dengar suara mu." ucap nya sembari menarik rambut gadis itu.
Ia bahkan belum mengobati luka yang di sebabkan oleh Bella karna gadis itu terlihat enggan ia sentuh.
"Jangan ke sini! Dia menjebak mu," ucap nya singkat.
Alex tertawa mendengar nya, ia menyuruh gadis itu bicara bukan untuk mengatakan omong kosong.
"Sudah kan? Kalau kau tidak datang aku akan membunuh nya dan kalau kau terlambat aku juga akan membunuh nya secara perlahan." ucap nya yang kembali menutup telpon segera.
....
James menemukan sesuatu lagi, cctv jalanan yang mati mulai di pulihkan.
Memang sulit untuk langsung mendapat hasil namun ia tetap melakukan apapun untuk membuat gadis itu kembali.
Karna kini ia pencarian terpisah dengan saudara kembar gadis nya, sesekali ia bertemu dengan tunangan gadis nya atau kakak nya di tempat yang memungkinkan untuk mendapat jawaban.
Namun yang mengejutkan ia baru saja mendapatkan telpon dan harus ke tempat yang ia tuju dalam waktu satu jam sedangkan dalam berkendara kecepatan yang semaksimal mungkin juga tak akan terkejar.
Ia mengambil ponsel nya dan langsung mengirimkan pesan ke saudara kembar gadis itu sekaligus ke bawahan nya untuk segara datang ke alamat yang di katakan.
......................
Sementara itu.
Alex tersenyum saat panggilan itu terputus, ia la lantas menelpon seseorang yang lain lagi.
"Sekarang, ledakkan." ucap nya di panggilan telpon tersebut.
Louise menatap nya dengan tatapan yang tampak tak menyukai nya.
"Kenapa? Kau melihat ku seperti itu?" tanya Alex tertawa.
"Aku hanya meledakkan sedikit JBS kesayangan mu itu dan juga meledakan transaksi besar kep*rat itu saat ini." ucap nya tersenyum.
Ia tak mengatakan apapun lagi kecuali senyuman dan tawa senang.
Meledakkan sebagian kecil dari JBS untuk membuat saudara kembar gadis itu teralihkan dan tak bisa menyusul nya dengan cepat.
Sekaligus ia juga mendapat informasi tentang transaksi besar pria itu yang kebetulan di lakukan hari ini membuat nya ingin mengacaukan nya agar sebagian besar bawahan pria itu teralihkan dan pada akhirnya datang dengan orang yang sedikit atau mungkin sendirian.
"Kita akan membunuh nya hari ini..." ucap nya yang bersenandung dengan senang.
Louise mengepal, pria di depan nya memang benar-benar gila sampai harus melibatkan semua pihak yang bahkan tak bersalah.
"Di mana kau meledakkan JBS?" tanya nya lirih.
Tempat di mana banyak orang sakit di rawat dan pria itu ingin meledakkan nya.
"Hum? Di mana ya?" tanya Alex pura-pura berpikir dan kemudian tersenyum.
"Oh iya, aku ingat! Ruang IGD dan juga rawan inap lantai tiga." jawab nya tersenyum.
Walau bukan ledakan yang bisa menghadirkan dan merubuhkan bangunan tinggi itu namun ledakan tersebut mampu merusak apa lagi menghilangkan nyawa para pasien yang berada di sana.
"Seperti nya otak mu memang rusak..." gumam nya yang berdecak dan menatap penuh benci.
Alex tersenyum dan hanya bersiul dengan santai seperti sedang menjalani hari bahagia. nya.
......................
Oh iya sebelum nya maaf karena lama up nyaππ
Othor sedang mengurus beberapa urusan dan hanya bisa up satu jadi othor up novel sebelah πππ
Tapi setelah bsk mungkin akan rutin lagi, othor coba usahakan ya.
Happy readingπππβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1