
Zayn tersentak, wajah yang tadi nya begitu ceria kini terlihat sendu. Iris hijau itu berkaca dan terus menjatuhkan bulir bening nya.
"Louise? Kenapa?" tanya nya sembari mendekat dan mengusap lelehan bulir bening di mata gadis itu.
Tak ada jawaban, ia bahkan tak mengerti kenapa bisa menangis, tidak tau apa yang salah namun rasa sedih nya meluap hingga membuat nya sesak dan kehilangan semua kata-kata.
"Sstt, sudah..." ucap nya lirih sembari menenangkan dan memeluk gadis yang gemetar karna tangis itu.
...
Tak ada sepatah kata pun bahkan saat mereka kembali, suasana nya berubah dan pria itu pun tak mengatakan apapun.
"Zayn?" panggil nya lirih saat merasakan pria itu terus menerus melihat ke arah nya sesekali saat mengemudi mobil.
"Hm?" Zayn langsung tersentak dan menatap ke arah gadis itu.
"Maaf..." ucap nya lirih yang merasa seperti perusak suasana.
"Untuk?" tanya pria itu mengernyit.
"Harusnya kan kita tadi main di taman tapi aku malah nangis gak jelas..." jawab nya lirih yang juga bingung kenapa ia menangis setelah melihat pria asing yang tiba-tiba memeluk nya.
"Kalau begitu kau bisa bilang tadi kenapa?" tanya nya sembari menepikan mobil nya dan menatap ke arah gadis itu.
Louise diam tak mengatakan apapun tentang siapa yang ia temui barusan, bagi nya terlalu aneh untuk di ceritakan.
Pria asing aneh yang tiba-tiba menarik tangan nya, lalu kemudian nya memeluk dan menangis tak hanya sampai di situ pria yang tak ia kenali itu bahkan memberikan nya pernyataan cinta walau ia tak kenal sama sekali.
"Louise?" panggil Zayn mengulang dan menatap ke arah gadis itu.
"Aku cuma sedih aja tiba-tiba, gak tau kenapa..." ucap nya lirih yang setengah berbohong dan setengah jujur.
Pria itu menarik napas nya, membuka seatbelt nya agar bisa bergerak dan perlahan mendekat pada gadis itu.
Cup!
Ia mengecup beberapa kali pipi dan dahi tunangan nya seminari mengusap belakang kepala gadis itu.
"Yasudah, jangan nangis lagi..." ucap nya lirih.
Louise mengangguk kecil mendengar nya, ia juga tak ingin begitu memikirkan hal itu karna ia tau ia juga tak akan bertemu pria aneh itu lagi.
"Kalau begitu kau mau es krim?" tanya Zayn tersenyum sembari memakai seat belt nya.
Louise tertawa kecil saat ia tengah masih menangis dan mengusap air mata yang akan jatuh di ujung kelopak nya.
"Aku kan bukan anak kecil," ucap nya tersenyum.
......................
Mansion Dachinko.
Detak jantung pria itu masih tak karuan, ia tak pernah merasa seperti ini sebelum nya.
Saliva nya sulit di telan dan ia masih merasakan getar di tangan nya saat merasakan sentuhan yang begitu nyata.
Tak ada satupun yang bisa menemui nya dan ia yang juga tak ingin di temui siapapun termasuk putri kecil kesayangan nya.
"Dia masih hidup..."
"Dia..."
Bibir nya bergumam dengan gemetar, perasaan senang yang menggelitik hati nya membuat nya tak bisa menggambarkan apa yang tengah ia rasakan.
Bukan lagi bayangan yang menghilang saat ingin ia sentuh, bukan lagi ilusi yang berdengung di telinga nya setiap kali ia mencari suara. Semua nya begitu nyata.
Walaupun ia menyadari jika gadis itu terlihat tak mengenal nya dan bingung saat ia bersikap seperti sangat mengenal.
Namun ia sangat yakin jika ia tak salah orang, semua jejak yang ia tinggalkan di tubuh gadis itu masih ada sampai sekarang.
......................
Satu Minggu kemudian.
Kediaman Rai.
Kehidupan gadis itu kembali seperti semula, semua nya tak ada yang berubah hanya karna menemui pria aneh dalam satu hari setelah satu pekan berlalu.
"Louis?" panggil nya pada sang kakak sembari memakan camilan keripik kentang yang penuh dengan micin tersebut.
"Hm?" pria yang baru saja kembali dari pekerjaan yang melelahkan itu pun mendekat dan mengambil camilan yang berada di tangan adik nya.
__ADS_1
"Ish! Ambil sendiri sana!" ucap Louise yang langsung melihat kripik kentang nya berkurang seketika.
"Ribet," jawab pria itu enteng.
Dahi gadis itu mengernyit, ia mendatangi sang kakak karna ingin menayangkan sesuatu.
Awal nya ia lupa namun ia ingat sedikit jika sang kakak pernah menikah, walaupun ingatan tersebut juga menjadi abu-abu.
"Kau dulu nikah kan? Istri mu mana?" tanya nya sembari mengikuti langkah sang kakak.
Louis terhenti, ia berbalik dan menoleh ke arah adik nya. Sudah dua tahun semenjak sadar dan kali ini gadis itu menanyakan tentang rumah tangga nya yang sudah kandas?
"Tumben? Tanya gitu?" ucap nya yang malah balik bertanya.
"Baru sadar aja, kok aku gak pernah lihat istri mu." jawab Louise sembari memasukkan camilan tersebut ke mulut nya.
Louis membuang wajah nya dan berlalu pergi ke kamar nya, "Iya, udah cerai."
Mata hijau itu membulat, ia langsung menghentikan camilan yang masuk ke dalam mulut nya.
"Loh? Kenapa?" tanya nya yang langsung penasaran.
Bahkan jujur saja ia juga sedikit lupa dengan istri saudara kembar nya namun ia tak begitu penasaran karna ada yang lebih membuat nya ingin tau.
Yaitu alasan perceraian sang kakak!
"Mau tau aja kayak netizen," jawab Louis yang memilih tak ingin memberi tau adik nya sama sekali.
Ia ingin saudari nya itu hanya mengingat semua hal yang baik dan hidup dengan nyaman serta tak akan terluka lagi.
"Ya harus tau! Aku kan adik mu!" jawab Louise yang langsung mengikuti sang kakak hingga ke kamar.
Louis tak menjawab lagi, ia beralih ke kamar mandi karna memilih berendam dan memberi tubuh nya ketenangan dengan air hangat.
Brak!
"Louis!"
"Astaga!" baru saja ia mau melepas celana nya pintu kamar mandi nya sudah terbuka tiba-tiba.
Pria itu terperanjat, mendengar teriakan sang adik yang memanggil nama nya dan pintu kamar mandi yang terbuka tiba-tiba.
"Keluar, mau ngintip?!" ucap nya yang langsung mengusir saudari nya keluar dari kamar mandi.
Ia menatap dada bidang sang kakak yang sudah melepas kemeja itu.
"Louis?" panggil gadis itu menatap dengan curiga dan tatapan yang memikirkan hal aneh.
"Keluar," ucap nya yang berusaha mengusir sang adik namun malah gadis itu dengan santai memakan camilan nya lagi.
"Kau di ceraikan karna imp*ten kan? Dia pasti kesepian setiap malam..." tanya gadis itu dengan tawa kecil seperti meledek.
"Ha? Apa?!" pria itu langsung tersentak, ia langsung mendekat dan,
CTAK!!!
"Aduh!"
Jentikan dari jemari nya yang kekar itu langsung memukul tepat di dahi gadis itu dengan kuat.
Tubuh Louise langsung terdorong ke belakang dan Louis pun langsung menutup pintu kamar mandi nya.
"Imp*ten kepala mu! Sana pergi!" teriak pria itu di balik pintu.
Sedangkan Louise langsung mengernyit sembari mengelus dahi nya yang terasa berdenyut karna jentikan sang kakak yang begitu keras.
"Sakit tau! Kan aku cuma nebak!" ucap nya yang tak merasa bersalah sama sekali atas tuduhan nya karna sang kakak memang seperti menghindari alasan perceraian nya.
Gadis itu pun berbalik dan memilih mencari makanan lain nya.
Sedangkan saudara kemar nya terlihat terngiang di kepala nya setelah mendengar ucapan adik nya.
Ia tau bukan itu masalah perceraian nya namun entah mengapa ia menjadi kepikiran. Bukan karna takut mungkin mantan istri nya tidak 'puas' selama pernikahan tapi karna yang terjadi setelah pernikahan.
"Tunggu, aku tidak..." ucap nya lirih yang melihat ke bagian bawah tubuh nya dan kembali melihat ke cermin.
Deg!
Ia tersentak, ia baru menyadari jika ia tak pernah memiliki kembali hasrat nya setelah perceraian nya sedangkan ia begitu yakin jika dulu saat melakukan nya dengan wanita nya ia begitu suka sampai ingin 'memakan' wanita itu setiap hari.
"Aku belum pernah bangun!" ucap nya lirih yang terkejut saat baru menyadari fakta nya.
__ADS_1
Begitu banyak wanita yang mengejar nya dan menggoda nya agar bisa mendapatkan kasih sayang nya namun ia seperti tak memiliki minat sama sekali setelah perceraian nya untuk memiliki pendamping baru.
...
Louise melihat ke arah sang kakak yang menatap nya dengan tajam saat makan malam.
"Kenapa sih kak? Harus nya aku loh yang marah! Kening ku sampai bendol begini!" ucap nya yang menunjukkan benjolan di dahi nya yang ia tutup dengan rambut nya.
"Salah sendiri, punya bibir lemes banget." ucap Louis yang menyindir ucapan sang adik sebelum nya.
"Kan aku cuma nebak! Kakak sih di tanya malah gak mau jawab," ucap Louise kesal pada sang kakak.
Sedangkan pria itu memilih kembali menyantap makanan nya dari pada berdebat saat lapar.
......................
Dua hari kemudian.
Bunga anyelir dan Krisan putih yang di bungkus dalam buket yang terlihat indah dan harum itu di letakkan di atas makam seseorang.
Pria itu berdiri melihat nya sejenak, walaupun ia satu-satu nya yang bisa mengunjungi makam dari keluarga yang ia sayangi itu namun ia jarang mendatangi nya
Ia merasa ia sudah berbeda, semenjak hari dimana kaki nya mulai memasuki dunia kotor yang yang penuh dengan kekejaman itu ia tak lagi melihat ke tempat di mana semua bayangan dan kehidupan nya yang tentram masih ada.
"Aku bertemu dengan dia lagi..."
"Maaf..."
"Aku tidak ingin melepaskan nya, aku juga tidak bisa membunuhnya..." ucap nya lirih.
"Kalian mungkin membenci ku tapi tidak apa-apa kalian bisa melakukan nya..."
"Tapi aku..."
"Aku tidak mau kehilangan dia lagi..."
Pria itu berbalik meninggalkan bunga yang bermekaran dengan indah di atas tanah yang berisikan orang-orang yang ia cintai.
Ia takut jika semua arwah keluarga yang melindungi nya akan membenci nya karna tak bisa membalaskan dendam nya dengan sempurna ataupun karna ia yang ingin melepaskan dendam nya kali ini.
Namun ia tak lagi bisa melakukan nya, melanjutkan hal tersebut hanya akan kembali membuat nya bernapas seperti di lautan api.
Hal yang lebih menakutkan ternyata kembali di tinggalkan dengan orang yang ia cintai di bandingkan tidak bisa melampiaskan dendam nya.
....
Mansion Dachinko.
Bianca terlihat murung, sang ayah terus menerus mengindari nya dan terlihat muram membuat nya takut untuk mendekat.
Walaupun wajah sang ayah begitu kaku dan datar namun ia bisa merasakan suasana di sekitar nya karna ia adalah putri yang selalu bersama pria itu.
Ia menatap ke arah boneka nya sembari memainkan dan mendadani nya.
"Bianca?"
Gadis kecil yang mengenakan balutan gaun merah muda itu menoleh ke arah sang ayah.
Netra coklat nya melebar, ia begitu terkejut dan terheran-heran menatap ekspresi sang ayah yang bagi nya begitu asing.
"Main apa? Mau Daddy temani?" ucap James sekali lagi saat melihat ke arah wajah putri nya yang terkejut.
Ia tersenyum menatap ke arah putri kecil nya, wajah yang tak pernah ia tunjukkan sama sekali semenjak putri nya masih bayi.
Bukan senyuman tipis dengan pandangan yang kosong atau mati, bukan juga wajah datar tanpa ekspresi seperti patung manekin. Melainkan senyuman seperti orang normal lain nya.
Pria yang seperti perlahan ingin melepaskan satu persatu yang membekukan hati nya itu menatap ke arah putri nya.
Bianca terkejut, bukan nya suka ia malah takut melihat sang ayah tersenyum karna merupakan ekspresi baru yang terlihat oleh mata nya.
"Hua..."
"Kak Al!"
"Daddy selem!"
"Daddy kesulupan!"
Teriak nya yang langsung menangis dan pergi mencari kakak nya karna terkejut melihat sang ayah tersenyum hangat pada nya.
__ADS_1
Sedangkan James terlihat bingung, ia menatap putri kecil nya yang langsung lari dengan kaki mungil nya saat melihat nya.
"Seram? Kesurupan? Aku hanya tersenyum? Bukan nya jalan kayang?" gumam nya yang bingung.