
James menarik napas nya, sudah lebih dari 5 jam gadis di depan nya tak kunjung bangun setelah histeris.
"Kali ini apa lagi?"
Gumam nya lirih seraya memegang tangan gadis itu dan mengusap nya, sedangkan putri kecil nya masih asik bermain di luar mansion dengan para pelayan nya.
Baru bangun lalu pingsan lagi, itulah yang terjadi saat ini. Ia hanya bisa membuang napas nya sembari menunggu gadis di depan nya sadar.
Setelah pemeriksaan yang di lakukan oleh Chiko tak ada perubahan selain debaran jantung yang melaju dengan lebih cepat.
......................
Kediaman Rai
Pria tampan itu mengernyit, ia berjalan dan melihat beberapa foto di kamar tunangan nya karna merasa bosan.
Tak ada satupun dari si kembar itu yang kembali ke kediaman mewah itu baik sang kakak maupun adik nya.
"Apa aku harus telpon saja?" gumam nya yang menelpon pengawal yang menjaga gadis itu lebih dulu.
Telinga nya mendengar sesuatu yang tak mengenakkan sama sekali, dan tentu hal itu langsung membuat nya memanggil salah satu pengawal yang berjaga untuk tunangan nya di hari ini.
"Bagaimana bisa hilang?!" ia langsung tersentak begitu mendengar nya.
"Maafkan kami tuan, kami lalai." ucap salah satu pengawal yang tidak berdalih atas pekerjaan nya.
"Kalian kehilangan dia bagaimana?" tanya pria itu berusaha menahan rasa amarah dan khawatir yang bercampur adu.
"Ada yang menghalangi pandangan kami dan tanpa sengaja kami kehilangan nona," jawab salah satu pengawal.
"Cari dia, jika tidak dapat di temukan juga malam ini beri tau Louis juga dan hukuman kalian juga akan di tentukan dia." ucap Zayn seraya berbalik dan mencari ke tempat yang ia tau.
Ponsel nya terus menelpon tunangan nya yang ia cintai itu namun masih saja tak ada jawaban ataupun balasan.
"Louise? Dimana?" gumam nya lirih yang terlihat jelas rasa khawatir di mata nya.
......................
Mansion Dachinko
James melirik ke arah ponsel yang bergetar dengan nama kontak My Fiancé yang terus memanggil di ponsel gadis itu.
"Apa aku harus mengangkat nya saja?" tanya nya lirih pada dirinya sendiri.
Mata nya melirik ke arah gadis yang masih tak sadar itu dan tangan nya pun tanpa sadar mengambil ponsel yang terus bergetar tersebut.
"Louise? Kau di mana?"
Suara yang langsung memanggil nama pemilik ponsel dan terdengar khawatir namun di angkat oleh seseorang yang bukan seharusnya.
"Dia ada dengan ku sekarang, aku akan mengembalikan nya setelah bangun dan dia juga baik-baik saja." ucap nya sembari melihat ke arah gadis di depan nya yang masih tak sadar.
"Kau! Kenapa aku tidak bisa bicara dengan nya?! Ak-"
"Aku tidak akan menyakiti nya jangan khawatir aku akan memulangkan dia saat dia sudah bangun." jawab James dan menutup ponsel nya segera.
__ADS_1
......................
Mobil berwarna abu-abu gelap itu terparkir di pinggir jalan dengan arah yang tak rapi karna memberhentikan secara mendadak.
"Louise dengan pria itu?"
"Bangun? Apa dia tidur?"
"Dia terluka?"
"Atau..."
Pria itu tak bisa menebak, antara khawatir dan cemburu yang bersatu di saat bersamaan.
Ia tau sebanyak apa tunangan nya itu mencintai pria yang menyakiti dirinya itu, jantung nya berdebar gelisah dan ujung hati nya terasa sakit.
......................
Mansion Dachinko
Louise perlahan terbangun, mata nya terbuka perlahan. Pandangan yang masih mengabur manjadi penglihatan nya, seluruh otak nya mulai bekerja, ia mengingat sesuatu yang seharusnya ia lupakan.
Deg!
"I...ini?!" gumam nya yang tersentak.
Kepala nya terasa sakit, ia bangun sendirian di kamar yang kini sudah ia kenali.
Ingatan masa lalu dan masa kini tercampur aduk seperti lem yang mengikat dan berputar hingga membuat seluruh kepala nya terasa akan meledak.
Ia pun langsung menarik selimut nya, tentu langkah yang terburu-buru dengan kaki yang sakit langsung membuat nya tersungkur saat turun dari tempat tidur.
Bruk!
Ctak!
Ctak!
Ctak!
Suara pegangan pintu yang terdengar keras jantung nya berdebar dengan kuat, rasa takut kembali menyelimuti nya hingga membuat nya merasa sesak.
"Di kunci?!"
Gadis itu meremang, seluruh tubuh nya gemetar dengan wajah yang terlihat syok. Ingatan nya kembali dan kini ia berada di tempat yang bagaikan neraka untuk nya.
"Di..dia mengurung ku lagi?" ucap nya yang mulai bergumam.
Rasa takut mulai mengendalikan nya lagi, benar jika ia hampir kehilangan kewarasan nya dan mungkin ia sudah kehilangan nya.
Klek,
Louise langsung memundur, wajah nya menengandah menatap ke arah pria tinggi yang berada di depan nya dan membuka pintu kamar nya.
"Kau sudah bangun?" tanya James yang baru saja pergi karna ada urusan sejenak.
__ADS_1
Tangan nya beranjak memegang pipi gadis di depan nya namun gadis itu terlihat begitu mengindari nya. Ia tak berniat mengunci ataupun mengurung gadis itu kembali namun jika pintu itu tak ia kunci maka putri kecil yang penuh akan rasa penasaran itu akan terus mendatangi dan berusaha membuka nya.
Louise tersentak, ia membatu dan langkah nya terus memundur. Seluruh tubuh nya kehilangan tenaga.
Rasa sakit dan trauma yang di buat oleh pria di depan nya membekas dengan dalam. Bukan hanya tubuh nya namun hati nya pun sudah ikut merasa sakit.
Bruk!
Kaki gadis itu kehilangan tenaga nya, ia terjatuh dan langsung terduduk di lantai yang keras dan dingin itu.
Seluruh tubuh nya masih gemetar, mata nya tak berkedip menatap pria di depan nya.
"Kau sakit? Aku panggilkan Chiko?" tanya pria itu dengan nada suara yang terdengar lebih rendah dari biasa nya.
Ia berjongkok sembari menatap ke arah gadis di depan nya agar bisa melihat dengan lebih dekat.
Tak ada satupun suara yang keluar dari mulut gadis itu, semua nya terkunci namun.
Tes...
Lelehan buliran bening itu jatuh dari sudut mata nya, tak mengatakan apapun namun iris hijau itu seakan telah mengatakan segala nya.
Takut, amarah, kebencian, kesepian dan harapan semua nya tercampur dengan ekspresi yang tak dapat lagi di katakan.
"Kau merasa sakit?" tanya James tersentak melihat ke arah air mata yang di keluarkan dari netra yang bergetar itu.
Ia pun mulai beranjak bangun, dan tentu nya untuk memanggil Chiko yang masih berjaga di luar.
"Kau akan mengurung ku lagi?"
Suara yang terdengar getar dan serak itu membuat langkah nya terhenti. Ia membatu dan langsung berbalik ke arah gadis yang masih terduduk di lantai itu.
"Kau sudah ingat?" tanya nya dengan hati-hati sembari menatap ke arah gadis di depan nya.
Ia pun langsung mendekat kembali, untuk memperhatikan gadis itu lebih dekat.
"Kenapa mendekati ku lagi? Apa karena aku belum mati? Atau karna kakak ku belum mati?" suara yang serak dan gemetar itu terdengar menyayat hati.
Lelehan buliran bening di iris hijau itu tak bisa berhenti, ia tak tau mengapa air mata itu bisa keluar. Perasaan campur aduk yang tak bisa ia jelaskan.
"Aku tau kau akan berpikir begitu tapi aku ti-"
"James?" suara yang sayu dan gemetar itu memanggil nama pria di depan nya dengan lirih.
"Kau..."
"Apa kau akan membunuh ku lagi kali ini?" tanya gadis itu lirih dengan suara gemetar.
James terdiam, ia melihat mata yang kehilangan asa itu lagi.
Rasa takut dari masa lalu yang tak bisa ia ulang atau pun ia ubah ternyata sudah melukai terlalu dalam.
Bukan makian yang pertama kali ia dengar saat gadis itu kembali mengingat nya, bukan pula pukulan atau tamparan di wajah nya melainkan sebuah pertanyaan nya yang menampar hati nya.
"No, never..."
__ADS_1
"I'll never kill you anymore..." jawab nya dengan suara tercekat sembari melihat ke arah wajah gadis di depan nya.
Tangan nya ingin menyentuh dan menghapus air mata itu, namun bagaikan remot yang di pause ia tak bisa menyentuh nya sama sekali, tangan kekar itu hanya terhenti dan tampak sedikit gemetar dengan jarak persekian senti dari wajah cantik yang pilu tersebut.