
Iris hijau itu menatap ke arah pintu balkon yang terbuka, terangnya mentari kini telah redup, udara yang bertiup pun kini sudah mulai berubah menjadi lebih dingin.
Wajah pucat itu menatap dengan pandangan yang kosong, mata hijau itu mulai menumpukkan buliran bening yang tak lagi terbendung.
"Kau kedinginan?" tanya pria itu yang mulai memecah keheningan kamar yang memiliki luas yang lebar itu setelah sebelum nya penuh dengan suara memohon untuk berhenti.
Tak ada jawaban sama sekali, James menatap punggung indah yang membelakangi nya itu, semua bekas kecupan kemerahan terlihat begitu jelas di tubuh yang tertutup dengan selimut itu.
Ia pun beranjak turun, mengambil pakaian nya kembali dan memakai. Ia menatap ke arah pintu balkon yang terbuka itu sama seperti gadis yang hanya diam menatap ke luar.
James pun perlahan menutup nya, kini tak ada lagi angin dingin yang masuk ke dalam ruangan kamar itu.
Ia menoleh, tatapan mata yang marah dengan penuh dengan buliran bening yang menumpuk di pelupuk nya.
Langkah nya berjalan mendekat, mengusap air mata yang jatuh dari kelopak gadis cantik dengan wajah yang pucat itu.
"Ck!" Louise berdecak, tangan nya langsung menepis usapan yang di berikan oleh pria di depan nya.
"Kau mau terus bersikap seperti ini? Apa yang tadi kurang?" wajah yang tak menampilkan ekspresi itu menatap ke arah gadis di depan nya.
"Baru kali ini aku lihat ada orang yang mengaku membenci orang lain tapi terus menyentuh nya?" tanya gadis itu dengan senyuman pahit dan mata yang menatap tajam, tubuh ringkih itu pun langsung bangun menatap ke arah pria di depan nya.
James tak mengatakan apapun, ia memang membenci dengan darah yang mengalir di tubuh gadis di depan nya namun ia juga mencintai nya sekaligus.
"Berhenti membuat ku semakin kesal," ucap nya yang memilih membuang wajah nya tak lagi menatap wajah pucat dengan tatapan marah itu.
"Kesal? Siapa yang lebih kesal di sini? Aku atau kau?!" tanya nya menatap ke arah pria yang tengah membuang wajah nya itu.
"Aku memberi mu hak untuk bicara? Kau sekarang harus tau di mana kau berada? Kau bukan putri konglomerat lagi di sini, Elouise Steinfeld Rai sudah mati, jadi jangan bersikap seperti tuan putri di sini." ucap nya sembari perlahan mencengkram rahang gadis di depan nya.
Deg!
Mata hijau itu tersentak mendengar nya, ia menggeleng dengan perkataan itu. "Louis akan cari aku! Aku yakin!" ucap nya dengan tangan yang ingin menepis cengkraman di dagu nya sekaligus tetap memegang selimut nya agar tak jatuh.
"Mencari mu? Aku penasaran mana yang lebih cepat? Pembunuh yang ku kirim untuk nya? Atau menemukan adik nya?" tanya pria itu yang tanpa sadar menunjukkan smirk nya.
Louise membulatkan mata nya dan menatap dengan kerutan setelah nya, "Apa aku belum cukup?!" ucap nya yang menepis dengan kuat tangan pria itu di rahang nya.
Tak!
"Cukup? Kau lupa? Aku membunuh siapapun yang terlibat." jawab pria itu dengan enteng seperti tak merasa bersalah sedikit pun.
"Kalau begitu kau bisa bunuh aku setelah melahirkan," gadis itu tak tau, namun jawaban spontan itu keluar begitu saja dari mulut nya.
"Tidak, aku tidak bisa." iris yang bergetar sejenak melihat wajah yang seperti tak takut sama sekali bahkan saat akan di bunuh detik ini juga.
"Kenapa?" Louise tak mengalihkan pandangan nya, tangan nya meremas dengan kuat selimut yang menutupi tubuh nya.
"Aku masih memerlukan mu," jawab James berdalih seperti tak melakukan kesalahan.
"Perlu? Memang nya apa lagi yang bisa kau ambil dari ku?" tanya gadis itu dengan tatapan dan senyuman yang terlihat pahit dan hambar.
"Ku rasa kau cocok untuk sesuatu, kau pintar, cantik, kepribadian mu juga bagus. Aku bisa menghasilkan keturunan tanpa cacat kan? Kalau dengan mu?" jawab nya tersenyum simpul menatap gadis yang terkejut mendengar nya itu.
Deg!
Tubuh gadis itu membatu sejenak mendengar nya, Keturunan? Ucapan yang terdengar begitu pedas karna membuat nya hanya seperti mesin pembuat anak yang di pilih yang tak memiliki celah.
"Kenapa harus aku? Kau bisa mendapatkan nya dari pacar mu kan? Kalian juga punya anak yang lain? Kenapa harus anak dari ku? Padahal aku orang yang kau benci?" tanya nya dengan tangan yang semakin meremas selimut yang menutupi tubuh nya.
"Bukan nya itu lebih menguntungkan untuk ku? Membalas dendam dan mendapatkan seseorang yang cocok untuk menghasilkan anak yang sempurna?" jawab pria itu dengan senyuman yang tak bisa di artikan.
Ia tak tau apa itu, namun setiap perkataan yang di keluarkan nya untuk menyakiti gadis di depan nya terlihat sangat mudah keluar.
Tatapan yang awal nya begitu marah itu perlahan mulai memudar dan dingin, tangan yang mengepal keras meremas selimut itu perlahan mulai merenggang.
"Apa bagi mu sejak dulu aku seperti itu? Sebelum wanita yang kau cintai kembali aku jadi pengganti nya? Setelah dia kembali padamu aku jadi mesin pembuat anak untuk mu?" tanya nya dengan mata yang seakan begitu membutuhkan jawaban.
James diam sejenak, senyuman simpul nya pun perlahan hilang dan terganti dengan wajah datar yang tak memberikan emosi apapun.
"Ya," jawaban singkat yang begitu menusuk ke dalam hati gadis yang mendengar nya.
Gadis itu tertawa lirih dengan pahit sembari menurunkan pandangan nya dan menjatuhkan bulir bening nya.
__ADS_1
"Lalu kau akan membunuh kakak ku?" tanya dengan senyuman namun mata yang berbaring terbalik dengan sudut bibir nya.
"Tentu," jawab pria itu dengan dingin.
Dengan begitu aku tidak akan terlalu merasa bersalah pada keluarga ku karna menyukai mu...
Louise diam dan mengangguk kecil seakan kini sudah tau jawaban apa yang akan di keluarkan.
"Kau tidak akan bisa membunuh nya," ucap nya sembari menatap pria itu kembali, "Aku tidak tau kau hanya menginginkan anak ini atau mungkin menyayanginya, tapi apapun itu aku akan membunuh nya, aku ingin merebut nya juga dari mu." sambung nya.
"Siapa? Kau mau membunuh anak mu sendiri?" tanya pria itu tanpa sadar menaikkan sudut bibir nya, "Kau pikir bisa melakukan nya? Aku lebih mengenal mu dari pada diri mu sendiri." ucap nya sembari menunduk mendekatkan wajah nya ke arah gadis yang masih duduk di atas ranjang itu.
Ia tersenyum, ia sadar jika ia sangat egois namun ia juga tak bisa berhenti atas kedua nya. Cinta dan Dendam yang tak bisa ia hentikan kedua nya.
Cup!
Satu hisapan kecil sekilas memangut bibir pucat itu dan perlahan menjauh.
"Pelayan akan datang untuk makan malam mu, jadi bersikap menurut lah kali ini." ucap nya sembari mulai meninggalkan ruangan kamar tersebut.
Langkah pria itu terhenti sejenak sebelum menyentuh gagang pintu kamar itu.
"Dan sepertinya hukuman seperti ini lebih cocok untuk mu kan? Ini tidak akan menyakiti anak ku, jadi kalau kau mau terus berulah aku akan menganggap kalau kau juga ingin melakukan nya." ucap nya sebelum keluar.
Blam!
Suara pintu yang terdengar tertutup, tubuh gadis itu gemetar karna tangis nya. Mata nya memejam dan merindukan semua masa kecil nya yang berharga.
"Aku mau pulang..." gumam nya lirih.
Merindukan kedua orang tua yang sudah tidak ada, merasa khawatir pada keluarga satu-satu nya yang ia miliki.
"Padahal dia benci aku karna punya darah yang sama? Tapi menginginkan anak dari ku juga? Brengsek!" gumam nya lirih dengan makian dan tangisan nya.
Dan terlebih lagi hal yang paling membuat nya marah adalah masih memiliki perasaan pada pria yang ingin membunuh saudara kembar nya sekaligus sudah menyakiti nya.
......................
Dua Minggu kemudian.
Langkah pria itu terhenti sejenak menatap ke arah lantai yang penuh dengan kaca yang berhamburan pecah.
"Dia histeris lagi?" tanya Louis pada salah satu pelayan kediaman nya.
"Benar tuan, nyonya menghancurkan lebih banyak barang hari ini." jawab nya sesopan mungkin.
"Dia terluka?" tanya nya lagi menatap para pelayan itu.
"Sedikit di telapak tangan nyonya terkena kaca," jawab si pelayan.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi selain hanya berlalu menemui istri nya.
"Kali ini apa lagi?" ucap Louis sembari memeriksa tangan yang sudah di obati itu.
"Cerai, aku mau cerai..." gumam nya lirih.
Pria itu membuang napas nya dengan kasar, "Aku bisa kasih apapun yang kau mau tapi bukan perceraian!" ucap nya dengan tegas.
"Aku juga sudah temukan donor mata untuk mu, satu bulan lagi operasi nya akan di lakukan jadi besok kita ke RS untuk persiapan pemeriksaan sebelum operasi." sambung nya pada wanita yang tengah diam itu.
"Kau pikir dengan bersikap seperti malaikat akan menghapus kesalahan mu?" tanya nya tertawa miris dengan pria yang ia nikahi itu.
"Cla? Ku mohon, berhenti bersikap seperti ini?" ucap pria itu lirih pada istri nya.
Pria yang masih merasa berduka walaupun waktu telah berlalu, ia tak bisa melupakan sama sekali apa yang ia lihat saat itu.
Perasaan bersalah karna tidak bisa melindungi satu-satu nya saudari yang ia miliki masih membuat nya kalut.
Ia perlahan memeluk wanita yang sudah sah menjadi istri nya secara hukum itu walaupun ada banyak penolakan dari tubuh kecil yang ramping itu.
"Aku tau aku salah, tapi aku tidak mau kehilangan mu juga..." ucap nya lirih sembari terus memeluk wanita yang berontak dalam dekapan nya.
......................
__ADS_1
JBS Hospital
3 Hari kemudian.
Pria yang menatap ke arah kertas di depan nya beserta memutar ingatan nya kembali tentang beberapa waktu sebelum nya.
"Tidak ada pewarna kuku?" gumam nya yang yakin betul gadis itu sudah memakai pewarna kuku nya dan bahkan melakukan video call ketika memasang nya.
"Dia hilang bukan mati..." gumam nya dengan kepala yang berkedut karna memikirkan hal yang mustahil.
Tubuh nya semakin pulih bahkan sampai bisa berjalan dengan bebas saat ini.
Langkah nya menuju ke ruangan pemimpin tempat ia di rawat saat ini, tak peduli jika sang ayah juga berada di tempat yang sama.
"Louise masih hidup!" ucap nya tiba-tiba pada pria yang tengah melihat data yang baru saja di berikan sahabat ayah nya itu.
"Apa?" ucap Louis mengernyit bingung.
"Aku yakin! Dia masih hidup! Mayat itu bukan dia! Dia pakai pewarna kuku sebelum tunangan!" ucap nya sekali lagi.
"Zayn?" Rian memanggil nama putra nya agar berhenti mengatakan hal yang tak masuk akal itu.
Sedangkan Louis tampak diam dan terlihat terpengaruh dengan ucapan tersebut.
"Berhenti, kau tidak pikirkan perasaan nya?" tanya pria paruh baya itu mendekati putra nya sembari melihat ke arah pria yang yang tengah mematung itu.
"Aku yakin Pa!" ucap Zayn pada sang ayah.
"Bagaimana kalau salah? Kau hanya akan melukai Loui-"
"Tidak! Louise masih hidup aku ya-"
Plak!
Rian menampar pipi putra nya, bukan tanpa alasan ia melakukan nya.
Mengatakan seseorang yang sudah meninggal secara biologis masih hidup pada keluarga yang masih begitu kehilangan bagaikan memberikan harapan jika biji jagung akan tumbuh menjadi padi.
"Jangan bertengkar dan keluarlah," ucap Louis yang terlihat pusing mendengar nya dan menginginkan waktu nya sendiri.
Ia meminta paman sekaligus sahabat nya itu untuk keluar dan memanggil sekertaris nya.
"Cari tau tentang salon di mana Louise melakukan perawatan kuku sebelum tunangan." ucap nya pada pria yang menjadi sekretaris nya menggantikan wanita yang kini menjadi istri nya.
"Baik, Presdir." ucap nya pada atasan nya.
......................
Pria yang berdiri dengan tegap itu tengah melaporkan sesuatu dengan seseorang yang tengah duduk mendengarkan nya.
"Begitu?" suara yang terdengar tanpa emosi itu mengangguk kecil mendengar nya.
"Saya ingin menemui ibu saya," ucap nya sembari mengepal ketika pembicaraan nya telah selesai.
"Bertemu? Entahlah..."
"Lakukan apa yang ku suruh dengan baik, dan jangan terlalu tegang seperti itu ibu mu juga terlalu tua dan tidak memiliki harga." ucap nya tersenyum di balik siluet yang gelap itu.
Tak ada jawaban lagi, pria dengan jas rapi itu hanya menahan gertakan di gigi nya dengan tangan yang mengepal namun tak bisa melakukan apapun.
...****************...
Maaf yah kalau othor nya lama bat up nya di kedua novel othor🙏🙏🙏
Othor nya di hari Kamis kemarin ada sidang dan karna penguji nya killer otomatis othor nya ga tenang kalau mau apa-apa.
Setelah sidang dan revisi othor juga masih mikirin nilai nya, masih gak tenang juga🤧🤧🤧 jadi waktu buat novel pun jadi kepentingan yang kesekian🤧🤧🤧
Mohon doa nya yah biar othor nya lancar jaya dalam lulus tahun ini🙏🙏
Sekali lagi maaf karna belum bisa up tepat waktu🙏🙏🙏
Happy reading💕💕💕💕
__ADS_1
Oh iya, yang mau kirim paket santet buat babang James silahkan yah wkwk, biar ga seenak jidat nya aja bikin sakit hati dedek Louise nya othor😏😌