(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Are you happy now?


__ADS_3

Mansion Dachinko.


Ponsel pria itu mulai berdering, ia pun bangun dari duduk nya dan menghampiri suara ponsel nya.


"Dia kenapa? Kalau begitu bukan nya kau harus bisa mengobatinya? Itu tugas mu kan?" tanya pria itu mengernyit.


Sedangkan gadis yang tadinya duduk di samping pria itu hanya menatap bingung pembicaraan yang tak ia mengerti.


Ia pun mendekat dan meraih tangan pria yang sedang menelpon tersebut.


"Beri apapun yang dia minta dan jangan melaporkan hal seperti ini pada ku lagi," ucapnya yang menutup telponnya.


"Siapa yang sakit?" tanya Louise yang merasa mendengar sekilas nama yang ia kenal dari telpon namun tak begitu jelas.


"Bukan hal yang harus kau perhatikan," ucapnya yang tak ingin mengatakan dan menjelaskan apapun.


"Al? Dia sakit?" tanya gadis itu memastikan.


James tak menjawab, ia memang memberikan rawatan dalam segi materi karna telah mengambil hak asuh agar tetap melindunginya dari ibu yang hampir membunuhnya.


Namun jika harus memberikan kasih sayang seorang ayah pada anak yang awalnya di dasari dengan kebohongan untuk bisa dekat dengannya, ia rasa tak bisa melakukannya, dan lagi gadis itu pun masih tak tau fakta sebenarnya.


"Kau mau menemui nya? Lagi pula wanita itu dan anak mu juga lebih butuh kau, kan?" tanya Louise lirih, jika menemui anaknya sudah pasti menemui ibu nya sekalian.


Pria itu masih diam sebelum mengeluarkan kata-kata nya, "Aku tidak bilang kalau aku akan menemui dia, dan soal Al itu juga bukan-"


"Sudahlah, tadi kau memanggil ku karna apa?" tanyanya yang tak jadi mengatakan apapun.


"Tapi dia kan anak mu," jawab gadis itu lirih, "Kalau dia saja kau tidak peduli apalagi..." gumamnya yang sembari melihat ke arah perut besarnya.


Bagi Louise jika pria itu bahkan tak begitu memperdulikan anak yang di lahirkan dari wanita yang ia cintai, lalu bagaimana dengan anaknya nanti?


Ia bahkan tak pernah ada di hati pria itu, terlebih lagi yang ia lahirkan adalah anak perempuan berbeda dengan anak pertama pria itu.


"Kau ini mikir nya apa sih?" tanya James yang tau dari raut gadis itu jika memikirkan sesuatu yang lain.


"Dia kan anak mu," jawabnya lirih.


"Lalu kau mau apa? Mau aku bawa dia ke sini?" tanya James yang tak mengerti isi pikiran gadis itu.


"Bukan nya tempat ini harus nya di isi dengan seseorang yang akan menjadi pemiliknya," ucap gadis itu lirih.


"Baik, kalau kau bilang begitu." jawab James sembari beranjak pergi meninggalkan gadis itu.


Entah mengapa ia merasa kesal saat tak melihat gadis itu cemburu dan mengatakan tak apa-apa jika membawa orang lain di dalam mansion yang mereka tempati.


Namun ia sendiri juga tak mungkin membawa wanita yang sudah ia putuskan hubungan nya, namun ia masih bisa membawa anak yang bukan darah dagingnya itu.


......................


Apart


"Daddy!"


Arnold langsung beranjak dan melompat memeluk pria itu.


"Daddy kenapa gak pernah datang? Al kan kangen," ucapnya pada pria itu sembari memeluknya dengan erat.


Tak ada jawaban apapun atau balasan, namun pria itu melepaskan pelukan nya perlahan.


"Al? Dengar, Aku bukan Daddy kamu..." ucap pria itu yang langsung memberi batasan pada anak baru berumur lima tahun itu.


Wajah yang berbinar itu perlahan lesu, "Terus Daddy Al mana? Kalau Daddy bukan Daddy Al terus Al sekarang harus kemana? Pulang sama Mommy?" tanyanya lirih dan mulai menangis karna takut di tinggalkan.


"Aku tidak tau, tapi karna kau di sini sekarang aku akan merawat dan memberi mu akomodasi, kau bisa tetap memanggil ku seperti yang sebelum nya tapi harus ikuti peraturan ku? Mengerti?" tanya nya pada anak yang menangis itu.


Al mengangguk kecil mendengar nya, "Sekarang kita mau ketemu Mommy?" tanya nya dengan tatapan mata yang polos itu.


"Al mau tinggal sama Mommy? Tidak mau ikut dengan ku?" tanya nya sembari membawa tangan mungil itu dalam genggaman nya.


"Kita gak bisa tinggal bareng sama Mommy?" tanya nya dengan mata yang berharap.


"Bukan sama Mommy tapi sama kak Louise? Ingat kan?" tanya James mengingatkan tentang gadis yang pernah ia bawa bersamanya dulu.


"Tapi kata Mommy kak Louise jal*ng, Al tanya sama pelayan jal*ng itu artinya orang jahat." ucapnya yang tak tau arti yang ia katakan.


Mata pria itu langsung mengernyit menatap tajam pada pertanyaan yang polos itu.


"Al! Aku tidak mau mendengar ucapan seperti itu lagi, dan jangan pernah mengatakan hal seperti itu saat aku membawa mu, atau aku tidak akan menemui mu lagi kalau sampai mendengar yang kedua kalinya." ucap nya dengan nada penekanan dan membuat anak menggemaskan itu takut.


Walaupun tanpa ia sadari semua sikap nya membuat gadis itu hanya terlihat seperti wanita pelampiasan n*fsu nya namun ia begitu tak suka jika mendengar perkataan yang seakan menghina gadis itu.


"Ma..maaf Dad..." jawab Al lirih dengan takut.


......................


Dua Hari kemudian.


Mansion Dachinko


Gadis itu menatap ke arah anak yang bersembunyi di balik kaki pria yang tinggi itu. Sudah sangat lama ia tak bertemu lagi dengan anak menggemaskan itu.


"Sikap mu seperti itu?" tanya James saat melihat tak ada sapaan dari anak menggemaskan itu untuk gadisnya.


"Al?" panggil gadis itu sembari menjulurkan tangannya.


Memang anak kecil di depan nya tak salah apapun namun ia tetap merasakan sakit di hatinya jika harus menerima anak dari wanita yang cintai oleh pria itu.


Melihat tangan yang menjulur ke arah nya serta suara yang terdengar rendah dan lembut khas wanita membuat Al perlahan keluar dari persembunyian nya di belakang kaki sang ayah.


"H..hai kak Louise..." ucapnya lirih dengan kikuk.


"Aku ada urusan, kalau ada yang kau perlukan kau bisa katakan pada pelayan." ucap pria itu sekilas sembari memangut bibir merah muda gadis itu tanpa memperdulikan ada anak kecil yang melihatnya.


"Hm," gadis itu hanya tersenyum.


Setiap kali pria itu pergi maka ia akan berpikir negatif namun ia tak bisa dan tak memiliki hak untuk bertanya mau kemana dan apa yang akan di lakukan.


Kini hanya tinggal dirinya dan anak yang berumur lima tahun yang tengah menatapnya.


"Kak? Daddy kok cium kakak? Tapi gak cium Mommy Al?" tanyanya dengan polos.


Deg!


Gadis itu tersentak, "Mungkin Al lagi gak lihat kalau Daddy Al cium Mommy Al?" ucapnya tersenyum pahit.


Pria kecil itu terlihat bingung namun ia tak mau bertanya lagi karna takut sang ayah akan memarahinya.


...


Langit mulai merubah warnanya, sedangkan anak polos di depan nya itu terlihat begitu senang bermain dan tertawa di taman luas mansion megah tersebut.


Tatapan gadis itu kosong dan datar melihat senyuman dari anak laki-laki di depannya, anak itu bisa tertawa, berlari dan tumbuh dengan sehat namun anak pertamanya?


Masa kehamilan yang ia miliki begitu sulit di tambah lagi dengan ingatan saat menggendong bayi yang tak bernyawa di tangannya itu.

__ADS_1


Sesaat akalnya hilang, tatapan yang kosong itu berjalan mendekati Arnold yang tengah memetik beberapa bunga di mansion tersebut.


Tangannya beranjak memegang leher kecil itu dari belakang, sejenak ia berpikir untuk membuat anak kecil itu sama seperti putra pertamanya.


"Kak? Ini bunga nya untuk kakak!" ucapnya berbalik dan tersenyum memberikan bunga berwarna-warni yang cantik itu.


Deg!


Akal gadis itu kembali normal, ia tersentak dan kembali berpikir jernih lagi.


Apa yang baru ia pikirkan? Membunuh anak yang tak salah apapun karna mengingat putra nya yang mati?


Tes...


Cairan bening itu jatuh tanpa sadar dari mata gadis itu, ia bingung bagaimana mengatakan tentang perasaan nya saat ini.


Rasa yang meluap tanpa sebab dan membuatnya tak bisa bernapas karna merasa sesak.


"Kak? Kak Louise kenapa nangis? Kakak gak suka bunganya?" tanya Al sembari menghapus air mata gadis itu dengan tangan mungilnya.


Wajah yang tak memberikan ekspresi apapun namun menjatuhkan air matanya tanpa ia sadari.


"Maaf..." gumamnya lirih yang meminta maaf atas niat yang ingin ia lakukan sebelumnya.


"Maaf kenapa? Kak Louise memangnya salah apa? Kak Louise kan baik?" tanyanya yang bingung.


Padahal ia ingat, sang ibu selalu mengatakan jika gadis itu adalah orang yang jahat namun yang ia tau kakak cantik di depannya tak pernah sekalipun berbuat jahat padanya.


"Bukan, kakak bukan orang baik..." ucapnya lirih, karna jika memang ia adalah orang yang baik tak mungkin ia punya pikiran jahat untuk menghabisi anak yang tidak bersalahkan?


"Baik kok, kakak baik sama Al." ucapnya tersenyum sembari mendekat ke arah gadis itu.


"Kak? Perut kakak kok besar? Dulu kan engga," ucapnya yang ingat gadis yang ia temui dulu terlihat langsing.


"Iya, kan ada adik Al di sini." ucapnya yang kembali mengatur ekspresinya stelah menghapus air matanya.


"Adik Al? Adik Al kenapa masuk ke perut?" tanyanya dengan polos.


Gadis itu tak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengajak pria kecil itu untuk masuk.


...


"Dia sudah tidur?" tanya James saat melihat gadis itu yang masih menonton tv walaupun sudah malam.


"Hm," jawab Louise singkat.


Mata pria itu melihat apa yang tengah menarik perhatian gadisnya, "Dia membangun kembali hotel nya?" tanya James saat melihat pembangunan proyek baru yang akan di usungkan setelah beberapa aset di tarik dan kini sudah memiliki situasi yang cukup stabil.


"Tentu, dia kan kakak ku..." jawab gadis itu dengan senyuman kecil yang terlihat tulus berbeda dengan senyuman yang biasa ia berikan pada pria tampan itu.


James tak mengatakan apapun, ia hanya mengusap kepala gadis itu dan membersihkan dirinya setelah kembali.


......................


Tiga bulan kemudian.


Al terkadang mengunjungi beberapa kali mansion tersebut, mungkin terlihat kekanakan namun James melakukan hal itu hanya karna ingin melihat gadisnya marah atau menunjukkan sikap tak sukanya.


Namun hal itu sia-sia karena tak ada yang berhasil dari rencananya. Gadis itu tak marah ataupun menunjukkan penolakan untuk melihat emosi nya.


Hanya tinggal hitungan hari bayi yang berada di perut besar itu akan keluar. Namun semakin hari gadis itu pun terlihat semakin kosong.


"Louise?" panggil nya sembari membawa gadis itu ke kamar yang ia siapkan untuk calon putrinya.


"Kau suka?" tanya nya pada gadis itu.


Wajah gadis itu terlihat kosong sejenak sebelum memikirkan jawaban nya.


"Aku suka," jawab gadis itu tersenyum tipis.


James diam tak mengatakan apapun lagi, semakin hari gadis itu hanya terlihat seperti cangkang kosong dengan jiwa yang retak walaupun masih tetap memberikan senyuman untu nya.


Sedangkan bagi gadis itu semua nya akan segera berakhir jika anak yang berada di kandungannya telah lahir.


Perhatian, sikap dan tatapan yang hangat itu pun akan kembali seperti semula saat belum melakukan perjanjian apapun.


"Ukh!"


Gadis itu meringis saat ia merasa perutnya bergejolak, dengan gerak yang membuatnya berkontraksi.


"Louise? Hey? Kenapa?" tanya James yang langsung menangkap tubuh gadis itu.


"Kenapa dia rasanya bergerak sangat banyak hari ini? Aku jadi sulit bernapas," ucapnya yang terlihat bingung.


Pria itu mulai merasakan lantai yang basah, sedangkan gadis cantik itu masih terlihat tenang kecuali sempat meringis sebelumnya.


"Kau?" gumamnya saat melihat kaki gadis itu mulai di aliri oleh air bening.


Ia pun langsung menggendong gadis itu dan memanggil Chiko segera, perlahan mata gadis itu mulai sayu dan juga wajah yang semakin memucat.


"Bukannya ini terlalu cepat?" tanya James bingung saat melihat gadis itu yang masih tenang walaupun wajah nya kian putih.


"Hanya berbeda dari beberapa Minggu lagi, tapi sudah bisa di lakukan sekarang, tidak ada masalah dari kesehatan nya jadi dia akan baik-baik saja." ucap Chiko yang langsung bergegas melakukan operasi cesar untuk kelahiran putri tuannya.


James tak mengatakan apapun lagi, ia hanya ingin untuk sempat menggendong anak ketiga yang ia miliki.


Walaupun yang pertama sudah meninggal saat di dalam kandungan dan yang kedua adalah anak yang di berikan oleh gadis itu, anak yang tak sempat ia gendong walaupun sudah sempat ia lihat.


...


Beberapa alat mulai berbunyi, memberikan denting nya dan juga alat yang terdengar berisik saat mulai membelah perut besar itu.


Huu...


Hua...


Bayi mungil yang masih dengan balutan darah itu langsung menangis begitu ia di keluarkan, sedangkan sang ibu di berikan anastesi total karna beberapa alasan tertentu.


"Bagaimana dengan nya?" tanya Chiko sekilas tentang kondisi dari sang ibu.


"Masih stabil," jawab salah satu dokter saat memeriksa kondisi gadis itu.


Setelah membersihkan bayi mungil itu, ia pun langsung memberitaukan pada tuan nya.


...


Geliat dari bayi yang masih memiliki kulit merah itu dan menangis tanpa air mata itu terlihat menggemaskan.


Berbeda dengan putra nya yang sebelum nya yang di penuhi dengan alat medis serta tak dapat ia dengar tangisan nya, bayi mungilnya saat ini menangis sangat kencang.


Pria itu tak bisa berkata apapun, ia seperti tersihir saat melihat malaikat mungil itu menggeliat dan terus menangis.


"Anda tidak menggendongnya tuan?" tanya Chiko pada pria yang terlihat enggan menyentuh putrinya sendiri.


"Apa aku bisa? Dia seperti akan hancur kalau ku gendong." jawab James yang takut detak bayi mungilnya berhenti kembali ketika ia sentuh.

__ADS_1


"Tidak, dia sangat sehat dan juga nona Louise memiliki kondisi tubuh yang stabil saat ini." jawab Chiko meyakinkan tuannya.


James pun perlahan mulai menggendongnya, tangisan kencang itu perlahan berhenti dan mulai terlihat tenang, "Dia cantik..." gumamnya yang tanpa sadar tersenyum saat melihat bayi mungil nya sangat mirip dengan sang ibu dan berpaduan wajah nya.


"Louise akan baik-baik saja kan?" tanya nya sembari menoleh ke arah Chiko dan bergantian melihat ke arah gadis yang tak sadar di atas meja operasi itu.


"Tentu, kondisi nya sangat stabil tuan." ucap Chiko tersenyum.


......................


Satu Minggu kemudian.


Mansion Dachinko


Pria itu mengernyit melihat ke arah gadis yang masih belum bangun juga saat ini, padahal ia ingin memberi tau nama putri pertamanya pertama kali pada gadis yang sudah mengandung gadis itu selama hampir 9 bukan penuh.


"Bukan nya kau bilang kondisinya stabil? Kenapa sampai sekarang belum bangun juga?" tanyanya pada Chiko.


"Benar tuan, tapi setelah melahirkan kondisi nona Louise semakin menurun," jawab pria itu ragu, ia pun tak tau namun kondisi yang awalnya stabil malah berubah saat ini.


"Bangunkan dia malam ini juga, lakukan apapun untuk membuatnya membuka mata besok." ucapnya pada bawahannya.


"Baik tuan," jawab Chiko yang tak punya pilihan lain selain menaikkan dosis obatnya.


...


Mata hijau itu perlahan terbuka, jemarinya juga perlahan mulai bergerak menandakan ia mulai tersadar.


Beberapa waktu telah berlalu semenjak gadis itu sadar dan sudah memiliki setidaknya sedikit tenaga.


"Kau sudah bangun?"


Suara yang membuat gadis itu menoleh, wajah pucat itu terlihat datar seperti kehilangan jiwanya tak ada senyuman ataupun balasan.


Louise sudah menyadari perutnya yang kosong tak lagi memiliki bayi yang awalnya ia kandung.


"Anak ku..." gumamnya yang menanyakan tentang kondisi anaknya.


James tak menjawab namun ia memerintahkan pelayan untuk membawa putri mereka.


"Kau mau lihat anak kita?" tanya pria itu sembari menyodorkan bayi mungil yang cantik itu.


Gadis itu tersenyum kecil saat menggendongnya, namun...


Deg!


Senyuman yang terlihat lembut itu runtuh seketika, rasa trauma saat menggendong bayi yang tak bernyawa itu datang dan membuat nya mengalami distorsi memori.


"Di..dia bukan anak ku..." gumamnya yang terlihat gugup dan takut saat tau bayi yang ia gendong saat ini adalah bayi perempuan.


Kewarasan yang selalu ia jaga selama ini kini mulai terombang-ambing.


"Bukan anakmu dari mana? Kau tidak lihat dengan baik?" tanya pria itu yang langsung ingin menyadarkan gadisnya.


"Bukan! Dia bukan anak ku! Kau membawa anak ku? Aku mau lihat dia," tanya Louise yang langsung melepaskan bayi yang berada di dalam gendongannya.


Greb!


James langsung mengambilnya dengan cepat agar bayi mungil itu tak sempat terjatuh.


"Kau gila?! Dia bisa mati!" bentak pria itu tanpa sadar.


Deg!


Gadis itu tersentak, suara tinggi yang membuat hati gadis itu semakin remuk, membuat nya sadar jika sikap yang selama ini ia dapatkan memang hanya sementara karna pria itu menginginkan anak yang ia kandung.


Sedangkan James yang tak begitu peduli dengan psikologis gadis itu tentunya tak akan tau apa yang tengah di rasakannya saat ini, karna yang ia pedulikan hanyalah kesehatan fisik gadis itu agar bisa tetap hidup lama dengannya tanpa tau semua hal berkaitan untuk membuat seseorang tetap hidup.


Gadis itu terlihat gelisah dengan mata yang kosong, wajah datarnya terlhat basah dengan air mata yang menetes tanpa ia sadari.


"Tenanglah," ucap James yang langsung keluar membawa putri yang menangis karna terkejut saat hampir di lempar oleh sang ibu dan mendengar suara keras sang ayah.


"Anak ku..."


"Kenapa dia bawa anak ku?" gumam gadis itu gelisah yang menangis dengan tatapan yang tak dapat di sebutkan seperti apa.


...


Dua Minggu kemudian.


Gadis itu tak mengatakan apapun, tak ingin melihat anak yang baru ia lahirkan apalagi menyusuinya, namun terkadang saat kewarasannya kembali ia datang dan melihat bayi mungil itu, mengayunkannya di keranjang bayi dengan wajah yang datar.


"Bianca Anastasya Dachinko,"


"Itu namanya, kau harus mengingatnya..." bisik pria itu di telinga gadis itu.


"Bianca?" gumamnya sembari mengayunkan keranjang bayi mungil itu.


...


Rembulan yang terlihat begitu cerah membuat gadis itu menatap lurus dari balkon kamarnya, entah sejak kapan ia mengambil pisau dapur sampai bisa kecolongan tak ada yang menyadari nya.


Gadis itu tersenyum kecil, menggenggam pisau tajam itu dan ingin menusuk nya ke jantungnya, namun


Clang!


Pisau tersebut tercampak segera, sebelum bersemayam di tubuhnya.


"Kau gila!" bentak pria itu yang tanpa sadar mendorong tubuh gadis rapuh di depannya saat ia merebut pisau di tangan kecil itu.


"Hm, aku sudah gila..." ucap gadis itu lirih, "James? Kau akan tetap membunuh Louis?" tanyanya lirih, ia bersikap demikian karna tak sengaja mendengar pembicaraan rencana untuk menghabisi sang kakak.


"Perjanjian kita sudah selesai kan? Lagi pula itu juga tidak akan berpengaruh pada mu," jawab pria itu dengan hati yang sudah mengeras.


Gadis itu tersentak, apapun yang ia lakukan tak akan pernah bisa meluluhkan hati pria itu.


"Apa kau bahagia sekarang? Membuat ku seperti ini? Dan menghabisi satu-satunya kelurga yang kumiliki? Apa ini kebahagian mu?" tanya gadis itu lirih dengan dengan harapan yang tersisa.


"Ya," jawaban singkat yang membuat semua harapan gadis itu hancur dan hilang seketika.


Louise tersenyum pahit mendengarnya, kini tali yang rapuh yang menjadi pegangan dan membuatnya terluka ia lepaskan perlahan.


Harapannya sudah hilang, namun tetap saja menyakitkan karna ia memiliki perasaan yang tulus untuk pria itu.


"Kalau begitu kau berhasil, balas dendam mu sudah berhasil James." ucapnya tersenyum kecil.


Ia perlahan bangun, walaupun harapan nya sudah hilang namun ia masih ingin mengatakan sesuatu untuk pria itu, mungkin pernyataan yang akan akan ia katakan untuk terakhir kalinya.


"I love you, and I hope you never get your happiness..."


Bisik gadis itu yang mengatakan pernyataan sekaligus ucapan yang bagaikan kutukan.


"And, that's my last question..." ucap Louise yang tak lagi mendekat dan menatap mata pria itu, "Do you love me too?" tanya gadis itu sekali lagi.


"No," jawaban singkat yang akan menjadi penyesalan terbesarnya.

__ADS_1


__ADS_2