
Mansion Dachinko
Arnold tak tahan untuk tak menemui sang ayah, ia sangat ingin tau apakah adik nya sudah mengatakan yang apa yang terjadi sebenarnya.
"Daddy mana?" tanya nya ketika salah satu pelayang mengatakan pria itu tak lagi berada di kamar adik nya.
"Tuan sedang ada urusan, apa tuan muda ingin menemui nona?" tanya salah satu pelayan tersebut.
"Bian mana?" tanya nya dengan gugup dan ragu.
"Apa anda ingin melihat nona?" tanya pelayan tersebut suara lirih tak bisa menjawab di mana nona cantik mereka.
Arnold mengangguk, pintu kamar adik nya pun di buka.
Pupil mata nya membesar seketika saat melihat alat medis yang di letakkan mengelilingi anak kecil yang terlihat begitu mungil di atas tempat tidur orang dewasa itu.
"Bi..Bian kenapa?" tanya nya yang terkejut dan bukan nya maju melihat melainkan langkah nya memundur tanpa sadar.
Pelayan tersebut menghembuskan nafas nya lirih, ia tak bisa mengatakan apapun karna status nya yang memang tak berhak untuk tau.
Dan yang jelas ia tau saat ini adalah nona muda yang datang dalam keadaan terluka seperti itu.
Kenapa bisa jadi gini?! Bian kan selalu beruntung!
Anak laki-laki itu menatap tak percaya, ia memang sangat berharap agar adik kecil nya itu menghilang dan pergi namun ia tak tau jika harapan nya memiliki konsekuensi yang besar.
Kalau Daddy tau aku...
Arnold berbalik, ia tak tahan melihat tubuh mungil yang penuh dengan lapisan perban dan kulit memar yang di kelilingi alat medis itu.
Sementara itu.
Tubuh yang tercabik, kulit yang mengelupas karna bara, tangan dan kaki yang hancur membuat ke tiga pria itu melata di lantai.
Pria itu menatap tajam, baginya kematian terlalu ringan untuk menembus apa yang telah orang-orang itu lakukan pada putri cantik kesayangan nya.
Pernyataan dan tempat yang sedikit ganjil tentang apa yang di katakan oleh putra nya, wajah nya berbalik tak lagi melihat ke arah orang-orang yang memohon untuk hidup itu.
......................
2 Hari kemudian.
Kediaman Rai
Gadis itu membanting tubuh nya di atas sofa yang empuk, melihat ke arah ponsel nya yang tak menunjukkan notifikasi apapun dari pria yang membuat nya kesal.
Namun melihat notifikasi pria itu yang ada sama sekali juga membuat nya semakin kesal.
"Aku mikir apa sih?" tanya nya sembari mengusap wajah nya dengan kasar.
Ting!
Gadis itu langsung melihat ke arah ponsel nya, walaupun bukan seseorang yang ia kira namun ia tak bisa mengabaikan seseorang yang memang seharusnya ia tunggu.
"Zayn?" gumam nya lirih.
Ya, notifikasi dari tunangan nya yang mengajak nya untuk keluar setelah pekerjaan selesai.
Tak ada alasan bagi gadis itu untuk menolak ajakan dari tunangan nya.
__ADS_1
Setelah membalas pesan jika ia akan menunggu untuk di jemput, Louise bernapas lirih.
Ia menutup wajah nya dengan lengan nya dan berusaha menjernihkan pikiran nya. Ia hanya merasa gelisah untuk alasan yang ia tidak tau.
"Apa aku salah makan? Kenapa bawaan nya kesal terus?"
Decak nya yang bangun dan tentu tujuan nya ke lemari es nya untuk mencari penenang yang memiliki warna merah muda, rasa yang sedikit asam dan segar dengan rasa manis dan susu yang yang tertinggal di mulut nya.
Apa lagi jika bukan es krim stroberi yang di stok banyak oleh sang kakak khusus untuk nya.
......................
Mansion Dachinko
Gadis kecil itu masih tak sadar sama sekali, sedangkan sang ayah yang terus berjaga tanpa memikirkan hal lain. Pria itu mulai risau ketika melihat putri kesayangan tak memberikan reaksi apapun.
"Kata mu dia bisa pulih? Kenapa dia belum bangun?" tanya James sembari mengelus kepala putri cantik nya dengan lembut.
"Benar, tapi nona Bian juga memiliki banyak luka dan tentu perlu waktu yang lebih banyak untuk pulih." jawab Chiko pada tuan nya.
Pria itu pun berdiri, ia tau putra nya terus mengintip dan melihat di balik pintu namun tak masuk ke dalam kamar adik nya.
"Kau terus melihat ke dalam, kenapa tidak masuk?" tanya nya melihat ke arah putra angkat nya yang berumur 8 tahun itu.
"I..iya Dad..." jawab nya lirih sembari memalingkan wajah nya.
"Sekarang sudah tenang? Kau sudah bisa bicara dengan baik?" tanya nya pada pada putra angkat nya itu.
Arnold gugup, ia menunduk dan tak melihat mata sang ayah yang sedang bicara pada nya.
"Ikut aku," ucap pria itu yang berjalan keluar dan menuju ruang kerja nya.
Selama dua hari terakhir tak ada ketengan yang bisa di dapatkan dari anak berumur 8 tahun itu yang selalu menangis jika di tanya.
"Al gak tau Dad..."
"Maaf, udah buat Bian sakit..."
"Al gak bisa jaga Bian..."
Ucap nya yang mulai menangis kembali, ketika berbicara dengan sang ayah.
Ia merasa bersalah atas yang menimpa adik kecil nya. Ia pikir gadis kecil itu akan tetap baik-baik saja bahkan jika ia meninggalkan nya namun yang ia pikirkan salah.
Nasib adik nya yang cantik itu tak selalu mulus dan beruntung karna mendapatkan musibah seperti itu dan terlebih lagi karna ulah nya.
Takut?
Tentu selain merasa bersalah ia juga merasa sangat takut jika sang ayah mengetahui apa yang terjadi.
"Benarkah? Tapi kenapa aku menemukan hal lain?" tanya pria itu sembari mulai memutar video yang ia dapat.
Mencari keseluruhan tentang tempat yang di lewati putri nya selama menghilang tentu harus ia lakukan, selain untuk membasmi akar dari orang-orang yang ingin menjual organ putri kesayangan nya ia harus menemukan germo nya terlebih dahulu.
Walaupun ia adalah bandar terbesar nya namun banyak juga akar busuk yang menyebar tanpa sepengetahuan nya, dan ketika ia mencari itu ia malah menemukan sesuatu yang lain.
"Kenapa kau berbohong dan meninggalkan adik mu?" tanya nya yang kini tak lagi menunggu agar anak laki-laki berumur delapan tahun itu mengatakan dengan sendiri nya.
Arnold semakin gemetar karna tangis nya, ia tak bisa menahan rasa takut dan air mata nya.
__ADS_1
"Al gak ada maksud buat Bian sakit begitu, Al gak tau kalau bakal begini..." ucap nya dengan tangisan nya yang memang ia merasa bersalah.
"Aku tanya alasan mu," tekan pria itu sekali lagi yang membuat anak kecil di depan nya begitu tertekan.
"Daddy cuma sayang sama Bianca..."
"Padahal Aku juga anak Daddy..."
Tangis yang mengatakan tentang kecemburuan yang terpendam lama di hati nya.
"You're not my son, you know that."
Deg!
Arnold tersentak, ia membatu mendengar nya. Ia tau namun kalimat itu sangat menyakiti perasaan nya.
"Kau mau bertemu ayah kandung mu?" tanya pria itu yang beranjak bangun dan mengambil map yang berisi tentang keterangan putra angkat nya.
Kali ini walaupun bukan urusan nya namun ia mencari tau seluk beluk putra angkat nya itu.
Dan alasan yang mengapa anak lelaki itu sangat mirip dengan nya sudah terjawab sudah.
"Gerald Stone Dachinko,"
Satu nama yang membuat Al menoleh menatap ke arah sang ayah dan mengambil map yang di berikan.
"Dia masih terhitung sepupu ku," sambung yang juga memang seharusnya anak kecil di depan nya masih memiliki hubungan kekerabatan pada nya.
Ia sangat ingat nama itu, nama dari sepupu nya yang mengambil semua mainan nya dan memperlakukan nya seperti beban keluarga setelah hak asuh nya jatuh ke tangan paman dan bibi dari keluarga ayah nya.
Padahal keluarga itu lah yang mengambil semua hak yang ia miliki namun ia yang di perlakukan dengan kejam sampai membuat nya kabur di usia yang muda dan pergi ke tempat paman dan bibi dari keluarga ibu nya.
Arnold membuka map tersebut, keterangan jika ayah biologis nya sudah meninggal enam tahun yang lalu karna overdosis narkotika tentu membuat nya semakin tak bisa melihat ayah kandung nya.
"Aku tidak yakin tapi ku rasa Bella juga bukan ibu kandung mu," sambung pria itu.
Ia tak menyelidiki siapa ibu biologis putra angkat nya itu namun ia hanya merasa jika mantan kekasih nya pun bukan ibu biologis dari putra angkat nya.
Pria itu berjongkok untuk menyamai tinggi dan pandangan nya ke arah putra angkat nya.
"Kau tau? Kenapa aku tetap mengangkat mu menjadi anak ku padahal aku bukan ayah kandung mu?" tanya nya pada anak lelaki yang tak mengatakan apapun selain menangis itu.
Beberapa tahun yang lalu, ia berusaha merebut hak asuh dan membuat anak lelaki itu secara resmi menjadi putra nya di mata hukum.
"Karna ku pikir kau bisa benar-benar jadi putra ku, aku menyayangi mu ketika dia masih membawa mu." ucap nya yang ingat waktu di mana ia masih belum tau jika anak itu bukanlah anak biologis nya.
"Aku akan mengirim mu pergi, kau hiduplah dengan baik tanpa bersuara atau menimbulkan masalah dan hanya kau bisa kembali ke sini dengan izin ku." ucap pria itu yang memandang dengan mata yang dingin dan beranjak bangun.
Ia sangat marah pada putra angkat nya namun ia juga sudah terlanjur menaruh hati sebagai orang tua untuk anak lelaki itu.
Dan itu adalah kasih sayang serta toleransi yang ia berikan untuk seseorang yang setidaknya pernah ia sayangi sebagai 'anak sungguhan nya' walaupun rasa sayang nya tak sebesar pada putri nya.
"Dad..." panggil nya lirih dengan tangisan nya.
"Dan..."
"Seperti nya sekarang kau bisa mengubah panggilan mu juga, karna kau sudah tau ayah mu sekarang kau bisa berhenti memanggil ku dengan panggilan itu."
"Aku tetap akan menjadi wali hukum mu sampai kau dewasa atau seterusnya tapi aku tidak akan lagi menjadi ayah mu." ucap nya dengan wajah datar dan mata yang tak merasa iba melihat air mata putra angkat nya.
__ADS_1
Karna ia yang sudah mengambil hak asuh anak itu tentu ia tak bisa asal mengembalikan pada orang tua anak itu sebelum nya.
"Sebaiknya kau mempercepat kepergian mu, karna aku juga bukan orang yang sabar." ucap nya yang merasa marah namun jika ia menyakiti putra angkat nya seperti yang di rasakan putri nya ia seperti akan kehilangan anak nya yang lain.