(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Close my eyes


__ADS_3

Austria


Anak lelaki itu melihat ke arah seseorang yang datang pada nya.


Bukan sang ayah melainkan seseorang yang biasa bersama dengan ayah nya.


"Ini apa?" tanya nya yang mengernyit.


Semua harta dari sang ibu jatuh ke tangan nya namun masih di tangguhkan sampai ia berumur 18 tahun.


"Sesuatu yang di sebut warisan?" jawab Nick pada Arnold.


"Bukan nya warisan di kasih kalau pemilik nya sudah ga ada?" tanya Arnold yang melihat ke arah bawahan sang ayah.


"Ya, anda benar tuan." jawab Nick pada anak lelaki berumur 8 tahun itu namun kini ia tumbuh di tempat yang jauh walau mendapatkan semua fasilitas yang memadai.


"She dead?" tanya nya lirih pada pria itu.


Nick mengangguk, sehari setelah tuan nya membunuh mantan kekasih nya ia pun segera di perintahkan untuk mendatangi anak mantan kekasih nya itu.


"Why?" tanya Arnold lagi pada pria itu.


"Ada beberapa kesalahan yang di lakukan oleh nona Bella dan tidak dapat di toleransi lagi." jawab Nick pada bocah lelaki itu.


"Dia juga mengatakan pesan nya itu anda adalah meminta maaf," sambung nya sekali lagi.


Mata anak lelaki berusia 8 tahun itu berkaca. Ia tak mengatakan apapun dan hanya tertunduk.


"Kalian membunuh nya? Memang nya dia buat apa sama kalian?" tanya Al yang tampak menahan tangis nya.


"Dia terus melakukan kesalahan yang sama dan cukup fatal." jawab Nick pada bocah lelaki itu.


"Memang nya apa? Apa dia mencoba membunuh orang lain?!" tanya Al yang meninggikan suara nya yang serak.


"Ya," jawaban singkat yang langsung membuat bocah berumur 8 tahun itu terdiam.


"Terus sekarang aku mau di buang?" tanya nya lirih yang melihat ke arah dokumen harta yang di berikan pada nya dari pihak ibu walaupun ia sendiri bukan putra kandung wanita itu.


"Tidak, tuan bilang dia akan tetap menyokong anda sampai memasuki usia dewasa." jawab Nick pada anak kecil itu.


"Bukan nya dia benci aku?" anak lelaki itu tampak pilu, walaupun ibu nya sering memukul namun ia juga sangat menyayangi sang ibu.


Terlebih lagi ayah angkat nya yang ia rasa kurang menunjukkan ketertarikan pada diri nya.


"Tidak, tuan tidak membenci anda. Jika dia melakukan nya anda tidak akan hidup dan berbicara dengan saya sekarang." ucap nya pada Arnold.


"Dan tuan juga menyampaikan pesan ini, Lakukan apa yang ingin kau lakukan tapi jangan sampai melewati batas mu itu pesan tuan untuk anda." ucap Nick pada bocah lelaki yang menahan tangisan nya itu.


"Aku boleh ke makam Mommy?" tanya nya menatap ke arah pria itu.


"Nona Bella akan di kremasi dan pemakaman nya di negara ini, jadi anda bisa mengunjungi nya kapan saja." jawab nya pada anak lelaki itu.


Arnold tak mengatakan apapun, ia memang tak di buang namun ia di asingkan yang bahkan mendapat peringatan jika ia tak boleh mengusik keluarga ayah angkat nya itu.


......................


JBS Hospital


Mata yang sudah terpejam selama beberapa hari itu kini memberikan respon.


Hanya respon kecil namun begitu berarti untuk semua orang.


Louis memegang tangan saudari nya, ia kacau dan mungkin sangat kacau selama beberapa hari terakhir.


Mengurus pekerjaan nya sekaligus merasa begitu khawatir karena setiap detik adalah pertaruhan nyawa adik nya.


Bahkan untuk menghubungi wanita yang ia cintai nya saja ia seperti hampir tak memiliki waktu.


"Louise? Hey?" panggil nya dengan nada yang rendah dan menatap ke arah adik nya.


Mata hijau itu terbuka perlahan, terlihat masih datar dan merespon panggilan nya.


Pria itu segera menekan tombol yang akan membuat para medis untuk datang menemui dan memeriksa kondisi adik nya.


Satu persatu pemeriksaan di lakukan, mulai dari monitoring hingga mengecek respon gadis itu.


"Tidak ada masalah," ucap salah satu dokter yang setelah memeriksa tak ada kerusakan syaraf akibat sempat mengalami Aritmia dan juga racun yang masuk ke tubuh gadis itu.


Louis membuang napas nya, ia tersenyum lega dan menyuruh para dokter untuk keluar.


Chiko melirik sejenak ke arah gadis yang tersadar itu, dan tentu ia pun akan memberi tau nya pada tuan nya.


......................


Mansion Dachinko


Gadis kecil itu kesulitan mematahkan papan latihan yang di berikan pada nya, tubuh nya selalu tak imbang dengan kaki yang pendek dan mungil itu.


"Di injak Bian," ucap James sekali lagi yang menemani putri nya yang sedang latihan.


"Daddy bilang nya aja enak! Huh!" sahut gadis kecil itu yang merasa geram dan berakhir dengan menduduki papan latihan itu agar patah dua.


"Hole!" tangan kecil itu mengepal ke atas dan tersenyum cerah, langkah nya yang menggemaskan langsung berlari pada sang ayah.


"Bian bisa kan?" tanya nya dengan penuh rasa bangga.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum sembari mengusap kepala mungil putri nya.


"My cute baby..." ucap nya menatap wajah menggemaskan itu.


"Bian bukan bayi Dad..." sahut Bianca dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


"Terus apa?" tanya pria itu dengan nada meledek.


"Hum? Bayi besal? Eh engga! Bian itu plincel!" ucap nya pada sang ayah.


"Of course, you are my princess." jawab pria itu yang sembari mencubit pipi mochi putri kecil nya.


Bianca tersenyum, ia mengambil minuman yang di sediakan untuk nya setiap kali ia istirahat.


Gadis itu pun naik ke sofa yang berada di samping sang ayah dan meminum minuman nya.


Pria itu hanya tersenyum tipis, putri nya tidak mau di bilang seorang bayi tapi masih suka minum dari tempat minum yang mirip dot?


...


Chiko langsung bergegas menemui dan mencari tuan nya. Ketika melihat pria itu datang ia pun langsung menyusul.


"Tuan? Nona Louise sudah sadar!" ucap nya yang langsung memberi kabar begitu kembali ke mansion pria itu.


James langsung menoleh, kabar yang ia nantikan dan begitu ingin ia dengar.


"Anda tidak melihat nya?" tanya Chiko pada pria itu.


James terdiam, saat gadis itu hampir kehilangan nyawa nya ia sudah berjanji akan meninggalkan nya begitu gadis nya di beri kesempatan sekali lagi.


"Mungkin lebih baik aku tidak melihat nya," jawab nya pada Chiko.


"Kenapa? Anda harus tau kabar nona Louise kan? Siapa yang tidak bisa tidur setiap malam?" ucap Chiko yang mengingatkan betapa murung nya tuan nya saat menunggu kabar tentang gadis nya itu.


James tak menjawab apapun, ia takut gadis itu akan terluka lagi saat ia datang.


"Lagi pula nona Bianca juga harus menemui ibu nya kan? Nona tidak tau kalau ibu nya sakit? Mungkin kalau nona tau dia bisa meredakan marah nya?" tanya Chiko yang terus menerus ingin pria itu mengunjungi gadis yang baru saja sadar itu.


James masih diam tanpa mengatakan apapun sampai suara yang menggemaskan itu terdengar.


"Mommy sakit?"


Gadis kecil itu datang mendekat ke arah sang ayah dengan boneka yang berada di tangan nya.


"Mommy sakit Dad?" tanya nya mengulang.


James hanya mengusap kepala mungil itu dan melirik ke arah Chiko.


Sekarang urusan nya sudah rumit jika putri kecil kesayangan pria itu tau.


......................


JBS Hospital


Louise melihat ke arah orang-orang yang menjenguk nya.


Tentu tak banyak karna ia berada di kamar privat yang tak boleh sembarangan orang untuk masuk terlebih lagi sekarang yang berada di ruangan nya adalah keluarga dari tunangan nya beserta dengan tunangan nya sedangkan sang kakak mulai kembali fokus dengan pekerjaan saat sudah memastikan ia baik-baik saja.


Louise masih belum bisa memakan makanan yang berat sehingga membuat nya memakan makanan yang lembut terlebih dahulu.


"Iya..." gadis itu tak banyak bicara.


Rasa nya canggung bertemu dengan kelurga calon mertua nya sedangkan ia secara tak langsung sudah menyakiti tunangan nya itu.


"Paman?" panggil nya pada pria yang setelah sang ayah meninggal meningal mengantikan sosok nya sebagai wali.


Rian menoleh, ia menatap ke arah gadis itu yang kini terlihat lebih baik di bandingkan sebelum nya yang begitu pucat.


"Nanti bisa minta Louis pulangin aku lebih cepat ga?" tanya Louise lirih.


Ia tak begitu menyukai suasana rumah sakit walaupun ia seorang dokter.


"Kalau itu bicara langsung pada nya, paman tidak mau ikut-ikutan." jawab nya yang mengendikkan bahu nya.


Louise membuang napas nya lirih, ia tak mengatakan apapun lagi.


"Mama Papa ga pulang? Pulang sana, kan udah malam." ucap Zayn yang secara halus mengusir kedua orang tua nya.


"Masih jam 8 malam," ucap Larescha yang melihat ke arah arloji yang ia kenakan.


Rian beranjak, memegang bahu sang istri dan membangunkan nya. "Semoga cepat sembuh." ucap nya sembari membawa istri nya yang tak peka sama sekali itu.


"Loh? Tapi kan kita baru datang?" Tanya Larescha yang kebingungan namun sang suami membawa nya keluar.


Dan kini?


Hanya tinggal kedua orang itu yang tertinggal, yang satu tidur di ranjang pasien dan satu nya lagi menunggu nya.


"Ku dengar kau cepat menemukan lokasi nya, dan yang membereskan masalah ledakan di ruang pasien." ucap Louise yang tersenyum tipis.


Walaupun tunangan nya itu tak tau apapun yang terjadi selama ia dan James menghilang namun ia tetap saja merasa canggung dan merasa bersalah.


Ia tak menyangka akan tetap hidup dan melihat wajah tunangan nya lagi.


"Ya," jawab pria itu singkat dengan wajah yang tak bisa ia simpulkan apa maksud nya.


"Zayn?" panggil Louise lirih.


Zayn masih terdiam, kata-kata yang di ucapkan Alex sebelum di pindahkan membuat nya terngiang.


Tangan nya beranjak memegang tangan gadis itu dan menggenggam jemari yang lentik itu.


"Louise?" panggil nya dengan senyuman tipis.


"Ya?" jawab gadis itu mengernyit sembari melihat genggaman tangan dan kini mata yang terlihat menampilkan kekhawatiran yang begitu besar.


"Kita akan menikah kan?" tanya nya pada gadis itu dengan mata yang begitu berharap.

__ADS_1


Louise diam sejenak, pertanyaan yang sedikit sulit untuk ia jawab mungkin juga karna ia baru saja bangun.


"Louise?" panggil Zayn mengulang saat gadis itu tak menjawab nya.


"Hm? Kita? Tentu, memang nya siapa yang akan ku nikahi?" jawab gadis itu dengan senyuman tipis.


Zayn menarik napas nya dengan lega dan mengecup dahi gadis itu.


"Kau mau istirahat?" tanya nya sembari mengusap kepala gadis itu dan mengatur ranjang nya itu agar bisa dalam posisi yang nyaman.


Louise mengangguk walau ia tak mengantuk sama sekali.


...


Malam semakin larut, tanpa sadar gadis itu tertidur walaupun awal nya ia tak mengantuk sama sekali.


Tak ada satupun yang berjaga di ruangan nya namun tentu akan ada yang menjaga nya di luar ruangan.


Deg!


Mata nya membulat, ia melihat bayangan dari pintu yang langsung berbalik pergi begitu melihat nya bangun.


Ack!


Ia meringis saat ingin beranjak ketika merasakan infus yang masih terpasang di tangan nya.


Tak lama kemudian pintu nya terbuka, gadis itu diam sejenak tanpa sepatah kata pun.


"Kalau datang setidak nya kau harus lihat dulu kan? Lagi pula di lantai ini tidak ada pasien lain," ucap nya pada pria yang membantu nya dengan infus yang hampir lepas itu.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia tak menjawab atau pun menanyai keadaan gadis di depan nya.


"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya nya pada pria itu.


"Mereka cuma pingsan," jawab nya tanpa ekspresi.


"Sistem keamanan akan mendeteksi kurang dari satu menit." ucap Louise yang juga masih heran karna pria itu tak mungkin masuk dengan izin.


"Chiko meletakkan penyadap untuk lima menit," jawab nya yang mengatakan jika ia aman dari kamera pengawas dan sistem keamanan selama lima menit ke depan.


"Lima menit?" tanya Louise mengernyit.


"Ya," pria itu menjawab nya singkat.


Suasana yang terasa canggung, udara yang menahan suara dan membuat nya diam tak bisa mengatakan apapun lagi.


James melihat gadis itu dan memperhatikan nya beberapa saat kemudian ia berbalik sebelum situasi nya menjadi kacau.


Greb!


Tangan nya tercegah, ujung jemari nya tertahan dengan tenaga yang lemah itu. Tak ada satu pun kata yang di ucapan.


Menanyakan kabar atau membahas apa yang terjadi setelah nya. Semua nya hening dengan mata yang menatap dengan iris hijau nya.


Mata nya yang membuat nya tersihir, dan membuat nya bertanya-tanya apa ia mampu melakukan sesuai dengan janji yang ia buat pada diri nya sendiri?


Tangan nya beranjak menarik dagu gadis yang duduk di pinggir ranjang itu dan mendekat dengan secepat kilat lalu menangkap bibir yang masih pucat dan kering itu.


...


Zayn kembali ke kamar tunangan nya, sebelum nya ia pergi sebentar ke ruang visi karna ada yang harus ia lakukan.


Ia tersentak, mata nya mengernyit melihat ke arah pengawal yang bersandar di dinding dan tertidur di lantai.


Langkah nya pun langsung berlari menuju ke kamar rawat tunangan nya.


Jantung nya berdebar, ia takut seseorang masih mengincar gadis itu terlebih lagi ketika ia sampai pintu kamar rawat itu terbuka sedikit.


Langkah nya langsung ingin beranjak masuk, namun.


Deg!


Kaki nya kaku seakan tertancap di tanah. Ia tak bisa melangkah atau pun mengatakan apapun.


Lidah nya kelu dan tak bisa mengeluarkan suara apapun.


"Mereka..." gumam nya tanpa suara.


Walaupun seseorang tengah membelakangi nya namun ia tau postur pria itu dan apa yang di lakukan.


Ia melihat tunangan nya di cium pria lain?


Bukan!


Bukan di cium melainkan berciuman dengan pria lain!


Langkah nya berbalik tanpa suara, ia tak tau kenapa ia yang menghindar padahal ia yang paling memiliki hak untuk mengusir pria itu pergi ataupun memarahi tunangan nya.


...


Suara air keran yang jatuh mengenai wastafel itu memenuhi kamar mandi yang begitu sunyi tanpa seorang pun selain diri nya.


"Tidak apa-apa, aku tidak melihat apapun..." gumam nya dengan suara gemetar dan tangan yang menggenggam erat wastafel keramik berwarna putih itu.


Terkejut?


Sakit hati?


Perasaan yang hancur?


Tentu ia merasakan nya, namun jika melepaskan gadis itu juga akan sama sakit nya, maka dari itu pilihan yang ia pilih saat ini adalah menutup mata nya seperti tak melihat apapun.

__ADS_1


__ADS_2